
Kemana pun aku melangkah saat keluar dari rumah tak pernah bisa lepas dari sepasang mata sayu itu. Dia pengawal pribadiku yang dibayar secara profesional oleh Bagas. Mobilnya selalu membayangi di belakang mobilku. Namanya Arkana, senyumnya selalu misterius. Dia salah satu kepercayaan Bagas.
"Ra, kamu harus komunikasi yang baik dengan pengawal kamu. Ingat, jangan mencoba melakukan sesuatu yang membuatku malu. Jangan ..."
Kumatikan sambungan telepon suami gunung es itu. Sekarang aku sedang tidak ingin diganggu, aku harus menemui Genta, lelaki egois dan jahat itu harus ditutup mulut jahatnya. Mobilku masuk ke dalam sebuah area taman hiburan. Setelah ku parkir aku menyelinap di dalam keramaian.
"Ratih, kamu udah sampai belum, ini kakak udah di area taman hiburan."
"Udah kak, aku udah bawa motor di samping pintu belakang." sahut Ratih. Aku yang telah berganti pakaian dengan celana jeans, kaos longgar plus hoodie dan kaca mata hitam. Berjalan bergegas menuju Ratih yang menunggu dengan santai, aku memberi isyarat adikku untuk mendekat.
"Tih, kamu langsung pulang ya sayang, kakak pinjam motornya, kamu naik ojol aja ya."
"Siap kak, hati-hati kak." bisik Ratih. Dia sama sekali tidak tahu aku mau kemana, yang dia tahu aku sedang bersembunyi dari pengawalku.
Aku segera meluncur membelah jalan raya. Tak terlihat lagi sosok pengawal di belakangku. Aku melaju menuju tempat tinggal baru Genta Adiguna.
"Kamu sudah sampai mana?"
Genta berkali-kali bertanya dan aku tak bisa menjawab karena fokus pada jalanan.
"Aku sudah sampai di depan rumah kamu."
"Masuk!"
"Ngga aku tunggu di depan saja!" sentakku emosi.
"Kalau begitu kita ngga jadi ketemu."
"Oke, terserah kamu, aku pulang sekarang!" sahutku sambil memutar motorku, Jalan di depan rumah Genta sangat sepi.
"Tunggu! aku keluar!"
Aku menahan langkahku untuk kembali ke motorku.
Dan benar dia keluar menemuiku.
__ADS_1
"Ada apa?" dia ngos-ngosan berlari hingga terlihat dia memang jarang berolah raga.
"Kamu jangan coba-coba menerorku tentang bayiku, aku akan buka cerita sebenarnya biar orang tua kamu malu, mereka lebih takut ketahuan sebagai mertua yang mencampakkan menantu dan cucunya yang cacat!"
"Aku ngga pernah meneror kamu, kamu pikir aku punya nyali menghadapi suami kamu!" bentak Genta. Aku ternganga.
"Suami kamu itu bengis, kalau aku macam-macam meneror kamu mungkin bukan saja aku kehilangan pekerjaan, tapi bisa perusahaan tempat aku bekerja dibikin bangkrut! jangan asal menuduh kamu!"
"Aku ngga percaya!" teriakku.
"Terserah, tapi itu kenyataannya. lagi pula kenapa tidak gunakan saja koneksi suami kamu untuk mencari, hem kamu berani menemui aku, kangen sama aku Ra, sini ayo masuk ke rumah ku, tapi aku harus pake pengaman kali ya, takut nanti lahir bocah ngga ada kaki tangannya lagi!" celetuk Genta sembari mendekatiku dan menarik tanganku untuk menyeretku masuk, tapi tak di duga Genta berteriak kesakitan dan melepaskanku.
"Ron, bawa motornya dan kembalikan ke rumahnya, dan ini bawa mobil istriku kembali ke rumahku."
Suara dingin lelaki gunung es yang sangat murka melihat Genta menarik tanganku.
"Kamu yang bekerja di PT.MDTC .ltd, saya bukan saja bisa mematahkan kaki dan tangan kamu, tapi juga membuat kamu tak bisa bekerja dimanapun."
Pengawal pribadiku si mata sayu Arkana muncul dan membisikkan sesuatu.
Arkana mengangguk khidmat. Dia kembali menelepon entah kepada siapa.
Genta tersungkur setelah di lepaskan Bagas, saat Bagas menarik tanganku untuk pergi, dia berlutut di hadapan Bagas.
