
Bagas berteriak kalap, membuatku yang sedang menyeduhkan kopi untuknya terperanjat kaget.
"Kalian semua mau saya pecat? berkumpul semua!" perintahnya kepada semua pelayan. Mereka berdiri berjejer dengan kepala menunduk.
"Kalian tahu istri saya sedang hamil muda, saya sudah katakan jangan ada satu hal pun yang bisa membuat istri saya dalam bahaya."
Mereka diam, aku sendiri bingung, apa yang membuat da sangat murka.
"Siapa yang bertugas mengepel lantai teras?" gelegar suaranya membuat gemetar semua pelayan.
Seorang pelayan maju dengan tubuh gemetar ketakutan. Dia pelayan baru, anak dari salah satu pelayan senior.
"Lantai teras masih terlihat basah! kamu akan saya bunuh kalau sampai istriku berada dalam bahaya, lantai itu masih licin. Ini peringatan buat kalian semua, keberadaan kalian di rumah ini untuk membuat segalanya menjadi nyaman untuk kami, terutama untuk istriku, satu kali lagi saya lihat keteledoran fatal seperti itu, saya pastikan kalian bukan saja saya pecat, tapi juga akan saya buat kalian tidak bisa bekerja dimana pun! mengerti?"
"Iya Tuan!" sahut mereka serentak. Sebenarnya lelaki pemarah itu jarang mengoreksi pekerjaan pelayannya. Tapi sejak aku dinyatakan hamil, dia menjadi terlampau sensitive terhadap segala hal.
Setelah memarahi pelayannya, kulihat dia memeriksa ponselnya di ruang tengah, aku membawakan kopi favoritenya, kopi Gayo.
"Ra, untuk sementara kamu berhati-hati ya sayang, jangan terlalu sering bepergian keluar rumah meskipun hanya kerumah orang tuamu, Aku khawatir terjadi hal tidak diinginkan. Jaga bayi kita ya Ra, ku mohon."
Bagas mendekatkan wajahnya dan mencium keningku. Tangannya menyentuh perutku yang mulai terlihat membesar.
"Aku mau anak kita sehat dan lahir selamat."
"Iya sayang, aku akan menuruti semua arahan kamu." sahutku ringan.
Dia kembali melihat ponselnya.
"Ra, Grizella pulang ke Indonesia kembali. Dia berkarir di Indonesia."
Aku mengernyitkan keningku. Kenapa tiba-tiba dia merasa terusik dengan kehadiran Grizella.
"Lalu, kamu merasa terusik? apa kamu masih menyukainya? masih terluka karena dia pernah menuduh kamu Gay?"
"Bukan itu, dia akan menjadi brand ambasador salah satu aplikasi yang perusahaanku luncurkan. Karena dia pianis terkenal, makanya perusahaan menggunakan dia."
Aku mendekat ke arah Bagas.
"Kalian akan sering bertemu di perusahaan?"
Bagas menatapku lekat.
__ADS_1
"Iya sayang, untuk urusan pekerjaan, pasti dia akan sering menemuiku."
Perasaanku di serang rasa was-was dan khawatir.
"Gas, aku mau kamu hindari kerja sama itu. Bayar saja pinalti, putuskan kontrak kerjanya. Aku tidak mau mengambil resiko kamu kembali ke pelukannya. Aku tidak cukup percaya diri bersaing dengan perempuan sempurna seperti dia."
Bagas terdiam mendengar ucapanku.
"Belum tanda tangan kontrak." sahutnya singkat.
Aku memalingkan wajahku. Aku sungguh takut kehilangan suamiku. Takut hatinya tidak cukup kokoh untuk menolak pesona sang mantan.
"Aku tidak ingin terlihat seperti pengusaha amatiran yang melibatkan urusan pribadi di dalam pekerjaan."
Aku berdiri dan melangkah meninggalkannya. Aku tahu dia bukan lelaki yang mudah. Dia terlampau berpendirian. Sia-sia saja mendebatnya. Tapi jujur, aku takut, sangat takut, mungkin juga saat ini aku mulai insecure. Ketika langkah cepatku hampir sampai ke arah pintu kamar kami, Bagas berdiri dari kursi dan melangkah lebar ke arahku, kemudian dia memelukku dari belakang. Tangannya merengkuhku erat, sementara dagunya berada di bahuku.
"Zara, jangan cemburu ya, aku ngga mau kita bertengkar lagi."
