ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 21 Disekap 1


__ADS_3

Sepanjang perjalanan mataku di tutup dengan kain hitam, tapi ketika sampai tujuan mereka melepaskan penutup mataku.


Mereka membawaku ke sebuah gudang yang penuh dengan kardus bergambar buah, seperti gudang buah kemas. Tapi melihat penampilan penjaganya aku tidak yakin. Ada beberapa drum plastik bersegel dan banyak lagi peti kemas. Aku dimasukkan ke dalam ruangan tanpa ventilasi memadai di bagian samping gudang, ruangan itu terlihat cukup bersih. Di situ ada tempat tidur dipan dan meja beserta kursi. Aku merasa seperti tahanan yang akan dieksekusi.


Beruntung aku berhasil menyembunyikan ponsel di tempat tersembunyi. Aku duduk di sisi meja, khawatir kalau saja ada kamera pengintai. Aku berusaha menghubungi Bagas, 2x panggilan masuk tapi selalu direject. Yang ketiga kali nomerku diblokir. Tak bisa lagi menghubunginya. Air mataku menggenang. Kini aku sadar, diri ini tak berarti apa-apa untuknya. Sebelum ponselku ditemukan mereka, aku mengirim Email kepada Arkana.


"Ar, aku masih di Jepang, tanpa Bagas, dia pergi duluan karena ada keperluan mendesak. Tapi baru saja aku hendak menuju Bandara Tokyo Narita, beberapa orang menculikku."


Aku mendefinisikan bentuk gudang, berapa lama perjalanan dari tempat aku diculik.Berapa kali belok kiri berapa kali belok ke kanan. Setidaknya aku berusa untuk memudahkan Arkana tahu posisiku. Karena takut ponselku terdeteksi, aku melepaskan bagian-bagian ponsel itu, Mati total. Aku akan merangkai lagi saat keadaan memungkinkan. Kalau aku menghidupkan signal posisiku sekali lagi sementara Arkana bahkan belum sampai ke Jepang, aku takut akan dipindahkan lagi ke tempat lain.


Hampir satu jam aku dibiarkan di ruangan ini ketika seorang perempuan berpakaian ala mafia, mungkin berkebangsaan eropa, karena rambut pirang dan kulitnya serta warna matanya mencirikan hal tersebut, dia mendekat ke arah ruanganku. Dia membawa sesuatu di tangannya. Sebuah kotak hitam.


Cekrek ...


Pintu kamar di buka. Dia menatap tajam ke arahku.

__ADS_1


"Kamu tidak akan dicelakai selama kamu berguna untuk Big Boss ku, sebentar lagi dia akan tiba. Jangan banyak bertanya, jangan banyak tingkah, oke?" dia mencengkram erat rambutku dan mendekatkan wajahnya.


"Jangan membuat marah Big Boss kami, karena kalau dia kesal, dia bisa saja memerintahkan kami untuk tidak segan-segan menembak batok kepala kamu!" ancamnya dengan sorot mata yang sangat dingin. Dia meletakkan kotak hitam yang tadi dibawanya di atas meja. Entah apakah isinya.


Sungguh menakutkan, entah apa yang pernah dilakukan Bagas sehingga dia memiliki musuh internasional.


Derap langkah beberapa orang sepertinya sedang menuju ke ruangan tempat aku disekap.


"Michele, jangan terlalu kasar pada tawanan berharga ini, keberadaannya bisa membuat kita punya jaringan besar di Indonesia. Lelaki angkuh itu tak akan punya cara lagi untuk menolak penawaran kita!"


"Siap Bos!" sahut perempuan yang dipanggil dengan sebutan Michele itu, dia terlihat tunduk dan hormat kepada lelaki di hadapanku. Lelaki di hadapanku berwajah sangat tampan dengan penampilan teramat macho.Rambut panjangnya diikat ke belakang. Tubuhnya tinggi tegap seperti Bagas. Namun di beberapa bagian di lengannya terlukis tatto. Di bawah dagunya seperti bekas luka yang tidak di operasi plastik sehingga meninggalkan gurat. Dia masih bergeming menatapku dari jarak lebih dari 3 meter.


Yang berbicara bukan Big Bossnya, tapi pendampingnya. Kemudian Big Bos yang tak ku ketahui namanya itu mendekat.


"Satu minggu, kalau kesepakatan aku dan Bagas Rainhard gagal, kamu mati di tempat ini. Kami akan memasang saluran uap beracun yang akan membunuhmu secara perlahan. Tenang dear, tak akan terasa sakit. Kamu hanya akan merasa seolah tertidur. Berdo'alah supaya suami kamu bersedia menandatangani kesepakatan rahasia bersama orgaisasi kami."

__ADS_1


Dia mendekatkan wajahnya ke arah wajahku. Menatap tajam ke dalam bola mataku yang gelisah dan ketakutan.


"Kesempatan kamu satu minggu dear!" tangannya terulur hendak mengusap pipiku, tapi aku menjauhkan wajahku. Dia tersenyum dingin.


"Sangat disayangkan kalau kamu harus mati, wajahmu terlalu cantik." bisiknya di telingaku. Beberapa orang memasang kotak hitam yang ternyata terhubung dengan saluran udara. Aku hanya diam, menunduk dan tak berani melihat aktivitas mereka yang sedang menyiapkan peralatan untuk melaksanakan eksekusi diri ini. Ketika mereka semua pergi dan ruanganku kembali dikunci. Aku melepaskan tangisku. Yang terbayang di pelupuk mataku adalah kedua orang tuaku. Kedua adikku. Dibenakku pun terlintas sejenak bagaimana Bagas menatapku penuh amarah dan teringat bagaimana dia mereject panggilan telepon permintaan pertolongan dariku bahkan dia memblokir nomerku disaat seharusnya dia menyelamatkan aku. Tak terbayangkan perasaan sakit hati diabaikan seseorang yang kucintai berbaur dengan perasaan ketakutan akan kematian mengenaskan diri ini.


Namun yang lebih menyedihkan lagi adalah luka penyesalan yang akan menjadi salah satu alasan Bagas untuk merasakam trauma lagi. Entahlah, atau dia malah akan bersyukur, wanita lancang sepertiku musnah tanpa dia harus bersusah payah menyingkirkanku.


Aku mengedarkan penglihatan untuk melihat beberapa kemungkinan untuk melarikan diri. Namun terasa sangat mustahil. Aku menaiki meja dan mengetuk atap plafon. Namun andai pun aku berhasil keluar dari ruangan ini, penjaga yang bersiaga di luar gudang ini tidak sedikit. Aku bergidik.


Untuk menenangkan diri aku memilih mandi. Saat masuk ke kamar mandi aku terhenyak, di sana juga dipasangi piva yang menghubungkan satu sama lain dengan saluran udara di ruang tidur.


Mereka benar-benar berniat membunuhku seperti seekor tikus. Aku berhenti meratap dan menangis. Kalau tak ada sesiapa pun yang bisa kuandalkan, aku harus berpikir keras agar bisa menyelamatkan diriku sendiiri.


NOTE:

__ADS_1


dialog mereka semuanya dalam bahasa inggris.


Bersambung


__ADS_2