
Semua kelakuan pengasuh Dafa langsung kurekam dengan perekam yang terpasang di kaca mataku. Alat canggih itu hanya perlu kutekan pada tombol kecil di tangkai kaca mata, sehingga bisa merekam semua yang kulihat dan kudengar tanpa harus menggunakan ponsel.
Sebagai ahli IT tak sulit bagiku menemukan seseorang yang mampu memberikan alat yang kubutuhkan, aku mensetting sendiri langsung masuk ke perangkat komputer yang terhubung ke jaringan komputer milik Bagas di ruang Rahasianya di rumah kami. Bagas lupa meskipun dia telah mengunci akses pintu rahasia itu dariku namun dia tak bisa mengunci aksesku ke perangkat rahasianya karena aku diam-diam mengetahui sandi rahasa jaringan komputernya. Dia tak akan bisa melacak dari mana asal terkirim data yang kumasukkan ke komputernya, karena kemampuanku sebagai ahli IT di atas rata-rata.
Jangankan hanya menghecker program rahasia milik suamiku di ruang pribadinya, masuk ke data base perusahaan besar miliknya pun aku mampu, bahkan tak mudah terlacak oleh siapa pun.
Setelah melihat Dafa terancam, aku tak akan ambil resiko dengan bergerak lambat demi mencegah kejahatan pengasuh Dafa, aku tak akan membiarkan pengasuh Dafa sukses menjalankan rencananya. Sedetik pun aku tak mau terlambat.
Malam itu, seperti biasa Bagas masuk ke dalam kamar rahasianya tanpa diketahui siapa pun manusia di dalam rumah besar dan sangat megah ini. Aku mengintai dari kamera kecil yang kupasang di sudut terlindung. Bukan hal mudah melakuakan semua itu, perlu nyali besar dan tekad yang kuat serta kehati-hatian luar biasa.
Aku yakin hanya dalam hitungan menit Bagas akan melihat file vidio yang telah terkirm ke data basenya. Kutunggu gelegar suara Bagas yang pasti akan menghentak kesenyapan malam ini, dan apa yang kutunggu menjadi kenyataan, dia berlari ke luar dari kamar rahasia itu lalu memanggil semua pelayan dan pengasuh termasuk aku. Dengan kalap dia memanggil kepala pengawalnya bahkan juga tim Black Shadow melalui tombol speaker di ruang tengah yang terhubung ke pos penjagaan di tiga titik halaman rumahnya yang sangat luas. Tengah malam yang menggemparkan tak bisa dihindarkan.
"Reno, apakah kamu dan Aditya mengetahui bahwa ada penyusup di dalam rumahku ini? atau kamu yang menjadi salah satu kaki tangan penjahat di dalam rumah ini!" gelegar suara Bagas membuat seluruh pengawal dan pelayan serta pengasuh gemetar ketakutan.
Reno sebenarnya adalah salah satu kepala pengawal, karena ada Aditya kepala pengawal pertama, namun pria itu sedang cuti menjenguk keluarganya di kota lain.
"Saya sama sekali tak mengetahui adanya penyusup tuan, selama saya menggantikan tugas Aditya, tak sekali pun saya mendapati pergerakan mencurigan masuk ke dalam rumah Tuan."
Bagas tertawa menggelegar, hingga matanya menyipit. Dia melemparkan sebuah guci mahal yang berada di hadapannya ke arah kepala Reno. Reno berkelit dan guci keramik mahal itu jatuh beradu dengan lantai dan pecah berserak.
"Kepala pengawal amatiran kamu Reno!" dengkus Bagas emosi. Matanya kini memerah dan sangat tajam.
Kemudian dia menyuruh salah satu pengawal menyeret Nina, pengasuh Dafa ke tengah ruangan. Wanita itu menggigil ketakutan.
"Siapa yang mengirim kamu ke sini perempuan jahan**!" bentak Bagas penuh emosi.
Nina menggeleng dan menangis, dia berlutut di hadapan Bagas dengan sekujur tubuh gemetar.
"Kalau kamu tidak mengatakan kebenarannya saya pastikan seluruh keluarga kamu akan saya culik dan siksa bahkan anak kamu yang sedang dirawat di rumah sakit akan saya bunuh secara perlahan!"
