ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 6 Akting Bagai Artis


__ADS_3

Visualisasi Zara Septia


...



...


Seperti kata Reynald, aku memang di rombak dari ujung kepala ke ujung kaki. Saat aku bercermin bayangan wanita susah dan pekerja di depan komputer itu sirna. Aku bagai model dari negeri ginseng. Bahkan aku takjub melihat pantulan bayangan di cermin, seakan tak mengenali tampilan diriku sendiri. Terlalu cantik untuk ukuran seorang wanita biasa.


Aku dibawa ke rumah Bagas, dia tinggal sendiri tanpa keluarga, hanya ada ART yang kata Reinald berjumlah lebih dari 10 orang. Entah apa saja yang dikerjakan ART sebanyak itu untuk seorang bujangan.


Rhenald mengingatkan Bagas tidak menyukai kotor, jorok, debu, apa lagi bau. Dia sangat bersih dan perpeck. Orang Tua bagas sesekali mengunjungi rumahnya, tapi sangat jarang karena Bagas tidak begitu dekat dengan orang tuanya.


Kekayaan yang didapat Bagas bukan dari orang tuanya, dia memiliki bisnis menggurita setelah berhasil mengembangkan usaha di bidang software komputer. Sekarang usaha Bagas kian menggurita, bahkan merambah ke bisnis konstruksi.


Reynald terus menceritakan perihal Bagas, kebiasaannya, hal yang disukai dan yang dibencinya.


Mobil memasuki halaman sangat luas dan sangat mewah. Aku tak bisa membayangkan akan tinggal di rumah semegah ini tanpa cinta. Akan terasa dingin dan hampa.



Matahari telah tenggelam, cahaya lampu begitu terang menyinari seisi rumah megah itu. Aku melangkah masuk dengan perasaan sangat takut. Aku dipersilahkan untuk masuk ke dalam rumah sendirian. Menurut Rhenald, Bagas menunggu di ruang keluarga.


Langkah kaki ku terhenti. Sosok gunung es itu tak mengenakan jas hitamnya. Dia memakai kaos tanpa kerah di padu dengan celana kain berwarna senada dengan kaosnya.


"Duduk Ra."


Wajah itu terlihat lebih ramah.


Aku duduk di depannya.


"Di sampingku." perintahnya singkat.


"Di sini saja, ngga nyaman terlalu dekat." bantahku.


Bagas berdiri dan mendekatiku. Perasaanku tidak karuan.


"Kita harus latihan akting, ayah dan ibuku sebentar lagi datang."


Aku terperangah.


"Kamu ngga bilang kalau akan diperkenalkan dengan keluargamu secepat ini." gerutuku.


Dia duduk di sampingku.


"Kamu harus terlihat familiar terhadapku, wajahmu jangan tegang. Ingat ... mesra dan sangat dekat."


Bagas mendekatiku lebih intim. Aku menahan nafas.


"Aktingmu harus maksimal, aku membayarmu dengan bayaran fantastis, setara pemain sinetron stripping yang sudah tenar, ingat! no heart, no baper!"

__ADS_1


Aku mengangguk mengerti. Betul kata lelaki ini No Baper!


Setelah kami berdua mempelajari karakter dan latar belakang masing-masing, dan merasa sudah siap untuk berpura-pura, dia menghubungi anak buahnya untuk mengambil persyaratan untuk pernikahan kami. Dia juga mengajakku untuk meeting bersama Wedding Organizer.


"Mulai hari ini kamu harus berpenampilan seperti ini, di tempat kerja atau di mana pun kamu berada, tinggalkan kekumuhanmu. Hari ini seluruh keluarga kamu sudah saya pindah ke rumah yang saya beli untuk keluargamu, rumah itu atas nama kamu sebagai bayaran menjadi istri saya. Mobil yang saya janjikan akan menjadi milik kamu juga telah saya siapkan di depan rumah ini. Bawa pulang, alamat rumahmu telah dikirim ke WA kamu."


"Satu lagi, kamu pindah jabatan menjadi wakil saya. Agar bisa selalu dekat di sisi saya, eits bukan dekat dalam artian apa-apa, hanya agar bisa mengelabui publik."


