ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 54


__ADS_3

Kini hari-hari suamiku begitu suram dan seakan tak berwarna. Saat kemarahannya memuncak oleh apa pun yang tak cukup memuaskan kemauannya, dia akan membuat kegaduhan di dalam rumah megah ini. Semua pelayan akan terkena semburan amarahnya tak terkecuali Mrs. Bianca. Terlebih kepala pelayan itu sangat mengecewakan Bagas karena telah kehilangan aku di pulau itu. Tak ada satu hal pun di dalam rumah yang luput dari kemurkaannya.


Menjelang sore, keluargaku datang, Bagas sedang berada di kantornya, aku gugup dan khawatir kalau-kalau mereka mengenaliku. Namun sejak aku menyambut dan mempersilahkan mereka masuk, tak satu pun yang mengenaliku. Niken memang luar biasa, penyamaranku benar-benar sempurna. Bahkan tim profesional seperti Black Shadow terkecoh. Nanti saat aku kembali lagi sebagai Zara ke rumah ini, aku akan meminta Bagas untuk memperbaiki system keamanannya di rumah ini. Mereka memang bukan BS emergency, sehingga kemampuan mereka dibawah Tim Khusus BS yang terlatih bukan saja bertarung tapi juga insting seorang detektive yang handal. Bagas memperlonggar Tim nya karena bukan menghadapi mafia kelas dunia lagi. Aku mulai memperhatikan beberapa titik kelemahan mereka, juga mempelajari cara memasuki rumah ini melalui jalan rahasia yang pernah ditunjukkan Bagas dulu, hanya aku dan Bagas yang tahu. Sebuah sudut di taman yang tak kentara dibalik bebatuan itu ada pintu rahasia yang dibuat Bagas jauh sebelum dia menghadapi Zankoku.


Kedua putraku sedang bermain, Defa begitu menyayangi Bara. Saat melihat kehadiranku Bara berlari dan meminta untukku gendong. 


Aku juga sangat merindukan keluargaku, namun tak bisa memeluk dan bercengkrama dengan mereka,  aku tak ingin semua rencana yang sudah tersusun rapi menjadi berantakan. Sedapat mungkin aku berusaha menghindari terlalu sering berinteraksi dengan mereka, terutama dengan Aryo. Karena remaja satu itu tergolong sangat teliti dan cerdas.


Bagas yang baru datang langsung menemui keluargaku. Dia menceritakan perihal aku yang dicurigainya telah menghianati pernikahan kami dan bekerja sama dengan Ibu kandung dan Adiknya di belakangnya. Namun Ayah berusaha meyakinkan Bagas, bahwa dia menjamin dengan nyawanya, bahwa putri mereka tak serendah itu. Bagas terdiam.


"Banyak bukti mengarah kepada kedekatan Arkana dan Zara, dan memang Arkana mengakui perasaannya terhadap kakak iparnya."


"Itu kan perasaan Arkana? bukan Zara istri kamu, bagaimana mungkin kamu tak bisa mengenali karakter istrimu sendiri Bagas? kalian menikah cukup lama dan melalui banyak suka duka, bahkan setahu ayah, kamu sudah menyerahkan sebagian saham perusahaan kepada dia, menurut kamu, apakah mungkin dia berkhianat? dengan alasan apa? cinta? setahu ayah, Zara wanita yang teguh pada pendiriannya, logikanya terkadang mampu mengalahkan perasaannya. Dia bukan seperti wanita kebanyakan Gas. Ayah berani jamin nak, istri kamu itu setia."


Lama mereka berbicara di ruang keluarga, ketika Bara terlepas dari gendonganku dan berlari ke arah Papanya. Bagas menyambut anaknya dengan suka cita.


"Ayah, Ibu dan adik-adik, saya meminta kalian datang untuk mengawasi kedua cucu kalian, mereka sedang menjadi target kejahatan karena seluruh wasiat saya tertuju kepada keduanya." ucap Bagas. Wajah lelaki itu menyiratkan kelelahan teramat sangat. Aku ingin berlari dan merengkuhnya, namun lagi-lagi kutahan sekuat hati.


"Terima kasih Nak, kamu memberikan kami kepercayaan sebesar ini," ucap Ibu lembut.


"Kepada siapa lagi Bu saya bisa percaya menjaga dua putra saya kalau bukan kepada kalian. Keduanya sama-sama berharga buat saya Bu, Pak, kelak keduanya akan membawa perusahaan saya jauh lebih melesat lagi."