Demi mendengar apa yang akan dilakukan Bagas terhadap keluarga dan terutama anaknya, perempuan itu mengkeret mentalnya, dapat terlihat jelas dia sangat ketakutan, kemudian dengan gemetar dia mengatakan kalau dia utusan Zankoku Mafia yang telah tumpas. Bagas tertawa dingin, kemudian menyuruh salah satu pengawalnya menelepon seseorang untuk membawa seluruh anggota keluarga dari pengasuh Dafa untuk disiksa bersama perempun itu.
"Kamu memilih berdusta dan aku akan siksa mereka semua di hadapan mata kepala kamu, agar .... "
__ADS_1
"Ampun Tuan Rainhard, jangan culik mereka Tuan saya mohon," wanita itu menghiba.
"Saya hanya bertanya satu kali lagi tentang siapa yang telah menyuruh kamu, kalau kamu tak mau menjawab .... "
"Seorang wanita yang saya sendiri tak tahu namanya, dia memaksa saya Tuan, wanita itu bersama Nona Grizella, mantan majikan saya sebelum bekerja di sini," ucap wanita itu dengan wajah menunduk. Seluruh tubuhnya gemetar.
Bagas kemudian meminta pengasuh Dafa menghubungi bosnya. Nina memungut ponselnya yang tergeletak dilantai. Dia hendak menekan sendiri nomer di ponsel itu, namun Bagas tak ingin mengambil resiko kalau sampai si pengasuh meminta pertolongan, maka dia hanya meminta pengasuh itu menunjukkan nomer telepon sang penyuruh. Selanjutnya yang menghubungi dengan ponsel Nina adalah Reno.
"Ya Nina, ada perkembangan apa? apakah pewaris berkaki buntung sebelah itu sudah kamu siapkan untuk eksekusi besok pagi?"
Suara yang kudengar jelas suara Grizella. Benar-benar kurang ajar perempuan itu. Meskipun cantik tapi berhati busuk. Ternyata tak memiliki kemampuan memikat Bagas membuat dia kehilangan akal sehat, namun aku yakin masalah ini tak sesederhana terlihat, aku yakin ada konspirasi, dibalik Grizella ada sosok wanita yang tak diketahu namanya oleh pengasuh Dafa. Siapa wanita misterius itu, apakah mungkin dia adalah wanita yang sama yang telah membuat Bagas trauma berat? aku hanya bisa mengikuti jalannya peristiwa tanpa bisa berbuat apa-apa, setidaknya untuk saat ini. Karena setelah hari ini berlalu dan Dafa juga Bara aman, aku akan menjalankan rencana selanjutnya, menyusup ke lingkungan Grizella dan Giandra.
"Saya mau bicara dengan wanita yang menyuruh saya menjalankan misi ini Non, apakah bisa?" tanya Nina dengan ekspresi harap-harap cemas dan wajah pucat bagai kapas. Karena di kepalanya menempel pistol kepala pengawal.
"Sepenting apa? kamu sampai kan saja melalui saya!' bentak Grizella.
"Ngga bisa Non, ini hanya boleh antara kami berdua," sahut Nina.
Nina terdiam.
"Kalau Non Griz ngga mau menghubungkan, saya aka segera melepaskan diri dari pekerjaan ini," sahut Nina tegas.
Grizella tertawa dan di ujung akhir tawanya dia mengancam NIna.
"Silahkan kamu melepaskan diri dari pekerjaan ini, kamu tahu apa yang akan dialami anakmu di Rumah Sakit."
Reno kemudian berbisik di telinga Nina. Nina mengangguk.
"Saya ngga takut Non Griz, sebaliknya kalau Non Griz ngga mau menghubungkan saya dengan Ibu pemberi perintah untuk saya membuang Dafa dan pengasuh Bara yang baru sebagai kambing hitamnya, maka saya akan segera melaporkan kalian kepada Tuan Bagas Rainhard!"
Grizella terdiam.
