
Di rumah sakit, aku menunggu dengan sangat gelisah, Ibu dan Ayah sedang menjalani operasi. Sementara Bagas sibuk menerima telepon. Sepertinya dia berusaha keras mendapatkan kepastian penyebab kecelakaam kedua orang tuaku. Tiba- tiba sebuah pesan dari nomer tak kukenal masuk di apkikasi hijau.
"Ini baru permulaan, jangan kamu pikir karena suami kamu orang hebat, kamu bisa selamat dari semua kesialan, bagaimana kalau berikutnya aku perkosa adik kamu, itu pasti sangat menyakiti kamu Zara! aku yang mencintai kamu dan selalu ada buat kamu, tapi Genta dan Bagas kecoak buntung itu yang menikmati tubuh kamu!"
"Sayang, berita buruk, Rio lepas dari penjara, dia ternyata dalang kecelakaan kedua orang tua kamu," Bagas membawa berita yang tidak begitu mengejutkan bagiku. Aku menunjukkan chat ancaman kepada Bagas.
Tanpa menunggu lagi Bagas meminta team pengawalnya untuk melacak keberadaan Rio. Sempat terdeteksi kalau dia berada di pinggiran Jakarta, namun belum ditemukan lokasi pastinya.
Aku benar-benar menyesal pernah begitu akrab dengan laki-laki itu. Begitu bodohnya mempercayai bahka mengira dia baik dan tulus menjadi sahabatku, bahkan dia tega menyakiti keluarga yang sudah menganggap dia seperti keluarga sendiri.
Bagas memberikan pengawalan berlapis di rumah, begitu pun untuk kedua adikku dan rumah orang tuaku. Mereka tidak diizikan pergi sendirian.
"Dia mengenal beberapa mafia berbahaya, dan ternyata bukan cuma sindikat human trafficking yang menyewakan balita, menjual wanita dan menjual tenaga kerja keluar negeri, kaitan Rio adalah mafia yang berpusat di Jepang, musuh besarku yang sempat menculik kamu sayang, dan beberapa anggota mereka berada dilingkungan perusahaan IT milik kita, salah satunya di bidang pembuatan gadged.
"Tarik dari pasaran, ganti dengan product cadangan, sisir dan temukan siapa penghianat itu, aku mau semuanya clear hari ini, gelar rapat, aku akan mengikuti melalui teleconfern, karena aku tak akan beranjak dari keluargaku!" perintah Bagas tegas kepada semua jajaran direksi dan managernya.
"Ada apa sayang?" tanyaku sembari mendekati Bagas yang duduk agak jauh dariku karena tak ingin menggangguku dengan aktifitasnya.
"Satu produk laptop dan satu ponsel canggih kita cetak birunya di curi dan di produsi oleh lawan, mamun tim kita sudah berhasil menghentikan produk mereka dengan mengklaim itu rancangan kita, hanya saja omset penjualan menjadi turun hingga 20%, ini memang tidak mempengaruhi perusahaan secara menyeluruh, namun kalau dibiarkan penyusup itu berada di sekitarku, sangat berbahaya." Bagas menjelaskan panjang lebar keadaan perusahaannya.
__ADS_1
Dalam masa satu jam kemudian, Bagas memimpin rapat melalui teleconfern, beberapa anak buahnya sigap membentuk salah satu sudut terlindung di Rumah Sakit sebagai tempat Bagas duduk dan memimpin rapat.
Hanya satu jam rapat berlangsung, mereka sudah menemukan jalan keluar semua permasalahan.
Namun muncul laporan gangguan pada aplikasi baru yang diluncurkan dan telah dimasuki virus oleh pihak tak dikenal, bukan hanya masalah virus bahkan program baru yang dilempar ke masyarakat ada yang masih terganggu oleh bug, Bagas memerintahkan sesegera mungkin mengatasi bug pada program aplikasi yag baru diluncurkan. Cacat program diakibatkan Bug di aplikasi program membuat aplikasi tidak berjalan normal, Bagas menekan 4 programer handalnya untuk segera mengatasi Bug yang membuat cacat software sehingga tidak bisa berjalan normal.
