
Niken terperangah mendengar rencana gilaku.
"Zara, kamu jangan gila, dia bukan Richard yang bisa kamu bohongi, sedangkan mafia Zankoku saja dilibasnya, bagaimana mungkin kamu mau menjadi asistennya atau malah sekretarisnya? gila kamu Ra."
Niken mengatakan untuk kembali saja sebagai Zara, namun sebelumnya cari bukti kejahatan keluarga Bagas terlebih dahulu. Aku tetap bersikukuh untuk masuk ke dalam rumahku sebagai pengasuh anak-anakku. Terlebih sekarang di rumah itu tak lagi ada ibu mertuaku yang sangat menyayangi cucunya, aku menghawatirkan pengasuh anak-anak yag baru akan menjadi jalan untuk Giandra, Grizella dan koloninya menyakiti anak-anakku.
"Kamu sungguh-sungguh sudah mengusai bela diri Zara?" tanya Niken terheran-heran.
"Iya Ken, kepala pengawal yang ternyata adik dari Bagas itu memberikan pelatihan sangat masive kepadaku saat Zankoku masih malang melintang mengganggu bisnis dan orang-orang terdekat Bagas, latihan yang diam-diam aku ikuti karena Bagas pasti tak mengizinkan aku untuk belajar bela diri, karena sudah memiliki banyak pengawal."
"Kalau begitu ikut ke tempat latihanku Zara, aku akan mengajarkan banyak tekhnik untuk membuat kamu mudah melumpuhkan lawan sekuat dan sebesar apapun dia."
Tanpa ragu aku mengikuti ayunan langkah anggun Niken. Dan benar saja dia mengajarkan aku tekhnik sangat rahasia untuk mudah membuat lawan tak bisa lagi melawan setelah hanya menggunakan satu jurus saja. Bersama Niken aku juga berlatih menembak.
Setelah melalui diskusi yang cukup panjang, kami memutuskan aku menyamar menjadi dua karakter, pengasuh yang berada di dalam rumah, dan saat ada kesempatan aku akan menyamar menjadi lelaki dan mengunjungi keluarga Bagas Rainhard. Niken meminta agar aku selalu mencari dia ke rumah atau apartemennya. Dia bersedia menolongku apa pun kondisiku satu kali 24 jam setiap hari.
Hari yang aku tunggu tiba, Bagas melakukan seleksi ketat untuk mejadi pengasuh utama putranya Bara, sebagai pengasuh tambahan karena istrinya sedang tak ada.
Bagas merahasiakan keberadaanku, penyamaran yang sangat sempurna bahkan aku terlihat gemuk sampai ke wajahku, sebuah trik yang Niken gunakan dalam film yang biasa memakai keahliannya. Aku mengira hanya film luar negeri yang mampu membuat trik sempurna sebuah penyamaran seperti ini. Tapi ternyata Niken sudah melakukannya. Tinggal bagaimana mengatasi kegugupanku saja.
Duduk di ruang tunggu bersama beberapa wanita lain yang cantik dan terlihat lebih siap menjadi pengasuh Bagas ketimbang menjadi pengasuh Barra putra kami membuatku easa sangat gerah. Beberapa terlihat sangat **** melebihi kepantasan. Aku sengaja mengambil kesempatan dengan tampil elegant sebagai wanita yang terlihat tak begitu langsing, wajahku bahkan terlihat gemuk dari leher hingga wajahku, tubuhku lebih berisi. Bagas tak sedikit pun terlihat mengenaliku. Bahkan warna mataku tersamar dengan mata coklat. Niken juga memasang implan suara untuk menyamarkn suara asliku.
"Ganteng banget ya si Papah muda ini, luar biasa, aku benar-benar terpesona hanya dengan melihat sekilas matanya yang dingin dan tajam itu."
Seorang wanita yang terlihat lebih pantas sebagai model ketimbang pengasuh anak berseloroh tiba-tiba.
"Iya benar, sekalian saja sih mengasuh balitanya sekalian Papanya, he he he mumpung istrinya sedang di luar negeri," sahut wanita lainnya. Aku hanya diam dan berusaha mengabaikan debur jantungku yang berdetak begitu kencang karena merasa sangat marah kepada fantasi mereka yang ingin menjadi pengasuh suamiku.
__ADS_1
Bagas memasuki ruangan bersama Mrs Bianca yang wajahnya terliihat sangat mendung. Sepertinya Mrs. Bianca baru selesai dimarahi suamiku karena kehilangan aku di pulau itu. Raut wajah suamiku pun terlihat sangat kaku dan dingin.
"Saya mencari pengasuh balita! bukan wanita penghibur! dandanan kalian sangat tidak tepat untuk disebut pengasuuh bayi, maaf saya tak bersedia mewawancarai kalian yang berpakaian tak sopan!"
Bagas memerintahkan kepala pengawalnya yang baru mengeluarkan beberapa wanita yang berpakain kelewat berani. Andika kepala pengawal baru adalah wakilnya Arkana saat masih menjadi kepala pengawal.
Hanya tersisa aku dan wanita lain yang tadi menghayal menjadi pengasuh Bagas. Bagas mengajukan beberapa pertanyaan mendalam kepada kami berdua tentang menghadapi bayi yang belum genap satu tahun, serta cara menangani bayi yang rewel. Setelah terasa cukup dia memanggil Dafa, dan meminta Mrs. Bianca membawa Bara.
"Siapa yang menurut Dafa cocok menjadi pengasuh adik kamu?"
