
Mobil Grizella meluncur meninggalkan parkiran rumah keluarga Subrata.
"Kevin, antar saya ke rumah Bagas, sekarang." titah Bu Subrata.
Namun ketika aku hendak mengambil kunci mobil, gelegar suara Pak Subrata membuat langkahku tertahan.
"Seenaknya kamu memerintah asisten saya, jangan samakan dia dengan asisten saya yang lama yang bisa kamu perintah seenaknya sampai dia tak tahan dan memilih berhenti. Kevin, kamu hanya menerima perintah saya, di rumah ini kamu bukan babu siapa pun, kamu tangan kanan saya! siapa pun yang berani memerintah kamu, laporkan kepada saya!"
Bu Subrata melotot kesal namun tak berani berkata apa pun.
"Ikut saya ke kantor Kevin. Ingat, abaikan siapa pun di rumah ini yang berani-berani memerintah kamu, tugas kamu hanya membantu saya."
Aku mengangguk, dapat kulihat Bu Subrata dan anak gadisnya mendelik marah kepada Pak Subrata namun tak berani berkata apa-apa.
"Ingat Helena! jangan kamu sentuh anak-anak saya kalau kamu tak ingin seluruh aset yang sudah kuberikan kepada anak-anak kamu kutarik kembali, mereka bukan darah dagingku, darah dagingku hanya Bagas dan anak lelaki yang aku tak tahu sampai detik ini keberadaannya. Mereka berdua pemilik semua harta dan perusahaanku, kamu bisa saya ceraikan tanpa apa pun selain hanya gono-gini yang tak seberapa! jaga sikap dan tindak tanduk kamu, kalau sampai saya temukan bukti kamu dan keluarga kamu mengupayakan keburukan pada kehidupan kedua putra saya, sangat saya pastikan kamu dan keluargamu kutendang dari perusahaan dan rumah ini!"
Ancaman Pak Subrata ternyata tak main-main, dia bahkan memintaku segera mengatur ulang seluruh scedulenya agar bisa segera bertemu dengan Bagas Rainhard Subrata, putra sulungnya.
Di dalam mobil menuju ke kantornya, beliau tiba-tiba berkata lirih.
"Aku lelah menghadapi manusia-manusia serakah, selama ini aku dibutakan oleh semua trik jahat Helena. Saya baru tahu ternyata mantan istri saya sedang mengandung putra kedua ketika meninggalkan aku dahulu. Aku juga baru tahu semua itu satu bulan terakhir," keluh Pak Subrata. Beliau bersandar di kursi penumpang. Tak menyangka aku bisa menjadi asisten kepercayaan Pak Subrata.
"Kevin, nanti sore sepulang dari kantor, antarkan aku ke rumah Bagas Rainhard," pintanya.
"Siap Pak," sahutku sembari melirik beliau dari kaca spion di atasku. Terlihat wajah lelaki itu menyiratkan kelelahan yang hampir mirip gurat lelah di wajah suamiku.
Dari Pak Subrata aku tahu, bahwa istri keduanya ini telah melakukan banyak trik hingga istri sah beliau terpental dari pernikahan dan terusir dari rumah mereka.
"Istriku ibunya Bagas itu memang wanita pilihan orang tua, namun dia sangat mencintai aku Vin, sayangnya saat itu aku dibutakan oleh cinta dan menganggap tak berarti perasaan Ibunya Bagas. Aku terlalu percaya semua ucapan wanita yang merupakan cinta pertamaku, namun baru beberapa saat lalu kedok dia terbuka dari cerita asistenku yang lama, kalau dia bekerja sama dengan seseorang di belakangku. Perempuan gila harta. Tugas kamu Vin, selidiki rencana istriku dan seseorang yang aku tak kenal itu, makanya aku meminta seorang asisten yang memiliki kemampuan di bidang IT dan mampu melindungi saya juga karena bisa bela diri."
"Siap Pak, saya akan berusaha menyelidiki semua hal tentang keluarga Bu Subrata," sahutku takjim dan patuh.
"Entah kenapa ya Kevin, aku langsung merasa nyaman dengan keberadaan kamu sebagai asistenku. Kasihan asisten yang lama, terpaksa berhenti karena difitnah oleh putri sambungku di rumah di dituduh hendak memperkosa putri sambungku. kamu wajib waspada agar tak masuk ke dalam jebakan mereka. Saat ini saya tak bisa percaya siapa pun."
Cerita Pak Subrata membuatku bergidik. Ternyata kehidupan Bagas dan Pak Subrata 11-12. Mereka tak tenang meskipun harta melimpah.
