
"Kenapa sayang? apa yang terjadi?"
Perasaan seperti diremas oleh rasa takut teramat sangat. Terbayang wajah kedua orang tuaku. Wajah kedua adikku.
"Rumah sakit tempat ayah dan ibu dirawat, diserang sekelompok orang tak dikenal, Aryo dam Ratih diculik Ra, aku ngga tau kondisi terkini."
"Ayah dan Ibuku Gas?"
Tubuhku lemas seketika. Ibu mertua mengambil alih menggendong Bara.
"Mereka kritis Ra, tim medis menemukan racun disuntikkan ke aliran darah mereka melalui infus, belum sempat terlalu banyak diserap karena baru disuntikkan sudah ketahuan black shadow. Polisi yang berjaga malah pingsan dipukul 2 dokter gadungan itu."
Rasanya hampir kehilangan kesadaran. Bagaimana kalau kedua adikku ditangan Mafia Zankoku? mereka kejam tak berperasaan. Bagas merengkuhku.
"Black shadow sudah memamanggil tim inti untuk mengejar penculik adik-adik, kamu yang kuat ya sayang, ayah dan ibu juga sudah dipindahkan ke Rumah sakit terbaik dengan pengawasan dari kepolisian. Black shadow juga ditambah, Arkana yang bergabung di tim BS sedang mengikuti salah satu mobil penculik."
Mobil kami bergulir di tengah jalan raya yang mulai lengang. Salah satu mobil yang mengawal tiba-tiba oleng dan tergelincir di sisi jalan. Bannya ditembak. Beberapa mobil pengawalan langsung mengitari mobil kami secara berlapis.
Dua mobil hitam yang membayangi kami ditembak oleh tim BS, terjadi baku tembak tak terelakkan. Pengawal yang berada di dalam mobil yang tergelincir keluar dan di sambut tim BS yang menggunakan motor. Mereka mengeluarkan senjata api laras panjang. Terdengar rentetan peluru, puluhan motor melaju melintasi kami dan mengepung dua mobil penembak. Dalam waktu sekejap dua mobil penyusup itu menyerah. Mobil mereka terguling. Tim BS meringkus 8 orang dari dua mobil itu. Dua diantaranya terluka parah.
Ibu mertuaku panik.
"Ada apa sebenar nya ini? siapa musuh kamu nak, mengerikan sekali situasi ini."
Bagas diam dan tak mengatakan apa pun. Wajahnya terlihat sangat tegang. Ibu menitikkan air mata.
"Musuh kami mafia internasional Bu, mereka memaksa Bagas ikut bergabung dan bekerja sama dengan mereka dibidang IT dan tekhnology." sahutku pelan di sela rasa khawatir pada keluargaku dan ketegangan oleh baku tembak Tim BS dibantu kepolisian dengan Mafia Zankoku.
"Inilah hidupku Bu, tak semudah yang orang lihat." sahut Bagas. Ibu mengelus punggung Bagas. Menepuknya pelan.
"Selesaikan hingga tuntas nak, jangan takut, kebenaran tak akan kalah oleh kebatilan."
Bagas mengangguk. Meskipun raut wajahnya terlihat sangat dingin dan terkesan acuh oleh sebab ketegangan, dia tetap merespon ucapan ibu dengan baik.
Saat rombongan tiba di rumah. Aku bergegas mengambil Bara dari gendongan Ibu. Kami masuk dengan melalui penjagaan sangat ketat. Ketika sudah menidurkan Bara di box nya, aku mendatangi Bagas diam-diam keruang rahasia.
"Sayang, kamu sanggup ikut negosiasi ini, lebih baik kamu keluar dan tunggu hasilnya." Bagas menatapku dengan sorot mata penuh kekhawatiran.
__ADS_1
Mafia Zankoku memperlihatkan kondisi kedua adikku. Terpampang jelas dilayar monitor.
"Mereka keluargaku sayang, aku harus melihat mereka." sahutku yakin, meskipun jujur, seluruh tubuhku gemetar melihat kedua adikku terikat di kursi, dengan pistol di kepala mereka. Salah satu anggota mafia itu bahkan mengancam akan memperkosa Ratih di depan kamera kalau Bagas tidak menandatangani surat perjanjian kerja sama dengan tanda tangan digital. Bagas sudah meletakkan tangannya untuk membubuhkan tanda tangan digital ketika sebuah peluru mengenai kepala kedua penjaga yang menodongkan pistol dikepala kedua adikku. Mereka tersungkur.
Beberapa orang bertarung ketat sehingga berhasil menguasai situasi.
Selanjutnya kedua adikku dilepaskan oleh tiga orang berpakaian Tim BS. Pertempuran dengan desingan peluru terdengar bagaikan di arena peperangan. Dapat kami lihat bagaimana Tim BS bersatu dengan Tim kepolisian meringkus angota Zankoku dan menangkap mereka yang berjumlah lebih dari 15 orang dari berbagai negara. Perasaanku lega. Aku terduduk lemas. Bagas merengkuhku erat.
