ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Episode 47


__ADS_3

Bagas masuk dan yang pertama dilakukannya adalah memelukku erat. Arkana menunduk dan berlalu meninggalkan kami. Perasaanku seperti tak percaya bahwa ternyata Arkana sengaja mendekati kakaknya untuk menjaganya selama bertahun-tahun. Bahkan sejak mereka sekolah Arkana terus mengikuti Bagas, seolah menguntit artis favoritenya tanpa Bagas pernah menyadarinya. Karena sifat penyendiri Bagas, dia tak begitu perduli pada lingkungan sekitarnya.


"Sayang, kamu baik-baik saja kan? ngga kelelahan menjaga perusahaan dan anak-anak kita?" bisiknya sembari menciumi pipi dan bibirku tiada henti, tangan kanannya memeluk ketat pinggangku sementara tangan kirinya berada di pipiku.


"Ngga sayang, semuanya menyenangkan untukku, terima kasih kamu ngga pergi terlalu lama, aku tak bisa lama-lama berjauhan dari kamu sayang," bisikku manja.


Deva menarik kemeja Papanya.


"Papa, Deva berhasil membuat permainan seru di ruang eksperimen Papa lo, permainan menyerupai rubix." celoteh Deva.


"Yang benar sayang? Papa saja ngga bisa lo membuat kode perintahnya untuk membuat permainan itu sempurna, Deva berhasil Nak?" tanya Bagas antusias, dia melepaskan pelukannya padaku kemudian meggendong putra sambungnya ke dalam kamar yang berisi banyak sekali komputer game. Dinamakan Bagas ruang eksperimen, karena sudah beberapa aplikasi games sukses digarap dari ruangan itu. Bagas mulai berhenti menciptkan permain online karena kesibukan luar biasanya.


Aku hanya tersenyum melihat keduanya begitu antusias membahas games buatan bocah balita cerdas di samping Papa sambungnya.


"Cerdas sekali kamu nak, ngga salah orang bilang kalau kecerdasan itu menurun dari seorang Ibu, kamu sangat luar biasa," puji Bagas sembari mengusap kepala Deva.


"Deva, jangan kelamaan di depan komputer Nak, nanti mata kamu lelah dan berair lagi, istirahat dulu, lagipula Papa juga harus istirahat kan?" bujukku pada kedua lelaki beda usia yang sedang berdiskusi seru bahkan terkadang berdebat.


"Siap Ratuku, ayo nak kita istirahat dulu, Papa juga udah ngantuk," ucap Bagas sembari menggendong Deva keluar dari ruang favorite mereka.


"Kok masih sore sudah ngantuk Pa, ini baru juga  .... "


"Kan Papa habis perjalanan jauh nak, puluhan jam di atas pesawat," belaku.


"Yah Papa, kan Deva kangen Papa, kangen main bersama juga sambil .... "


"Nanti ya sayang, kalau Papa hilang capeknya kita main lagi," janji Bagas sembari mengusap kepala Deva.


"Iya Pa," sahut Deva patuh. Dia turun dari gendongan Papanya dan berlari mendekati pengasuhnya. Deva bocah cerdas dan tak banyak cerewet. Aku sangat bangga pada putra pertamaku itu. Meskipun memiliki kekurangan fisik, namun sang Maha pencipta menitipkan begitu banyak kelebihan di dirinya.


"Bara mana sayang?" tanya Bagas.


"Di kamar Ibu, kamu mau ketemu?"


"Cuma ingin menciumnya saja, jujur sayang, aku sangat mengantuk."


Bagas melangkah ke kamar Ibu dan mengetuk pintu itu perlahan, aku mengikuti di belakangnya. Benar, ternyata dia memang hanya menciumi putranya sebentar, kemudian pamit pada Ibunya untuk segera tidur. Tanpa menoleh lagi kepadaku Bagas menarik selimut dan terlelap dalam buaian mimpi. Aku menghela nafas sembari mengusap wajah tampannya.


"Jangan, tolong jangan lakukan ini, sakiiiit," desis Bagas.

__ADS_1


Saat dia kelelahan, Bagas selalu mengigau tentang masa lalunya. Selalu begitu, setiap kali dia kelelahan dan banyak beban pekerjaan, mimpi tentang sosok mengerikan yang melakukan kekejaman saat dia kecil terus berulang.


"sayang, bangun sayang."


Aku mengguncangkan tubuh kokohnya. Namun dia tak merespon. Keringat membanjiri tubuhnya. Aku berlari ke kamar mandi dan mengambil air dari shower air panas, kemudian kucampur dengan sedikit air dingin. Setelah kurasa cukup hangat, gegas kubawa baskom kecil itu dan kuletakkan di atas nakas. Lalu aku mencari handuk kecil di dalam lemari. Merendamnya sesaat di dalam air hangat, kemudian kubuka kemejanya dan perlahan mengelap tubuhnya dengan handuk hangat itu.


Bagas terlihat mulai tenang, aku mengganti semua pakaiannya termasuk under wear. Dia belum mandi setelah melakukan perjalanan jauh. Rasa kantuk dan lelah membuatnya langsung tertidur.


Setelah mengganti seluruh pakaiannya dengan piyama tidur, aku membaringkan tubuhku di sisinya.


Tengah malam aku terbagun, dan mendapati Bagas sedang duduk termenung di bibir ranjang, dia membelakangiku.


