ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 57


__ADS_3

Kini aku bisa menghubungkan benang merahnya. Wanita yang belum kuketahui namanya itu adalah salah satu keluarga Grizella yang mungkin tak begitu dekat secara pertalian darah, terbukti Grizella tak begitu memahami apa yang terjadi pada Tantenya hingga sempat melakukan oplas di negeri ginseng puluhan tahun lalu. Wanita itu memiliki seorang putra bernama Andra, yang bekerja sebagai asisten tuan Subrata, ayahnya Bagas, sepertinya dengan maksud menjadi mata-mata untuk ibunya.


Satu lagi yang kutangkap dari semua pembicaraan yang kudengar dari penyadapan yang kulakukan, wanita itu kemungkinan besar adalah wanita yang menyiksa Bagas di saat dia masih kecil dulu. Dia musuh yang tak disadari oleh tuan Subrata. Dia bahkan sudah mencengkram keluarga itu cukup lama dan mampu mengadu domba mereka tanpa disadari oleh mereka. Wanita itu sedang diselidiki oleh orang suruhan Niken dan Rich. Identitas dan dimana sebenarnya dia tinggal selama ini. Aku juga sedang berupaya mencari tahu alasan sebenarnya dia begitu mendendam kepada Pak Subrata dan Bagas.


Aku juga sedang berupaya mencari tahu apa yang membuat Giandra begitu tak menyukai Bagas, sepupunya sendiri. Mereka bahkan pernah tumbuh bersama saat masih kecil hingga tumbuh remaja.


"Kevin, apa yang sedang kamu perhatikan di kejauhan sana?" tiba-tiba Bagas sudah ada di belakangku, replek aku menoleh kepadanya dan tatapan kami bertemu tanpa kami sadari.


Bagas melengos menatap ke arah lain.


"Bening mata kamu mengingatkan aku pada istriku, mata yang tak pernah menatap marah kepadaku meskipun aku selalu memarahinya," desis Bagas.


"Ada apa Tuan, kenapa Tuan terlihat seperti sangat merindukan istri Tuan, dengan kemapuan finansial dan banyaknya pengawal Tuan, bukankah Tuan bisa mencarinya dengan mudah?" tanyaku pelan. Aku berusaha menyimpan gugupku saat berada di sisinya.


"Ada seseorang yang cukup penting dan merupakan rekan bisnisku yang melindungi dia, aku tahu dia berada di lingkungan  mereka, tapi anehnya aku tak bisa menemukan dia, tapi aku cukup tenang karena dia pasti aman dan tak akan tersentuh oleh musuh-musuhku, karena Rich bukanlah lelaki sembarangan," ucap Bagas sedih.


"Kevin, kamu tangan kanan ayahku, apakah kamu tahu apa sebenarnya yang direncanakan Giandra dan Grizella?" 


Aku kembali menatap ke arah jalan di bawah sana. Lamat aku masih terus mendengar suara Andra di telingaku, kali ini hanya suara dengkurnya, mungkin dia tertidur di dalam mobil yang telah diparkir, entah sedang menunggu siapa.


"Hampir tahu Tuan, yang pasti wanita yang bersama Grizella adalah Ibu dari Andra, mantan asisten Tuan Subrata, dan wanita itu adalah wanita yang Tuan Bagas cari."


Mendengar penuturanku, Bagas terlihat teramat sangat terkejut.


"Dari mana kamu tahu aku mencari wanita itu hah!" Bagas berteriak lantang. Aku tersentak kaget tak alang kepalang. Aku sudah salah bicara, dan itu cukup fatal.


"Siapa kamu sebenarnya Kevin, kamu bukan seperti asisten biasa, kenapa kamu begitu memahami situasi yang sedang aku dan tuan kamu hadapi, jangan-jangan kamu salah satu penyusup yang memiliki tujuan sama buruknya dengan mereka?"


Bagas meringsek maju dan mendorong leherku dengan lengannya dan membuatku seakan tercekik. Sikunya bahkan menekan dada kiriku. Terasa benar-benar sesak.


"Apa maksud Tuan?" tanyaku dengan suara yang parau dan mataku seketika mendelik menahan sakit. Aku bisa saja melepaskan diri darinya tapi aku tak ingin membuat dia mencurigaiku.  


"Siapa kamu hah!" geram Bagas.


Aku semakin didorongnya merapat ke arah dinding. Sebentar lagi mungkin aku akan kehilangan nafasku.

__ADS_1


"Dia tahu segalanya dari keteranganku Bagas, lepaskan dia, ayah mengandalkan dia untuk menjadi asisten pribadi ayah."


Tiba-tiba Pak Subrata muncul di belakang Bagas. Di tangannya ada segelas anggur yang masih utuh. Rupanya beliau kembali menuangkan minuman itu. Bagas menarik tindihan tangannya pada leher dan dadaku. Terasa lega.


"Awas kalau terbukti kamu adalah mata-mata orang yang berniat menghancurkan bisnisku apalagi rumah tanggaku, kubunuh kamu dengan cara paling menakutkan!" ancam Bagas. Netra itu berkilat dan tajam menusuk hingga relung jantungku. Aku bergidik melihat begitu tajamnya sorot netra lelaki gagah di hadapanku.


Bagas kemudian mengalihkan tatapannya kepada ayahnya yang setengah mabuk.