Aku lagi-lagi mengangguk. Seperti sedang mendalami pesugihan, aku hanya bisa menerima semua persyaratan dan mengangguk atas semua ketentuan. Tugasku hanya berakting sebaik dan sesempurna ku bisa.


Bagas juga memperkenalkan aku sebagai wanitanya kepada seluruh pelayan. Dia memperkenalkan aku dengan setiap sudut rumah mewahnya. Ada satu kamar di pojok bawah yang tidak boleh dimasuki oleh siapa pun termasuk aku. Mungkin saja di sana ada sesuatu yang mengerikan, aku bergidik sendiri dengan imajinasiku.


Kedua orang tua Bagas datang, mereka seperti type mertua orang kaya lainnya. Mereka cenderung acuh pada keputusan menikah anaknya namun mengintimidasi calon menantunya.


"Kamu calon istri Bagas? ehm semoga kamu tidak lari karena tidak sanggup memiliki suami seperti dia." ucap Ibu Subrata, istri Pak Subrata.


"Insyaallah tidak Bu, saya mencintai dia." ucapku fasih.


"Cinta? kamu yakin itu cinta? bukan harta?"


"Jangan mencoba mengintimidasi calon istri saya."Bagas terlihat sangat dingin. Dia merangkul bahuku mesra.


"Ayo sayang." bisiknya lembut. Senyum langka itu bertengger di bibirnya.


Kami makan malam mewah di meja besar yang dipenuhi makanan mahal dan berkelas.


Tak ada kehangatan yang terjalin diantara Bagas dan kedua orang tuanya. Mereka terlihat sangat kaku dan asing, Sungguh ironis.


"Mulai hari ini kemana pun kamu pergi akan ada pengawal yang mengikuti kamu di belakang mobil kamu. Jangan bertindak gegabah tentang apa pun."


Satu lagi, kebebasanku telah terampas. Aku mendadak kaya namun sebentar lagi akan hidup seperti burung di dalam sangkar emas. Tidak mengapalah, setara dengan bayaran yang kuterima.


********//////********


Aku mulai menata kehidupan sosialku secara perlahan. Kedua adikku takjub namun aku meminta agar mereka tetap membumi. Mereka sangat gagap kemewahan dan kehidupan baru mereka.


Satu bulan kemudian, aku menjelma menjadi wanita berbeda, tak tersisa sedikit pun sosok seorang Zara yang miskin dan mengais rejeki menjadi sopir ojol, atau Zara seorang programer komputer, aku sekarang wanitanya lelaki pemilik perusahaan besar ini, aku juga menjadi wakil utama seorang Bagas Rainhard Subrata. besok adalah hari pernikahanku dengannya.


Semua prosesi pernikahan berjalan lancar. Aku di walikan Ayahku yang sudah kembali sehat.


Resepsi yang kulalui begitu melelahkan. Ketika semua orang meminta kami berfoto sambil berciuman. Aku teramat sangat gugup. Dia menatapku sangat berbeda. Aktingku juga harus total. Ciuman bibir sepasang pengantin begitu indah, diambil dari berbagai sisi oleh potografer pernikahan.


Selesai resepsi kami terbang ke Maladewa melalui Singapura. Di sana kami juga dikuntit beberapa wartawan. Kami hanya punya waktu bernapas saat berduaan di dalam kamar kami yang super mewah.


"Kamu menjauh saat kita hanya berdua ya, jangan saling mengganggu." dia mengusirku yang sedang berjalan mendekatinya.


"Aku hanya ingin memberikan ini kepada kamu."


Aku meletakkan kopi susu kesukaannya di meja ruang tengah hotel.


"Lain kali tidak perlu repot, ada layanan hotel kelas dunia disini."

__ADS_1


Aku membawa lagi kopi susu itu dan menyeruput untuk diriku sendiri. Dia menatapku kesal.


Bagas begitu sibuk dengan laptop dan ponselnya.


"Pantau pekerjaan kamu dari sini Ra, jangan terlalu santai. Oh ya besok kita ke pantai Reethi, ingat! beberapa wartawan akan mengabadikan keromantisan bulan madu kita, Akan ada makan malam romantis di sana, aku juga akan mencium bibir kamu di sana. Ingat jangan baper."


