
Kami berdua keluar dari mobil, Bagas mengunci mobilnya dan berjalan mengelilingi mobil lalu meraih tanganku. Tiga orang Satpol PP dan beberapa orang lain yang sepertinya penduduk sekitar mengerumuni kami.
"Mas, Mbak, jangan mentang-mentang kaya bisa berbuat mesum di mobil mewah ya, kenapa ngga ke hotel saja sih kalian? atau jangan- jangan ini mobil majikan kalian?"
Bagas melotot mendengar ucapan beberapa orang yang mulai usil berkomentar.
"Kami suami istri yang sah, bukan pasangan kekasih atau pasangan selingkuh. Jangan sembarangan menuduh!" bentak Bagas.
"Halah basi, alasan klise, mana surat nikahnya."
"Mana mungkin kami bawa-bawa kemana-mana." jawab Bagas sengit. Bagas mengambil ponsel di kantongnya, namun low bat dan ketika digunakan menelepon Arkana, ponselnya mati.
"Saya charge dulu di mobil ya, saya mau panggil anak buah saya untuk ...."
"Kelamaan, kita ke kantor dulu, ngga punya waktu untuk menunggu, pekerjaan kita juga banyak Mas."
"Sebentar saja, saya harus membuktikan kalau kami beneran suami istri."
"Ikut saja Pak."
Perintah seorang petugas satpol PP.
"Ra, ponsel kamu kesiniin, cepatan."
"Mana sempat aku bawa ponsel, kamu bawa aku mendadak dari pintu gerbang."
Seorang penduduk yang ikut melakukan penggerebekan geleng kepala melihat kami berdua.
"Orang kaya suka seenaknya ya, bikin kesal aja."
"Kalian melakukan kesalahan besar, saya bisa tuntut kalian semua. Kami suami istri sah, tidak melakukan apa pun hanya berciuman, kesalahannya dimana?"
"Ikut kami Pak biar buktinya nanti dibawa ke kantor kami!"
Bagas hendak melawan tapi aku menggandeng lengannya. Kemudian aku berbisik.
__ADS_1
"Ikuti prosesnya saja ya,"
Bagas terdiam, ketika dia menatap wajahku, kuanggukkan kepala untuk memberikan dia keyakinan mengikuti saja prosesnya.
"Oke, kami akan ikut, tapi kami naik mobil sendiri menuju ...."
"Naik ke mobil kita Pak." tegas suara khas petugas membuat kami terpaksa mengikuti.
Aku dan Bagas tidak bisa berkutik. Terpaksa kami berdua naik ke mobil bak terbuka dan dengan pasrah duduk bersisian diatas kursi panjang. Beberapa orang yang melihat sampai menoleh ulang, mereka seperti tak percaya saat melihat hasil tangkapan Satpol PP hari ini. Seorang lelaki tampan dengan penampilan khas high class sosiety. Bagas terlihat jengah dilihat banyak orang.
Sampai di kantor Satpol PP Bagas meminta izin untuk mencharge ponselnya.
Ketika Ponsel sudah hidup, dia menelepon Arkana, tapi ternyata Arkana muncul sebelum panggilan tersambung, dia sudah berdiri di hadapan kami.
Arkana menemui petugas dan menjelaskan siapa Bagas dan aku.
"Beliau ini Bagas Rainhard dan istri beliau Zara Septia. Ini surat nikah mereka, meskipun foto kopi bisa menjadi bukti, atau Bapak segera browsing di google siapa mereka, apakah mereka pasangan sah atau bukan akan terlihat di sana, dan ...."
"Ya ampun, iya benar ini Pak Bagas konglomerat muda yang honeymoon mewah di Maldives bersama istrinya." teriak seorang petugas wanita. Yang lainnya terperangah, kemudian mereka meminta maaf atas kesalah fahaman itu. Mereka malah meminta foto bareng bersama kami.
"Kenapa saat penangkapan kamu tidak langsung menghampiri!" Bagas terlihat sangat marah kepada Arkana.
"Saya pikir tanpa bukti mereka tidak akan percaya. Tapi biarlah Tuan, lihat sisi positifnya saja."
Bagas menggeram dengan gigi gemeretak menahan amarah.
"Nilai positif apa dengan menjadikan kami tontonan khalayak ramai di atas mobil satpol PP," dia mengepalkan tinjunya untuk meredam emosi terhadap Arkana.
"Buka situs berita online,"
Kami saling bertukar pandang dan segera melihat judul berita di headline mereka.
Berita:
BAGAS RAINHARD DICIDUK SATPOL PP
__ADS_1
"Saat bermesraan dengan istrinya di dalam mobil yang diparkir di pinggir jalan, seorang pengusaha muda ternama bernama Bagas Rainhard diciduk Satpol PP yang mendapat laporan dari penduduk, adanya mobil terparkir di tempat sepi. ...."
Berita yang kami baca membuat Bagas tersenyum. Suatu hal yang jarang dilakukanya.
Komentar netizen juga membuaku geli sendiri.
"Mau dong terciduk bersama babang.ganteng."
"Iri banget deh sama istrinya."
"Duh, kenapa ngga di hotel saja sih bang, udah ngga nahan ya."
Bagas melirik ke arahku. Ya salam, hatiku sekarang berdebar saat dilirik Bagas. Berasa ada yang berbeda di dalam rongga jiwa ini pasca kejadian memalukan itu.
Jantungku seakan kehilangan ritmenya. Apakah aku telah jatuh cinta? ih tidak jangan sampai. Aku takut melahirkan, takut terjadi seperti apa yang ku alami bersama mantan suamiku. Aku takut kembali melahirkan anak tak sempurna.
Tiba-tiba hatiku teringat Panji. Kemana buah hatiku. Setetes air mata jatuh di atas punggung tangan. Sekelebat rasa bersalah tiba-tiba menyeruak. Arkana yang sedang menyetir mencuri pandang kepadaku melalui kaca spion. Menyadari hal itu aku segera menyelipkan tanganku di lengan suamiku dan meletakkan kepalaku di atas bahu kokohnya.
Bagas seperti menyadari aku melakukan itu karena ada Arkana. Dia menggenggam jemariku.
"Sayang, kamu ngga apa-apa kan? maaf ya, gara-gara aku kamu sampai harus berada di dalam situasi memalukan itu.
Arkana mengalihkan tatapannya pada jalanan.
"Iya sayang ngga apa-apa."
Tiba-tiba aku ingin mengerjai suamiku yang super tajir ini.
"Sayang, Ayah dan Ibuku kembali ke kontrakan lama lo, katanya biar dekat dengan toko mereka. Jarang mereka tinggal di rumah yang kamu pilihkan untuk mereka. Ehm tapi mereka mau kita bermalam satu atau dua malam di rumah mereka." ucapku mesra.
Raut wajah Bagas berubah, tampak kaget tapi berusaha di sembunyikannnya. Aku tidak bisa membayangkan perasaan Bagas kalau harus tidur di kamarku yang sempit. Genta saja tidak mau, dan memilih membawaku ke hotel saat pertama habis menikah.
"Oke, sepulang dari rumah orang tuaku kita menginap tiga hari di rumah mertuaku." ucapnya ringan. Aku terperangah, kutatap wajahnya dengan takjub. Sekilas ku lihat Arkana tertegun mendengar pembicaraan kami.
Bersambung
__ADS_1
ikuti keseruan mereka di rumah Zara. Ada kekonyolan apa yang dilakukan Bagas?