ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 25 Sakit 2


__ADS_3

Kami hanya saling berpelukan di dalam selimut, Bagas sudah tidak demam tapi dia terus berkeringat meskipun ac di ruangan sudah lumayan dingin, Bagas berbisik.


"Pelukin aku terus ya Sayang aku pengen tidur nyenyak." bisiknya.


"Iya sayang tidur lah." sahutku lembut selayaknya seorang Ibu yang hendak menidurkan anak balitanya. Bagas menyeruakkan wajahnya ke leherku sementara tangannya melingkar di pinggangku.


Hanya sebentar kurasakan dia mulai terlelap. Suara teratur nafasnya membuatku tenang dan nyaman.


Kubelai rambut ikal dan hitam lebat itu, ku telusuri dengan telunjukku lekuk hidung mancungnya, alis tebal hitam yang begitu rapi bagai semut beriring.


"Tampannya kamu suamiku." bisikku pelan, takut dia terjaga. Dia menggeliat. Kemudian kembali menyusupkan wajahnya di leherku dan tertidur lelap, hingga aku pun ikut terlelap. Ketika dokter dan suster datang untuk memeriksa kondisi Bagas, kami berdua terbangun bersamaan.


Dokter hanya tersenyum simplul namun tidak berkomentar apa pun saat melihat aku ikut tidur di tempat tidur pasien.


"Maaf ya Dok, suami saya ngga bisa terlelap kalau bukan di kamarnya, jadi terpaksa saya ikut menemani dia tidur di ranjang pasien."


Wajahku terasa panas karena malu. Bagas malah cengengesan.


"Ngga apa-apa Bu, biar Pak Bagas bisa tidur lelap. Sebentar, biar kami periksa kondisi Pak Bagas."


Aku mengangguk dan membiarkan Dokter dan suster melaksanakan tanggung jawabnya terhadap pasiennya.


Sepeninggal dokter, Bagas meminta untuk di seka karena dia merasa tubuhnya lengket. Aku segera melaksanakan titah sabg tuan mudaku tercinta. Setelah bersih, dia malah memintaku mendekat. Bagas memintaku duduk di sisinya kembali.


"Sayang, aku masih penasaran dengan kenapa kamu menolongku dengan menutup wajahmu, juga kenapa kamu ngga mau angkat teleponku saat itu."


Bagas menatapku lembut, sorot mata yang selalu membuatku jatuh cinta, tapi sayangnya terkadang sorot mata itu berganti tajam dan penuh amarah.


"Aku akan ceritakan saat momentnya tepat sayang, sekarang ada hal yang sangat mendesak tidak bisa ditunda lagi." bisiknya parau. Perubahan warna suara itu membuatku sadar, dia sedang sangat menginginkan aku lebih dari apa pun.


Bagas menarik daguku dan mencium bibirku sangat agresif.


"Aku ingin tidur dengan kamu di sini sayang, aku ngga menerima penolakan!"


Seakan memendam rindu berabad-abad lamanya, Bagas yang menciumiku tanpa jeda. Bahkan terasa sangat sulit untukku bernafas.


"Aku ngga kuat menahan Ra, mau ya." desisnya. Aku mengangguk dan memejamkan mata. Bagas melepas selang infusnya. Berjalan ke arah pintu untuk memeriksa, apakah benar-benar terkunci dan dengan bergegas dia naik lagi ke tempat tidur rumah sakit.


"Aku kangen kamu sayang." bisikya lembut.


Segala kesedihan dan kemarahan yang pernah hadir musnah oleh keindahan di ranjang rumah sakit ini.


"Sayang, sudah ya, kasian dedenya kalau Papanya nengokin terus."


Bagas melepaskan tindihannya dia menatap mataku, tepat netra kami beradu dia menarikku duduk, kami bercinta di atas ranjang Rumah sakit dua kali, saat dia meminta ketiga kalinya terpaksa aku harus berterus terang saat ini juga.


"Apa maksudnya sayang?"

__ADS_1


"Aku hamil Sayang, saat tadi kamu baru pulang dan jatuh sakit di kamar kita, aku sedang memeriksakan kehamilanku lewat test pack.Dan hasilnya positif, garisnya dua."


Bagas memelukku erat sambil berteriak setengah histeris.


"Aku jadi Papa! kamu ngga berdusta kan sayang?"


Aku mengangguk dan tersenyum.


"Alhamdulilah, akhirnya aku akan menjadi hot Papa."


Tapi tiba-tiba wajahnya berubah sedih.


"Kamu yakin sayang?"


"Yakin apa?" tanyaku sedikit kaget, karena aku takut dia meragukan identitas bayinya. Aku takut dia menuduhku hamil oleh bos Mafia gila itu.


"Kamu yakin anak kita ngga kenapa-kenapa? coba kamu ngomong dari awal, aku mintanya satu kali aja."