Saat menunggu Pak Subrata beraktifitas, aku menunggu di ruangan Pak Subrata. Kemudian aku mulai merelay isi percakapan di dalam mobil Grizella dan wanita misterius di dalam mobil itu.
"Griz, Tante ngga bisa lama-lama membantu kamu, tujuan tante hanya satu, membuat hidup Bagas Rainhard hancur luluh, terserah kamu mau melakuakan apa selebihnya."
__ADS_1
"Tante, dendam apa sebenarnya yang membuat Tante sangat membenci Bagas?"
Terdengar helaan nafas berat.
"Ayahnya lelaki jaha***, dia menghancurkan hidup seorang wanita yang tak tahu apa-apa," sahutnya datar.
"Maksud tante apa?"
"Tante ngga bisa cerita sekarang Griz, tapi ayahnya adalah lelaki yang paling tak punya hati!"
"Tante mengenal lelaki itu? tapi kenapa ayah Bagas seperti tak mengenal Tante?" tanya Grizella heran.
"Tante operasi plastik di negeri ginseng puluhan tahun lalu. Semua itu hanya untuk menutupi semua aib yang telah disebabkan lelaki jaha*** itu."
Sejenak diam, kamera dan speaker di mobil terus merekam semua ucapan dan gambar mereka di dalam mobil, kamera tersembunyi yang kuletakkan rapi dan sangat kecil bahkan tak terlihat oleh mata telanjang itu memberikanku banyak informasi penting.
"Kenapa Bagas yang menjadi target Tante, bukan Pak Subrata?"
"Karena kehancuran seorang anak akan sangat membuat hancur lebur hati orang tuanya, aku akan memaksa Bagas turun ke dasar jurang paling gelap dan memberikan Subrata penyesalan karena telah membuat hidupku hancur lebur. Dia bermain-main dengan orang yang salah, bahkan aku telah menanamkan trauma di dalam hidup bocah bernama Bagas itu. Seumur hidup dia tak akan mampu melupakan kesakitan itu. Sama sepertiku yang menanggung trauma tak ada habisnya."
Mereka tampaknya telah sampai ke suatu tempat. Karena suara dari mobil berhenti. Aku hanya bisa termenung. Memikirkan apa sebenarnya yang telah dilakukan Pak Subrata. Tapi kenapa pula istrinya Subrata ini seolah tak tahu kalau wanita misterius ini membenci suami dan keturunannya. Apakah karena wanita itu tak bisa di kenali siapa-siapa pasca oplas? aku akan mencoba mencari foto wanita itu sebelum operasi pelastik. Tak banyak waktu, aku segera menghubungi Niken, untuk mengerahkan anak buah Rich menemukan rumah wanita itu dan menggeledah secara diam-diam semua barang pribadinya, tak butuh waktu lama, mereka berhasil mendapatkan foto lama wanita cantik itu sebelum oplas. Foto yang dikirimkan Niken ke ponselku itu segera mengingatkan aku dimana kah sebenarnya aku pernah melihat foto itu. Keningku berkerut, mencoba mengingatnya.
Bagas seperti enggan menemui ayahnya, namun lelaki paruh baya itu datang dengan wajah penuh sesal. Bagas akhirnya mempersilahkan kami memasuki rumah kami. Aku tertegun melihat Bagas duduk bersandar di sofa santainya sembari memangku Bara yang terlelap di dadanya. Sungguh hati ini terasa tercabik dan diremas secara bersamaan melihat kondisi suamiku yang tak lagi seceria dulu, dia tampak awut-awutan dengan jambang yang tak terawat, andai saat ini bukan dalam penyamaran sebagai lelaki macho, sudah pasti aku akan menitikkan air mata haru melihat pemandangan di hadapanku.
Ibuku datang menghampiri Bagas dan mengambil Bara dari pelukan Bagas. Kemudian lelaki itu duduk di hadapan Ayahnya dengan wajah dingin dan datar tanpa ekspresi.
"Ada apa Yah?" tanyanya singkat.
"Gas, Ayah minta maaf karena tak mengetahui kalau Ibu tiri kamu .... "
"Ngga penting banget sih Yah, membuang-buang waktu membahas tentang hal yang tak ada korelasinya dengan kehidupanku."
"Ada Bagas, sangat berkolerasi, karena dia sedang menyusun banyak rencana bersama Grizella dan Giandra, sepupu kamu, ayah tak ingin kamu terpengaruh dengan semua rencana jahat mereka," ucap ayah lembut.
"Ayah telat memberikan informasi itu, aku sudah tahu kalau mereka bekerja sama, tapi untuk saat ini terpaksa berpura-pura bodoh agar bisa menangkap mereka semua dan memberikan pukulan terakhir untuk mereka," sahut Bagas dingin.
