ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 17 Rumah Cicak 1


__ADS_3

Pelukannya terasa menenangkan. Begitu hangat dan menguasai.


"Yu pulang ke rumah cicak." aku menggodanya sambil tersenyum jahil. Bagas mengerucutkan bibirnya sembari menyelentik pelan kupingku.


"Awas kalau ngga ngejagain aku!" ancamnya. Aku tertawa lepas sambil menarik tangannya untuk segera pulang. Ketika menunggu Bagas mengambil motornya, Arkana menghampiriku.


"Sejak dulu saya belum pernah melihat Tuan Bagas begitu ceria Non Zara. Dia terlihat berbeda setelah mengenal Non."


Aku menoleh kearah Arkana yang berdiri di sampingku.


"Setiap yang bernama manusia mengalami fase tertentu di dalam kehidupannya Ar, tak ada manusia yang stuck di tempat kecuali dia tak bergerak dinamis menjalani hidupnya."


"Tapi ini sungguh luar biasa Non, tak terbayangkan untuk saya yang mengenal beliau sejak kecil." sahut Arkana penuh penekanan.


Aku mengerutkan kening mendengar penuturan Arkana.


"Sejak kecil? kamu ...."


Belum sempat Arkana menjawab, Bagas telah muncul di hadapanku dengan motor yang berbeda dari kemarin. Dia memiliki banyak sekali motor sport, yang ini Yamaha R1 M.


...



...


"Naik sayang.",


Bagas membuka helmnya sembari mengulurkan helm untuk kupakai beserta jaket kulit yang mungkin sengaja disiapkannya untukku.


"Tuan, kami berada tidak terlalu jauh dari rumah Nona Zara. Kami tetap mengawasi keamanan sekitar Tuan dan Nona." Arkana memberitahu Bagas kalau mereka sudah mengontrak beberapa hari di rumah penduduk sekitar.


Bagas mengangguk dan mengulurkan tangannya dan menunjukkan jempol kepada Arkana.


Bagas menghidupkan motor dan membawaku meluncur membelah jalan raya yang padat. Memeluk lelaki atletis ini dari belakang membuatku merasa seperti sebuah ransel baginya. Bagas begitu pas berada di dalam pelukanku. Dengan nyaman meletakkan dagu di atas bahunya.


Angin sore menyentuh begitu semilir, Bagas menghentikan motornya di pinggir sebuah taman bermain.


"Duduk di ayunan Ra, kamu mau?" tanya Bagas sembari menarik tanganku yang baru saja meletakkan helm di atas motornya.


Tanpa harus menunggu jawabanku, Bagas mendudukan aku di salah satu ayunan, sementara dia sendiri duduk di ayunan satunya. Matanya menerawang jauh.


"Sudah dua puluh tahun aku tak berani mendekati taman bermain, terlebih untuk duduk di atas ayunan ini." tuturnya lirih. Aku menatapnya lekat. Bagas menunduk.


"Taman bermain mengingatkan aku saat dicampakkan wanita pertama di dalam hidupku, yaitu Ibu." suara lelaki pemarah itu terdengar bergetar. Aku beranjak dari ayunanku dan mendekati Bagas, posisi dia duduk di ayunan dan aku berdiri membuatku memeluk kepalanya. Bagas menenggelamkan wajahnya di dadaku. Bahunya terguncang.


"Aku menunggunya hingga larut malam, sendirian bersembunyi di dalam terowongan seluncur. Hujan lebat Ra. Ada satu orang menolongku. Aku pikir dia orang baik, tapi ternyata ...." Bagas memelukku semakin erat. Dia menahan sesak.


"Aku ... aku ... a ...ku belum mampu mengungkapkan ini Ra, terasa menyakitkan!" bisiknya lirih.


"Jangan dipaksakan sayang, kamu sudah mau melawan trauma mu terhadap taman bermain saja sudah kemajuan luar biasa sayang." bisikku.


Bagas mengangkat wajahnya, netra itu begitu lelah. Terlihat begitu kuyu. Kuletakkan kedua telapak tanganku di kedua sisi wajahnya. Dia terpejam. Aku mengecup kelopak matanya lembut. Mengecup keningnya dan kembali memeluknya erat.