Duh GR banget nih cowok gunung Es, siapa juga yang baper. Secara aku yakin tuduhan semua orang tentang orientasi se* dia itu pasti benar.


Di sepanjang pantai Reethi yang berpasir putih lembut dengan air yang berkilauan itu, kami bergandengan tangan, sesekali aku menyandarkan kepala di bahunya sambil memeluk lengan berototnya. Dia pun mampu mengimbangi aktingku dengan sempurna. Sesekali dia mengecup pipiku lembut.


Di latari pohon palem yang berjejer indah dia menarikku mendekat, sementara kamera yang sengaja merekam kemesraan kami terus on. Dia menarik wajahku dengan tatapan penuh cinta dan hangat. Perlahan di barengi kemunculan sunset yang luar biasa indah, dia mencium bibirku lembut, aku membalas ciuman itu, meskipun jujur, perasaanku bergejolak, tapi ku coba profesional, di bawah sinar Sunset kami membuat adegan ciuman itu sangat indah dan romantis. Ciuman itu di akhiri dengan saling berpelukan. Kami berlarian di tepi pantai dan makan malam sangat romantis di restoran mewah.


Namun ketika kembali ke kamar, kami kembali menjadi dua mahluk asing yang saling menjauhi.


Dia menyeleksi sendiri semua adegan romantis kami untuk di share di medsos dan televisi Swasta.


Saat membuka situs berita online, aku benar-benar ingin tertawa ngakak namun takut membuat dia tersinggung. Mereka semua sudah menurunkan berita hangat,


Dengan headline judul :


"Bulan madu Romantis Konglomerat Muda di Maldives."


"MENIKAHI ISTRI YANG CANTIK, BAGAS RAINHARD MENEPIS SEMUA TUDUHAN TERHADAPNYA SEBAGAI GA*"


"CANTIKNYA ISTRI KONGLOMERAT MUDA BAGAS RAINHARD."


Bagas tersenyum melihat ulasan tentang dirinya yang kini terbukti seorang lelaki normal.


Sepuluh hari di Maldives melakukan semua hal yang dilakukan pasangan bulan madu ketika di out door, dan tidur saling memunggungi saat berada di dalam kamar, bahkan terkadang tidur sangat berjauhan, aku di sofa pojokan kamar sementara dia tidur di atas ranjang besar itu. Yang membuat aku tak mengerti, lelaki itu selalu mengigau saat tidur di ranjang besar, namun terlihat tenang saat meringkuk di sofa atau terkadang di lantai.


Dia juga fobia terhadap kegelapan. Saat lampu dimatikan dia berteriak sangat marah kepadaku.


"Aku sudah bilang sama kamu aku tidak suka gelap!"


Dia panik dan aku langsung menghidupkan kembali lampu kamar. Terlihat wajahnya sangat pucat seperti mayat.


"Aku suka tidur dalam cahaya yang tidak terlalu terang Mas, sulit buat tidur saat cahaya ...."


"Kalau begitu pindah kamu ke depan sana!" bentaknya kasar, dia melemparkan selimut dan bantal ke wajahku. Kesal bercampur ngantuk aku hanya meringkuk di sofa dan terlelap di dalam selimut yang menutupi seluruh badan hingga wajahku.


Aku berusaha menghindari konfrontasi dengannya. Saat berada satu kamar dengannya aku merasa tidak lagi takut. Aku mengaggap dia seperti layaknya bukan laki-laki.


Kembali ke Indonesia, kami tetap tidur satu kamar layaknya suami istri.Di mata semua ART dan karyawannya kami pasangan yang sangat romantis. Hanya kami berdua yang tahu apa yang terjadi di balik kamar mewah kami yang dipasanginya alat kedap suara.


Saat berjalan menuju ke dalam kantor pusat semua mata tunduk patuh padaku. Seorang Zara Septia yang mampu berperan selayaknya menjadi istri konglomerat muda.


"Apa suami barumu tahu kalau kamu pernah memiliki anak cacat?" sebuah chat masuk ke Wa ku.


"Demi menikahi lelaki konglomerat seorang ibu rela membuang anaknya yang cacat, bagaimana kalau ku sebarkan berita seperti itu?"


Aku memblokir nomer yang kuyakini milik Genta.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2