ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 35


__ADS_3

Dengan enggan Bagas mengalihkan perhatiannya kepada ponselnya yang tak berhenti berbunyi.


"Aku bunuh kalau ini Raynald atau Arkana, mengganggu!" desisnya menahan nafas untuk mengendalikan dirinya dari hasrat yang tertunda. Wajahnya memerah. Diraihnya cepat ponsel itu untuk dimatikan,


"Kepolisian, melelahkan sekali." desis Bagas, dia begitu enggan melepaskan pelukan kami.


"Siapa yang menelepon kamu sayang?" tanya Bagas sembari melirik ponselku.


"Dari Programer di Perusahaan," Aku duduk dan hendak mengenakan kembali piyamaku, tapi Bagas menarikku perlahan.


"Belum selesai sayang, please nanti saja dipakainya." aku tertawa ringan, kami sama-sama menerima telepon sambil berpelukan dan berbaring di bantal yang sama.


Berita besar yang disampaikan dari kepolisian kepada Bagas sungguh sangat mengejutkan, mereka juga mencium adanya kerja sama orang terdekat Bagas dalam kecelakaan orang tuaku. Di CCTV yang ditangkap mobil pengantar makanan keliling yang parkir di area kecelakaan menangkap sosok Giandra. Entah dia terlibat bersama Rio atau berdiri sendiri, sedang ditelusuri pihak kepolisian.


Kami Berdua saling bertukar pandang.


"Suami dari adik tiriku bahkan menyerang Arkana, entah dengan Alasan apa, ketika Arkana sedang berada di perjalanan mengawal Giandra bersama kepolisian."


"Apakah karena kamu menarik saham kamu dari perusahaan Ayah? mungkin mereka tidak terima sehingga mengutus Giandra mencelakai keluargaku lalu apa kaitan mereka dengan Rio?"


Bagas menarik kembali selimut untuk menutupi kami berdua.


"Aku ingin meuntaskan hasratku kepada kamu istriku, pusing ini harus segera di enyahkan dari kepalaku." ucap Bagas dengan ekspresi yang hampir membuatku tertawa namun kutahan karena takut dia akan marah.


"Tapi Bastian, kepala Programer yang ku tunjuk kemarin menjadi kepala bagian devisi Programer mendadak resign dan menghilang sayang, ini ngga masuk akal, pasti ada sesuatu yang terjadi pada Bastian, bahkan keluarganya kebingungan menemukan keberadaannya yang hilang bagai ditelan bumi." ucapku pelan. Bagas menghentikan keterampilan tangannya kepadaku dan menatap dengan tatapan sangat terkejut.


Bagas menyingkap kembali selimut dan mengambil kembali ponselnya, kemudian menghubungi seseorang yang aku tahu sangat berpengaruh di tubuh kepolisian.Tidak lama dia berbicara, ketika dia kembali menutup ponselnya, kali ini dimatikan. Bagas tersenyum nakal kepadaku sembari mengecup leherku hingga membuatku merasa sangat diinginkan suamiku.

__ADS_1


"Aku sudah laporkan Bastian hilang sayang, tak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu kepastian itu dari devisi orang hilang dan kriminal di kepolisian atau dari detektif swasta yang kutunjuk. Ayo sayang, ini udah ngga mampu ku tunda lagi." bisiknya. Aku masuk ke dalam pelukan hangat suamiku. Mencoba melupakan sejenak begitu banyak beban yang menghimpit dari segala sisi. Hanya ada kami berdua, melepaskan segalanya, berenang di dalam kolam penuh madu asmara. Bergelora dan penuh keindahan. Bagas telah menjadikanku seorang wanita paling bahagia di sisinya.


"Entah mengapa, saat bersamamu begini, seluruh bebanku seakan tak berarti lagi sayang." bisik Bagas begitu lembut setelah usai memadu keindahan rasa di atas peraduan penuh gelora ini.


