ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 10 Ada Apa Dengan Bagas?


__ADS_3

Mobil yang akan membawa kami ke Bandara telah siap, berikut dua mobil yang biasa mengawal kemana pun Bagas pergi. Kami sudah duduk manis di dalamnya ketika sebuah Mercedes Benz berhenti di halaman. Arkana keluar dan menemui tamu yang turun dari mobil Mercedes Benz. Ternyata Grizella. Arkana berbalik menuju mobil kami. Dia berbisik di telinga Bagas. Rahang Bagas mengeras.


"Katakan, aku tidak punya waktu untuk menemuinya, lagipula di sini ada istriku, aku tak mau melukai hati istriku dengan berbicara empat mata dengan wanita lain."


Setelah menyampaikan pesan Bagas kepada Grizella, Arkana kembali berlari ke mobil dan duduk di samping sopir.


"Berangkat!" titah Bagas.


Grizella yang berusaha mengejar tidak sempat karena mobil telah melaju meninggalkan halaman luas rumah Bagas.


"Kenapa tidak ditemui dulu, mungkin dia punya kepentingan untuk meluruskan hubungan masa lalu kalian."


Aku mencoba memberi pendapat.


"Yang sudah disebut mantan, tempatnya adalah tong sampah! untuk apa aku menengok ke dalam tong sampah!" sahutnya dingin.


Arkana memalingkan wajahnya terlihat tidak suka dengan perumpamaan yang dibuat Bagas. Tapi dia tetaplah Arkana, pengawal yang hanya bertugas mengamankan majikannya. Mungkin dia tak akan mau mengutarakan pendapatnya selain tentang urusan pengawalan yang menjadi tugasnya.


Aku mendampingi Bagas saat meeting dengan 3 klien besar di Silicon Valley San Fransisco, California Amerika Serikat. Dua hari tidak ada kegiatan lain selain urusan bisnis. Aku bahkan harus membantu Bagas merevisi Draft perjanjian besar dengan beberapa perusahaan dan lembur untuk melihat beberapa perusahaan besar di bidang tekhnologi di Silicon Valley. Hari ke lima semua urusan di sana selesai, Bagas memilih menyetir sendiri mobil yang dipinjamkan rekan bisnisnya, untuk melewati jembatan Golden gate hanya berdua denganku, karena Arkana menggunakan mobil terpisah.


"Pernah ngga kebayang sebelumnya bakalan memiliki hidup seperti ini, berbeda dari hidup lama kamu."


Aku menggeleng, karena memang kehidupan yang di tawarkan Bagas untukku sangat luar biasa dan diluar ekspektasi.


"Ini kehidupan melelahkan karena dipenuhi sandiwara, meskipun penuh kemewahan."


Bagas diam.


"Kamu mau kehidupan tanpa sandiwara?"


Aku diam. Karena yang kulihat wajah itu terlihat mengeras dan tidak baik-baik saja. Mobil terus melaju diiringi mobil Arkana di belakang kami.


"Hidupku sudah bergelimang sandiwara sejak lahir kedunia, tapi hidupku lebih baik daripada hidupmu yang miskin." sanggahnya, wajah itu mengguratkan luka tak terlihat.


Apakah aku harus mencoba menyelami kedalaman samudra kehidupan lelaki ini agar aku bisa terlepas dari jerat perjanjian nikah menyebalkan itu. Bahkan aku harus mengandung anaknya layaknya menyewakan rahim untuk dibuahi. Sungguh mengerikan.

__ADS_1


"Besok kamu sama Arkana ke pantai Malibu, aku menyusul setelah urusanku selesai."


"Ngapain? di indonesia juga banyak pantai yang indah."


"Jangan banyak protes!" sambutnya dingin.


Bagas membawaku menginap di hotel berbintang lima dengan fasilitas yang membuat wanita sederhana atau bisa dibilang miskin sepertiku kembali tercengang. Hotel moderen ini memiliki lantai marmer yang sangat indah, televisi layar datar lebar menyerupai televisi di kamar kami di Jakarta. Di dalam kamar mandinya juga ada Hot tub, untuk berendam air hangat, ada beberapa jubah mandi pria dan wanita.


"Aku mengambil kamar khusus honeymoon." ucapnya santai.


"Aku menolak tidur dengan kamu hanya karena kewajiban kontrak, aku tidak akan mengandung tanpa cinta di dalam prosesnya."


Bagas diam saja.


"Silahkan kamu terus menolak, akan ada saatnya kamu tak bisa lagi berkilah saat aku meminta, berdo'a saja aku tidak memintanya." dia beranjak ke kamar mandi mewah itu sembari melepaskan pakaiannya satu persatu. Aku melangkah pergi meninggalkannya.


