
Bagas mengajakku ke kamar bermain. Ruangan itu baru saja dibuat. Kamar besar yang disulap dari kosong menjadi penuh mainan anak-anak, semua jenis mainan mewah dan mahal ada di situ, sebagian malah didatangkan dari luar negeri. Mainan itu disusun begitu rapi dan menawan. Seolah tempat itu sudah lama disiapkan memang untuk ruang bermain.
"Nanti kalau Deva udah bisa familiar dengan rumah ini, dia pasti akan sangat menyukai tempat ini." ucap Bagas sambil tersenyum puas.
Aku menarik tangan kekar suamiku.
"Bagas Rainhard terima kasih untuk segala yang sudah kamu upayakan untuk anakku, rasanya ngga cukup hanya ..."
"Jangan drama deh." sahutnya cuek. Aku yang sejatinya sangat terharu jadi rada ill feel dibuatnya. Namun rasanya dia adalah pria super romantis dengan caranya.
"Tapi kok ada cicak di atas plafon." ucapku tanpa sadar.
Bagas sangat terkejut hingga meloncat dari dalam kamar bermain dan berlindung di belakangku.
"Buang dulu sayang, berapa ekor? kok bisa ada ya, padahal pelayan sudah aku peringatkan, tidak boleh ada seekor cicak atau kecoak pun di rumah ini!"
Bagas menatap geli pada dua ekor cicak di atas plafon, dibantingnya pintu sekuat tenaga. Gelegarnya membuat para pelayan berlarian ke arah kami.
"Saya sudah peringatkan, tidak boleh ada cicak, kecoak yang berkeliaran di rumah ini!" teriaknya dengan suara menggelegar.
"Maaf tuan, saya tidak memperhatikan kamar ini." sahut Mrs. Bianca. Bagas terdiam. Namun amarahnya belum usai. Para pelayan berburu cicak dan aku hanya bisa tersenyum melihat suamiku yang terlihat sangat kesal duduk di piggiran sofa dengan wajah ditekuk.
"Papa," Deva menghampiri Bagas sembari membawa mainannya.
"Ya Nak, kenapa?" wajah ill feel dan jutek itu seketika berubah drastis menjadi sangat ramah.
"Main yu." ajak Deva sambil menyorongkan robot-robotan ke arah Bagas.
"Ayo, sini."
Saat bermain aku mendengar Deva bertanya dengan santai.
"Papa kok takut cicak, padahal cicak kecil banget dan ngga bisa gigit." tanyanya polos. Bagas terdiam, matanya menerawang jauh. Seolah mengingat sesuatu yang tak ingin diingatnya.
"Dulu Papa dikurung orang jahat di sebuah ruangan sempit dan kotor, di sana banyak cicak dan kecoak, Papa jadi ..." air mata Bagas tiba-tiba melesak keluar. Deva menatap wajah Papanya dan berdiri memeluk leher Bagas.
"Papa jangan sedih." Deva mengusap air mata Bagas. Aku tidak berani menghampiri. Bagas membuka sedikit tabir perihnya kepada anak balita. Mungkin dia merasa nyaman bercerita kepada anak kecil yang belum mengerti apa-apa.
"Deva juga sering dikurung dan dimarahi. Dicubit dan dipukul kalau Deva ngga mau nangis saat digendong tante jahat itu."
__ADS_1
Bagas terkejut.
"Kurang ajar, siapa yang berani memukul kamu?" geram Bagas sembari meraih ponselnya.
"Itu, tante jahat, Deva disuruh nangis biar dapat uang." celotahan Deva sukses membuat Bagas murka.
"Arkana! cari perempuan yang selama ini menggunakan Deva buat mengemis! beri pelajaran yang tak akan pernah dia bayangkan sebelumnya."
Setelah selesai berbicara dengan Arkana, Bagas berbicara dengan pengacaranya dan meminta kasus Human Trafficking segera dipercepat pengadilannya. Dengan menggunakan banyak koneksi Bagas memerintahkan semua yang terlibat mendapatkan hukuman maksimal, terutama Rio dan kakeknya Bagas.
"Tuan, Nona, ada tamu didepan gerbang, memaksa ingin bertemu non Zara." seorang pelayan menghampiri kami.
"Siapa dan perlu apa?" tanya Bagas.
"Pak Genta dan Ibunya, katanya mereka tak akan pergi sebelum Non Zara menemui mereka."
Wajah Bagas terlihat sangat dingin. Dia memperbesar layar CCTV bagian depan gerbang. Tampak Genta dan Ibunya berdiri di sana.
Bagas menghubungi kepala pengawal di muka gerbang.
"Usir mereka, saya tidak bersedia melihat wajah mereka di hadapan kami, katakan Non Zara tidak diizinkan suaminya menemui orang-orang jahat. Lakukan apa pun agar saya tidak lagi melihat mereka menampakkan diri di sekitar rumah ini."
