ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 48 Kerumitan


__ADS_3

Ponselku terus berdering, padahal masih jam 2 dini hari. Kuraih ponsel itu dan mengarahkan ke telingaku. Sementara Bagas masih terlelap memunggungiku. saat melihat ke layar ponsel aku terkejut, ternyata Arkana. Aku menoleh kepada Bagas yag masih terlelap, kemuian segera aku beranjak dari tempat tidur kami, berjalan menuju ke ruang tengah. Duduk di sana dan mengangkat telepon dari Arkana.


"Zara, aku minta tetap rahasiakan identitasku, ada orang yang ingin merusak kehidupan Bagas melalui aku Zara, tolong kamu jaga Bagas, apa pun yang terjadi jangan pernah meninggalkan dia." pinta Arkana.


"Ada apa sebenarnya Ar, ceritakan secara jujur, jangan ada yang ditutupi agar aku ngga gelisah dan meraba-raba di dalam kegelapan,"


Sejenak hening, Arkana diam. Aku menghela nafas kesal, karena sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku juga ngga mengerti ini tentang apa Zara, tapi yang pasti ada seseorang yang sangat membenci ayah kami, dia mengincar untuk menghancurkan Bagas, namun tak mudah untuk mereka, namun kalau sampai Bagas tahu aku adiknya ia akan salah faham bahwa aku bagian dari orang-orang yang berniat jahat padanya."


Aku dapat memahami apa yang dikatakan Arkana. tapi aku istri Bagas, tak mudah begitu saja percaya ucapan orang lain meskipun itu Arkana sekalipun.


Lama aku terdiam di pojok sofa ruang tengah, ketika sebiah tangan kokoh menyentuh pundakku.


"kenapa di sini sayang, kamu berbicara dengan siapa?" tanya Bagas. Dia berjalan melewatiku menuju ke arah dapur. aku gelagapan. Tak mungkin aku mengatakan kepada Bagas tentang Arkana saat ini.


"Aku hanya sedang gabut ngga jelas sayang, menelepon adikku dan bercerita banyak hal ngga penting," sahutku sambil mendekatinya yang mengambil air minum di dalam lemari pendingin.


"Terkadang wanita secerdas kamu juga bisa gabut ya sayang, ngga apa-apa sih itu namanya kamu menikmati hidup."


Bagas mendekatiku dan mengecup lembut pipiku.


"Asal jangan menelepon laki-laki lain dan mencoba berpaling dari suami kamu ini, kupastikan lelaki itu akan sengsara tujuh turunan," ucap Bagas. Dia mengatakan itu dengan santai, namun aku yang mendengarnya sungguh gemetar.


"Mana mungkin aku berpaling dari kamu sayang, kamulah wujud dari kesempurnaan itu."


Bagas menyeruput kopi ditangannya.


"Sayang, ikut aku ke kamar rahasia kita," Bagas melangkah menuju ke dalam kamar rahasia kami, dia meminta aku membukanya dengan meletakkan telapak tanganku. Pintu terbuka, kami melangkah masuk dan menutup kembali pintu baja yang tersamar itu.


Bagas duduk di depan ku, kami saling berhadapan. Dia menghidupkan satu persatu layar di dalam ruang rahasia itu. Alat komunikasi mendunia terbuka lebar. Ada potongan sliede foto beberapa orang yang aku kenal di perusahaan.


"Ada apa sayang? apa yang membuat kamu membawa aku kemari, biasanya ... apakah Zankoku beraksi lagi?" tanyaku sedikit resah.

__ADS_1


Bagas menggeleng.


"Bukan sayang, tapi ini sama berbahayanya kalau dibiarkan. Aku medapat informasi, di perusahaan menyelusup beberapa orang yang berniat buruk kepadaku. Mereka lebih halus permainannya dari pada Zankoku, kamu tahu ? mereka adalah bagian dari orang-orang yang tak pernah berhenti mencoba menyiksaku sejak aku kecil, dendam yang aku tak tahu bersumber dari apa yang telah ayah aku lakukan kepada mereka."


Hening, kami saling tatap dan mencoba saling menguatkan hati.


"Jujur Ra, aku lelah dan sangat berharap bisa hidup damai layaknya manusia lain, tapi aku sadar, itu tak mungkin," Bagas menghela nafas berat.Aku mengelus lembut punggung tangannya. Bagas menatap dalam-dalam bening mataku.


