ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 30 Panji


__ADS_3

Bagas tergesa menghampiriku yang sedang membuatkan dia kopi susu kesukaannya.


"Sayang, ada kabar keberadaan seorang balita difabel daksa seusia Panji, dari anak buahku yang mencari jejaknya."


Aku terperanjat mendengar berita yang dibawa Bagas. Aku memeluk suamiku sambil terisak.


"Sayang, ini belum tentu Panji, tapi aku janji kita akan mengecek kebenarannya segera. Katanya anak itu dibawa mengemis oleh seorang Ibu."


"Astaghfirullah, kenapa tidak langsung direbut saja sayang?"


"Mereka tidak berani tanpa bukti merampas anak digendongan ibunya." Bagas mencoba menenangkanku.


Aku merasakan perih dan pedih menohok jantungku. Di saat aku begitu bahagia menikmati kehidupan glamour di pernikahan keduaku, putraku malah hidup dalam penderitaan.


"Panji, Panji ... " jeritku, tanpa bisa ku cegah, tangisku meledak. Bagas memeluk dan mengecup pucuk kepalaku lembut. Tangannya menepuk punggungku pelan.


"Tenangkan diri mu sayang, aku mohon tegar lah. Sebentar lagi kita akan tahu itu panji atau bukan. Mereka sudah berada di lokasi tempat biasa dia dibawa mengemis. Nanti mereka akan memoto bocah itu dan mengirimkan kepada kita." bisik Bagas di telingaku.


Sambil menunggu kabar dari anak buah Bagas, aku dan Bagas berangkat ke rumah sakit untuk cek kandungan. Sudah hampir lima bulan, Bagas teramat sangat perhatian pada aku dan calon anak kami.


Diluar dugaan, dokter meminta aku bed rest karena tekanan darahku naik cukup tinggi. Keluar dari ruang periksa kursi roda menantiku. Bagas mendorongku di atas kursi roda. Sampai di parkiran dia melarangku berdiri. Dengan sigap dia mengangkatku dan menggendong ke dalam mobil. Kemudian dengan hati-hati meletakkanku di kursi penumpang.


Setiba di rumah dia kembali menggendongku dan membawaku ke dalam kamar.


"Sayang, jaga diri kamu demi anak kita ya. Istirahatlah di tempat tidur saja. Saran dokter dua hari sampai tekanan darah kamu normal kembali." ucap Bagas dengan nada sedikit tinggi namun sorot matanya begitu lembut.


Waktu terasa berjalan begitu lambat di atas peraduan. Ku coba membuat diriku merasa nyaman. Bagas memahami itu. Dia selalu pulang lebih awal dari biasanya. Saat team dokter datang lagi memeriksa, kondisiku berangsur membaik.


Namun Bagas tetap meminta agar aku tetap berhati-hati. Sementara anak buahnya tidak bisa mengambil foto wajah balita di gendongan pengemis perempuan itu karena keburu di hakimi massa dikira hendak menculik. Mereka hanya sempat memfoto perempuan yang menggendong balita itu. Balita seusia Panji. Kulitnya putih bersih seperti bukan di besarkan oleh pengemis itu. Mungkin hanya sesekali saja dia membawa balita itu.


Perasaanku sungguh tidak tenang, namun tidak berani melakukan apa pun, meskipun Rio beberapa kali mengajakku untuk melihat balita itu, namun aku tidak bisa karena menjaga kandunganku. Aku tidak mau hal buruk justru menimpa calon bayiku.

__ADS_1


"Sayang, kamu dimana?" tanya Bagas saat aku baru selesai menelepon Rio untuk cross chek keberadaan Panji.


"Di rumah, di kamar kita sayang, dimana lagi istrimu ini."


Bagas tertawa ringan.


"Aku akan segera pulang sayang, tunggu ya, suami kamu akan datang menemani biar kamu ngga bosan." sahutnya.


"Tapi kamu kerja, nanti lari semua klien kamu melihat kamu jarang di kantor." godaku. Padahal aku tahu persis Big Bos seperti Bagas tidak harus selalu berada di tempat.


"Aku Big Bos sayang, suka-suka aku dong mau di kantor, mau di kamar istriku atau mau kelonan sama kamu seharian." sahutnya lagi dengan nada sangat ceria.


