
Nama dikontak itu tertulis Bad Mother.
"Angkat sayang," bisikku. Bagas menggeleng.
"Aku sangat membenci dia melebihi apa pun."
"Dia Ibu kamu kan?"
Bagas melengos, dia tak menggubris bunyi telepon itu. Malah dia silent ponselnya kemudian dikembalikan ke atas nakas.
Bagas memilih kembali merengkuhku kedalam kehangatan.
"Sayang, kenapa kamu membatalkan kontrak pernikahan kita? kamu mencintaiku?" tanyaku hati-hati.
Tak terdengar jawaban, hanya kurasakan dia terus mengeksplore diriku. Aku merenggangkan pelukannya.
"Jawab sayang."
sejenak dia diam, kemudian dia menggeleng perlahan. Sekujur tubuhku terasa menegang. Lalu dia berucap perlahan sembari menatap mataku.
"Aku sudah mendefinisikan perasaanku kan? aku tak tahu maknanya karena belum pernah merasakan sebelumnya. Aku selalu merasa tenang dan nyaman saat ada kamu, tubuhku bereaksi tak terkendali saat menyentuhmu." ucapnya lugu.
Aku tak mengerti, mengapa sedewasa ini, Bagas belum mampu mendefinisikan perasaannya. Ataukah hanya alasan untuk membuatku tak banyak bertanya,?
"Sekali lagi sayang, tolong jawab, kamu meniduriku karena apa?" tanyaku datar.
Bagas mengecup keningku lembut sembari berkata:
"Aku bergairah melihat kamu Zara, memelukmu, menciummu, dan yang terpenting kamu istriku, halal buatku untuk menikmati keintiman yang belum pernah kurasakan, terlebih aku berharap keturunanku hanya lahir dari satu wanita, yaitu kamu."
Sejenak hanya hening, kemudian Bagas menyambung kalimatnya:
"Cinta atau bukan, bagiku tidak penting Zara, kenyataannya cuma kamu yang bisa membuat aku memaksa seorang wanita untuk menikah, cuma dengan kamu aku merasa bahkan kebahagiaan tidak melulu tentang harta benda. Dan hanya kamu yang ku inginkan di tempat tidurku, jangan paksa aku mendefinisikan apa yang aku tidak tahu."
Bagas kembali membuatku tak bisa beranjak dari tempat tidur hotel mewah ini. Dia benar-benar baru merasakan hubungan intim suami istri, dia begitu takjub dan membuat aku tak berkutik. Meskipun dia tidak mengakui kalau dia mencintaiku, cukuplah bagiku dia menginginkan aku menjadi satu-satunya ibu bagi keturunannya.
Kami bertemu dengan Mr. Han dan Ny. Kim. Mereka menanda tangani kesepakatan kontrak ekslusif dengan perusahaan Konstruksi milik Bagas. Sementara untuk kerja sama lain di perusahaan IT belum memperoleh kesepakatan yang tepat bagi kedua belah pihak.
"Kita pulang ya sayang."
Bagas memelukku dari belakang, dia sangat menyukai bermanja dan menopang kepalanya di pundakku.
"Iya sayang, kita pulang. Reynald sudah mengurus semuanya kan?"
__ADS_1
Bagas mengangguk.
"Sudah sayang, besok penerbangan pertama." sahutnya.
"Lepaskan sayang, aku mau beberes dulu. Menyiapkan keberangkatan kita esok."
"Sudah sayang, aku sudah membereskan semuanya, kamu bersantai saja.Ayo kita buat dede nya Panji." ucapnya santai. Dia mengangkat dan menggendong ku sampai ke dalam kamar.
Bagas baru saja terlelap. ketika kontak Bad Mother itu kembali menghubungi. Karena tidak diangkat, dia mengirimkan chat.
"Bagas, tolong ibu nak, kepads siapa lagi Ibu minta bantuan kalau bukan kepada putranya."
Tanganku menegang. Muncul pertanyaan, kenapa Bagas mengabaikan Ibu kandungnya bahkan menamai dengan sebutan "Bad Mother."
"Gas, 2M bukan uang yang banyak buat kamu, bantu Ibu nak."
Aku mengerutkan keningku. Iseng ku balas chatnya.
"2M untuk apa Bu?"
Tidak memerlukan waktu lama, balasan muncul dengan cepat.
"Ibu mau bisnis, ikut trading company satu bulan ibu kembaliin deh duit kamu. Jangan khawatir.Tolong secepatnya ya Gas, ibu ngga bisa nunggu lama!" balas Ibu panjang lebar.
Ponsel Bagas kembali berbunyi, aku tidak nyaman dengan situasi ini. Aku mengangkat ponselnya dan bersamaan dengan itu Bagas bangun. Wajahnya memerah laksana terbakar. Direbutnya ponsel itu dan dimatikan begitu saja panggilan dari Ibunya.
