ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 29 Kemarahan Kekasih


__ADS_3

Kami duduk berhadapan, di atas tempat tidur, bersila dengan mata saling menatap penuh sayang. Bagas sesekali membenahi rambutku yang jatuh menutupi kening. Dia sesekali menyentuh bayinya dengan lembut sembari menatap mataku.


"Kapan kita periksa ke dokter lagi?"


"Tiga hari lagi sayang." sahutku, perasaan tegang menyelimutiku, bukan rasa takut pada kemarahannya, tapi hanya khawatir dia akan salah faham akan niatku sesungguhnya.


"Nanti jangan pergi tanpa aku ya sayang, aku akan mengantarmu memeriksakan utun kita."


wajah itu terlihat sangat bahagia setiap menyentuh perutku yang mulai membesar. Aku mengangguk dan menyuguhkan senyum terbaik yang aku punya.


"Kamu sudah siap mendengarkan ceritaku?" tanyaku lembut sembari mengusap pipinya yang mulai ditumbuhi bulu halus. Dia mengangguk. Terlihat sangat tenang di raut wajah itu.


"Sayang, kamu pernah ngga berpikir bahwa kamu sebenarnya punya adik yang kamu tidak pernah tahu? adik kandung seayah dan seibu?" tanyaku pelan. Aku berusaha bercerita langsung keujung cerita, agar dia tidak langsung menolak ketika ku sebut ibunya.


Bagas mengerutkan keningnya, wajahnya terlihat bingung.


"Adik? kalau adik seayah aku punya Ra, tapi seibu dan seayah aku tidak punya." sahutnya.


Sejenak hening, aku memberikan kesempatan dia mengembara ke dalam memorinya. Kemudian dia melanjutkan kalimatnya.


"Saat ibu berselingkuh dan meninggalkan aku dan ayah, dia tidak melahirkan adik untuk aku. Wanita jahat itu berkhianat dari ayah dan mencampakkan aku. Sebentar, kamu membicarakan adikku? jangan-jangan kamu bertemu wanita jahat itu!" Bagas menyentakkan tangannya yang ku genggam. Wajahnya terlihat memerah, seperti ketika dia marah tapi di tahan. Matanya tajam menatapku.


"Ibu kamu tidak menikah sampai detik ini, yang berselingkuh itu ayah kamu sayang, dan saat ditalak ayahmu, Ibu kamu sedang mengandung."


Bagas melepaskan tanganku dan bergeser duduknya menjauh. Matanya begitu kelam.


"Kamu jangan merasa paling tahu kebenaran hidupku Ra, kamu baru beberapa saat mengenalku, pernikahan kita baru seumur jagung. Kamu tidak tahu apa pun tentang hidupku." Bagas memalingkan wajahnya yang semakin kelam dengan sorot mata teramat tajam.


"Sayangku, meskipun kamu tidak pernah mengatakan cinta terhadapku, tapi aku akui, aku sangat perduli dan menyayangi kamu, aku berharap kamu genggam tanganku erat, kita cari tahu bersama kebenaran masa lalu kamu." ucapku lirih.


"Berhenti Zara, jangan mencoba masuk ke dalam sesuatu yang tak ingin aku ingat. Kamu adalah masa kini dan masa depanku, cukup berada di situ, jangan memaksaku menoleh kebelakang!" teriaknya sembari beranjak dari tempat tidur.


"Tapi kamu harus tahu kebenaran dari sisi Ibu kamu sayang, dari situ kamu bisa mengobati rasa perih karena merasa dikhianati ibu kamu, kenyataannya, kamu ditinggalkan di taman bermain itu bukan keinginannya, dia diculik ayah kamu dan disekap karena berusaha membawa kamu pergi dan kamu tahu apa yang ...."


"Kamu menemui dia! jawab! kamu berani menemui orang yang sangat aku benci itu Zara!" geramnya sembari mengepalkan tinjunya.


"Iya sayang, aku menemui Ibumu, dan kamu harus tahu sayang, Ibu kamu tidak menikah hingga saat ini karena sangat mencintai ..."


Bagas menampar dinding kamar. Wajahnya semakin memerah. Netra itu semakin kelam. Aku tak berani melanjutkan kalimatku.


"Hentikaaaan! apa kamu pikir dengan menceritakan semua hal dari versi wanita jahat itu akan mengubah segalanya Zara? tidak! siapa pun yang bersalah korbannya tetap aku!"


Aku menitikkan air mata sedih melihat suamiku begitu terluka. Aku harus menarik dia keluar dari kesakitan yang memenjarakannya selama 20tahun hidupnya. Tapi jujur, aku merasa tak sanggup. Bagas berjalan ke arah pintu kamar. Aku turun dari tempat tidur kemudian berjalan cepat ke arahnya kemudian ku peluk pinggangnya dari belakang. Bagas hendak mendorongku dengan sikunya. Tapi di urungkannya. Kucium lembut punggungnya. Kepalaku bersandar dengan nyaman di punggung lebar itu.


"Maafkan aku sayang, aku hanya ingin membantumu."


Bagas terdiam. Kemudian perlahan dia berbalik ke arahku. Lalu dia melepaskan pelukanku.

__ADS_1


"Aku ingin sendiri. Jangan mendekat Ra, aku ngga mau kamu terkena amarah dan kekasaranku saat kamu sedang mengandung begini, menjauhlah sebentar." suara itu bergetar hebat. Aku membiarkan dia pergi keluar dari kamar. Aku yakin apa yang menimpa dia begitu pahitnya. Sehingga dia berusaha menguburnya dalam-dalam.