"Jangan Khianati aku Zara, apa pun alasannya," bisik Bagas.


"Apa yang membuat aku bisa berkhianat kepada suami yang sangat aku cintai sayang? itu hal gila yang tak akan pernah aku lakukan untuk alasan apa pun." desis ku.


Slide rekaman beberapa orang di layar LCD yang bertebaran di dinding kamar membuatku mengerutkan kening.


"Aku mencurigai Arkana bagian dari konspirasi mengambil alih seluruh simpati pemegang saham dan .... "


Aku menggeleng.


Bagas menatapku tajam.


"Aku juga berpikir begitu Zara, tapi kenyataannya sungguh mengejutkan."


Bagas menekan salah satu tombol di remote dan terbuka sebuah setting di dalam tangkapan layar. Setting sebuah rumah dan kamar yang diletakkan kamera rahasia yang sangat cnggih dan sulit terdeteksi keberadaannya.


Tampak sebuah ruangan yang dipenuhi foto aku, foto Bagas dan beberapa skema foto pohon keluarga Bagas Reinhard.


Di beberapa foto itu tertulis nama dan jabatan di perusahaan serta gambar target. salah satu target yang di kepalanya tergambar love hanya wajahku, sedangkan wajah lain diletakkan gambar bom. Aku bergidik dan menatap wajah Bagas penuh kengerian.


"Kamar siapa dan apa maksud dari semua itu?"


Bagas tersenyum dingin.


"Kamar Arkana!" getir suara Bagas menyimpan sebuah kesakitan yang ditelannya dalam-dalam di relung sukmanya.

__ADS_1


"Dia lelaki muda penuh misteri yang aku tak pernah tahu asal-usulnya namun semua sikap dan pembawaannya membuat aku sangat percaya dia berasal dari sebuah keluarga broken yang kedua orang tuanya tercerai berai."


Aku masih speechless tak mampu untuk membuka suara.


"Dia mencintai kamu Zara, jauh sebelum aku mennikahi kamu,"


Aku terperangah, ini semakin melebar kemana-mana dan semakin tak masuk logikaku. Meskipun sering melihat tatapan Arkana yang sangat berbeda dari biasanya, namun aku selalu mengabaikannya.


"Dia tahu kelemahanku adalah kamu Zara," desis Bagas.


"Maksud kamu Arkana musuh dalam selimut, tapi kenapa? apa alasannya? aku tak bisa percaya ini Gas," sentakku.


"Kenapa sayang? karena kamu mulai menyukai dia?" tanya Bagas begitu dingin.


"Tolong jangan bicara seperti itu sayang," desisku perih. Bagas membuang tatapannya ke arah lain.


"Sudah satu bulan ini aku mengawasi gerak-gerik Arkana saat berada di sekitar kamu, aku tahu dia menyukai kamu, dan mencoba untuk mencari kesempatan menyakiti aku melalui kamu," tutur Bagas.


"Aku lelah Zara, semua orang bersikap munafik di hadapanku.Tak ada yang benar-benar tulus kepadaku. Bahkan Ibu kandungku."


Aku semakin terperangah mendengar ucapa Bagas.


"Ibu? kamu bicara apa sayang?"


"Ada kenyataan perih yang aku tutupi dari kamu sayang, Ibu mempunyai suami yang tak pernah aku tahu sebelumnya, dia mengirimkan dana besar ke rekening lelaki itu dengan ATM unlimited yang aku berikan. Kamu tahu siapa suami Ibu itu?" tanya Bagas dengan gurat sangat lelah diwajahnya. Aku menggeleng.


Sebuah slide foto menunjukkan pertemuan Ibu kandung Bagas dengan lelaki itu di beberapa tempat. Bahkan beberapa kali mereka tertangkap kamera sedang bertemu di hotel. Lelaki itu adalah saingan bisnis Bagas Rainhard.


"Aku bodoh dan naif ya Ra, bahkan kamu barusan membohongi aku, kamu berteleponan dengan Arkana tapi berpura-pura berteleponan dengan adik kamu!"


Bagas berdiri dan mengambil pistol yang tergantung di dinding. Tubuhku seketika gemetar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2