
"Gugurkan! kami tidak sudi mempunyai keturunan yang cacat!"
Ibu mertuaku melemparkan hasil USG kelantai. Aku berlutut mengambil foto hasil USG itu sembari menangis perih.
"Tapi dia berhak hidup Bu, dia istimewa, aku mohon Bu, jangan paksa aku untuk membunuh anakku."
"Terserah kamu, kamu pilih tetap melahirkan bayi cacat itu atau ditalak oleh Genta, pilihan ada di tangan kamu!"
Ayah mertua yang sedari tadi hanya diam sembari menghisap rokoknya dalam-dalam menghembuskan kepulan rokok itu perlahan, kemudian mendekati aku dan ibu mertuaku.
"Gugurkan saja Zara, kamu bisa hamil lagi nanti, kasihan suami kamu kalau sampai saat dia pulang dari Jakarta, mendapati kenyataan kamu melahirkan bayi cacat."
Aku menggeleng dan memeluk foto USG itu. Bayiku akan terlahir tanpa tangan kiri, terlihat buntung setengah, kaki kanannya juga cuma separo, entahlah jari-jarinya. Jenis kelaminnya laki-laki.
Aku tak mau mendengarkan lagi ucapan ibu yang memanaskan telinga, beliau bilang mungkin karena saat kecil aku tidak diberi makanan bergizi karena orang tuaku miskin, atau karena dirumahku kotor banyak kecoa, tikus bahkan kucing peliharaan Bapakku, sehingga mengandung keturunan yang cacat.
Sampai di kamar aku menumpahkan air mataku sepuas-puasnya. Mereka tak inginkan bayi ini, tapi aku tak perduli. Aku hendak pulang ke rumah orang tuaku di Jakarta, meskipun mereka hanya pedagang sayur keliling, tapi aku yakin mereka tak akan sejahat mertuaku ini. Aku yakin kedua orang tuaku akan menyayangi cucunya.
Baru saja aku menarik koper dari bawah tempat tidur, pintu kamar di buka perlahan. Aku terkejut. Mas Genta datang. Dia menatapku tajam , tapi kemudian dia menarikku ke tempat tidur.
"Duduk, Mas mau berbicara serius Zara."
Aku diam dan menunduk.
"Ibu dan Ayahku bilang, janin kita cacat, itu benar?" tanyanya serius, matanya begitu tajam menatapku.
"Iya Mas, kaki dan tangannya tidak lengkap." ucapku perih.
"Gugurkan! aku tidak mau jadi ayah seorang anak cacat!"
"Mas, ini darah dagingmu, buah cinta kita Mas, bagaimana bisa kamu mengatakan hal mengerikan itu."
"Aku tidak sudi Zara, apa kata teman-teman kerjaku, teman di kampus ku? apa kamu siap menerima cibiran, hinaan? aku tidak!"
Mas Genta melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
__ADS_1
"Besok kita temui dokter kandungan yang bersedia menggugurkan janin itu, baru 20 minggu kan?"
Aku menggeleng, tak akan kubiarkan mereka membunuh janinku. Apa pun kondisinya, dia berhak hidup di muka bumi ini.
Aku ikut berbaring di sisi suami yang memunggungi. ku belai perutku, dia menendang dan menggeliat. Air mataku menetes.
"Mama sayang kamu nak." bisikku lirih.
****************************
Aku menikah dengan Mas Genta Adiguna, putra satu-satunya dari dua bersaudara, orang tuanya adalah pemilik tanah dan ternak terbesar di daerah mereka, mereka sangat kaya raya dan di segani, iparku perempuan sedang kuliah di Jogjakarta.
Aku bertemu dengan suamiku di Jakarta, saat mengantarkan dia ketika sedang menjadi driver ojek online, aku juga bekerja sebagai pengantar makanan, aku bekerja di restoran siap sai. Kulakukan pekerjaan itu karena membiayai kuliahku sendirian dan membantu perekonomian keluarga.
Adikku ada dua dan mereka semua sekolah, sedang ayah dan ibuku penjual sayur keliling. Mas Genta juga sering memesan makanan padaku, di Jakarta dia kost berdua dengan sepupunya Satria.