Dia mencengkram bahuku dengan amarah tak terkendali.
"Siapa yang meminta kamu membalas chat wanita itu! dan siapa yang memberi kamu wewenang untuk mengangkat teleponnya!" teriaknya kalap.
"Sayang, lepaskan cengkraman tangan kamu, ini sakit banget."
Bagas mendorongku hingga terlempar kesudut tempat tidur dan membentur sandarannya.
"Hanya karena kamu tidur denganku dan memiliki status sebagai istriku, bukan berarti kamu berhak mengacak-acak privasiku!"
Perasaan kaget yang dibarengi rasa sakit di bahu ini, membuatku diam dab tercekat. Aku terpana melihat Bagas menatapku dengan sorot mata bagai laser, begitu tajam dan membuatku merinding.
"Hanya? kamu sebut aku hanya istri? apakah sebegitu tak berartinya hubungan mesra yang kita bangun selama ini, hingga kamu begitu marah karena aku lancang membalas chat ibu kamu, aku hanya khawatir ...."
Bagas menarikku kembali, kali ini dia menggenggam daguku. Matanya berkilat.
"Kalau menurut kamu status sebagai istri memberikan kamu hak mencampuri urusan pribadiku, kamu salah!" desisnya. Emosinya tak berkurang sedikit pun.
__ADS_1
"Aku cuma kasihan karena ibu kamu semalaman terus menghubungi, aku pikir itu penting, makanya aku balas chatnya, aku ngga tahu kalau ...."
"Diam! kamu tidak punya hak membela diri, kamu bersalah!"
"Aku tahu sayang, aku memang salah, maafkan aku." aku meringis menahan sesak di dadaku.
Aku mencoba melepaskan cengkraman tangan kokoh itu dari daguku. Terasa sangat menyakitkan.
"Apakah kedekatan dan rasa sayangku kepada kamu tidak bisa mencegah dirimu dari berbuat kasar kepadaku saat kamu marah Tuan Reinhard!" bisikku lirih. Air mataku mulai tak bisa kutahan lagi.
Akhirnya cengkraman menyakitkan itu terlepas.
Bagas memalingkan wajah dariku.
"Aku tak terbiasa dan tak ingin kehidupan pribadi yang tak ingin kubagi diusik siapa pun, juga oleh kamu!"
Aku beranjak pergi meninggalkan Bagas yang masih terlihat sangat marah. Aku beranjak keluar dari kamar hotel, tanpa membawa apa pun selain ponselku yang hampir mati karena belum ku charge. Bagas bergeming, seakan tak ingin mencegahku.
Saat kembali ke kamar hotel, aku tertegun, semua pakaian Bagas tidak terlihat. Dia meninggalkan barang-barangku dan sebuah note diatas nakas.
"Aku pergi, besok kembalilah sendiri ke Indonesia."
Perasaanku remuk redam. Aku sudah terlajur jatuh cinta kepada kelembutan dan keluguannya tentang cinta. Tapi hari ini hati ini bagai tercerabut paksa dari akarnya. Aku tahu kesalahanku, tapi meninggalkan istrinya sendirian di negeri orang, adalah kebodohan.
Aku sadar sepenuhnya, kesalaha bagiku karena terlalu percaya diri dan mengira hubungan kami cukup kuat dan istimewa, sehingga bisa membuat redam emosi dan kemarahan atas nama cinta. Tapi ternyata aku salah besar. Hubungan kami tidak begitu kokoh untuk menahan emosi Bagas. Aku tak begitu memahami dia. Namun aku tidak menyesal telah mencintai dia dan tidur bersamanya. Karena aku sungguh mencintainya.
**********%%%%%********
Aku hendak melagkahkan kaki memasuki taxi yang akan membawaku ke Bandara, ketika tiga orang lelaki tegap dengan jas hitam dan kaca mata hitam menghalangiku, salah satunya membekap mulutku, kemudian membawaku masuk ke dalam sebuah mobil limusin hitam metalic.
Aku ketakutan, mereka bukan dari Indonesia, sepertinya mereka berkebangsaan China dan Jepang. Satu orang yang menunggu di dalam mobil tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu akan menjadi sandra kami Nyonya Rainhard. Berdoalah bahwa kamu masih bisa kembali ke sisi suami sombong kamu itu." ucapnya dengan bahasa Inggris terpatah-patah.
Aku berusaha melepaskan cengkraman mereka di bahu dan tanganku.
"Don't touch me!" ucapku kalap. Mereka melepaskan cengkraman tangannya.
"Who are you Mr? what do you want from my husband?" tanyaku gemetar.
Lelaki yang duduk di samping sopir itu tertawa tergelak.
"later you will know honey." selorohnya sembari memerintahkan anak buahnya melakban mulutku. Aku hanya bisa menitikkan air mata. Sungguh aku ketakutan luar biasa.
__ADS_1
Bersambung
vote and share please my readers❤❤❤