Ayah dan Ibuku hanya tersenyum namun setelahnya Ibu menasehati Bagas untuk jangan terlalu fokus hanya mengasuh anak-anaknya untuk menjadi seorang pewaris, namun harus mendidik mereka menjadi manusia yang memiliki hati dan perasaan, mendidik mereka menjadi manusia yang berempati kepada sesama.

__ADS_1


Ibu bahkan meminta kedua cucunya untuk jangan terlalu dimanjakan berlebihan sehingga membentuk kepribadian jumawa dan egois. Bagas terdiam sejenak mendengar semua nasehat mereka. Tak ada yang berani menasehati dia selama ini. Tak ada yang berani dengan tegas mengatakan dia salah langkah mendidik kedua balitanya. Hanya kedua mertuanya yang dengan tulus mengatakan apa adanya.


"Apakah menurut ayah dan Ibu saya terlalu egois dan .... "


"Ya Bagas, kamu terlampau egois dan mengurung diri kamu seperti tak ingin tersentuh oleh perasaan orang lain. Ibu tidak membahas tentang keperdulian sosial kamu yang tinggi kepada semua orang yang terdampak bencana atau pun bantuan kamu secara ekonomi kepada orang-orang miskin, Ibu dan ayah mengkritik sikap kamu kepada orang-orang di sekitar kamu. Lembutkan hati kamu kepada orang-orang yang kamu cintai nak, harus merubah sikap, kalau tak ingin hidup di dalam kesepian yang panjang. Harta bisa dicari dengan mudah olehmu, namun orang yang mencintai dengan tulus tak mudah kamu gantikan dengan apa pun. Meskipun seratus mobil mewah di garasi rumah kamu tak akan membuat merasa bahagia dibandingkan satu orang yang kamu cintai berada  di sisi dan merasa berarti di sampingmu."


Bagas diam bergeming, tak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Maafkan kami nak, kami menasehati kamu karena kami perduli kepada kamu, seandainya kami tak menyayangi kamu, kami hanya akan diam dan tak akan mengatakan kamu salah dan egois memperlakukan semua orang di sekitar kamu. Kami hanya akan mencari aman," urai ayah. Aku terpaku bisu menatap mereka dari pojok ruangan sembari mengasuh Bara dan Dafa. Aku tak berani membayangkan sikap seperti apa yang akan diambil Bagas pada kelancangan mertuanya. 


Seluruh sel di tubuh ini terasa membeku, jujur saja aku sangat khawatir pada keluargaku. Akankah Bagas bisa menerima nasehat dari orang yang tak berharta seperti keluargaku yang sangat sederhana. Mereka memang sekarang ini hidup lebih mapan dengan usaha toko sayur dan buah-buahan yang berkembang pesat, mereka tinggal di rumah yang lumayan bagus di lingkungan komplek mewah yang diberikan Bagas usai menikahi aku dulu. Tapi kehidupan keluargaku tetap bersahaja dan sederhana. Hanya beberapa saat kedua adikku gagap akan kemewahan, selang beberapa bulan setelahnya ayah dan ibuku berhasil membuat mereka kembali membumi.


Diluar dugaan, Bagas menangkup wajahnya dan bahunya terguncang  lembut. Aku tahu dia sedang menahan kesedihan, bukan kemarahan.


"Iya ayah dan Ibu, saya tak merasa marah atas nasehat kalian, justru sebaliknya, saya merasa kalian demikian tulus kepada saya. Tolong bantu saya mendidik dan mengawasi dua permata hati kami ini, dan hari ini saya akan berupaya keras mencari keberadaan Zara, jujur Bu, Pak, saya sangat merindukan dia. Saya menyesali sejak detik pertama saya mengusir dia ke pulau itu." ucap Bagas lirih. Seandainya saja saat ini aku tak sedang berusaha membantu suamiku mencari penghianat di sekitarnya, aku tak akan menunda sedetik pun memeluknya dalam rengkuhku. 


Karena merasa yakin kedua buah hatiku aman di dalam pengawasan keluargaku, aku mengambil keputusan untuk segera pergi dari rumah ini dan melepaskan penyamaran sebagai pengasuh. Aku akan menjalankan rencana memasuki keluarga Subrata, ayahnya Bagas Rainhard dengan penyamaran berbeda.


*************////////*******


Pagi sekali ku mengatakan resign kepada Mrs. Bianca, dengan mengatakan aku harus segera pulang kampung untuk merawat orang tua yang sakit keras. Tentu saja Mrs. Bianca mengizinkan aku resign, karena alasanku cukup menyentuh hatinya.