"Jangan berdekatan dengan wanita itu Gas, aku mohon, aku tidak cukup percaya diri berhadapan dengannya. Aku dan masa laluku yang suram tak sebanding dengan dia yang begitu berkilau indah. Apalah aku Gas."
Bagas memutar tubuhku hingga kami berhadapan.
"Fisik kamu memang kumiliki, tapi hati kamu, aku tidak tahu, karena kamu ..." Bagas merangkum wajahku dengan kedua telapak tangannya.
"Terserah apa yang kamu pikirkan, terserah apa yang kamu rasakan Zara, tapi kamu harus tahu, Griz belum pernah membuatku candu dan menginginkan dia melebihi aku mengiginkan kamu."
Aku menepis tangannya.
"Belum pernah bukan berarti tidak akan pernah Gas "
Aku berlalu meninggalkan Bagas yang mematung di depan kamar. Ku tutup pintu kamar dan ku kunci dari dalam.
"Sayang, buka pintunya, aku mau pamit ke kantor, aku mau cium utun sekali saja. Tolong Zara."
Aku tidak menggubris ucapannya.Samar aku mendengar dia melangkah meninggalkan pintu kamar dan sejenak kemudian aku bisa melihat dari jendela kamarku mobil Bagas meluncur pergi meninggalkan halaman diikuti mobil pengawalnya. Aku hanya bisa menghela nafas. Bagas memilih mempertahankan Egonya untuk tetap menerima Griz di perusahaannya sebagai Grand Ambasador daripada membaca kecemburuanku dengan hatinya.
"Non, Tuan bilang Non ngga boleh kemana-mana." ucap Mrs Bianca. Aku menatap luruh pada kepala Assisten Rumah Tanggaku.
"Aku harus pergi Mrs Bi, ada keperluan mendesak." sahutku.
"Tapi Non."
__ADS_1
"Abaikan saya Mrs, bila Tuan bertanya bilang saja saya memaksa, saya akan bertanggung jawab, kamu ngga akan disalahkan."
Aku dikawal oleh dua pengawal wanita. Mobil meluncur membelah jalan raya. Tujuanku menemui seseorang yang terus memintaku untuk menemuinya. Ibunya Bagas Rainhard. Mertuaku.
Di dalam perjalanan, Bagas meneleponku.
"Pulang Zara! aku tidak mengizinkan kamu keluar, Kalau kamu tidak menurut ...."
"Maaf Gas, aku harus pergi kesuatu tempat, ada yang harus kuurus."
"Pulang!" teriakannya menggema di kupingku.
"Kamu bersenang-senang diluaran, berdekatan dengan mantan kamu, sementara aku kamu kurung di rumah, bahkan bekerja pun kamu larang, kamu egois Gas!"
Kedua pengawalku salah satunya berada di belakang setir membawa mobilku, dia dihubungi Bagas.
"Maaf Non, saya harus membawa Non pulang."
Aku hanya bisa tersenyum kecut, namun di lampu merah aku melihat motor Rio, rupanya dia tidak membawa mobil taxolnya kali ini, aku bergegas membuka pintu mobil dan berlari keluar. Rio terkejut melihatku.
"Terobos yo,tolong cepat!"
Tanpa banyak bertanya, Rio membawaku melesat meninggalkan mobilku, mereka jauh tertinggal di lampu merah.
"Kenapa kamu Ra?"
"Aku lari dari pengawalku yo, aku mau menemui mertuaku, belok kiri di depan ya."
Rio mengangguk dan dia membawaku melesat membelah jala raya. Ponselku terus berdering, nada sambungnya lagu cicak-cicak di dinding. Tentu saja itu panggilan dari suami tampanku yang pemarah.
Di Cafe, sudah menunggu seorang wanita cantik usia paruh baya. Aku pamit pada Rio, Aku berterima kasih kepada Rio. Diamengatakan sangat ingin bertemu denganku selama ini, tapi sulit. Aku memberikan nomer ponsel pribadiku, dia terus mencari Panji. Rio mengatakan masih belum menemukan titik terang. Aku bersyukur Rio masih tetap mencari bayiku yang kini sudah berusia dua tahun.
Ponselku terus berdering.
"Kamu kembali membangkang Zara!"
"Karena kamu juga tetap memilih bekerja sama dengan Grizella, aku akan menjadi lebih liar lagi!"
Kumatikan ponselku.
Bersambung
__ADS_1