Semalaman Bagas tidak mau mendekatiku, dia bahkan tertidur di sofa pojok kamar. Namun saat pagi hari ketika dia hendak berangkat kerja, dia tetap menyentuh calon bayinya. Dia menunduk dan mencium perutku yang mulai membusung.


"Papa sayang kamu Utun. Jangan nakal ya sayang, jangan buat Mama sakit." Bagas kembali mengecup perutku lembut, kemudian mengelusnya dengan penuh kasih sayang. Ku peluk dia meskipun aku tahu dia masih sangat marah.


"Sayang, peluk aku, Utun pengen Papanya memeluk Mamanya." bisikku lirih. Bagas meraihku ke dalam pelukannya.


Aku menengadah menatapnya. Dia memalingkan wajahnya. Kutarik wajahnya dan kukecup lembut keningnya.


"Aku sayang sama kamu, Utun juga sayang Papanya. Tapi boleh minta sesuatu ngga?"


Bagas menatapku.


"Apa?" sahutnya singkat.


"Pengen ikut kamu kemana pun kamu pergi sayang, ini bukan mau aku, Utun yang mau."


"Nanti kamu kecapean, jadwalku padat hari ini." sahutnya dengan acuh.


Aku melepaskan lingkaran tangan Bagas dipinggangku.


"Ya sudah, pergi aja." sahutku sambil mengelus si utun.


"Sabar ya sayang, Papa sedang tak ingin direpoti oleh mama yang sedang ngidam pengen di dekatnya."


Aku tersenyum manja. Dia membuang muka, tapi sempat kulihat dia tersenyum tipis.


Di kantor aku membantu pekerjaanya meskipun dia menolak, tapi aku tetap membantunya. Bahkan hanya satu jam mempelajari bahan meeting, aku bisa tampil mewakili perusahaa untuk presentasi. Raut wajah Bagas terlihat sangat puas melihat kemampuanku.


Selesai meeting, saat sudah waktunya makan siang. Bagas mendekatiku.


"Makan dimana sayang?" tanyanya lembut saat masuk ke ruangan kerjanya yang mewah.


"Pengen soto tangkar, kamu tahu ngga dimana jualnya."


Bagas menggeleng.


"Itu sekarang lumayan susah nemuinnya sayang, makan steak iga sapi aja mau ngga?"


"Mau, tapi kamu yang masak ya, bukan chef restoran yang masak." sahutku manja.


"Oke, aku cari restoran yang boleh masak sendiri, atau kita pulang dan beli bahannya saja." usulnya. Aku berhasil membuat suamiku melupakan kemarahannya padaku.


"Di restoran saja sayang ya, pengen suasana berbeda." sahutku masih dengan kemanjaan.


"Oke, sebentar ku minta Raynald mencari tahu restoran yang bisa masak sendiri."

__ADS_1


Bagas menyetir sendiri mobilnya, Arkana dan dua anak buahnya mengikuti dari belakang dengan mobil berbeda dari kami. Sementara di depan mobil kami anak buah Arkana yang mengendarai motor.


Setalah sampai di parkiran restoran yang menyediakan fasilitas bisa memasak sendiri. Bagas membuka jas hitamnya, mengganti pakaiannya dengan kaos dengan lengan baju di tariknya keatas sehingga memperlihatkan otot lengannya yang seksi. Aku tersenyum.


"Kenapa diganti pakaiannya sayang."


"Masak dengan mssih dibalut jas sangat tidak nyaman." sahutnya. Bagas menggenggam jemariku sembari melangkah memasuki restoran.


"Mau pakai resep kami atau Bapak punya resep sendiri?" tanya chef restoran itu ramah.


"Pakai resep sendiri, bahannya minta yang fresh ya." sahut Bagas. Aku duduk manis melihat suamiku beraksi. Ternyata dia piawai sekali meracik bumbu. Tanpa dibantu siapa pun lelaki tampan itu begitu piawai mengolah semua bahan. Dia mempresto terlebih dahulu iga sapinya sebelum dipanggang.



Setelah selesai dia membawa dua porsi hasil masakanya ke hadapanku.


"Ini sayang, makan ya."



Aku tersenyum bahagia menatap suamiku yang terlihat sangat antusias.


"Mamanya Utun makan ya, mau disuapin?" tanyanya sembari mengatur makanan di atas meja di bantu pelayan restoran.



Bagas menyuapiku meskipun aku menolak.


"Kamu ngga mual kan sayang?"


Aku menggeleng.


"Mualnya pas pagi aja sayang." sahutku. Bagas menyuap sendiri makanannya. Ketika asik menyuap makananku. Dia tertawa ringan. Sembari mendekatkan wajahnya ke wajahku, kemudian dengan ringannya mengecup pinggir bibirku yang belepotan saos lezat buatannya.


"Malu sayang, banyak orang." desisku, terasa wajahku memanas karena menahan malu.


"Makanya makannya jangan berantakan sayang, nanti ku bersihin lagi nih." godanya. Aku ikut tertawa sembari mengulurkan tangan menyetuh rambutnya yang menutup keningnya.


"Terima kasih ya sayang. Masakannya enak banget." ucapku tulus.


Bagas mengangguk sembari tangannya menjulur ke wajahku dan menghapus saos di bibirku dengan jempolnya.


"Utun, mama kamu makannya berantakan, pengen Papa cium lagi tapi takut Mama kamu malu lagi." ucapnya sembari tersenyum sangat manis.


Kalau melihat kebahagiaanya saat berbicara dengan anaknya, aku sangat terenyuh. Seolah dia ingin memberikan segala yang tak pernah didapatnya dalam hidup kepada anaknya.


Calon bayi kami seakan menjadi penghiburan untuk seluruh kesedihan yang ditutupinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2