Keluguan itu kembali menghiasi raut wajahya.


"Insyaallah sayang, nanti kita periksa dan bertanya sama dokter ya." hiburku. Bagas megambilkan pakaiaku yang berserakan dan membantuku memakai semuanya kembali.


Saat dokter jaga berganti shift dan datang untuk memeriksanya, Bagas berkeras untuk rawat jalan, dia ingin tidur di atas ranjang empuk dan mewah di kamarnya. Dokter hanya bisa mengijinkan. Karena permintaan Big Bos ini adalah perintah.


"Kalian yang datang untuk memeriksa kondisiku di rumah ya."


Dokter mengangguk takjim.


Sebelum pulang Bagas menghubungi Mrs.. Bianca untuk mempersiapkan agar melayaniku dengan baik.


"Kalian harus siaga saat saya tidak ada di rumah kalian yang jaga Non Zara. Jangan sampai kenapa-kenapa ya Mrs. Bi."


"Awas ya Sayang kamu ngga boleh pergi keluar rumah tanpa izinku, terus untuk sementara tidak boleh ke kantor dulu, tugas kamu aku yang ambil alih. Satu lagi, jangan makan selain makanan sehat dan bergizi."


Aku tertawa geli melihat Bagas yang kelewat bucin kepada calon bayinya.


"Sayang, orang hamil itu bukan orang sakit lo, orang hamil juga harus menjalani hidupnya dengan senang dan bahagia. Biar debaynya juga tumbuh bahagia dan sehat."


Bagas menggeleng keras dan melototkan matanya.


"Boleh beraktifitas lagi setelah dokter bilang usia kandungan kamu cukup kuat. Aku ngga mau kehilangan bayiku."


Aku pura-pura merajuk.


"Cuma takut dan khawatir kehilangan bayi kita? takut ngga kalau aku kenapa-kenapa."


"Ngga!" sahutnya singkat sembari memalingkan wajahnya ke samping lalu tersenyum.

__ADS_1


Aku melemparkan bantal rumah sakit ke wajahnya. Dia mengelak dan menarik tanganku untuk mendekat.


"Kita bikin namanya yu." bisiknya.


"Belum sayang, nanti kalau debaynya udah diatas lima bulan ya, sekarang kita panggil utun saja, oke?"


"Apaan utun?" dia melotot ngga suka mendengarnya.


"Itu panggilan untuk janin yag belum punya nama sayang."


Dia mengangguk sembari membelai perutku.


"Aku akan dipanggil Papa, oh God senangnya."


Aku bertekad untuk tidak pernah meninggalkan lelaki yang tak mudah bilang cinta apalagi bilang maaf ini. Aku akan selalu di sisinya dan perlahan akan mencoba mengorek luka masa lalunya agar dia bisa sembuh dan mampu menjalani hidupnya dengan normal.


Di rumah, aku diperlakukan bagai permaisuri, tidak diperkenankan melakukan sedikit pun aktifitas.


"Sayang, aku bosan di rumah terus, kita keluar ya, pengen makan toge goreng pedas pake oncom."


"Aku minta Mrs Bi yang bikin ya." bujuknya. Aku menggeleng.


"Pengen makan di pinggir jalan langsung dibikinin sama penjualnya." rajukku.


"Jangan! nanti kamu terkontaminasi bakteri atau apa yang membahayakan kamu dan bayi kita."


Aku memeluk dan mendekatkan bibirku di telinganya.


"Ini kemauan bayi kita sayang, aku ngidam, please sayang." bujukku.


Bagas diam sejenak.


"Aku cari restoran yang jual ya sayang biar steril. Kalau di kaki lima ..."


"Ngga mau sayang, pengen di kaki lima, boleh ya." bujukku manja. Akhirnya suami pemarahku menuruti keinginan istri yang sedang mengidam.


Kami memang cuma pergi nyari toge goreng berdua Bagas di mobil, tapi Ariana dan beberapa pengawal terbaik mengikuti kami. Jadi seperti rombongan makan seperusahaan.. Mobil berhenti di sebuah taman bunga, di depannya ada penjual toge goreng. Bagas ragu ketika kuminta harus dia yang pesan.


"Sayang, aku ngga biasa dan ngga bisa, Arkana saja ya." bujuknya. Aku menggeleng.


"Yang Papanya Utun tu kamu Sayang, bukan Arkana. Emang mau nanti Utun jadi mirip Arkana?"


Bagas langsung keluar dari mobil mewahnya yang nyaman.


"Iyaaaaa .... Papa yang pergi Tun." dikecupnya perutku.


Bersambung

__ADS_1


keseruan apa saat Zara mengidam?


Akan ada tiga part tentang lucunya Bagas saat Zara mengidam.


__ADS_2