
Bagas tidak memberi kesempatan untukku sekedar mengatur nafas. Dapat kurasakan dengan jelas degup jantung yang membahana di dalam dadanya. Degup jantungku bahkan lebih menggila, seakan telah kehilangan rytme.
Tangannya terus bergerak aktif, menelusuri bagian tubuhku yang membuat perasaan nyaman itu berubah jadi panas, tak pernah terbayangkan kami berdua justru semakin panas dan terbakar satu sama lain saat berada di rumah ini. Tempat tidur yang kecil, kamar berukuran tidak lebih dari 4X4 meter. Bukan di kamar mewah hotel berbintang lima dan berkelas internasional.
"Ra, ada tamu didepan nak." suara Ibu di depan pintu kamar yang terkunci terpaksa kami abaikan. Kini Bagas membawaku ke tempat tidur kayu, tempat tidur masa remajaku.
"Bagas, Zara, ada tamu." ketukan di pintu dan suara Ibu membuat gelora yang membakar seluruh sel di tubuh kami seakan padam tiba-tiba. Bagas melepaskan dan menutup wajahnya.
"Ugh, adaaaa aja." geramnya sembari telentang diatas tempat tidur. Aku menepuk lembut pipinya.
"Sabar ya sayang." ucapku lemah. Karena jujur aku pun merasa sangat tak nyaman berhenti saat keinginan membuncah.
Tok tok tok
"Iya Bu, sebentar ya, kami akan segera keluar."
Kami segera merapikan pakaian masing-masing, sama-sama sudah hampir telanjang.
"Ra, sayang ... nanti kita lanjutkan ya, please." bisik Bagas bergetar.
"Iya sayang kita lanjutkan setelah tamu kita pulang, tapi siapa ya yang bertamu?" aku membantu Bagas memasangkan kaosnya yang ku lepas barusan. Sementara Bagas membantuku memasang bra.
"Ra, kenapa banyak sekali halangannya ya." desis Bagas sembari memelukku dari belakang.
"Mungkin belum saatnya sayang, ayo kita keluar, sebelum Ibu kembali memanggil kita. Bagas melepaskan pelukannya. Kami berjalan beriringan menuju ruang tamu.
Ternyata yang datang adalah tamu dari Bagas.
"Maaf Pak terpaksa kesini, kami sudah menelepon puluhan kali, mengirimkan email, dan chat, tapi ngga ada respon Pak Bagas."
"Ada apa?"
"Pak Han dari ANZ Company Korea Selatan meminta peninjauan ulang kontrak, sepertinya beliau ragu untuk melanjutkan kontrak, mereka terlihat hendak membatalkan kerja samanya dengan ...."
Bagas mengatupkan rahangnya.
"Dimana mereka sekarang?" tanya Bagas kaku dengan wajah tak menunjukkan kesan sedang baik-baik saja.
Mereka berangkat tadi sore ke China Pak, dari sana ..."
__ADS_1
Brak ...!
Bagas menggebrak meja kayu di hadapannya dengan wajah memerah. Ketiga anak buahnya menunduk.
"Saya berada di Jakarta, bukan di luar negeri! kenapa baru sekarang kalian mendatangi ke sini!"
"Maaf Pak, kami ...."
"Kalian ikut saya sudah lama, kamu Anggara! kepercayaan saya untuk menangani klien luar negeri, sulit kah buat kamu meluncur kemari!"
Pak Anggara terdiam, tak berani menjawab.
"Revano, kamu tahu saya di sini, apa alasan kalian tidak langsung kemari? kamu juga Yosua! kalian mau saya turun kan jabatan?" lengking Bagas dengan amarah tak terkendali. Mereka menunduk, sepertinya ketakutan, mungkin khawatir tentang nasib pekerjaan mereka.
"Jawab! apa alasan kamu baru muncul setelah Pak Han pergi!"
Mereka bertiga saling tatap, kemudian Anggara menyahut.
"Kami takut mengganggu Pak Bagas dan Bu Zara. Maafkan kami Pak."
Aku meremas jemari suamiku yang berkeringat dingin. Dia menarik nafas dalam.
"Iya Pak, maafkan kami sekali lagi."