"Aku heran, kenapa ayah bisa mencintai wanita jahat seperti Tante Helena itu, bahkan tega menjadi musuhku agar bisa berada di sisi mereka, istri dan anak-anak sambung ayah, sepanjang umurku tak pernah ayah perduli kepadaku, setiap Tante Helena mengadukan keburukanku saat masih remaja, ayah akan percaya dan menghukumku dengan hukuman yang tak masuk akal untuk anak seusiaiku saat itu,"
Pak Subrata terdiam, setetes air mata tiba-tiba mengalir di pipi lelaki paruh baya itu. Aku terkesima melihat kejadian itu.
__ADS_1
"Gas, maafin ayah," ucapnya lirih.
"Untuk apa Yah? untuk waktuku selama masa kecil dan remaja yang telah ayah isi dengan kesakitan dan penderitaan? atau .... "
"Untuk segalanya Nak," sahut ayah parau.
"Untuk meninggalkan Ibu kamu dengan berselingkuh bahkan saat kamu di kandungan, untuk menyiksa kamu saat Helena mengadukan semua keburukan kamu, untuk tak pernah menjadi ayah kamu yang sesungguhnya."
Bagas diam, wajahnya tampak mengeras. Kemudian dia menatap tajam kepada Ayahnya.
"Terlambat Yah, saat ini aku tak penting dengan maafmu, aku telah kehilangan banyak dalam hidupku akibat pribadiku yang buruk ini, pribadi yang terbentuk oleh ketidak adilan kamu terhadapku dan Ibu kandungku yang tak kamu cintai."
Bagas berdiri hendak berlalu meninggalkan Pak Subrata, namun lelaki itu bergegas mendekat dan berlutut di hadapan Bagas.
"Maafkan ayah Bagas Reinhard Subrata, ayah tahu ayah bersalah besar kepada kamu, Ibu dan adikmu, terutama terhadap kamu nak," pinta ayah memelas.
Bagas bergeming, dia melangkah meninggalkan ayah.
"Maaf mudah yah, setiap orang bisa mengucapkannya, aku maafkan ayah tapi tolong, jangan temui aku lagi," desis Bagas, dia berlalu hendak masuk ke dalam kamarnya, namun Dafa (Panji) datang dan memeluk Papanya. Bagas terkesima melihat tingkah putra sambungnya.
"Papa yang Defa tahu, adalah Papa yang baik, Defa tahu Papa sedang tak bahagia karena ngga ada mama di sini, tapi Defa percaya meskipun ngga ada Mama, Papa tetap Papa Defa yang baik dan ngga jahat, maafkanlah kakek ya Pa," ucap Defa lugas. Bocah lelaki istimewaku itu begitu cerdas dan memiliki hati nan lembut. Dia bahkan menangis saat memohonkan maaf untuk kakeknya. Bagas terdiam sesaat.Kemudian dia berjongkok menghadap Defa, dia mengatakan terima kasih telah mengingatkan dia tentang kebaikannya, namun Bagas menginginkan Defa tahu, bahwa ada luka yang tak mudah untuk diobati hanya dengan kata maaf.
"Defa akan maafin Ayah Genta, kalau dia meminta maaf suatu ketika Pa, karena tanpa dia Defa tak akan hadir ke dunia ini dan bertemu Papa Bagas yang sangat Defa cintai," sahut Defa.
Bocah lelaki itu menangkupkan kedua tangannya yang tak sempurna di pipi papa sambungnya. Bagas menitikkan air mata dan memeluk Defa dengan haru. Lama mereka saling menguatkan.
Aku sungguh tak kuat menahan air mata ini tumpah, bergegas aku meminta izin ke toilet. Sekembalinya dari toilet untuk memperbaiki make up karena aku takut air mata membuat luntur riasanku. Ketika kembali ke ruangan keluarga, kulihat Defa sudah tak lagi di sana. Saat aku baru saja kembali ke ruangan itu tiba-tiba terdengar seseorang memanggil Bagas dari speaker post penjaga.
"Ada apa?" tanya Bagas.
"Tuan, di post ada mantan asisten Pak Subrata ingin bertemu Tuan," sahut Reno.
Bagas dan ayahnya yang telah duduk kembali di sofa saling bertukar pandang, Pak Subrata mengangguk kepada Bagas.
"Temui dia Gas, pasti ada sesuatu yang penting ingin dia sampaikan," ucap Pak subrata.
Bersambung
Baca cerita author dg judul lain ya
__ADS_1