ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 19 Bersama mu


__ADS_3

Kami berangkat mengikuti scedule Owner ANZ Coorporation. Tujuan lawatan mereka adalah ke China, tapi baru saja menginjakkan kaki di sana, beliau sudah terbang ke Jepang. Kami sampai harus beberapa kali menunggu beliau, tapi mereka tetap tidak mau ditemui.


Bagas duduk sambil matanya menekuri lantai. Kaki jenjangnya bergerak-gerak menandakan dia sedang sangat gelisah.


"Aku merasa dipermainkan Ra, kita kembali ke Indonesia saja, tanpa kerja sama dari mereka, perusahaan tidak akan goyah seinci pun, mereka hanya salah satu klien dari sekian banyak yang berusaha mengejar untuk kerja sama dengan kita." geram Bagas. Dia terlihat sangat marah.


"Sayang, dia ada di Tokyo sekarang, dan akan bertolak ke Eropa. Kalau kita berangkat sekarang, pasti ketemu. Setidaknya kita tahu alasan mereka mengurungkan niat untuk kerja sama dengan kita." bujukku pada Bagas yang kehilangan moodnya.


"Tapi aku tidak merasa rugi kehilangan calon mitra, masih banyak yang akan ...."


"Sayang, kamu selalu menekankan kepadaku, kepada semua karyawan kamu, bahwa kehilangan satu mitra bisnis, sama halnya kita kehilangan satu peluang untuk lebih bernilai di dunia usaha."


"Tapi aku tidak pernah diperlakukan seperti ini sayang." sergah Bagas dengan intonasi meninggi. Kentara dia berusaha keras mengendalikan emosinya.


"Kita harus tahu alasan dia sayang, tapi kalau kamu ngga mau, oke kita kembali ke Indonesia. Asal kemarahan kamu jangan kamu tumpahkan kepada ketiga karyawan kamu kemarin." ucapku datar. Bagas menatapku dengan sorot mata itu lagi, sorot mata yang mampu meruntuhkan dinding hati yang kubangun dengan susah payah agar tak jatuh cinta secara membabi buta padanya.


Setelah berpikir sebentar,


Bagas bersedia menerima saranku dan sesampai di Tokyo kami menginap di hotel yang sama dengan suami istri warga negara Korea itu.


Saat kami temui di kamarnya, beliau tidak ada, sedang pergi. Bagas kembali bad mood. Aku berusaha keras menenangkan amarahnya. Mamun Bagas seakan tak bisa menahan emosinya sehingga wajahnya memerah.


"Sayang kita kembali ke kamar saja ya, mungkin memang belum saatnya kita menemui mereka, yang aku tahu dari sekretarisku mereka sedang merayakan 25 tahun kebersamaan mereka dalam pernikahan bahagia."


Bagas hanya diam, aku tahu sejak awal dia tidak sungguh-sungguh untuk mengejar pasangan itu.


"Kita makan malam ya sayang." Bujukku pada suamiku yang tampak sangat tak bersemangat, dia lebih suka menempel dan lengket padaku.


"Aku lapar tapi lebih ingin memeluk kamu di tempat tidur kita daripada mengisi perutku yang berteriak minta diisi," seloroh Bagas. Tapi dia tetap mau ku ajak pergi untuk mencari makan di sebuah restoran seafood. Bagas meyuapiku dengan potongan ikan, terkadang aku melakukan hal yang sama untuknya.


Satu tahun kami menikah dan selalu romantis di depan semua orang namun saling memunggungi ketika berduaan kini seakan semakin hari kami semakin dekat secara natural. Tak ada settingan apalagi acting.

__ADS_1


Aku merasakan hubunganku dengan Bagas Reinhard semakin membaik dari detik ke detik.


Tidak disangka, saat sedang makan, meja kami disamperin pelayan restoran yang memberikan sebuah notes padaku, katanya dari salah satu pasangan yang baru saja meninggalkan restoran.


Saat ku baca, perasaanku terasa sangat nyaman dan bahagia.


"Senang melihat kebersamaan dan keromantisan pasangan muda seperti kalian. Saya memutuskan untuk menanda tangani kontrak ekslusif dengan perusahaan anda, kalau sempat kita ketemu untuk makan malam bersama, silahkan atur waktunya. karena kami masih menikmati romantisnya musim semi di Jepang hingga akhir pekan."


Aku tersenyum pada suamiku yang terdiam saat membaca notes itu.


"Sayang ...."


"Hem ...."