"Berikan saya rute perjalanan suami istri itu. Pak Han dan nyonya Kim. Kabari saya secepat kilat." pungkas Bagas.
"Iya Pak, akan kami usahakan secepatnya." sahut mereka serempak.
Mereka pamit pulang. Bagas menghubungi Reyanald dan meminta segera dicarikan penerbangan pertama untuk esok menuju Cina.
"Aku tinggal untuk mewakili kamu di sini atau ...."
"Ikut sayang, Pak Han selalu bersama istrinya. Kamu bisa bantu aku presentasi dengan istrinya." mood Bagas hancur lebur. Kami kembali ke kamar dan terlihat dua cicak berkejaran di atas plapon kamar. Bagas refleks berteriak sambil berlari keluar kamar.
Aku segera mengambil sapu dan mengusir binatang itu pergi. Tapi mereka mengumpet di belakang lemari pakaianku.
Aku mendekati Bagas yang duduk termenung di kursi ruang tengah. Wajahnya ditekuk. Amarah seperti menggumpal di dadanya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanyaku pelan dan lembut, sembari mengusap keringat di dahinya.
__ADS_1
"Aku ingin memecat mereka bertiga, andai kamu tidak menyabarkanku, mereka membuat kesalahan fatal! tak terampuni bagiku, aku menjalankan perusahaan itu dengan hati dingin, tanpa basa-basi dan tidak mentolelir kesalahan sebesar ini! kemarahan yang kedua mereka datang di saat tak tepat, membuat kita padam lagi, merusak moodku!" rutuknya kesal.
"Sayang, anggap saja kita menunda ya, mungkin ini yang terbaik."
Bagas meraihku dan memelukku, dia masih duduk, dan wajahnya menyeruak di dadaku.
"Sayang, pencarian Panji belum membuahkan hasil, kamu yang sabar ya?" bisiknya.
Aku merengkuh kepala Bagas sembari membelai kepalanya lembut.
"Kamu ngga masalah sayang? kondisi Panji tidak seperti anak lain, dia ...."
"Kenapa harus masalah? justru aku bertekad menemukannya segera, aku akan buat dia bahagia dan merasa dicintai oleh keluarganya, kasihan Panji ya sayang, entah siapa yang saat ini merawatnya."
Air mataku menitik, jatuh di wajah Bagas yang menengadah menatapku. Dia mengusap air mataku.
"Kenapa sayang, aku salah ngomong?" tanya Bagas kebingungan. Aku menggeleng pelan.
"Aku terharu, dulu saat dia dikandunganku, ayahnya, nenek dan kakeknya memaksaku menggugurkannya. Tapi kamu yang bukan siapa-siapa baginya berusaha menemukan dan ingin membahagiakan dia.Terima kasih sayang."
Bagas berdiri dan berbisik ditelingaku.
"Siapa bilang aku bukan siapa-siapanya? aku ayahnya setelah kita memutuskan menjadikan pernikahan ini sungguhan." sahut Bagas.
Aku menangkup wajahnya dengan kedua telapak tanganku.
"Sayang, apa pun perasaan kamu terhadapku, aku akan membuat kamu bahagia dengan kehadiranku." bisikku mesra. Bagas meraihku ke dalam rengkuhnya.
"Sayang, jujur aku sangat menginginkan kamu saat ini, tapi aku takut cicak memadamkan api yang membakar diri kita. Eum ... semoga kita bisa honeymoon sambil menguntit pasangan itu" bisik Bagas di telingaku.
"Iya sayang, semoga." sahutku.
Kami berdua tidur berpelukan seperti biasa. Aku meletakkan kepalaku di dada bidangnya. Sementara tangannya melingkariku. Malam merangkak cepat, bergulir tanpa disadari oleh insan yang terlelap. Saat fajar menyeruak di kisi jendela kami terbangun dan berlarian. Kami pamit dengan semuanya, ayah dan ibu mengingatkan, untuk jangan terlalu lama menunda kehamilan. Kami hanya mengangguk.
********/////******
Secepatnya kami meluncur ke rumah megah milik suamiku, untuk segera mempersiapkan keberangkatan.
Anggara memberikan scedule pasangan suami istri itu melalui email. Kami sudah berada di Bandara.
__ADS_1
Bersambung