Dafa menatap bergantian antara aku dan wanita berwajah sangat cantik di sampingku. Wanita yang lebih pas menjadi model.
Dafa menatapku lama, tapi dia malah berjalan ke arah wanita cantik di sisiku. Si wanita terlihat sangat gembira, senyum tipis terukir di sudut bibir wanita itu.
Dafa berdiri tepat di hadapan wanita itu, hatiku menjadi tak karuan.
"Kamu memilih dia?" tanya Bagas kepada Dafa.
"Dafa ngga suka Pa, terlalu wangi dan perut Dafa mual," sahut putra cerdasku.
Dia mendektiku dan tersenyum sembari mengangguk.
"Tante ini saja Pa," ucap Dafa.
Bagas mengangguk, kemudian dia meminta agar Bara di berikan kepada wanita cantik itu, tapi Bara gelisah dan tak nyaman. Kemudian Bagas meminta Bara diserahkan kepadaku. Ajaib, naluri anakku menemukan diriku meskipun aroma diri ini berbeda dari aromaku yang asli begitupun seluruh penampilan
Bara diam dalam pelukanku.
__ADS_1
Wanita itu kemudian dibawa Andika keluar dari ruangan dan diantar ke gerbang rumah. Sempat terlihat kekesalan diwajahnya terhadapku yang berpenampilan sederhana, namun mampu menarik perhatian bocah dan balita. Bagas mengingatkan aku dengan tegas bahwa aku akan diawasi, dia mengancam akan membunuhku dengan kejam kalau sampai membuat anaknya dalam bahaya. Dia mengancam dan terus mengancam sambil menatap tajam kepadaku. Berbeda dari Bagas, Bara malah memelukku dan menyandarkan kepalanya di bahuku.
Hari ini aku mulai bekerja di rumahku sendiri tanpa satu orang pun menyadari. Mrs. Bianca membawaku ke sebuah kamar, dekat dengan kamar anak-anak. Di kamar sebelahku tinggal pengasuh Dafa.
Bagas terlihat sangat lelah, wajahnya bgitu kuyu dan lelah, air mataku terjebak di kelopak mata melihat penderitaan bathin suamiku.
"Temukan Nyonya Zara secepatnya, aku mau dia hidup-hidup dan tak kurang suatu apa pun, aku akan bunuh kalian semua kalau sampai akibat kelengahan kalian dia mengalami hal buruk!" bentaknya saat melakukan panggilan telepon entah kepada siapa.
"Intai di rumah Arkana dan Ibunya juga rumah keluarga Zara, Saya yakin cepat atau lambat dia akan menemui mereka," titah Bagas. Setelah menutup sambungan telepon dia berjalan ke arah sofa dan duduk di sana. Dia bersandar dan memejamkan matanya, terlihat sangat lelah, aku tertegun melihat ada bulir air mata jatuh di sudut mata terpejam itu. Ingin rasanya mendekat dan memeluknya seperti biasa.
Satu minggu aku menjadi pengasuh anakku sendiri, selama itu juga aku melihat bagaimana Bagas mati-matian berusaha menutupi perasaan sedih dan sakitnya dengan berolah raga di ruang olah raga.
Dia terlihat semakin dingin dan kaku terhadap semua orang, tak kulihat lagi senyum di bibir itu, wajahnya dan kelakuannya kembali lagi seperti sebelum menikah dan jatuh cinta kepadaku. Bagas sesekali terlihat mengurung diri di kamar kami.
"Zara maafkan aku sayang, maafkan aku yang sangat jahat terhadap kamu, tapi kenapa kamu tega bekerja sama dengan Arkana dan Ibunya untuk menipuku, apakah kamu tak tahu bahwa aku sangat mencintai kamu," desisnya tercekat saat duduk di tepi kolam renang sembari memeluk Dafa yang tertidur di pangkuannya.
Andai aku tak sedang dalam misi mencari tahu penjahat tersembunyi di dalam rumah kami yang melaporkan dengan sengaja seolah aku dan Arkana memang bekerja sama, mungkin aku akan segera menghambur ke arahnya dan segera memeluk lelaki itu.
Namun keinginanku untuk menangkap basah penghianat atau mungkin kaki tangan Giandra dan Grizella yang menyelinap di dalam rumah ini entah sebagai pelayan atau sebagai apa membuatku bertahan dan membiarkan Bagas sementara merindukanku.
Malam merambat jauh, ketika aku melihat pengasuh Dafa menyelinap ke luar dari rumah dan berjalan menuju tempat terlindung dari CCTV, di salah satu sudut di dekat WC karyawan. Aku berjalan pelan mengikutinya dan bersembunyi tak jauh dari wanita itu.
"Iya Non, aku akan segera bawa Dafa keluar dari rumah ini secepatnya, sekarang sudah ada pengasuh baru Bara, dia akan saya jadikan kambing hitam atas hialngnya Dafa. Nanti saya akan bawa dia untuk ikut ke sekolah Dafa."
"Siap Non, nanti dia akan kami serahkan ke tim eksekusi, biar sekalian lenyap bersama pengasuh baru itu."
Aku teramat sangat geram sehingga tubuhku gemetar menahan amarah, seandainya saja tak sedang berusaha mencari mereka yang merupakan penyusup di rumah Bagas, sudah pasti kupatahkan tangan dan kaki perempuan jahat itu saat ini juga.
__ADS_1
Bersambung
Siapakah yang berhasil menyusupkan kaki tangannya di dalam rumah Bagas?