"Aku merasa sangat berharga di sisimu sayang, aku juga berterima kasih atas segalanya." bisikku pelan. Bagas mengecup lembut perutku yang bergelombang. Si utun bereaksi atas kecupan dan sentuhan lembut Papanya.


********//////******


Beberapa hari kami berdua teramat sibuk, Bagas disibukkan urusan kasus yang kait mengait dalam kecelakaan orang tuaku yang ternyata tidak sesederhana tentang dendam Rio yang merasa cintanya bertepuk sebelah tangan, karena ternyata Rio juga digunakan pihak lain. Rio sendiri ternyata disekap di pinggiran Jakarta dalam kondisi hampir mati di dalam gudang kosong setelah mencelakai orang tuaku, dia disekap bersama Programer dari perusahaan Bagas Asia Technology milik Bagas. Keduanya disekap di gudang yang sudah lama tidak di pakai. Entah apa yang mereka inginkan dari Rio. Kalau dari Bastian sudah jelas, mereka menginginkan Bastian menghianati perusahaan namun justru Bastian resign demi tetap setia.


Bagas menemui Giandra di kepolisiaan saat Giandra sedang dalam proses di BAP pihak kepolisian didampingi pengacaranya. Ayah mertuaku juga datang. Aku mendampingi Ratih yang menjadi saksi di ruang perlindungan saksi.


Bagas datang mendekatiku dan menyusupkan jemarinya diantara rambut dan pipiku.


"Sayangku, kamu lelah ngga? kalau lelah biar aku antar pulang, Ratih aman bersama tim pengawal yang menyamar. Wajah kamu terlihat sangat tidak baik-baik saja, terlebih kamu baru selesai memperbaiki software yang diretas, kamu pasti lelah oleh begitu banyaknya masalah dan pekerjaan,"


Aku mengangguk.


"Tim Programer sudah aku ganti semua sayang, mereka ternyata penyusup, untung aku tidak mengizinkan mereka untuk mengetahui sandi perintah di dalam database software baru itu. Mereka tidak berhasil mempengaruhi Bastian untuk ikut berhianat, makanya Bastian terpaksa risign, setelahnya malah dia diculik." ucapku. Bagas menatapku sangat dalam. Matanya berkaca-kaca. Dia berlutut di hadapanku yang duduk di kursi.


"Zara, semua masalah yang menimpa kamu, selain tentang penculikan Panji, semuanya adalah tentang bisnisku yang dipaksa mafia Zankoku dari Jepang untuk menyokong bisnis mereka di Indonesia. Aku selalu berhasil meindungi diri dan perusahaan, tapi mereka menggunakan kamu saat diculik di Jepang, dan kini keluarga kamu pun menjadi target operasi mereka. Ini tidak adil buat kamu sayang." Bagas terlihat sangat rentan. Dia tidak pernah terlihat serapuh ini sebelumnya.


Kupeluk erat kepalanya dan kukecup lembut pucuk kepala itu penuh kasih sayang. Bagas balas memelukku erat.


"Tidak sepenuhnya tentang mafia Zankoku sayang, ada Giandra dan Rio yang melakukan karena alasan pribadi mereka yang kemudian ditunggangi oleh Zankoku, andai tidak ada dua orang dengki di sekitar kita, Zankoku juga akan kesulitan akses terhadap kehidupan pribadi kita kan? jangan menyalahkan dirimu sayang." bisikku haru dan sedih.


Ayah mertuaku tiba-tiba masuk ke ruangan kami yang sedang menunggu Ratih. Kami menguraikan pelukan.

__ADS_1


"Kamu terlalu naif Bagas, sejak selera wanita kamu menjadi sangat rendah, pikiran kamu pun rendah dan low class , kamu berani menarik saham dari perusahaan keluarga kamu sendiri bahkan kini tega menangkap sepupu kamu sendiri." sinis ayah penuh intimidasi. Bagas berdiri di sampingku sembari merengkuh bahuku penuh perlindungan.