"Tolong Pak Bagas, jangan berikan catatan hitam buat saya, saya mendapatkan pekerjaan di sana dengan penuh perjuangan."
Aku terpana melihat Genta yang sombong dan angkuh itu jatuh tersungkur di depan Bagas memohon belas kasihannya.
"Jangan coba menyentuh istriku walau hanya ujung rambutnya! ingat itu!" Bentaknya dingin. Tak ada sedikit pun tersisa keangkuhan Genta. Dia mengangguk dan tak berani menatap Bagas.
Dengan kasar Bagas mendorongku masuk ke dalam mobil.
Melihat kilat di matanya membuatku gemetar. Dia sangat marah dan tak bisa didebat saat ini.
Mobil melaju membelah jalan raya. Aku memasang tutup kepala hoodie ku agar dia tidak langsung melihat ke wajahku. Namun diluar dugaan, dia menarik tutup kepala hoodieku dan mencengkram bahuku dengan tangan kirinya.
__ADS_1
"Aku sudah katakan, batasan kamu dalam bersikap, bertindak, karena nama besarku ada di belakang nama kamu saat ini. Kontrak tanpa waktu ini mengikatmu dengan enam pasal penting, salah satunya menjaga nama baik pasangan!"
Dia menghentikan kendaraan di jalan raya yang sepi, senja telah lewat, cahayanya hilang dipagut kegelapan malam.
"Jangan main-main denganku Zara, kalau sampai kamu merusak rencanaku untuk memulihkan nama baikku, kuhancurkan masa depan kedua adikmu, dan itu hanya perkara kecil untukku."
Aku merinding mendengar ancamannya. Sungguh menakutkan lelaki ini, memang seperti sedang melakukan perjanjian terlarang dengan setan, saat tak bisa memenuhi persyaratan maka akan mengalami celaka.
Aku tak berani menatap mata lelaki menakutkan di sampingku. Dia seperti sedang berubah menjadi monster mengerikan meskipun berwajah sangat tampan.
"Hari ini mainkan peran kamu, ada pesta dadakan di sebuah klub kaum high class, saat ini semua team perias kamu sudah siap, sebentar lagi mereka datang kesini. Mainkan peran kamu sebagai istri romantis dan cerdas Bagas Rainhard, maka aku akan melupakan kejadian sore tadi."
Sebuah mobil minibus hitam mendekati mobil kami, mereka team perias yang akan merombak tampilan tomboy ku menjadi super anggun.
***********///////********
Mobil masuk ke dalam parkiran luas yang berisi banyak sekali deretan mobil mewah. Aku dan Bagas di sambut sedemikian rupa sejak dari parkiran hingga ke dalam gedung megah yang meriah, ratusan mata tertuju kepada kami, beberapa pasang mata gadis dan wanita menatap cemburu kepadaku. Tangan Bagas tak melepas rengkuhannya pada pinggang langsingku. Senyum palsunya saat menatapku terasa sangat nyata. Dia berubah 360° terhadapku saat berada di tengah orang banyak. Aku pun langsung berubah mengimbangi.
Sikap romantisnya semakin menjadi saat di depan rekan bisnisnya.
"Hai adik sepupu dan ehm adik ipar, siapa lupa saya nama kamu, ehm ...Zara Septia? apa kabar."
Aku menyambut salam perkenalannya dengan Ramah, ternyata dia sepupu Bagas Namanya Giandra. Yang aku tidak habis pikir sikap Bagas yang menjaga jarak darinya padahal mereka sepupu.
"Aku ke rumah kamu, tapi di usir anak buah kamu, kejam sekali mereka." gumamnya.
"Kamu tahu aku tidak suka privasiku di ganggu siapa pun, apalagi kamu!"
Tanpa pamit pada Giandra, Bagas menarikku pergi. Dan seorang pengusaha dari Cina yang menyapanya dengan bahasa mandarin membuat Bagas kembali fokus pada pesta. Aku pun ikut berbicara dengan mereka karena bahasa mandarin ku sangat fasih, sefasih bahasa inggris dan koreaku. Bagas terlihat sangat senang karena aku mampu melebur di sampingnya layaknya istri seorang pengusaha.
Syukurlah meskipun terlahir di kalangan miskin, namun kemampuan otakku sangat mendukung untuk beracting di samping seorang Bagas Rainhard.
Bersambung
siapakah Giandra ? kenapa Bagas seperti membencinya.
__ADS_1