
Sesampai di rumah lama, Bagas tertegun sejenak.
"Berdebu, kotor, kumuh, sepertinya aku urung aja ya Ra, dari luar saja udah ngga kuat aku. Apalagi harus tidur di dalamnya. Kenapa orang tua kamu ngga tinggal di rumah yang aku belikan?" Bagas mencengkram tanganku erat.
"Mereka di rumah ini kalau lagi hari pasar, rame toko mereka, buka sampai subuh. Kejauhan pulang kesana. Adik-adik juga sekolahnya jauh."
"Ra, ada ... ada cicak ngga di dalam."
Aku terperangah mendengar pertanyaannya.
"Ya pasti ada lah, masa ngga ada cicak?"
Bagas bergidik. Tangannya mengepal.
"Ngga mau Ra, pulang yu."
Aku menggeleng pelan.
"Aku kangen keluargaku Gas."
Bagas tidak menggubris kata-kataku.
"Ra, pulang yu, ngga jadi aja ya! lain kali saja pas mereka pulang ke rumah yang satunya."
Bagas naik ke atas motor, tapi tiba-tiba suara Ibu membuat dia urung menghidupkan motor.
"Bagas, Zara ayo masuk nak, ayah dan ibu sudah masak banyak buat kalian."
Bagas turun dari motor dan kembali memasang standar motornya kemudian mendekati kedua orang tuaku, mengambil punggung tangan mereka dan memciumnya dengan sopan. Aku sangat terharu. Bagas jauh lebih sopan dari pada Genta.
Kedua orang tuaku mengajak Bagas masuk. Bagas menoleh ke belakang, ke arahku. Aku tersenyum dan hampir tertawa karena melihat dia terpaksa masuk karena digiring kedua orang tuaku.
Aku masuk ke dalam kamar dan meletakkan bawaan kami di atas tempat tidur. Aryo dan Ratih menyusulku ke kamar.
"Kak, kok tiba-tiba meminta kami pulang ke sini sih. Aku udah betah di sana." bisik Ratih. Aku membekap mulutnya, Aryo tertawa. Sepertinya adik lelaki ku lebih cepat tanggap situasi.
"Kakak cuma pengen ngerjain suami kakak, mau ngga dia di ajak melihat kehidupan orang biasa." bisikku.
Ratih tersenyum.
"Kakak jahil ah, kasian banget Mas Bagasnya Kak. Tapi ngga apa-apa sih kak, biar bisa lebih empati kepada orang susah ya Kak."
"Stt ... jangan keras-keras! kedengaran, kalian bersikap seperti biasa ya. Udah satu minggu kan tinggal disini lagi." tanyaku masih dengan berbisik. Kedua adikku mengangguk. Aku meminta mereka kembali ke kamar masing-masing.
Tidak berapa lama suamiku masuk ke dalam kamar. Dia kembali takjub melihat kamarku.
"Ra, kita tidur dimana malam ini, aku diatas, kamu juga ya, temenin."
"Kamu tidur di bawah Gas, nanti kamu pengen lagi seperti kemarin di mobil, kan repot di sini, kedengaran suara ranjangnya." sahutku santai.
"What! kamu pikir aku apaan tidur di lantai! mending kalau ngga ada kecoak! kamu istri yang bo ...."
__ADS_1
Reflek aku membekap mulutnya.
"Jangan keras-keras dong ngomongnya, ngga ada kedap suara, disini jangankan berteriak, berbisik saja kedengaran."
Bagas duduk di sampingku sambil melepaskan pakaiannya.
"Kaos sama celana pendek dong sayang, ambilin di tas." aku tertegun melihat dia melepaskan seluruh pakaiannya hingga hanya tersisa celana dalam. Segera aku mencari pakaiannya. Dia melirikku sekilas.
"Aku gerah Ra, kipas aginnya ganti sama AC ya, biar kuminta Arkana untuk ..."
Bagas bergegas mengambil ponselnya untuk menghubungi Arkana, tapi ku rebut.
"Listriknya ngga kuat Gas, jeglek nanti!"
"Terus gimana dong Ra, gerah banget."
"Makanya tidur di lantai sayangku, biar nyaman dan dingin." sahutku sambil menyembunyikan senyumku.
"Ngga ah! kipasan aja sayang, sini dong, aku ngga bisa menyesuaikan diri kalau ngga kamu temani." pintanya.
"Katanya gerah, kalau berdua tambah gerah."
ck ck ck ck suara cicak membuat Bagas melonjak kaget, dia langsung memelukku dan memaksaku tidur di sampingnya. Aku tertawa geli.
"Sayang, badan kamu itu tinggi tegap, si cicak cuma seujung telunjuk kamu, kok takut sih." bisikku sambil menggodanya.
"Aku takut sayang." bisiknya sambil menyembunyikan wajahnya di leherku. Jantungku langsung deg deg deg ngga karuan rasanya.
"Sayang, aku usir dulu cicaknya ya." bisikku. Bagas mengangguk. Dia melepaskan aku perlahan.
Aku berdiri dan mengambil sapu, ketika kuusir dengan sapu cicaknya kabur, tapi yang satu ekor lagi jatuh di lantai, Bagas berlari keluar kamar. Aku sampai tidak bisa berhenti tertawa melihatnya.
