ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 38 Bahagia


__ADS_3

Ibu dikawal Tim Black Shadow sampai ke rumah Bagas dengan selamat. Aku menyambut Ibu, memeluk dan mencium punggung tangannya. Sementara Bagas Rainhard berdiri terpaku, tanpa suara dengan wajah beku dan kaku. Dia membentang jarak dan membentengi dirinya dengan tembok teramat tinggi. Ketika Ibu menghampirinya, Bagas mundur selangkah. Aku sangat sedih melihat mereka yang tak saling memiliki dalam waktu sangat lama. Mereka begitu ragu untuk saling mengatakan perasaan.


"Maafkan Ibu Nak, dulu Ibu bersalah karena tak mampu melindungi kamu." ibu menatap lembut pada putranya. Aku menghampiri Bagas. Dia masih menatap ibu dengan sorot tak bersahabat.


"Aku menjemput Anda agar menghindari sesal karena membiarkan anda menjadi korban dari musuh ku. Tidak lebih dan tak ada niat untuk membuat keakraban palsu diantara kita. Tinggallah dalam pengamanan ketat di rumah ini sementara waktu."


Bagas mengatupkan rahangnya, dia berjalan meninggalkan Ibu dan masuk ke dalam kamar.


Ibu terlihat sangat sedih. Aku membiarkan Bagas menenangkan dirinya.


"Bu, maafkan Bagas ya, dia masih sangat canggung, tapi sesungguhnya dia sangat merindukan ibu, tapi ...."


Ibu meraih tanganku dan mengajakku duduk bersisian di sofa.


"Ngga apa-apa Zara, setidaknya dia mau bertemu ibu." sahut ibu.


"Zara yakin Bu, pasti kebekuan diantara kalian akan mencair, jangan dimasukkan hati kata dan sikap Bagas ya Bu."


"Iya sayang, Ibu akan terus berusaha membuka pintu hati Bagas, yang penting ibu sudah di sini, di dekat kalian."


Selanjutnya obrolanku dan Ibu beralih tentang anak dikandunganku. Beberapa saat kemudian Ibu kuantar ke kamar yang sudah disiapkan untuk segera beristirahat. Aku meninggalkan ibu sendirian di kamarnya.


Bagas berbaring miring di tempat tidur. Aku masuk ke dalam pelukannya. Bagas memelukku dan megecup pipiku.


Tangannya menyentuh perutku.


"Sebentar lagi papa ketemu Utun ya sayang."


"Terima kasih sayang, karena selama aku mengandung kamu selalu ada untukku. Mengatasi kelelahan dan bad moodku, ngga seperti saat ibumu mengandung kamu, ayah malah berselingkuh dan menyakiti hati ibumu, persis seperti saat aku mengandung Panji dulu. Hamil tapi tak dicintai." ucapku pelan. Bagas melepaskan pelukannya kemudian menciumi perutku.


"Aku sudah kirim peringatan kepada wanita jahat itu, dia ku beri waktu untuk memperbaiki segalanya, kalau tidak dia akan ku kirim ke penjara seperti Giandra. Dia telah berani mengirim orang untuk mencelakai Ibu kandungku. Ayah bahkan tidak tahu perbuatan istrinya. Kita akan paksa dia untuk mengaku alasannya."


Tiba-tiba perutku mengalami kontraksi berulang. Bagas langsung duduk melihat aku kesakitan.


"Sayang kamu mau melahirkan?" tanya Bagas khawatir.

__ADS_1


"Sepertinya iya sayang," aku meringis menahan rasa sakit.


Tanpa megganti pakaiannya dia mengangkatku.


"Jangan panik suamiku," bisikku sambil merangkul lehernya.


Bagas memerintahkan Black shadow menjadi pengawal utama, dia meminta Arkana melalui sambungan telepon untuk menyiapkan RS untuk mengosongkan satu lantai VVIP. Meskipun aku meminta agar Bagas jangan panik, tapi lelaki itu tetap panik.


Ibu yang mendengar aku akan melahirkan segera ikut masuk ke dalam mobil. Aku duduk diapit Bagas dan ibu mertuaku.


Bagas menitikkan air mata melihat aku kesakitan. Ibu menasehati Bagas agar tenang. Lelaki itu membelai kepalaku dan megecup keningku yang berkeringat. Saat sampai di Rumah Sakit, tim medis sudah menyambutku di pintu khusus. Bagas mendampingiku di ruang bersalin. Tangannya terus menggenggam jemariku.


Satu jam proses persalinan, cukup berat dan hampir saja dilakukan operasi caesar karena bayi sudah mrndorong untuk keluar namun pembukaan belum bertambah, proses yang tidak begitu lancar membuat Bagas terus menitikkan air mata, beberapa kali Bagas mengecup pipiku saat tangisan utun memecah suasana tegang. Netra itu kembali berkaca-kaca.


