
"Masuk perangkap seperti tikus yang digiring ke lubang. Saya pikir suami kamu itu hebat dan sangat waspada, ternyata hanya lelaki pecundang dan bucin akut, dia tak pantas memiliki bisnis sehebat itu dengan mental bucinnya,"
Tanganku gemetar meskipun berusaha untuk tenang. Dia Jaidan, bos besar Mafia Zankoku yang dulu hampir melecehkan aku. Kenangan disekap di dalam gudang saat berada di Jepang membuatku justru tak merasa takut. Sungguh aneh, seharusnya yang muncul adalah trauma mendalam, tapi yang aku rasakan justru sebaliknya.
Arkana menodongkan pistol pada bos mafia yang terkenal sangat kejam dan bengis itu. Lima pengawal terbaik dari Black Shadow ikut mengepung dan menodongkan pistol pada anak buah Zaidan yang lain.
"Suamiku tidak sebodoh yang kamu pikir Zaidan, kamulah yang bodoh dan naif. Ini bukan negaramu, disini Indonesia, kamu sungguh melecehkan keamanan negara ini, kamu pikir bisa melenggang pergi dengan helikopter di atap hotel ini? kamu mau meluncur ke daerah tersembunyi dan pindah ke pesawat pribadimu kan? kamu pikir kami tidak tahu siapa pemegang saham utama hotel ini? jangan mencoba melecehkan negara kami Zaidan, kamu bisa licin dengan seribu wajah yang kamu punya di negara lain, tapi tidak di negara ini,"
Raut wajah Zaidan nampak sangat terkejut. Lelaki keturunan campuran timur tengah, Jepang dan Amerika itu terlihat menghubungi intelejennya. Sumpah serapah berkumandang di ruangan itu."
"Kamu lolos hari ini Zara Septia, Lolos dari menjadi istriku, tapi sayang kamu tak akan lolos dari kematian," ejeknya. Arkana memasang badan di depanku, semua pengawal posisi siaga mengelilingiku. Kami sadar seluruh pengawal yang aku bawa tak akan mampu untuk menangkap apalagi menembak mati pimpinan Zankoku yang sangat lihay itu. Yang bisa dilakukan hanya bertahan dan melindungiku. Zaidan memencet tombol di mejanya dan kursi yang diduduki oleh lelaki dengan banyak tato di lengannya itu tersenyum mengejek, kursi itu perlahan meluncur masuk ke dasar lantai.
"Tinggalkan ruangan ini, biarkan mereka berkeping dan tak lagi berbentuk." perintah Zaidan. Seluruh anak buahnya melarikan diri, namun 2 orang berhasil ditangkap dan dilumpuhkan. Arkana memaksa keduanya mengatakan apa maksud Zaidan dengan hancur berkeping. Karena ketakutan akan bernasib sama dengan kami akhirnya mereka mengaku kalau di empat sudut kamar itu ada bom waktu yang mampu meremukkan tiga lantai sekaligus.
Setelah mengikat dan memborgol kedua anggota Zankoku pada tiang, Arkana dan kelima anggota Black Shadow mencari bom itu. Perlahan ke enam lelaki handal itu mulai menjinakkan bom waktu, tepat 5 menit sebelum meledak bunyi bom itu berhenti.
"Hotel ini akan meledak, lepaskan saya, empat bom lain ada di basement dan ruang dapur hotel. Mr. Zaidan memeng merencanakan membunuh istri dari Bagas Asia Technologi." kedua anak buah Zankoku menggigil ketakutan.
Ketenangan hadir di kepalaku, aku menghubungi pihak security dan memberi tahu informasi itu, polisi segera meluncur mencoba menemukan bom tersebut. Namun tidak ditemukan.
"Ucapkan selamat tinggalpada suami bucinmu Zara Septia, disetiap sudut ruangan itu terdapat kamera yang langsung dilihat oleh suami kamu,"
Aku hanya tersenyum masam.
"Pikirkan keselamatan dirimu sendiri Zaidan, kamu pikir Bagas Rainhard itu bodoh dan naif, perhatikan saja helikopter yang saat ini kamu naiki, jangan-jangan kamu belum berkenalan dengan pilotnya."
Suara Zaidan seketika hilang, sementara Arkana dan lima anggota Black Shadow mengawalku turun melalui tangga darurat, dan disisi lain hotel, dibuka jendela, team penyelamat mengulurkan tangan untuk mengambilku dari lantai 25 gedung hotel megah yang ternyata milik jaringan Zankoku. Sementara seluruh tamu hotel berhasil di evakuasi. Baru saja kami berhasil lolos tanpa terlihat oleh tangkapan kamera beberapa orang yang meliput kekacauan itu, suara ledakan membahana memecah keheningan. Hotel ambruk dibeberapa lantai.