Telepon Bagas berbunyi. Bagas menyambungkan ke loudspeaker besar agar aku bisa ikut mendengar.
"Kami berhasil menyelamatkan keluarga Nyonya Zara tuan. Saat ini kami menuju rumah Tuan."
"Siapkan pasukan terbaik lebih banyak dan lebih kuat Mark, aku mau kita menyerang markas mereka, tangkap pimpinan yang berada di Indonesia secara diam-diam. Aku tidak mau menjadi bulan-bulanan mereka. Aku tidak mau terus bertahan dan membiarkan mereka mengaduk-aduk perusahaan dan keluargaku." perintah Bagas tegas.
"Siap Tuan. Kami akan segera melacak keberadaan pimpinan mereka di Indonesia."
"Ingat Mark, anggotamu harus yang setia dan memiliki kemampuan terbaik. Seleksi dengan ketat, kamu tahu persis, dana milik penjahat internasional tidaklah kecil, mereka akan berusaha menyusup ditubuh Tim kalian dengan iming-iming. Pastikan pasukan kamu memiliki mental setia dan melindungi kepentinganku dan keluargaku secara mutlak!"
"Siap Tuan! kami akan lakukan yang terbaik. Bagi kami melindungi Tuan dan keluarga Tuan dari teror Mafia Zankoku adalah melindungi darah dan daging kami sendiri."
******//////*******
"Ayah dan Ibu Kak, bagaimana mereka." isak Ratih.
"Keduanya sudah aman dan sekarang membaik, mereka dipindahkan ke RS yang sangat
aman. Untuk sementara kalian jangan ke sana dulu ya." pintaku.
Keduanya mengangguk bersamaan.
"Kami benar-benar takut kak, mereka sangat kejam dan menakutkan." Ratih bergidik.
"Jujur sama kakak ya Ratih, apa yang mereka lakukan terhadap kamu. Apakah mereka sempat menyakiti kamu secara ...."
"Ngga kak, aku ngga sempat dilecehkan mereka, beruntung pertolongan datang cepat, hanya saja beberapa kali mereka mengancam akan memperkosaku kalau Mas Bagas menolak tanda tangan." Ratih menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Bagas dan ibu mertua datang membawa Deva dan Bara. Deva digendong Bagas, Bara digendong ibu.
__ADS_1
"Ratih, Aryo, untuk menghilangkan trauma kalian ayo bermain dengan kedua kepoakan kalian ini."
Aryo mengambil Deva dari gendongan Bagas.
"Ikut Om kecil ya sayang." ucap Bagas lembut pada Deva. Deva mengangguk. Deva mulai mudah bersosialisasi. Dia bersedia menyahuti Ratih dan di asuh dipangkuan tantenya.
"Ra, Bagas kecil haus nih, susui dulu." ibu memberikan Bara padaku. Aku menyambut putraku dengan suka cita.
"Kamu sexi sekali saat menyusui sayang." bisik Bagas ditelingaku. Aku tersenyum.
"Belum 40 hari ya sayang, belum boleh ...." sahutku.
Bagas tertawa renyah.
"Kan kamu bisa seperti saat itu, ingat kan waktu Bara baru dua bulan di rahimmu?" bisiknya. Aku tertawa sambil mendorong pelan penuh cinta pada wajah innocentnya.
"Iya sayang, bisa banget." sahutku balas berbisik.
"Kalian bisik-bisik apa sih." Ibu mendekat. Kami tertawa bersamaan.
"Rahasia Ranjang pengantin Bu." sahutku sambil tertawa.
Ratih mendekat dan mencium pipi Bara. Deva mengikuti.
"Kok dedeknya punya kaki dan tangan lengkap Ma, ngga seperti Deva." ucap Deva pelan. Dia menyentuh tangan dan kaki adiknya dengan sorot mata takjub. Aku speechless mendengarnya. Ibu meraih Deva dan memangkunya.
"Deva itu istimewa sayang, meskipun tangan dan kakimu ngga lengkap seperti dedek Bara, tapi Deva ngga kalah ganteng dari dedek Bara, Deva juga pintar banget. Ngga boleh merasa berbeda ya sayang. Allah sayang Deva. Kami semua sayaaaang banget sama Deva."
Deva mengerjapkan matanya menatap Ibu mertuaku.
"Iya Oma, Deva juga sayang kalian semua, apalagi sama Papa, Deva sayaaang banget."
Bagas tersenyum dan terlihat matanya berkaca-kaca.
"Papa juga sayang banget sama Deva, anak sulung Papa, sini sayang." Bagas mengulurkan tangannya untuk memeluk Deva. Deva berpindah kepelukan Bagas. Aku terenyuh melihatnya. Bagas sudah memiliki putra kandung dariku. Tapi cinta tulusnya pada Deva tidak berkurang sedikit pun.
"Sayang, besok kita semua mengunjungi Ayah dan Ibu ya. Ibu membaik tapi ayah belum sadar." Bagas menunjukkan rekaman kedua orang tuaku. Aryo dan Ratih mendekat, ikut melihat rekaman itu.
__ADS_1
Bersambung