"Terima kasih ya sayang, sudah melahirkan putra kita, luar biasa perjuangan kamu istriku."


"Iya sayang, sama-sama, beginilah kurang lebih ibu kita menghadirkan kita di muka bumi ini sayang." bisikku sembari membelai pipinya.


"Aku mengerti sayang. Aku akan memperbaiki hubunganku dengan ibu." balasnya sembari mengecup pipiku berulang-ulang.


Bagas mengadzankan putranya sementara air matanya terus mengalir tiada henti. Ibu yang melihat Bagas begitu bahagia dan terlihat sangat haru melihatku berjuang melahirkan keturunannya, ikut menitikkan air mata. Beberapa kali Ibu menyeka air mata dengan punggung tangannya.


"Selamat ya nak, kalian sudah menjadi pasangan paling bahagia dimuka bumi ini, menjadi orang tua adalah kebahagiaan tak terukur." ucap ibu sambil mencium keningku. Aku merasa sangat terharu hingga ikut menitikkan air mata, teringat ibu kandungku yang masih dirawat. Ibu kandung Bagas adalah mertua yang sangat baik. Lembut dan penyayang.


Ibu pamit sebentar ke kamar mandi, ketika Bagas meletakkan bayinya di sampingku untuk kususui.


"Sayang, kamu bisa saksikan bagaimana perjuangan seorang ibu meghadirkan anak di muka bumi ini, tidak mudah kan sayang, bukan cuma istri kamu yang mengalami ini, tapi Ibumu juga mengalami apa yang kamu lihat barusan. Perjuangannya memenuhi takdirmu untuk ada di mayapada ini tidak mudah, maafkan kesalahan yang mungkin saja tidak sepenuhnya salah beliau."


Bagas mengangguk dan mencium lembut putranya yang terlihat sangat tampan dengan wajah persis seperti Papanya.


"Ngga sabar ngeliat reaksi si sulung melihat adiknya. Semoga Mas Deva sayang sama Bara ya nak."


Aku mengernyitkan kening. Sejak kapan Bagas menemukan nama itu untuk putranya.


"Bara? kamu sudah nemu nama buat anak kita sayang?"

__ADS_1


Bagas tersenyum bahagia.


"Bagas dan Zara, jadi Bara. Kamu setuju ngga nama itu, kalau ngga kita cari nama lain."


Aku mengusap lembut pipi putra keduaku. Rasa haru membuat air mata seakan hendak melintas lagi di pipi ini.


"Aku setuju sayang, Bara Putra Rainhard, bagaimana?" usulku.


"Setuju banget sayang, Bara Putra Rainhard. Deva juga aku buatkan akte kelahiran pasca disetujui adopsi, Deva Putra Rainhard. Tapi Panji nya hilang sayang, atau kamu punya usul?"


Aku menggeleng cepat.


"Ngga sayang, tanpa nama Panji ngga masalah, lagi pula dia terbiasa dipanggil Deva."


"Nanti, anak ketiga perempuan dan jarak mereka kalau bisa satu tahun saja. Agar ...."


"Belum juga kering jahitan Zara kamu sudah ngomongin hamil lagi, jarak satu tahun berarti saat selesai nifas, isi lagi, kamu pikir Zara kucing?"


Ibu yang baru saja dari kamar kecil duduk di samping pembaringanku.


"Lo, dimana salahnya Bu, istri dari anak buahku hamil anak ke empat dengan jarak masing-masing satu tahun."


"Terus kamu mau istri cantik kamu ini terus-terusan hamil, kapan dia menikmati hidup kalau kamu suruh hamil tiap tahun."


Kedua anak beranak itu berdebat masalah jarak kehamilanku, hingga terlihat mereka begitu akrab dan lepas. Tak terlihat lagi amarah di sorot mata Bagas pada Ibu. Bahkan keduanya bergantian menggendong Bara. Ibu mengajari Bagas bagaimana cara yang benar menggendong bayi. Sungguh ini adalah pemandangan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Derai tawa keduanya, keakraban yang tercipta di depan mataku, membuat air mataku berderai penuh haru. Tanpa mengucapkan kata maaf Bagas telah membuka lebar-lebar pintu hatinya. Ibu mengiringi jalan yang telah terbuka lebar dengan baik. Beliau telah faham sifat anaknya. Bagas kecil itu telah kembali keharibaan sang Bunda.


Satu hari saja aku bersedia di tahan dan beristirahat di RS, aku dan ibu mendesak Bagas mengizinkan aku segera pulang kerumah yang nyaman.


Saat berada dalam perjalanan pulang Bagas menerima telepon dari Rumah sakit tempat kedua orang tuaku di rawat. Wajah Bagas seketika pias, dia menatap ke arahku dengan sorot mata tampak sangat sedih.


"Kenapa sayang? ada apa?"


Bagas diam namun memelukku erat.


Bersambung

__ADS_1


.


__ADS_2