"Buruan kembali ke kamar yu, aku udah ngga sabar ingin bersama kamu menghabiskan malam berdua sayang."


Aku mengangguk.


Setibanya di kamar dan mengunci kamar, Bagas mendekatiku.


"Ra ..." bisik Bagas di telingaku.


"Kenapa?" tanyaku acuh, karena aku sibuk mencari tahu apa yang di sukai oleh pasangan itu agar saat bertemu obrolan bisa nyambung.


Bagas memelukku dari belakang. Kedua lengan kokoh itu melingkari pinggangku.


"Aku mau kita tidur sekarang sayang, ini sudah larut, besok lagi kita pikirkan tentang suami istri itu dan apa yang mereka sukai. Aku mau istriku sekarang, aku tak mau gagal dan tertunda lagi." desisnya di telingaku. Aku merinding merasakan hembusan nafasnya di tengkukku. Dadanya menempel di punggungku, hingga aku bisa merasakan debaran jantungnya juga tidak seperti biasa.


"Sayang, jujur aku ngga tahu perasaan apa yang saat ini ada di hatiku, setiap melihat kamu aku gembira, setiap jauh dari kamu, aku ngerasa marah dan ingin meneriaki siapa saja di hadapanku yang kebetulan berbuat salah. Aku belum pernah merasakan keinginan bertemu seseorang lebih dari keinginan bertemu kamu Zara."


Aku berbalik ke arahnya, Bagas mengecup bibirku dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Pejamkan matamu sayang, aku mohon." pinta Bagas dengan suara gemetar."


Aku menuruti keinginannya, mataku terpejam. Kurasakan dia melepaskan pelukannya.


"Buka dan lihatlah aku."


Aku mematung dan tertegun karena disuguhkan pemandangan yang teramat sangat menakjubkan, luar biasa. Dia berdiri kokoh di hadapanku tanpa sehelai benang pun. Aku yang terbengong tak kuasa bergerak apalagi bersuara. Bagas menarikku ke dalam pelukannya. Dia begitu panas dan terbakar hebat. Hanya sebentar sudah melepaskan seluruh penutup tubuhku hingga tak tersisa sehelai pun. Aku membiarkan dia melakukan semua yang dia inginkan terhadapku, karena jujur, aku telah jatuh cinta pada suamiku entah sejak kapan.


"Sayang, kamu siap?" tanyanya parau. Aku memejamkan mata sembari mengangguk.


"Iya sayang." sahutku. Kami kembali melanjutkan aktifitas yang semakin membakar setiap sel di tubuh kami.


Malam pertama kami terasa sangat luar biasa. Bagas begitu sempurna performanya. Sampai pagi aku hampir tak bisa melepaskan diri dari pelukannya. Bahkan setelah sarapan pagi dia memilih kembali merengkuhku dalam buaian penuh gelora.


"Sayang, ayo kita jalan-jalan di taman sakura, pasti indah banget."


Aku hendak beranjak pergi. Namun urung, karena Bagas menarikku kembali ke tempat tidur. Dia kembali memelukku erat.


"Aku ngga berminat sayang, apa pun itu, bukan hal penting saat ini. Aku baru tahu sayang, menikah dan tidur dengan istriku adalah pengalaman pertama yang luar biasa bagiku." ucapnya lembut.


"Dan aku tak mau kehilangan sedetik pun bersama kamu di kamar ini."


Dia memeluk ketat pinggangku. Aku baru sadar, Bagas lelaki lugu yang bahkan belum pernah mencium perempuan sebelum denganku. Dengan Grizella di depan pintu gerbang adalah inisiatif dari Grizella, bukan Bagas.


Namun satu hal yang mengusik hatiku, saat aku mengucap cinta di sela kebersamaan kami, Bagas hanya diam tak membalas. Aku mengucapkan itu dengan perasaan penuh cinta karena memang aku sangat jatuh cinta padanya. Terlebih setelah melalui keintiman bersamanya. Namun dia diam dan tak mengatakan apa pun.


Hari itu, kami tidak melakukan apa pun di area out door, keindahan musim semi di Jepang terabaikan. Bagas lebih memilih menikmati kebersamaan kami dalam letupan asmara yang membara dan membakar kami sepajang siang dan malam


"Aku mejadi kecanduan sayang. Kecanduan berada di pelukan kamu" bisiknya manja, dia menyembunyikan wajahnya di leherku.


Ponsel Bagas terus bergetar di atas nakas, aku meraihnya dan tertegun melihat siapa yang memanggil Bagas hingga puluhan kali.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2