Di kamar mewah ini juga ada minibar. Aku hanya mengambi sekaleng minuman cola dingin.


"Mandilah, dengan air hangat lebih baik, kita akan berada di sini beberapa malam sebelum terbang ke Italia." dia melemparkan handuk bersih kepadaku.


"Kita makan malam di kamar saja, istirahat yang cukup, aku harus kembali fit, tubuhku kurang sehat hari ini, San Frans saat ini panas saat siang, namun terlampau dingin saat malam hari." gumamnya.


Dia berbaring di atas tempat tidur. Dan menepuk bantal di sampingnya.


"Naik Ra, aku mau memeluk kamu." titahnya dengan suara berat. Sekarang aku tidak yakin kalau lelaki ini Ga#, dia terlihat selalu berdiri tegak saat berdekatan intim denganku. Tapi dia tergolong lelaki gentleman. Sepertinya dia akan menunggu aku siap menjadi ibu bagi keturunannya. Tapi kenapa harus aku? wanita miskin yang bahkan pernah melahirkan keturunan cacat. Dia tidak pernah tahu itu, dan aku tak berani mengatakannya, dia hanya tahu aku jandanya Genta Adiguna, atau dia telah tahu tapi berpura-pura tidak tahu? entahlah.


Bagas tidur sambil memelukku. Lebih tepatnya menjerat tubuhku dengan lingkaran tangan dan kaki panjangnya. Aku tenggelam di dalam pelukannya. Tapi sungguh alarm kesadaran terus mengingatkanku, dia pasti sedang membujuk untuk menitipkan benihnya di rahimku, itu tak akan pernah terjadi. Meskipun sangat dekat dan tak berjarak, aku tetap tak bisa membayangkan harus tidur dalam arti sebagai istri dengannya.


Aku mengamati wajah tampan dengan tubuh tinggi berhiaskan otot indah dan six pack di perutnya. Memang terlihat rona wajahnya tidak sefresh biasanya. Dia tidur tidak begitu lelap.


Pelan sekali, aku beringsut dan meninggalkan dia sendirian. Keluar dari kamar, memakai pakaian beberapa lapis untuk mencegah kedinginan. Berjalan-jalan di dekat kolam renang sendirian. Karena merasa gabut aku keluar dari hotel hanya berjalan kaki ke taman Yerba Buena.


"Kenapa keluar malam-malam sendirian tanpa Tuan Bagas? Nona Zara?" tanya Arkana yang tiba-tiba berjalan di sisiku. Aku merasa bersyukur ada yang menemaniku.


"Dia sudah tidur, aku ngga bisa tidur." sahutku acuh.

__ADS_1


Duduk di bangku taman sembari menyilangkan kaki. Dikeliingi pepohonan hijau, terasa sangat waw di antara gedung pencakar langit. Taman hijau yang pas ditengah kota yang sibuk. Arkana membawakan secangkir kopi panas yang dibawanya dari cafe depan, dengan dua buah roti yang terlihat sangat yummy. Aku menyesap kopi dan menggigit roti itu.


"Nona terlihat bahagia di sisi Tuan Bagas, terlihat santai, dan Tuan juga tampak sangat memuja nona."


Arkana membuka percakapan. Aku teringat kata-kata Bagas untuk tidak mengatakan apa pun tentang kontrak pernikahan kami.


"Saya juga mencintai Bagas, kami suami istri Arkana, wajar kan?" sahutku sambil kembali menyesap kopi.


Wajah Arkana terlihat berbeda. Wajah tampannya tampak murung.


"Dengan kepribadiannya yang sulit itu, tak semua orang bisa dekat dengannya Nona."


"Ar, bisa ngga kalau di luar tugas kamu sebagai pengawal, kamu ngga usah memanggilku Nona?" tanyaku.


Arkana terdiam sesaat seperti berpikir, tapi kemudian dia mengangguk.


"Its oke, saya panggil kamu Rara aja ya."


Aku mengangguk. Arkana dan aku mulai berteman, obrolan kami santai tentang hal-hal biasa yang membumi.


Telepon Arkana berbunyi. Dia mengalihkan tatapannya padaku.


"Siap Tuan!"


Arkana menghadap ke arahku.


"Tuan sakit Ra, apakah dia terlihat demam saat kamu turun?"


Aku mengangguk, kenapa Arkana terlihat panik.


"Kenapa Nona ngga bilang sama saya kalau Tuan Bagas demam?"


"Bukan demam, dia hanya terlihat merona dan kurang fresh."


Arkana seketika berlari meninggalkanku, tapi kemudian berbalik dan menarik tanganku lalu berlari kembali ke Hotel.

__ADS_1


Bersambung


like, komen ya guys 😊❤❤


__ADS_2