Bagas telah menjadi pribadi berbeda sejak aku mengandung. Entah apakah karena terlampau bahagia karena akan segera memiliki bayi dan menjadi Papa, atau karena telah bucin terhadapku. Yang pasti aku sangat menikmati kebahagiaan ini.


"Sayang bawa mangga muda dengan kedondong ya, aku pengen rujakan, sambalnya udah dibikinin Mrs Bi."


"Siap sayang. Aku bawaain sebentar lagi ya."


"Kita rujakannya di taman samping aja yu sayang. Biar kamu ngga jenuh. Aku sudah minta pelayan membawa ke sana."


Tanpa banyak kata Bagas meraihku dan menggendongku. Aku mengalungkan tangan di lehernya. Terasa sangat menyenangkan dimanjakan begini oleh suami tampanku.


Yang merujak ternyata malah Bagas, aku hanya menyuap beberapa kali.


"Jangan ngebet begitu dong sayang, nanti sakit perut." tegurku.


Bagas menyunggingkan senyum manisnya.


Dia menangkup wajahku dan mengecup bibirku sekilas.


"Tenang sayang, udah biasa, sejak awal kamu hamil, di kantor selalu ada rujak di mejaku. Aku ngidam juga ternyata."

__ADS_1


Aku tertawa geli mendengar suamiku ngidam lebih parah dari aku. Bahkan dia sering meminta buah yang membuat pusing karyawannya karena belum musim.


"Bersyukurlah bukan aku yang ngidam aneh begitu, kamu bakalan repot kalau aku yang ngidam, sudah pasti aku ngga mau orang lain yang nyariin, tapi kamu." selorohku sembari mengelap sambal rujak di bibir suamiku.


Kami melalui hari-hari dengan keceriaan. Sesekali mertua perempuanku menelepon menanyakan kabar kami, ibu kandung Bagas. Sementara Ibu tiri Bagas dan ayahnya malah tidak pernah menyapa kami meskipun hanya lewat telepon.


Pagi ini, saat sedang menyiapkan pakaian suamiku yang hendak berangkat bekerja, Bagas memelukku erat.


"Panji ditemukan sayang, sudah diyakini anak buahku kalau balita itu memang Panji, karena cacatnya sama persis, tanda lahirnya juga tepat, tinggal test DNA nanti kalau kamu ragu, dia tidak tinggal dengan pengemis itu, tapi memang sengaja disewakan oleh seseorang."


Tangisku meledak, betapa jahatnya orang yang memperlakukan anakku seperti itu. Aku tak akan memaafkan manusia itu.


"Kamu tunggu di rumah saja ya sayang, biar aku yang jemput Panji. Karena sindikat penyewaan balita untuk disewa pengemis itu bukan sembarang sindikat. Ada jaringannya. Aku sudah meminta bantuan polisi dan insyaAllah semuanya akan terungkap. Fakta siapa yang sudah menyerahkan Panji ke tangan sindikat itu juga akan aku korek habis. Aku tidak akan melepaskan mereka! kamu jaga si utun saja, bantu do'a juga."


Aku memeluk erat suamiku. Dia bagai malaikat penolongku.


"Iya sayang, aku akan jaga Utun dan ngga akan pergi kemana pun. Ku mohon jangan kamu langsung di lapangan. Kamu tunggu hasilnya saja ya sayang, aku ngga mau kamu tertembak lagi."


Bagas tersenyum.


"Iya sayang, Arkana yang turun langsung. Aku hanya memberi perintah. Menunggu hasilnya saja. Kamu juga, jangan banyak pikiran, tenangkan diri kamu, aku ngga mau tensi kamu naik lagi."


Bagas memelukku lembut, sembari menciumi aku. Seperti kebiasaannya selama ini, setelah mengecup perutku dan membelainya.


"Terima kasih sayang, sudah perduli kepada putraku."


Bagas tersenyum.


"Bukan hanya putramu sayang, dia juga putraku. Kamu harus tahu itu, aku akan adil kepada kedua buah hati kita. Aku janji sayang." bisiknya.


Aku sangat terharu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2