__ADS_1


"Genggam tanganku ya sayang, aku akan selalu menemani kamu, sampai kamu yang memintaku menjauh." kukecup lembut pucuk kepalanya.


"Jangan pergi meninggalkan aku tanpa seizinku sayang." bisiknya. Tangannya masih melingkari pinggangku. Semilir angin senja menerpa wajahku. Terasa teduh dan nyaman, kini aku merasa memiliki satu sama lain. Kami telah sama-sama mengungkap sisi pahit hidup kami masing-masing.


Kini aku memahami kenapa dia menjadi sosok pemarah, dingin dan tak berperasaan. Dia hanya menutupi lukanya yang bernanah dan belum kunjung sembuh setelah dua puluh tahun berlalu.


Diantara kami berdua tak ada satu pun yang mengucap cinta. Tapi entah mengapa justru perasaan kami semakin dalam dan seakan saling memberi jalan bagi satu sama lain masuk untuk menyentuh rahasia terdalam di hidup masing-masing.


"Kita pulang ya." bisikku di telinganya. Bagas perlahan mengurai pelukannya.Dia berdiri dan memelukku sekali lagi.


"Memeluk kamu membuatku tersadar Ra, kalau hatiku masih berdenyut di dalam sana. Terima kasih Ra." kini giliran dia mengecup keningku.


Kami kembali menuju Yamah'a R 1 M yang terparkir di sisi jalan. Kami kembali meluncur menuju rumah cicak yang membuat kami sedekat ini sekarang.


****************///////*************


Sebelum Bagas masuk ke kamar mandi, aku telah membersihkan dan meyakini tidak ada satu pun binatang yang di takutinya. Begitupun di kamar. Aku sudah mengusir mereka dari sana. Entahlah kalau mereka akan datang kembali.


Bagas melahap semur jengkol di atas meja makan. Memasukkan satu persatu ke dalam mulutnya.


"Lezatnya makanan ini." selorohnya dengan mata berbinar. Aku hanya tersenyum melihatnya. Rasa ajaib melihat lelaki sangat kaya ini justru terpesona dengan makanan kampung. Tak terbayangkan sebelumnya hubunganku dengan Bagas sampai di tahap ini.


Saat malam mereka bermain gaple, Hanya aku dan ibu yang tidak ikut. Tak disangka justru Bagas menang, padahal dia baru belajar dari internet di sela meeting dengan klien dan sekarang dia dengan suka cita melukiskan coret moret di wajah kedua adikku.


Aku dan Ibu hanya menonton.


"Ayo sayang, ikutan main." ajak Bagas senang. Aku menggeleng karena memang tidak suka meskipun bisa. Tiba giliran ayah yang dicoret dia ragu dan Ayah tertawa geli.


"Coret saja Gas, namanya juga permainan." seloroh ayah. Bagas tetap menggeleng. Akhirnya Aryo dengan santainya mencoret wajah Ayah. Mereka semua tertawa.


Berbaring sendirian di dalam ruang yang sangat familiar karena sepanjang masa remajaku habis di sini. Tanganku meraih sebuah album foto dan membukanya. Foto bersama sahabat-sahabat masa SMA hingga kuliah. Juga Foto bersama Rio sahabat terbaikku. Aku teringat dengan Rio, entah dimana dia berada saat ini. Terakhir bertemu dengannya di Rumah Sakit saat ayah sakit.


"Sayang ... pengen makan kerak telor, seperti yang Ratih bawain kemarin, ayo kita jalan sebentar yu." pintanya manja.


Bagas masuk ke dalam kamar dan ketika melihatku berbaring tengkurap sambil melihat album dia menindihku dari belakang, saat itu aku tanpa sadar masih menatap foto keakraban aku dan Rio.


Tangan kokoh itu mengambil album foto dari tanganku. Wajahnya seketika bersemu merah melihat foto kebersamaan aku dan Rio saat di kampus atau saat menjadi sopir Gojek. Hanya kebersamaan sebatas sahabat.


"Kamu merindukan lelaki di foto ini?" tanya Bagas dengan intonasi tinggi.


Aku menggeleng pelan. Bagas mengatupkan rahangnya.