Beruntung tak satu pun yang cedera, semua berhasil diselamatkan, termasuk anak buah Zankoku. Suara sirine pemadam kebakaran dan sirine mobil polisi membahana. Tampak di kejauhan sosok Bagas berlari dari kerumunan. Kami belum sempat mengabari kalau aku selamat. Bagas berusaha meringsek masuk namun dicegah oleh polisi karena situasi di dalam hotel tidak aman.
__ADS_1
"Istriku di dalam, lepaskan aku!" bentak Bagas dengan suara menggelegar. Arkana yang berusaha menghubungi ponselnya tidak sempat dilihatnya karena jangankan ponsel, sepertinya sumiku malah mennggunakan sandal jepit di kakinya. Aku berlari memanggil suami bucinku.
"Sayang, aku disini,"
Bagas berlari ke arahku dan memelukku erat. Puluhan kamera menangkap adegan romatis layaknya film India.
"Zara, maafkan suami kamu ini yang tega menjadikan kamu umpan, maaf sayang," bisiknya gemetar.
"Kita sudah merundingkan ini matang dan terencana sayang, kalau tidak begini belum tentu Zaidan bisa ditemukan,"
"Aku tak akan mampu hidup tanpa kamu Zara,"
"Kamu mencintaiku sayang?" bisikku pelan.
"Tak perlu kamu tanyakan lagi Zara, aku sangat mencintai kamu melebihi aku mencintai nyawaku sendiri,"
Akhirnya lelaki dingin dan pemarah ini mengakui juga kalau dia sangat mencintaiku. Cinta memang tidak mesti diucapkan, cukup ditunjukkan, tapi terkadang wanita butuh mendapatkan kepastian rasa.
Zaidan dan beberapa petinggi Zankoku ditangkap di seluruh tempat persembunyian mereka yang strategis. Mafia Zankoku berhasil di sidangkan karena bukti yang dikumpulkan intelejen dari CIA membuktikan semua bisnis hitam dan kejahatan pencucian uang juga human traficking dan lebih menakutkan lagi kejahatan kemanusiaan. Zankoku menembak mati pengikutnya yang bersalah atau dianggap bersalah dan dikuburkan di tempat khusus di markas mereka.
************///////**********
Pagi cerah di hari minggu, Bagas sedang pergi keluar negeri, seluruh urusan perusahaan aku yang menangani. Ibu kandung dan ayahku sudah kembali ke rumah mereka begitu pun adik-adikku. Meskipun Zaidan dan Zankokunya telah tumpas dan sedang menghadapi ancaman hukuman seumur hidup Bagas tetap berada di dalam kewaspadaan. Dia tetap mengawal seluruh anggota keluarga inti dengan pengawalan ketat. Team Black Shadow bahkan menjadi team keamanan utama yang dimintakan izin untuk memiliki perusahaan bodyguard di bawah kekuasaan Bagas. Kini Bagas juga memiliki perusahaan tenaga bodyguard. Arkana menjadi CEO nya.
"Ra, aku bisa bicara sebentar?" tanya Arkana. Aku mengangguk.
"Silahkan Ar, ada apa?" tanyaku singkat. Fokusku masih kepada Bara yang mulai sangat lucu saat belajar berjalan dengan baby sitternya.
"Aku menyimpan rahasia yang tidak diketahui Tuan Bagas, rahasia itu juga yang membuat aku menghindari masuk ke dalam rumah kamu saat ada ibunya Tuan Bagas."
__ADS_1
Otak detektifku langsung jalan dengan encernya. Begitu mengalir bagaikan air terjun.
"Maksud kamu apa takut bertemu dengan Ibunya Bagas? jangan-jangan kamu adalah adik kandung Bagas seayah seibu yang dicari oleh Bagas selama ini,"
Arkana menatap sendu kepadaku, kemudian menunduk.
"Aku sangat menyukai kakakku dari cerita yang sering kudengar dari ibu, saat memiliki keyakinan aku membentuk diriku menjadi ahli bela diri dengan maksud untuk membuat kakakku aman dan bahagia di dalam perlindunganku." penuturan Arkana sanggup membuatku sangat terkejut. Keduanya sangat bertolak belakang dari sifat bahkan wajah mereka. Tapi aku percaya pada pengakuan Arkana.
"Temui ibumu Ar, beliau gelisah mencari keberadaan kamu."
Arkana menggeleng.
"Nggak Ra, sebelum Tuan Bagas tahu, aku tidak akan menemui Ibu terlebih dahulu." tegas Arkana, dia beranjak pergi setelah membuatku sangat terkejut.
"Aku atau kamu yang bercerita kepada Bagas?" tanyaku khawatir.
"Aku Ra, aku yang akan membuka kenyataan ini di hadapan Bagas.
Aku mengangguk.
"Papa ..." Deva menghambur ke arah pintu gerbang, rupanya bocahku melihat CCTV kalau Papanya datang.
"Saat yang tepat Ar,"
Arkana menggeleng.
"Beri aku waktu sedikit lagi Ra," pinta Arkana.
Aku hanya bisa mengangguk pasrah, pilihan ada di tangannya.
__ADS_1
Bersambung