"Dia sedang di luar kota sekarang! bagaimana mungkin saya akan menghubungkan kamu. Kecuali kamu sendiri yang melakukan panggilan!" bentak Griz kesal.
__ADS_1
"Oke, saya minta nomer teleponnya." sahut Nina dengan intonasi terukur. Gemetaran tangan dan kakinya sudah mulai berkurang meskipun pistol pengawal Bagas masih berada di kepalanya.
Setelah nomer telepon wanita misterius yang menginginkan salah satu pewaris kerajaan bisnis Bagas Rainhard disingkirkan itu didapatkan, Nina segera menghubungi nomer tersebut. Lama tak terdengar sahutan, Bagas tampak terlihat tak sabar, dia bersandar di sofa tempat duduknya. Sementara semua pelayan termasuk aku pengasuh anaknya duduk bersimpuh di lantai.
Dua kali panggilan tak diangkat, namun saat panggilan ke tiga di nada kedua wanita itu mengangkatnya.
"Siapa?" tanyanya singkat. Bagas tertegun sejenak, seolah dia mengenal suara wanita itu, wajah Bagas seketika bersemu merah. Netra itu memerah dan kedua tangannyaterkepal. Dia teramat sangat murka.
"Bangs** ! kurang ajar!" desisnya pelan. Dia berusaha keras untuk menahan ledakan emosinya. Secepat kilat dia memberi isyarat agar segera melacak lokasi wanita itu. Hanya dalam hitungan detik lokasi itu terpampang jelas di layar monitor besar di dinding. Bagas memberikan isyarat untuk segera Tim Black Shadow di wilayah tersebut meluncur ke lokasi.
"Saya Nina Bu, saya ingin memastikan, esok saya harus bagaimana terhadap Dafa?"
"Kenapa harus menghubungi saya! kamu tak harus menghubungi saya bod**! ada Grizella!" bentaknya keras dan tegas. Sambungan telepon terputus.
Bagas memerintahkan agar beberapa orang memindahkan rumah sakit anakny Nina, semua dia lakukan untuk membuat Nina tak bisa berkutik lagi. Nina kemudian dibawa ke markas tim BS wanita untuk diamankan sampai segala urusan beres. Sepeninggal Nina, Bagas berdiri tegak dan meminta kai semu bangkit berdiri.
"Jangan coba-coba menghianati saya! kalian tahu akibatnya! dan seseorang di dalam rumah ini sedang mencoba membobol pertahanan rahasia saya, tak seorang pun mampu selain istri saya! siapa pun diantara kalian yang saya temukan bukti sebagai kaki tangan istri saya, atau pun kaki tangan Grizella, nasib kalian tak akan lebih baik dari Nina!"
Aku terdiam.
"Seseorang berani sekali melakukan hacker pada jaringan komputer rahasia saya, meskipun dengan tindakannya saya bisa mengetahui rencana jahat Nina, namun dengan perbuatan beraninya mengambil resiko ini, saya akan pastikan membawanya ke ranah hukum, pelanggaran privacy mungkin akan membusuk dipenjara! saya mampu membeli hukum untuk membuat penghianat meringkuk di dalam penjara!" bentak Bagas sambil menatap tajam kepada kami satu persatu. Saat menatap ke arahku, dia menatap cukup lama, perasaanku sangat tak karuan.
"Mengakulah siapa di antara kalian yang mengirimkan file rekaman itu kepada system rahasia milik saya? lebih baik mengaku baik-baik dari pada saya tarik kamu dari persembunyianmu!"
Tak ada satu pun yang berani bahkan untuk sekedar bergerak, hening. Aku berusaha mengatur ritme jantungku yang bertalu tak menentu.
"2x 24 jam belum mengaku, saya pastikan saya akan menemukan kamu!" bentaknya lagi.
Sungguh luar biasa, Bagas Rainhard, dia bahkan hendak memenjarakan orang yang memberikan informasi penting. Yang dia pikirkan memang masuk akal, kalau ampai system rahasia saja bisa dibobol dengan mudah, pasti dia khawatir si pembobol akan melakukan hal lebih berbahaya.
Sebenarnya itu adalah kekhawatiran yang manusiawi sekali.
Bersambung
__ADS_1