
Seluruh anggota sindikat penyewaan balita telah tertangkap. Bosnya pun berhasil dibekuk. Anak-anak yang mereka sewakan pun segera diamankan. Beberapa hari proses penyidikan terhadap sindikat itu dengan penyidikan secara menyeluruh. Sementara Panji belum bisa dijemput karena masih adaptasi dengan orang yang baru dikenalnya. Bagas meminta kepada team penyidik untuk mengejar siapa dalang penculikan putraku. Namun mereka teramat solid dan tetap tutup mulut.
"Sayang, aku bawa Panji pulang."
Bagas muncul di hadapanku menggendong bocah lelaki, aku termenung antara kaget bercampur rindu tak terperi. Meskipun aku kehilangan dia sejak bayi, namun naluri keibuanku mengenali buah hatiku.
"Panji sayang, ini Mama nak."
"Tetap di situ saja sayang, aku yang bawa Panji ke situ, jangan banyak bergerak." pinta Bagas lembut. Aku menitikkan air mata haru, Panji memeluk leher Bagas dan bersembunyi tak mau melihatku.
"Kenapa dia ngga mau sama aku sayang?" aku merasa teramat rindu pada buah hatiku. Air mata terus melintas menggenangi pipi ini.
"Dia ngga mudah dekat dengan orang yang baru dikenalnya, seperti aku, Papanya, kita sama ya nak, sama-sama introvert."
Panji mengangguk. Aku semakin tergugu, tak henti air mataku membanjir.
"Satu minggu dia kudekati baru mau ku gendong sayang. Itupun dibantu psikolog anak. Dia waspada dan ngga mudah didekati, kamu harus sabar ya." bujuk Bagas sembari mengelus punggung Panji.
Bagas meminta pelayan untuk mempersiapkan kamar Panji dan memilih salah satu pelayannya untuk khusus membantu merawat Panji, karena aku masih perlu banyak istirahat.
Saat Bagas membawa Panji duduk di sofa dia meletakkan Panji di pangkuannya.
"Deva, ini Mamanya Deva, coba deh Deva kenalin Mama dulu sayang, itu Mamanya sedang hamil dede nya Deva." Bagas menunjukku dengan dagunya. Panji menyusup di dada Bagas. Dengan lembut Bagas membelai kepala putraku.
"Sayang, namanya Deva? bukan Panji?" tanyaku bergetar. Aku sangat ingin mencium dan memeluknya, tapi aku takut memaksanya.
Bagas menggeleng.
"Panggil dia dengan nama yang dia tahu sayang, biarkan saja, kalau kamu mau tetap ada Panji di namanya biar nanti saat kita buat akte kelahirannya saja." usul Bagas. Aku mengagguk setuju.
"Deva, ini mama nak. Boleh ngga Mama cium Deva." tanyaku hati-hati.
Aku mendekat duduk di sisi Bagas. Deva mengintipku dari pelukan Bagas sembari menggeleng.
__ADS_1
"Papa, Deva mau pipis." Dia berpaling dariku dan menatap wajah Bagas.
Bagas mengangguk dan segera menggendong Panji yang kini berubah nama menjadi Deva. Sungguh mengharukan melihat pemandangan itu. Seorang Bagas yang sangat dingin dan pemarah kepada semua orang bisa begitu tulus terhadap Deva, anak istimewaku yang telah lama tak pernah lagi ku peluk sejak dia menghilang.
Visual Deva (Panji)
Selama beberapa jam Deva di rumah kami, dia tidak mau didekati siapa pun selain Bagas. Tapi saat dia terlelap di pelukan Papa sambungnya, aku segera memciumi wajah tampannya.
"Deva ngga seperti pengemis jalanan sayang, dia bersih karena memang hanya disewakan beberapa hari setiap minggunya." Tampak rahang Bagas mengeras.
"Aku bersumpah mereka yang sudah menculik anak kita akan aku penjarakan. Mereka harus tahu sedang berhadapan dengan siapa, tak akan ada kata ampun dan maaf bagi manusia keji itu." geram Bagas. Amarah begitu membuncah sedang ditahannya sekuat tenaga.
Aku terus menciumi wajah Deva dan ku belai tangan kirinya yang sisa di bawah siku.
"Aku akan membuat Deva bahagia memiliki aku sebagai orang tuanya aku mau Deva mendapatkan pendidikan terbaik sejak dini." Bagas mengelus lembut kepala Deva. Bocah lelaki tampan itu menggeliat di pelukan Bagas. Aku setuju dengan semua rencana Bagas untuk Deva. Dia bahkan berniat mengadopsi Bagas menjadi putranya secara resmi.