"Aku yang akan atasi Bug nya sayang, itu mudah buat aku, hubungkan aku ke system utama." pintaku.
"Kalau begitu kita kembali ke perusahaan setelah kondisi ibu dan ayah dinyatakan membaik Ra, orang tuamu lebih penting dari urusan pekerjaanku, kita tidak bisa mengatasi dengan membuka jalur online pada aplikasi untuk saat ini, bahaya, bisa diretas tim perusahaan saingan."
Bagas menutup semua urusan pekerjaan dan kembali fokus terhadap kami.
"Tolong, biarkan Bu Zara yang mengatasi dan kalian lihat saja dulu, kita tidak bisa mengalami gangguan terlalu lama." titah Bagas tegas dan berwibawa, salah satu programer mempersilahkan aku untuk menggantikannya. Hanya dalam waktu lima belas menit aku berhasil mengatasi bug. Setelah masalah selesai, aku meminta ke empat programer untuk berkumpul.
"Kalian saya anggap sebagai programer handal karena sudah lama di perusahaan ini, Seharusnya kalian Faham dalam setiap proses develop program, kalian harus sadar sepenuhnya bahwa ini tidak bisa dikerjakan secara egois dan individu, harus ada kerjasama tim antara kalian para programmer satu dengan yang lainnya. Apalagi program yang sedang dibuat adalah yang sangat kompleks sehingga rawan sekali terjadinya bug. Kerja tim, dan jangan merasa pintar sendiri."
Mereka mengakui kalau mereka sering berjalan sendiri-sendiri dan individual karena mereka tidak merasa ada ketua tim seperti dulu, saat aku masih menjadi Kepala Programer sebelum menikahi Bagas. Hari itu juga aku menunjuk salah satu untuk memimpin.
Kami kembali ke rumah, kali ini Ratih dan Aryo kami bawa ke rumah megah Bagas. Sebenarnya aku merasa tidak enak, namun Bagas berkeras, alasannya biar lebih mudah memberikan perlindungan. Bagas juga meminta, setelah kedua orang tuaku pulih untuk dibawa ke rumah megahnya. Ketika aku menanyakan apakah tidak mengganggu aktifitas dan kenyamanan dia di rumahnya, mengingat dia sangat introvert.
__ADS_1
"Begitu banyak kamar Ra, tidak akan sempit hanya karena 4 orang masuk di dalamnya. Aku sangat mengkhawatirkan acaman Rio, terlebih dia tidak bergerak sendiri. Saat ini polisi sedang mengejarnya nanti saat kondisi membaik baru mereka boleh pulang."
Bagas memelukku erat. Menciumi leherku, pipi dan keningku.
"Aku sangat lelah sayang, kita tidur dulu ya, peluk aku dan jangan lepaskan." bisik lelaki yang sangat kucintai ini. Aku mengangguk. Kami masuk berdua ke dalam kamar dan Bagas menggendongku meletkkanku perlahan. Setelah mandi dan berganti pakaian kami masuk ke dalam selimut.
"Hari ini terasa sangat panjang dan melelahkan, untuk sementara aku ingin melupakanya dan hanya memeluk kamu sayang." bisiknya parau.
"Memeluk saja atau ...." aku menggantung ucapanku.
"Ingin kamu juga sayang, boleh ya, Utun ngga apa-apa kan sayang?" bisiknya.
"Boleh sayang, kenapa ngga, utun ngga masalah kok,"
Bagas mulai melancarkan serangannya perlahan dan lembut seolah takut menyakitiku dan calon bayinya. Kami sudah hampir melepaskan semua pembugkus diri, ketika terdengar ponsel kami berdua sama-sama berbunyi, kami saling bertukar pandang.
"Siapa?"
Aku melihat layar ponselku, Bagas melakukan hal yang sama, dan kami sama-sama menghela nafas berat.
__ADS_1
Bersambung