ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 26 Ngidam 1


__ADS_3

Bagas dengan pakaian santai dan casualnya terlihat lebih tampan. Aku lebih suka melihatnya. Terlihat lebih macho dan laki. Dia memesan dua porsi toge goreng.


"Nih, kita makan bareng." ucapnya santai. Aku tertegun. Dia biasanya anti makan di pinggir jalan.


"Enak ngga?" tanyaku, karena saat ku suap sesendok, aku justru sudah tak menginginkan lagi.


"Katanya pengen, kok malah ngga di sentuh lagi."


"Udah, cuma nyicip aja." sahutku. Wajah Bagas berubah seperti marah tapi ditahan. Dia memanggil Arkana untuk mengembalikan piring yang keduanya masih terisi penuh.


Mobil kembali merangkak meninggalkan jalan tempat pedagang kaki lima makanan khas trdisional betawi. Tiba-tiba aku sangat menginginkan kerak telor. Bagas melotot, karena terpaksa kembali


putar balik di jalan yang ramai.


Saat tiba kembali di rumah, dia terlihat sangat bad mood. Namun lagi-lagi dia mampu menahannya. Kemajuan pesat seorang gunung es bahkan rela melakukan hal paling tidak disukainya, demi sang buah hati. Ini baru janin di rahimku, belum terlahir ke dunia ini dia sudah sangat menyayanginya.


"Sayang, kamu tidur sendirian di tempat tidur kita ya, aku di sofa aja."


Bagas mengambil bantal dan selimut.


"Kenapa sayang?" tanyaku heran.


"Takutnya kalau deketan sama kamu, aku jadi pengen. Kasian utun, nanti ...."


Aku tersenyum dan jujur menahan ketawa.


"Ngga apa-apa sayang, kan bisa dengan cara lain, tenang aja ya, ayo kesini aja bobonya, sofa itu ngga cukup buat menampung kamu, nanti kamu sakit harus menekuk tubuhmu di sofa."


Bagas meatapku sangat lembut, dia meraihku dan memelukku erat, kepalanya dibenamkan di perutku. Sambil berdiri aku mengecup pucuk kepalanya.


"Utunnya Papa, lagi apa?" tanyanya pada si utun yang masih belum genap tiga bulan.


"Utun lagi bobo Papa." sahutku. Bagas tertawa geli sampai matanya menyipit. Pemandangan yang sangat langka untukku.


Tanpa sungkan ku kecup keningnya.


"Sayang," bisiknya sembari mengelus perutku mesra.


"Hemz?" jawabku singkat.


"Kamu yakin bisa dengan cara lain? eum digimanain?" tanyanya polos. Matanya mengerjap. Aku sungguh merasa speechless.


"Nanti kita langsung eksekusi saja ya? aku malu dong menjelaskanya." sahutku terasa wajahku memanas.

__ADS_1


Bagas berdiri dan menggendongku ketempat tidur. Dia berbaring miring menatapku yang juga berbaring miring menghadap ke arahnya.


"Kenapa kamu meninggalkan aku saat di kamar hotel di Jepang?" tanyaku hati-hati sambil membelai pipinya. Bagas menangkap tanganku dan mengecup lembut telapak tanganku.


"Itu kebodohan yang sangat ku sesali, sampai saat ini sayang. Aku hampir kehilangan wanita yang bisa membuat jantungku berdetak dan tubuhku hangat oleh perasaan memiliki."


Bagas mendekat dan meletakkan tangannya di pipiku, sementara jempolnya membelai bibirku.


"Saat itu aku menyesali telah berniat meninggalkan kamu, aku kembali ke hotel, tapi aku diculik saat hendak kembali ke kamar kita sayang, syukurnya aku berhasil meloloskan diri dari mereka setelah dua jam disekap. Namun karena ponselku hilang saat dikejar mereka, aku tidak tahu harus mencari kamu kemana, saat aku menghubungi Arkana melalui email di sebuah warnet, dia mengatakan kamu diculik, saat itu duniaku seakan runtuh. Aku takut, aku merasa sangat takut kehilangan kamu selamanya, karena aku tahu kekejaman bos mereka seperti iblis."


"Lalu bagaimana kalian bisa menyelamatkan aku di hari ke lima itu?"


"Aku mengulur negosiasi dengan mereka, sementara itu Arkana dan team melacak keberadaan kamu, baik dari keterangan kamu maupun melalui GPS ponsel kamu yang beberapa kali tertangkap radar kepolisian."