Meskipun tidak satu kampus, tapi aku dan dia memilih jurusan yang sama. Tekhnik Informatika. Karena aku mahasiswi beasiswa, kepintaranku jauh di atas Mas Genta. Aku tak ingin mengecewakan kampusku, sehingga aku belajar sunguh-sungguh dan berhasil lulus cepat dengan predikat Summa Cum Loude. Tapi baru satu hari di wisuda aku di lamar Mas Genta dan di bawa ke daerahnya setelah dinikahi secara sederhana di rumahku. Resepsi lumayan mentereng dilaksanakan di daerah suamiku di Malang, Jawa Timur. Dia mengajakku nikah cepat karena orang tuanya sangat menginginkan cucu.
Dan Mas Genta benar, Setelah resepsi berakhir ibu mertua membisikkan di telingaku agar aku segera hamil karena dia ingin segera menimang cucu. Aku tersipu malu sembari menunduk.
Kala itu aku sangat bahagia. Terlebih bulan kedua pernikahan kami aku dinyatakan positif hamil. Karena Mas Genta belum menyelesaikan kuliahnya, aku harus rela ditinggal, karena Ibu mertuaku ingin aku di dekat mereka.
"Sabar aja, nanti kalau dia bosan juga ngga akan begitu lagi, dia cuman main-main."
Aku semakin kecewa dengan pembelaan mertuaku pada suamiku.
Namun aku tidak tinggal diam aku meminta adik keduaku yang sudah SMA mengikuti Mas Genta ternyata dia membawa perempuan itu ke rumah kost nya. Dan itu hampir setiap hari.
Ketika aku bertanya kepada Mas Genta dia cuma bertanya.
"Terus kamu maunya apa? ikut kemari? ogah lah masa aku suruh ngurusin perempuan bunting, lagian perempuan itu pacarnya Satria, aku cuma bantuin Satria membawa ke kost kami saja, jangan cemburuan."
Namun aku tetap tidak bisa percaya, aku berkeras untuk mengikutinya. Lagi-lagi ibu mertuaku melarang keras, katanya dia takut terjadi apa-apa dengan anak di rahimku. Dia begitu menyayangi calon cucunya.
Namun ketika pemeriksaan USG saat janinku berusia 20 minggu, dinyatakan cacat, seketika mereka kehilangan kasih sayangnya pada buah hatiku.
__ADS_1
"Zara, cepat kamu ikut Genta, janinmu harus segera dibuang mumpung belum terlalu besar."
Aku menggeleng lemah.
"Ngga, Zara ngga mau!"
"Kamu jangan ngeyel, ini demi kebaikan semuanya, kamu apa ngga kasihan sama ibu dan Bapak mertuamu ini, kami orang terpandang di daerah ini, dimana kami sembunyukan rasa malu."
"Aku lahirkan bayiku di Jakarta saja Bu biar ibu dan Bapak ngga malu."
"Selama kamu masih istrinya Genta mana mungkin kamu bisa menyembunyikan anak itu."
Aku tetap menggeleng.
"Baik Bapak kasih Genta kesempatan untuk mengambil keputusan, pilih mempertahankan Janin itu tapi melahirkan dan membesarkannya di Jakarta bersama istrimu tapi ingat saat kembali kesini jangan dibawa anak ini, ibu ngga sudi, atau kamu ceraikan Zara saat ini juga."
Aku terpekik sambil memeluk kaki Mas Genta.
"Jangan Mas, kumohon!"
Mas Genta menatapku dingin.
"Pilih aku atau gugurkan janin cacat itu!" pekiknya tak kalah sengit.
"Kumohon Mas, kasihani anak kita."
Mas Genta mendorongku dari memeluk kakinya.
"Rupanya kamu istri tak taat pada suami Zara, bahkan saat diberi pilihan sesulit ini kamu masih membantah." gerutu ibu mertuaku.
"Mulai hari ini, kujatuhkan talak satu kepada kamu Zara Septia, sejak detik ini kamu bukan lagi istriku." ucapnya dingin. Tubuhku yang tadinya gemetar oleh ketakutan tiba-tiba terdiam kaku.
Aku menatap kepada Mas Genta yang dulu sangat ku kagumi karena menerima diriku yang bukan orang berada.
"Terima kasih Mas, semoga kalian tak akan pernah menyesali ini."
__ADS_1
Aku menghapus air mataku. Perih megiris jantungku.
Bersambung