Aku menghampiri Bagas yang duduk di kursi sambil mengangkat kedua kakinya.
"Sayang, rumah kamu horor banget, kalau muncul rampok tinggal ku gebukin. Ini cicak, sumpah sayang, aku ngga bisa tidur." Bagas menarikku dan membenamkan wajahnya di dadaku sambil tangannya melingkari pinggang. Ku peluk kepala lelaki gagah di hadapanku. Perasaan sayang mulai menyeruak di hati ini. Tubuhnya berkeringat dingin. Aku pikir dia bohong takut sama cicak. Ternyata sungguh-sungguh takut.
"Udah ngga ada sayang, yuk kita tidur di kamar." bisikku. Bagas mengurai pelukannya. Sekarang rasaya ngga tega untuk ketawa. Wajahnya menyiratkan ketakutan yang tidak dibuat-buat.
Saat sudah tenang berbaring bersisian, Bagas menatap ke arah dinding kamarku.
"Itu Foto bayi siapa sayang?" Bagas menunjuk foto Panji. Aku terdiam. Bagas berbaring miring menghadapku.
"Bayiku, namaya Panji."
"Dimana dia sayang?" tanya Bagas antusias.
Aku terdiam lagi mencoba merangkai kata untuk menjelaskan kepadanya.
"Dia diculik Gas, aku ngga tau dia. dimana." isakku. Rasanya tak kuasa lagi menyembunyikan perasaan rinduku pada putraku.
"Kok bisa? Ra, cerita yang jelas, siapa tahu aku bisa membantu kamu menemukannya." Bagas membelai rambutku lembut. Tatapan teduh itu kembali lagi. Aku merasa tersihir dengan perhatiannya.
__ADS_1
Dengan terbata aku mulai menceritakan kisah hidupku, mengalir tanpa tertinggal sedikit pun. Bagas terdiam sesaat. Dia menghapus air mataku dan meraihku ke dalam pelukan dada bidangnya.
"Besok pagi, aku akan segera mencari panji dengan diam-diam ya sayang, menggunakan detective terbaik. Kamu harus lupakan rasa sakit itu. Cacat Fisik itu bukan dikarenakan kesalahan kamu." pelukan Bagas begitu hangat dan menenangkan.
Aku mengangkat kepalaku, memandangi wajah lelaki pemarah yang sedang memelukku.
Dia memajukan wajahnya, bibirku terbuka mataku terpejam, Bagas menciumku mesra. Aku terhanyut oleh perasaan nyaman yang berubah menjadi gairah. Tangan Bagas mulai menarik tali piyama tidurku, tabganku melepaskan kaosnya. Kami semakin panas. Tapi tiba-tiba ....
Ck ck ck ck ck ck ck ck
Bagas menghentikan aktifitasnya. Kali ini bukan karena satpol PP, tapi karena sepasang cicak yang sedang berkejaran di dinding kamar. Bagas memelukku erat.
"Aku takut sayang." ucapnya gemetar. Aku tertawa geli.
"Kali ini cicak kepar** itu yang menggagalkan kita membuatkan Panji adik." bisiknya. Aku kembali tertawa dan membiarkan dia terlelap dengan menyembunyikan wajahnya di leherku.
Kami tertidur hanya saling berpelukan.
Ketika pagi, aku sudah menyiapkan sarapan pagi bersama ibu. Bagas bangun dan menenteng handuk hendak mandi. Aku tahu dia begitu enggan masuk ke dalam kamar mandi itu, kecil untuk ukuran badannya yang tinggi. Dia celingukan melihat ke sekelilingnya. Aku meninggalkan dari menata hidangan di meja makan untuk menghampirinya.
"Kenapa sayang?" tanyaku heran.
"Sayang, di sini ada kecoa atau cacing ngga sih, aku takut sayang."
Aku menggeleng.
"Kadang-kadang ada sih kalau pas surut dari banjir, kalau sekarang sepertinya ngga ada, insyaallah."
Bagas ragu untuk masuk.
"Mandi di kantor saja ya sayang." bisiknya.
"Hemz katanya ingin tahu rasanya jadi orang miskin kayak aku, kok ngga mau mandi di sini, itu bersih banget, cling, wangi juga.
Bagas melagkah masuk pas hendak menutup pintu, aku menggodanya.
"Kalau nanti tiba-tiba mucul di dekat kakimu buruan disiram aja sayang, biar kabur cacingnya."
Bagas kembali membuka pintu.
""Jangan gitu dong sayang, ya udah kamu ikutan mandi ya." dia keluar dari kamar mandi dan mengejarku aku berlari meninggalkannya. Bagas memelukku dari belakang.
"Ayo mandi bareng." dia mengangkatku aku meronta sambil tertawa.
"Aku sudah mandi sayang, masa mandi lagi."
Ibu yang melihat kami berdehem. Bagas melepaskan aku.
"Di sini ngga seperti di rumah kamu sayang, disini serba kecil, kamu ngga malu sama Ayah, Ibu dan kedua adikku kalau mandi berdua?" bisikku menggodanya. Bagas berlalu meninggalkanku sambil merengut manja dan menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Bersambung
__ADS_1
bantu promo guys biar semangat Author 👌👌💪💪😍❤