ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 44 Sedikit Terungkap


__ADS_3

Baru saja hendak naik ke tangga pesawat, seorang pengawal lingkar terdepan membisiki Bagas. Lelaki gagahku itu terihat tersenyum sambil mengangguk. Penasaran aku segera menanyakan saat sudah duduk bersisian di dalam pesawat.


"Ada apa sayang?"


"Pimpinan Zankoku untuk wilayah Indonesia tertangkap oleh team BS dan saat ini mereka menunggu perintahku untuk selanjutmya."


Bagas demikian santai dan tenangnya menghadapi situasi besar itu. Dia bahkan tak bereaksi berlebihan.


"Kenapa ngga kita gagalkan saja keberangkatan kita dan segera menuju lokasi ...."


Bagas menarikku mendekat.


"Tak ada satu hal besar pun di dunia ini yang bisa mengalihkan duniaku saat sedang ingin bersamamu Zara."


Bagas menyusupkan wajahnya di leher jenjangku, menghirup aroma rambutku yang tergerai indah.


"Tak akan ada satu kejadian sebesar apa pun yang bisa merubah rencanaku terbang ke Nihi bersama kamu sayang, meskipun hanya sebentar." bisiknya. Hati ini terasa begitu hangat dan tersentuh oleh pernyataannya. Begitu berartinya diriku, begitu manisnya perasaan suamiku. Begitu besarnya cinta yang dimilikinya untukku meskipun dia tak pernah mau mengakuinya.


Rencana hanya satu hari,ternyata tak cukup, Bagas memundurkan jadwalnya, karena untuk mencapai lokasi sungguh .memerlukan sedikit usaha dan waktu, namun kesulitan mencapainya terbayarkan dengan keindahan pantai itu.


Menikmati sunset terindah sambil menyandarkan kepalaku di dada bidang suami tercinta. Atau berjalan, berlarian dan berkejaran dibawah sinar matahari pagi yang hangat. Menumbuhkan keceriaan tersendiri. Seharian kami seperti anak kecil yang melakukan segala nya tanpa beban.


Bagas memelukku erat sambil berbisik lirih saat duduk di atas karang di tepi pantai.

__ADS_1


"Ra, aku sesungguhnya adalah lelaki yang terluka sangat dalam oleh kejadian masa kecilku."


Bagas meletakkan dagunya di bahuku. Semilir angin sore membuat suasana menanti sunset begitu romantis. Ku hadapkan wajahku padanya. Tapi Bagas memintaku untuk tetap membelakanginya. Dia merapatkan pipinya di pipiku.


"Aku tak pernah membayangkan suatu ketika mampu membina rumah tangga bahagia bersama seorang wanita. Aku berpikir wanita adalah mahluk paling menakutkan dan sangat kejam Ra, karena saat aku diculik, seorang wanita yang telah memberikan aku penyiksaan mental hingga aku tak ingin hidup lagi di muka bumi ini," bisik Bagas dengan suara bergetar hebat. Air matanya membasahi bahuku. Aku ingin berbalik memeluknya tapi Bagas memelukku erat dari belakang dan memintaku tetap dalam posisi itu. Dia tak ingin aku melihatnya saat menceritakan kepedihan tak terkira itu. Kepedihan yang bahkan tak bisa dibaginya dengan Psikiaternya.


"Wanita itu mengancam Ayah melalui sambungan telepon, entah apa yang dibicarakan mereka saat itu aku tak ingat lagi, aku ditelanjangi, di ikat, di lecehkan, baik verbal maupun fisikku, bahkan di bawah tatapan senang dan bahagia wanita iblis itu, seorang lelaki melakukan ...."