Hari ini dengan hati-hati dan tak terlihat siapa pun aku mengganti penyamaranku di dalam toilet sebuah Mall yang ramai. Kemudian dengan santai melewati banyak mata-mata suamiku, mereka terkecoh dan meninggalkan area Mall karena berpikir aku bukan orang yang pantas dicurigai. Sungguh sangat mengecewakan kinerja mereka yang terlihat asal-asalan. Semestinya kalau mereka mencurigai aku, mereka terus menguntitku hingga ke toilet, kalau perlu meminta pihak Mall untuk mengecek CCTV yang ada di sana.

__ADS_1


Aku kembali ke rumah Niken. Di sana aku teramat terkejut, karena aku mendapati Reno sedang berbicara dengan security di pos penjagaan, untung saja aku tidak sedang dalam penyamaran sebagai pengasuh anak-anakku. Namun berdandan layaknya seorang lelaki. Niken menyambutku dengan penuh suka cita. Kami segera masuk ke dalam rumah, namun dia berbisik ke telingaku untuk segera masuk ke kamar yang pernah kutempati beberapa minggu lalu. Ternyata ada Bagas  suamiku sedang menemui Richard, suaminya Niken. Gegas aku masuk ke dalam kamarku sebelum Bagas melihat keberadaanku. Karena saat ini aku tak sedang dalam penyamaran maksimal aku yakin akan mudah dikenali.


Ternyata kedatangan Bagas ke rumah konglomerat ini ingin mengkonfirmasi keberadaanku, yang menurut penyelidikan anak buahnya aku berada di sini. Namun Niken tak habis akal, dia mencari seseorang yang perawakannya mirip denganku dan mengatakan dia lah yang dilihat oleh anak buah Bagas.


Beberapa hari berlalu, aku telah melamar pekerjaan sebagai asisten pribadi Pak Subrata, karena baru saja asistennya berhenti, informasi itu aku dapat dari anak buah Niken dan Richard.


Aku percaya diri memasuki rumah megah itu. Hari pertama aku diperkenalkan dengan semua penghuni rumah, sekarang hanya sisa satu adik sambung Bagas, karena yang satunya telah menikah dan ikut suaminya. Hanya ada tiga pelayan di dapur dan satu pelayan khusus untuk Bu Subrata. Giandra sesekali menginap di rumah itu. Penyamaranku sebagai lelaki begitu sempurna, tak ada satu pun yang mengenali aku.


Hari ke tiga, aku mulai mencium suasana tak sehat di rumah itu,  mereka sangat sering membicarakan hal rahasia, di dalam ruangan yang tak bisa ku akses dengan mudah, terutama Bu Subrata, dia tampaknya sering berkomunikasi dengan Grizella. Suatu sore Grizella datang ke rumah itu menemui Bu Subrata, dia bersama seorang wanita paruh baya yang masiih terlihat cantik namun berwajah sangat dingin.


Wanita paruh baya itu tak terlihat menyukai keluarga Subrata. Tampaknya keberadaan dia sangat penting di dalam pucelle masa lalu Bagas, dia dengan jelas sangat tak suka dengan foto Bagas yang tergantung di ruang keluarga. Sebelum Pak Subrata datang dia bahkan bergegas mengajak Griz segera pergi.


"Kalau bukan demi tujuan yang sama, nazi* aku menginjak rumah ini dan bekerja sama dengan wanita memuakkan itu," desisnya dengan netra yang tajam dan berkilat. 


Grizella membujuk wanita itu untuk menahan diri dan perasaannya sampai Zara Septia ditemukan telah mejadi mayat. Percakapan mereka saat menuju mobil mereka yang terparkir di halaman itu tertangkap oleh indra pendengaranku dengan jelas. Aku sempat memasang penyadap di bagian kursi penumpang mobil mereka. Sebelumnya aku telah mematikan system kamera di mobil mereka.   


Semua yang aku lakukan telah melalui pelatihan dari Niken dan asistennya. Bahkan aku memiliki gelang alarm untuk menghubungi pengawal kepercayaan Rich dan Niken saat kondisi darurat.


Bersambung


Apa yang akan ditemukan Zara Septia di lingkungan keluarga suaminya dan Grizella?


baca keseruan petualangan Zara Septia dalam usaha mencari tahu kenyataan sebenarnya di balik fitnaah yang dilemparkan keluarga ini kepadanya dan Arkana juga Ibu kandung Bagas.

__ADS_1


__ADS_2