Bagas mengecup keningku lembut, aku merasa sangat dicintai lelaki dihadapanku meskipun dia tidak pernah mengucapkannya.


"Oh ya sayang, kenapa kamu dan Arkana menutup wajah saat membebaskan aku?"


Bagas tersenyum, sembari tangannya menyusup ke balik piyamaku. Aku menggeliat oleh ulah jahil tangannya.


"Permintaan pihak kepolisian wilayah sana sayang, mereka tidak diijinkan pimpinannya melibatkan warga sipil


dalam tugas berbahaya itu, alasan kedua kalau sampai anak buah mafia itu mengenaliku, yang akan mereka tembak mati di hadapan mata kepalaku adalah kamu."


"Kenapa kamu menghilang selama sebulan?" tanyaku lagi. Kali ini tangan usil Bagas mulai merambat ke daerah-daerah yang membuatku tak lagi bisa menahan untuk tidak membalasnya.


"Aku terluka cukup parah sayang, tapi aku tak mau kamu ketakutan, jadi kuminta Arkana berpura-pura tertembak di bahunya karena aku tahu kamu sangat cerdas, pasti akan mengecek kebenaran itu,"


Ketika hendak bertanya hal lain, Bagas sudah mencium bibirku, menutup mulutku dengan mulutnya yang manis.


"Istriku, kamu membuat aku candu." desisnya penuh gairah.


Seperti janjiku, ku berikan servise luar biasa untuknya. Tanpa harus menyakiti si utun yang masih belum begitu kokoh di rahimku.Suamiku terbukti belum berpengalaman. Dia salah satu yang tidak melakukan sex pra nikah diantara sekian banyak lelaki yang mungkin melakukan sex pra nikah. Bagas sangat berbeda, dia benar-benar lugu dan terkejut dengan permainan malam ini.


Setelah gairah itu memudar karena telah meletupkan kepuasan di wajah tampannya, dia merengkuhku ke dalam pelukannya.


"Terima kasih sayang, aku ngga bisa berkata apa pun, tapi jujur, aku bahagia." bisiknya di telingaku.


"Sama-sama suamiku, kewajibanku untuk memberikan yang terbaik yang aku bisa untuk mu." balasku mesra di telinganya.


Malam merambat naik, Bagas terlelap di dalam pelukanku. Ketika ku dengar ponsel barunya berbunyi, dari nomer yang tidak terdaftar.


Sebuah kiriman vidio masuk aku membangunkan Bagas. Dia mengucek matanya.

__ADS_1


"Kenapa sayang."


Aku mengangsurkan vidio yang belum sempat kubuka.


"Abaikan sayang, itu vidio palsu kamu dengan mafia gila itu."


Aku ternganga lebar.


"Maksudnya?"


"Mirip kamu tapi bukan kamu banget, aku kan kenal setiap inci bagian tubuh kamu. Wanitanya lebih banyak menyembunyikan wajah mungkin agar terlihat seperti kamu beneran."


"Kamu yakin ngga pengen lihat dulu sebelum dihapus?" tanyaku menggodanya.


"Ngga mau!"


"Sebentar sayang kenapa mereka tahu nomer baru kamu?" tanyaku heran.


"Ini bukan nomer baru sayang, tapi nomer lama yang ku ambil lagi, diurus di ..."


"Ya ya ya aku faham," sahutku manja.


"Tadinya aku berpikir ada penghianat di sekitar kamu Sayang."


"Memang ada penyusup sayang, kami sedang menyelidinya."


Aku terperangah kaget.


"Gimana dong sayang, gimana kalau peyusup itu ada diantara pengawal kita?" tanyaku khawatir.


"Kita tidur dulu istriku, aku penat memikirkan semua itu, saat di tempat tidur bersama kamu, aku tak mau memikirkan yang lain."


Bagas menarik selimut dan merengkuhku ke dalam dekapannya.


"Tidur ya sayang, kalau terlalu lama terjaga, aku takut pengen lagi." selorohnya sambil tertawa ringan.


Aku merasa sangat bahagia menyadari kini suamiku semakin romantis.


Beberapa chat di ponsel Bagas masih terus masuk. Tapi aku terlampau nyaman dan mengantuk untuk mengurusi isi chat itu. Terlebih hangatnya pelukan suami gunung es yang sudah mencair itu terasa begitu nyaman dan melenakanku.


Bersambung


Ini baru awal konflik ya guys, nantikan konflik sesungguhnya drama romantis ini.

__ADS_1


__ADS_2