"Zara wanita hebat yang bahkan mampu membantuku melindungi perusahaanku. Yang berselera rendah itu adalah ayah, melepaskan Ibuku demi perempuan durjana yang bahkan rela memaksa suaminya menanda tangani surat cerai demi bisa menikahi ayah." sahut Bagas tak kalah sinis. Ayah terperanjat, bahkan aku pun kaget, sejak kapan Bagas mulai menelusuri kehidupannya, apakah sejak aku mulai menceritakan penderitaan ibu kandungnya? entahlah.


"Ibu kamu penghianat Bagas, kamu lupa bahwa ..."


"Cukup ayah mensketsa masa lalu dengan sketsa yang salah di benakku, dulu mungkin bisa saat aku bocah kecil dan remaja bodoh, tapi tidak untuk saat ini! Ibu wanita setia yang bahkan ayah ceraikan dan usir saat sedang mengandung adikku. Demi apa? demi cinta masa lalu? wanita serakah yang saat ini menggunakan Giandra dan anak tiri kesayangan ayah untuk menyerangku."


Ayah terlihat pucat pasi, dia pergi meninggalkan kami dengan tanpa basa-basi lagi. Aku menatap heran pada Bagas. Dia seakan memahami kebingunganku.


"Sayang, istriku, terima kasih karena telah membantuku membuka sedikit tabir masa lalu orang tuaku. Saat ini aku sedang mengusahakan menjemput Ibu untuk mengamankan beliau di sisi kita, aku takut keberadaan beliau terendus orang-orang jahat disekelilingku." Bagas megecup keningku lembut.


"Sama-sama sayang, kewajibanku sebagai istrimu untuk membantumu mencari tahu kebenaran itu, Syukurlah sayang. aku sangat bahagia mendengarnya." sahutku sembari membalas mengecup pipinya. Ratih selesai dan mengenali dengan baik orang-orang yang dibawa di bilik intip tersangka. Ratih segera di kawal untuk segera pulang duluan ke rumah kami.


Bagas kemudian meminta tim pengacaranya untuk menangani kasus kecelakaan keluargaku hingga tuntas beserta menuntut perusahaan saingan yang ternyata milik kaki tangan Mafia Zankoku atas pencuikan dan penyiksaan Bastian.


Bagas kemudian menggendongku masuk ke mobil kami yang di kendarai Arkana. Dia meletakkan aku dengan teramat hati-hati di jok belakang mobil. Ketika mobil meluncur, beberapa mobil lain ikut mengawal kami berlapis.


"Tuan Bagas, situasi sangat berbahaya untuk saat ini, ada baiknya Tuan aktifkan kembali pasukan khusus pengawalan Black shadow yang pernah ada dulu. Kita pernah berada disituasi ini di awal Zankoku memaksa untuk kerja sama, saat ini mereka terus berupaya mencari celah memanfaatkan situasi dan kondisi kehidupan pribadi kalian berdua, itu berbahaya untuk Non Zara."


Bagas merengkuh bahuku erat. Aku tahu dia sangat mengkhawatirkan bayi kami dan aku lebih dari apa pun.


"Aku akan bentuk Black Shadow lagi, nanti setelah selesai rapat darurat. Sementara pertahankan dulu kondisi ini dengan barisan yang ada. Arkana, kenapa keluargaku menyerang kamu secara pribadi, ada apa?" tanya Bagas terdengar serak.


"Saya tidak tahu Tuan, apa karena tertangkapnya Giandra?"


Bagas mengerutkan keningnya. Kemudian menatapku lembut.

__ADS_1


"Kita bahas hal lain dulu Arkana, kasihan istriku selalu dalam kondisi tegang. Segera koordinasikan anak buah kamu untuk megosongkan restoran favorite istriku, kami akan makan siang di sana, cuma berdua."


Bersambung


__ADS_2