Tidak memerlukan waktu lama, kepolisian berhasil mengorek keterangan dari mana asalnya Panji ditemukan, dan sungguh tak pernah terbayangkan, realita memilukan terhampar untukku. Pelaku penculikan Panji adalah mantan ayah mertuaku sendiri, bekerja sama dengan seseorang yang tak pernah ku sangka sebelumnya, Yaitu Rio. Sahabat masa SMA hingga kuliahku. Selama ini dia seolah sangat perduli kepadaku dan putraku, ternyata Rio dibayar mantan mertuaku. Pantas saja Rio terdengar gagap saat aku katakan sudah melihat Panji di gendongan pengemis. Dia dibayar untuk membuang Panji dan melenyapkan selamanya dari muka bumi ini. Begitu kejamnya seorang kakek kepada bayi tak berdosa. Namun Rio tidak melakukan perintah itu, dia menyembunyikan Panji di rumah keluarganya.
"Aku boleh ikut ke kantor polisi sayang? rasanya aku ingin menampar wajah Rio yang munafik dan tak tau diri itu, aku ..."
Bagas memelukku dari belakang dan menyelipkan wajahnya di pipiku.
"Jangan kesana sayang, biar aku wakilkan pukulan kamu di tinju anak buah kita. Jangan kotori tangan kamu."
"Tapi aku ingin melihat reaksi dia sayang, aku percaya dia tulus mencarikan Panji, taunya malah dia yang menyembunyikannya," isakku perih.
"Jangan percaya siapa-siapa, itu yang selalu ku terapkan di dalam hidupku, dengan begitu kita tidak terluka oleh pengkhianatan!"
Bagas melepaskan pelukannya namun kemudian mengangkatku lalu dengan santainya dia duduk sambil memangku aku di atas sofa ruang santai.
"Di rumah saja ya sayang, jangan banyak pikiran, aku mau kamu dan buah hati kita sehat."
__ADS_1
Aku meragkul leher Bagas dan menyembuyikan wajahku di sana.
"Aku marah, sangat benci dengan mantan mertuaku, tega sekali ingin membunuh darah dagingnya sendiri. Rio juga, dia seolah orang yang paling perduli pada Panji, tapi kenyataannya dia yang ..."
Bagas menutup mulutku dengan ciuman panasnya. Aku kesulitan bernafas. Kemudian dia melepaskan ciumannya saat aku mulai sedikit tenang.
"Jaga emosi kamu sayang, aku sudah bilang kan? tensi kamu bisa melonjak naik. Kamu mau anak kita kenapa-kenapa?" Bagas merengkuh pinggangku dan mengelus perutku.
"Yang sekarang harus kamu pikirkan bagaimana agar Deva segera bisa beradaptasi di rumah ini, jangan pikirkan yang lain, semua itu sudah menjadi urusanku, faham?" Bagas terlihat kesal dan sedikit marah.
Aku mengangguk dan mencium pipinya.
"Iya sayang, jangan marah ya."
Bagas mengangguk. Tapi sungguh aku ingin sekali bertemu Rio dan menampar sendiri wajahnya. Rupanya dia yang selama ini meneror ponselku.
Berita di TV dan berita online menyebutkan.
"Bagas Rainhard, pengusaha konglomerat muda Indonesia mengulung sindikat human trafficking."
Ada juga berita yang membuat cerita dramatis.
"Putra Sambung Bagas Rainhard seorang bocah tampan yang memiliki kekurangan fisik yang dijual kakeknya ke Sindikat penyewaan dan penjualan Balita berhasil diselamatkan."
Beredar foto-foto Bagas memeluk Deva.
"TERUNGKAP, BAGAS RAINHARD MENIKAHI JANDA ANAK SATU."
Banyak sekali berita seputar penemuan Panji. Banyak telepon masuk, tak terkecuali dari mertuaku, ayah Bagas dan Ibu sambungnya. Mereka sangat terkejut mengetahui aku sudah memiliki putra.
"Kamu jangan baca berita online sayang, bikin hidup kamu lebih nyaman di rumah ini. Ingat, hanya aku, kamu, Utun dan Deva. Jangan pikirkan hal lain."
Bagas mengambil ponselku.
__ADS_1
"Dan tidak perlu menjawab pertanyaan apa pun dari keluargaku. Tidak penting!" ucapnya tegas.
Bersambung