"Sadarkan dirimu dulu Yah, jangan pulang sebelum benar-benar sadar!" Bagas melengos pergi meninggalkan aku dan Tuan Subrata yang memang terlihat sangat mabuk. Aku menuntunnya menuruni tangga menuju kembali ke lantai dasar melalui tangga megah yang melingkar ke bawah. Terseok-seok akhirnya aku berhasil sampai ke bawah.


Mrs Bianca kemudian membantuku membaringkan lelaki paruh baya itu di kamar tamu. Saat aku hendak meninggalkannya, lamat-lamat indra pendengaranku menangkap suara isak tangis tertahan. Kuminta Mrs Bianca untuk meninggalkan kami. Kepala asisten rumah tangga Bagas yang sangat setia selama bertahun-tahun itu menatapku ragu, namun kemudian dia melangkahkan kaki meninggalkan kami di kamar tamu.


Pelan kudekati tempat tidur lelaki paruh baya itu, ternyata beliau benar-benar menitikkan air mata meskipun sedang terpejam.


"Maaf," ucapnya berulang-ulang kali.


"Maafkan aku."


Tuan Subrata terus mengulang kata maaf tapi entah untuk siapa.


"Kamu siapa?" tanyanya pelan. Mungkin dia tak ingin pembicaraan kami kembali dilerai Tuan Subrata.


"Saya Kevin Armando, kenapa tuan terus mengulang pertanyaan yang sama untuk jawaban yang Tuan sudah tahu."


Bagas tertawa mendengar kata-kata yang keluar dari mulutku.


"Kevin Armando? identitas siapa yang kamu pakai itu? saat aku temukan kenyataan siapa kamu dan siapa yang mengutus kamu, hidupmu dan keluargamu selesai." ucapnya datar, nyaris tanpa ekspresi.


Beruntunglah Niken begitu hati-hati hingga dia menyiapkan identitasku sedetil mungkin beserta surat menyurat yang tak mudah untuk diungkap.


"Kenapa Tuan begitu mencurigai saya? apa saya seperti penipu di mata Tuan?" tanyaku santai. Bagas mendekat ke arahku.


"lebih dari penipu kurasa," bisiknya di telingaku. Bulu kudukku meremang. Andai saja segalanya telah selesai, aku ingin memeluk lelaki di hadapanku ini, tapi sekuat tenaga aku mencoba mengekang gejolak hati yang merindu ini.


"Tunggu dua hari atau bahkan 1x 24 jam, aku akan menguliti identitas kamu," ucapnya sembari berjalan melewatiku dan berlalu menuju kamar Bara dan menghilang di balik pintu kamar yang kemudian ditutupnya dengan perlahan.

__ADS_1


Tak menunggu waktu lama, aku bergegas masuk ke dalam kamar dan segera mendengarkan rekaman dari mobil Grizella.


"Tante, kita ngga punya banyak waktu, Tante inginkan kehancuran Tuan Subrata melalui kehancuran Bagas, saya menginginkan Bagas menceraikan istrinya yang bagai upik abu itu." geram Grizella.


"Perlahan Griz, kita ngga bisa melakukan sesuatu tanpa rencana,"


"Tapi surat kontrak nikah Bagas dan Zara sudah cukup untuk menguliti Bagas kan Tante? dia akan dituding merekayasa pernikahan untuk menghilangkan bukti kalau dia seorang ho**."


"Dimana kamu menyimpan surat itu? serahkan kepada Tante saja, biar aman," sergah wanita itu tegas.


"Disimpan Giandra Tan, dia tinggal di rumah Tuan subrata, kemungkinan disimpannya di dalam brankas di dalam kamarnya, aman Tante,"


Wanita itu mengancam Griz untuk tak teledor menyimpan barang sangat berharga itu, hingga hari H eksekusi.


"Menghancurkan Bagas dengan cara itu sudah cukup kan tante?" 


"Belum cukup Zara, aku ingin  sekalian menyeret Ibu kandungnya sebagai pengedar narkoba kelas kakap! kita lihat kehancuran mentalnya bertubi-tubi, dia akan hidup dalam sesal luar biasa karena tak mempercayai Ibu kandungnya sendiri," gelak tawa wanita itu membuatku merinding.


Tubuhku lemas seketika, bagaimana mungkin mereka mempunyai surat kontrak pernikahan kami? aku harus segera kembali ke rumah Tuan Subrata untuk secepat kilat merebut kembali surat perjanjian kontrak kami yang telah lama kami batalkan.


Ponselku berdering berkali-kali, pikiranku seketika kalut, antara mendahulukan menyelamatkan Ibu mertuaku atau menyelamatkan kehormatan Bagas yang akan difitnah di khalayak umum.


Kuangkat ponselku, dari Niken.


"Ra, kamu baik-baik saja kan? segera selesaikan misi kamu Ra, Bagas semakin gencar mencari tahu identitas Kevin yang kamu gunakan," ucap Niken pelan.


Aku merasakan kepanikan yang tak terperi, segera kuceritakan rencana  Grizella menyebarkan perjanjian kontrak yang sebenarnya sudah lama tak berlaku itu, juga tentang rencana mereka menjebak Ibu mertuaku. Niken terkejut.


"Ini bukan hal mudah Ra, kamu harus dibantu oleh pengawal terbaikku, tapi bagaimana cara kamu pergi dari rumah Bagas? ini benar-benar harus segera ditangani Ra."


Hening sejenak.


"Bantu aku mengalihkan Bagas Ken, minta tolong suami kamu menemui dia untuk menawarkan kerja sama, bantu aku keluar dan segera merebut surat perjanjian kontrak nikah kami," pintaku.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2