"Aku sudah bilang kan? jangan dekat dengan lelaki mana pun selain aku, ayah dan Aryo. Siapa dia? apa hubungan kalian hingga begitu banyak foto kalian berdua?"


Bagas melempar Album itu dengan kemarahan tertahan. Hingga suara album foto beradu dengan lemari terdengar sangat keras.


Brak ....


"Dia sahabatku sayang, kamu ngga perlu cemburu." sergahku sambil mendorongnya dari menindihku.


"Tidak ada sahabat di dalam hubungan pria dan wanita! cemburu? aku tidak cemburu! untuk apa aku cemburu, kamu ...."


Bagas terhenti ketika ku cium pipinya.

__ADS_1


"Jangan marah sayang, dia cuma sahabatku. Kamu yakin ngga cemburu? hem?" ku tatap dia tepat di bening netra indah itu. Matanya berbinar, dia menarik wajahku dan berusaha menciumku. Tapi aku mendorong wajahnya sambil tertawa ngakak.


"Bau mulutmu luar biasa sayang, astaga sudah sikat gigi belum? ih."


Bagas meniup ke arah telapak tangannya.


"Udah sikat gigi, tapi kenapa tetap bau ya." tanyanya lugu.


"Berapa sendok makan jengkol?" tanyaku menahan ketawa.


"Semua yang di meja, trus nambah yang di wajan juga se ...."


"Ya salam Bagas Rainhard, itu doyan atau lapar?" Bagas tertawa jahil dia malah berusaha membuka mulutnya dan memberikan aku aroma tak terkatakan itu. Aku menutup wajahku dengan bantal.


Bagas membuka penutup bantalku, tapi aku berlari keluar kamar. Dia tertawa tergelak. Sebelum dia mengejar ku minta Aryo membeli permen karet. Karena aku tak yakin lelaki ini mau mengunyah daun sirih dengan garam.


Tawa Bagas terhenti, dia berlari keluar kamar dan memelukku. Aku tertawa geli, pasti si mister cicak main-main lagi ke kamar.


"Sayang cepetan usir cicaknya."


"Sebentar sayang, ini lagi mau bikinin kamu susu biar bau mulut dan nafas kamu cepat netral." sahutku.


Bagas melepaskan sejenak pelukannya. Tapi dia kembali memelukku dari belakang saat aku membuatkan dia susu.


Di letakkannya dagunya di pundakku. Sambil membuka mulutnya. Aku tertawa. Dia sengaja memberiku aroma ajaib dari hasil menyantap begitu banyak semur jengkol. Dia tertawa senang dan tak melepaskan pelukan ketatnya. Aku menahan nafas.


"Sayang ada kecoa di dekat kaki ku!" seru ku berdusta. Bagas melepaskanku dan berlari naik ke atas kursi di meja dapur, aku yang sekarang tertawa geli.


"Nih minum susunya gantengku, tampanku, pangeran jengkolku." godaku. Bagas merengut sambil turun dari atas kursi dan berjalan mendekatiku.


"Kamu jahat sayang, aku kaget kan?" rutuknya kesal. Dia mengambil gelas susu dari tanganku. Meminumnya hingga habis satu gelas.


Bersamaan dengan itu Aryo datang membawa permen karet.


Bagas mengunyah permen karet dengan patuh. Ketika Aryo pergi dia mendekat kepadaku.


"Sayang, ciuman ya?"


"Ah ngga ah," tolakku sambil tertawa.


Aku berlari ke kamar kami, Bagas mengikuti.


"Sementara di rumah ini kamu tahan dulu keinginan punya dedek ya sayang?"


Bagas mengerutkan keningnya.


"Kenapa sayang? kita belum malam pertama lo udah lama hampir satu tahun." rajuknya.


"Aku takut kamu berhenti ditengah jalan saat cicak bernyanyi di dinding kamar, atau ranjang itu berderit dan di dengar seisi rumah, atau ...." Bagas menghentikan kata-kataku dengan menciumku mesra.


Bersambung


Berhasilkah mereka malam pertama di rumah kecil itu, rumah cicak?

__ADS_1


jejak mak ❤😘😘


__ADS_2