"Kamu ngga penasaran sayang, mereka mau ngomong apa?" tanyaku pelan sembari tanganku mengelus kepala Deva.
"Buat apa? mereka hanya akan memohon agar ayahnya Genta dibebaskan.Lelaki durjana itu harus membusuk di penjara!"
Aku sadar sepenuhnya, Bagas bukan type orang yang mudah diajak berdamai. Dia pendendam. Tapi itu hanya berlaku terhadap orang lain. Karena terhadapku dia sangat pemaaf dan penyayang.
"Jangan perdulikan orang-orang tak punya hati nurani yang sanggup memerintahkan untuk membunuh bayi tak berdosa, beruntung Rio masih mau memelihara Panji di rumah keluarganya. Kalau tidak, saat ini kita tidak bisa memeluk anak ini."
Aku sangat terharu, begitu sayang dan perduli suamiku terhadap putra sambungnya. Dia seakan sama terluka seperti aku ibu kandung panji.
Deva mulai mau mendekatiku, dia juga sudah mau memanggilku Mama meskipun terihat masih sedikit menjaga jarak.
***********/////*********
,Siang saat Bagas di kantor, Ibu sambung Bagas dan ayahnya mengunjungi rumah kami. Mereka datang bersama Giandra. Mrs. Bianca segera menghubungi Bagas tanpa kuminta sementara aku menemani mereka duduk di ruang keluarga.
"Kamu tidak pernah mengatakan kalau kamu seorang janda! kalau saya tahu dari awal tak akan mungkin begitu mudah saya memberikan restu, kamu dan kehidupan kamu terlalu kontroversial. Mengusik ketenangan keluarga besar kami!"
__ADS_1
Ayah mertuaku sangat marah.
"Tinggalkan Bagas dan bawa putra kamu pergi! kami merasa sangat terganggu dengan status kamu."
Rasanya ucapan yang keluar dari mulut lelaki paruh baya di hadapanku teramat sangat tajam melebihi sembilu. Sementara Ibu mertua menatapku sinis.
"Ayah lupa? ibu juga janda anak satu saat ayah nikahi," sahutku tak kalah tajam. Ayah terkesiap menatap wajahku.
"Jangan samakan aku dengan kamu, aku dari keluarga yang lebih tinggi strata sosialnya dibanding kamu!" sergah ibu mertua.
Ayah menatapku sangat tajam.
"Tinggal kan Bagas, itu perintah saya!" ucapnya ketus.
"Maaf, tidak ada satu orang pun yang bisa menyuruh saya meninggalkan suami saya, dengan alasan apa pun!"
Aku melawan dengan santai. Aku tahu seandainya Bagas tahu ucapan Ayah dan Ibu sambungnya, pasti dia teramat sangat marah.
"Ternyata anak penjual sayur ini bermuka tembok juga! asal kamu tahu Zara, kami lebih setuju Grizella yang menjadi istrinya Bagas, kamu sangat tidak layak, janda anak satu yang cacat pula, berani menempatkan diri di posisi nyonya besar di keluarga terhormat!"
Ucapan Ibu sambung Bagas membuat aku sedikit terpancing.
"Setidaknya saya tidak merebut suami orang dan tidak merusak dengan sengaja rumah tangga orang lain. Bagas single dan saya juga single. Ibu tidak berhak menghakimi saya."
Ibu mertua sangat murka, tapi Mrs. Bianca melerai dengan duduk di tengah.
"Maaf, saya atas wewenang penuh dari Tuan Bagas meminta kalian segera pergi dari rumah ini!" tegas Mrs. Bianca dengan suara beratnys yang khas.
"Kamu cuma pembantu dirumah ini! berani sekali mengusir kami orang tua dari majikan kamu! perempuan itu yang seharusnya kamu usir dari rumah ini!" maki ibu dengan wajah memerah. Ayah Bagas hanya diam, sejak aku menyebut aku bukan wanita perusak rumah tangga orang, dia seperti tertohok.
"Diko, bawa anak buah kamu masuk untuk mengantar keluarga Tuan Bagas kembali ke mobilnya. ini perintah dari Tuan Bagas!" Mrs. Bianca menghubungi kepala pegawal di depan rumah melalui alat komunikasi yang selalu berada di telinganya. Tidak berapa lama empat orang pengawal beserta kepala pengawal datang.
"Maaf Tuan, Nyonya, mau pergi baik-baik atau kami paksa." ucap Diko tegas.
"Kami akan pergi, tapi kamu ingat Zara, Bagas tidak mencintai sembarang perempuan, dia juga mudah bosan. Saat kamu ditendang keluar dari rumah ini, aku orang pertama yang akan bersorak gembira!" ucap Ibu mertua masih dengan ekspresi arogannya.
Diko mendekati aku.
"Nona baik-baik saja?" tanyanya khawatir. Aku mengagguk. Tapi beberapa kali perutku sempat kontraksi.
__ADS_1
Bersambung