Bagas semakin tercekat, pelukannya semakin erat pada tubuhku. Seakan kekasihku melihat dan merasakan kembali pengalaman menyedihkan dan sangat menakutkan itu. Tiba-tiba suaranya menghilang dan pelukannya melonggar.Aku berbalik, ternyata Bagas pingsan. Aku panik namun tidak serta merta membuat geger, aku hanya meminta pengawal untuk membawa Bagas kembali ke kamar Resort. Tidak ada pengunjung pantai lain karena seperti biasa, Bagas meminta pantai itu steril saat dia ada di sana. Kami meninggalkan pantai dan kembali ke kamar resort yang mewah. Bagas masih terkulai lemah tak berdaya. Aku mengambil jarum suntik dari dalam kotak khusus miliknya, biasanya Arkana yang melakukan ini, tapi kini aku yang melakukannya. Ku selimuti Bagas dan ku peluk erat tubuh berototnya. Lelaki dengan rahang kuat, wajah tampan dan fisik sangat menawan ini memiliki luka tidak kecil di hidupnya.Tanganku megusap lembut kepalanya, ku peluk kepalanya di dadaku. Perlahan nafasnya mulai teratur.


Hampir satu jam, kemudian Bagas menggeliat di pelukanku. Dia terbangun.


"Sayang, kita dimana?" bisiknya lirih. Dia meraihku ke dalam rengkuhan hangatnya. Lengan kokoh itu begitu kuat menguasaiku. Rasanya begitu aman dan nyaman berada di dalam pelukannya.


"Kita di kamar resort sayang, kamu pingsan dan tiba-tiba mengalami demam tinggi," sahutku.


Aku menatap lembut pada netra penuh luka itu.


"Sayang, ceritakan lagi saat kamu siap, kekasih halal mu ini akan selalu menjadi pendengar yang baik untukmu." bisikku mesra sambil membelai dada dan perutnya penuh asa.


"Ra, apa saat bercinta denganmu, aku cukup memuaskan sebagai lelaki? apa kamu jujur saat memujiku lelaki jantanmu Ra?" bisiknya parau


"Apa perlu kamu ragukan sayang, kamu tahu apa yang aku rasakan. Tidak hanya satu kali aku mencapai klimak setiap kali berhubungan denganmu, berkali-kali setiap kamu .... ah sayang, aku malu mengatakanya, tapi kamu lelaki hebat dan sangat ...."

__ADS_1


"Aku bahagia mendengarnya Ra, aku berpikir tak akan pernah mampu membahagiakan wanitaku, istri ku, aku berpikir,"


"Buang pikiran negatifmu sayang, kamu lebih dari tahu betapa hebatnya dirimu kekasih halalku," ucapku lirih.


"Bayangan penyiksaan itu mulai tak lagi membuatku takut Ra, terlebih saat bersamamu, kamu menyembuhkan aku secara perlahan sayang," Bagas mulai menciumi ku dengan intens.


Sungguh aku tak menyadari, bahwa suamiku sakit, dan tanpa kusadari pula perlahan aku menyembuhkannya. Ketulusanku memuji dia saat dia meniduriku, ternyata menjadi pengobat hinaan itu.


("Kamu akan rusak putra lelaki jahan**, akan aku buat kamu tak bisa menjadi lelaki sejati seumur hidupmu, agar kamu tidak mampu memberikan keturunan pada wanita mana pun, seperti lelaki jaha*** yang menjadi ayahmu itu," ) "teriakan perempuan itu dulu sangat menggangguku Ra, aku meragukan diriku waktu demi waktu. Tapi sejak menikahimu aku sadar, aku sangat menginginkan kamu. Aku tidak pernah memginginkan wanita melebihi menginginkan kamu,"


Malam itu Bagas lebih luar biasa dari biasanya. Dia lelaki sejati. Tak ada satu kata pun yang mampu kulukiskan untuk menggambarkannya.


"Jangan pernah ragukan dirimu sayang, kamu luar biasa," bisikku penuh lelah dalam peluknya.


"Ra, apakah kamu cukup bahagia menjadi istriku?" Bagas mengusap pipiku mesra.


"Sangat bahagia sayang, aku sangat bahagia,"


"Ra, setelah Zankoku bisa kukendalikan, aku akan memburu wanita yang menyiksaku ketika aku kecil, bantu aku menghadapinya sayang, saat bertemu kembali dengan dia aku butuh kamu di sisiku."


Bagas menatapku penuh harap. Aku mengangguk cepat.


"Tak usah kamu minta aku pasti menemani kamu sayang,"

__ADS_1


Bersambung


Siapa wanita itu? ikuti terus ya guys hingga ending❤❤❤


__ADS_2