Aku beringsut dari dalam selimut kemudian mendekatinya perlahan. Duduk di belakangnya dan tanganku terulur mengusap pundak kekarnya. Bagas menoleh dan aku sangat terkejut, detak jantungku bertalu oleh perasaan sedih melihat kondisi psikisnya. Bagas menangis tanpa suara. Kurengkuh dia ke dalam pelukanku.


Tangis itu mulai pecah dalam isakan. Bagasku menangis di tengah malam buta, bagai seorang balita yang terbangun tapi tak menemukan ibu di sisinya.


"Zara, jangan lepaskan pelukan kamu ya, aku ... aku .... "


Bagas pingsan. Aku panik dan segera menghubungi Arkana.


"Jangan panik Zara, kembali kompres dia, dan suntik dengan obat yang biasa kamu suntikkan saat dia pingsan, kita tak bisa membawa dia ke UGD di tengah malam ini, kamu tahukan saat dia tersadar dia akan membuat keributan untuk mengosongkan seluruh lantai tempat dia di rawat?"


Setelah satu jam menunggu dalam kantuk tak terperi, Bagas bangun, dia membuka kelopak matanya.


"Sayang, maaf ya, pasti kamu sangat lelah merawatku. Tidurlah sayang, aku baik-baik saja, terima kasih ya sayang," bisiknya sembari menarikku ke dalam selimutnya.


"Iya sayang," sahutku pelan. Kami tidur saling berpelukan, hingga pagi menjelang.


Saat terbangun, terdengar keributan di ruang tengah, aku dan Bagas saling tatap kemudian bergegas ke ruang tengah.


Ternyata Mrs. Bianca sedang meminta kepada pengawal di gerbang depan untuk menolak tamu yang akan masuk karena Tuan dan Nyonya muda sedang tidur dan tak bisa diganggu.


"Siapa?" tanyaku penasaran. Kami saling bertukar pandang saat melihat CCTV.


"Kenapa mereka ke sini?" geram Bagas. Dia tampak murka melihat di depan gerbang ada Giandra dan Grizella Indira.


"Apa mau mereka berusaha menerobos ke rumah pribadiku!" bentak Bagas kepada kepala keamanan pengganti Arkana yang sedang berada di markas tim BS.


"Ada yang ingin disampaikan Tuan," sahut kepala pengaman.

__ADS_1


"Sebutkan saja dari sana, aku ngga punya waktu untuk berbasa-basi," tegas Bagas.


"Gas, keluarlah, kami ingin berbicara penting," pinta Grizella.


"Kalau kamu tak sudi rumah kamu kami injak, kamu yang keluar Gas, ini penting, kamu akan menyesal kalau tak segera mendengar informasi yang kami bawa ini," Giandra menimpali.


"Simpan informasi itu untuk kalian, aku tak butuh informasi apapun dari kalian," sentak Bagas, dia mematikan sambungan komunikasi.


"Mrs. Bianca, atasi mereka dan suruh kepala pengawal mengusir mereka saat ini juga  kalau kepala pengamanan itu tak ingin saya pecat hari ini juga."


Mrs. Bianca mengangguk takjim dan segera melaksanakan perintah big bosnya.


Bagas berjalan meninggalkan ruang tengah, dia menarikku serta. Tak tersisa sedikitpun Bagas yang tegas dan pemarah saat di hadapan semua bawahan ataupun lawan bisnisnya. Saat bermanja dengan ku dia berubah menjadi manusia pada umumnya.


"Temani aku mandi sayang," pintanya manja. Aku mengangguk dan segera menyiapkan segala sesuatu untuk kekasih halalku mandi.


Aku menemaninya sampai selesai mandi, menggosok punggungnya dengan spon mandi. Setelah selesai aku membantunya bercukur.


"Sayang, kamu ngga penasaran informasi apa yang dibawa Giandra dan Grizella? siapa tahu penting?"


Bagas menatapku lembut.


"Mereka tak pernah membiarkan aku tenang sejak dulu Zara, ada saja alasan mereka mendekati aku," sahut Bagas.


"Okelah Griz mungkin aku tak suka dia mendekati kamu dengan alasan apa pun, tapi Giandra? dia sepupu kamu sayang, cobalah bicara dengannya. Mungkin ada salah faham yang terjadi di antara kalian di masa lalu," nasehatku.


"Nantilah kita bahas lagi, aku ingin hari ini kita di rumah saja bersama anak-anak, aku rindu bercengkrama dengan kedua putraku sayang. Kita habiskan waktu di rumah saja ya, selesai dengan anak-anak, kamu harus bersiap-siap untuk .... "


Bagas mendekatiku dan mengecup bibirku sekilas.


"Pertama ayo kita sarapan, Ibu sudah menunggu kita di meja makan." sahutku sembari menarik tangannya untuk segera sarapan.


Beberapa pelayan sibuk hilir mudik melakukan banyak hal, kami masuk ke ruang makan, benar ada Ibu yang sedang duduk sembari menyeruput teh manis.


"Gas, Ibu ingin kamu menolong Ibu untuk mencari adik kandungmu nak, Ibu kehilangan kontak sudah beberapa bulan ini."


"Nanti biar tim BS yang mencari informasi keberadaannya Bu," sahut Bagas lembut.


Aku hanya diam, ingin rasanya aku mengatakan bahwa aku tahu dimana adik kandung Bagas, namun pesan Arkana membuatku menahan diri.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2