ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 37 Kriminal


__ADS_3

Bagas memintaku untuk mendampinginya menemui tamu, yang ternyata Mr. Brian dari Amerika, yang aku tahu dia adalah agen CIA (Central Intelligence Agency ) bersama dua orang lagi mungkin rekannya.


"Sayang, kamu ikut ya, ke ruang rahasia ku."


Aku ingat, saat pertama kali masuk ke dalam rumah ini pernah diperingatkan oleh Mrs. Bianca untuk jangan mendekati apalagi memasuki sebuah ruangan di rumah ini.


"Sayang, ayo." Bagas menggenggam jemariku dan menuntunku masuk kamar yang kuncinya menggunakansensor telapak tagannya. Pintu itu terbuka, hanya sebuah ruang kosong dengan beberapa lukisan dan buku di rak yang tersusun rapi, menyerupai perpustakan. Bagas meletakkan telapak tangannya pada sebuah kotak di dinding dan rak buku itu bergeser, tampak ruangan cukup dramatis. Berbagai lcd ukuran besar dan alat komunikasi canggih. Di sana juga terlihat beberapa senjata api yang sudah resmi mendapatkan izin.


"Kamu satu-satunya orang yang boleh masuk selain aku. Arkana dan siapa pun belum pernah masuk ke sini sayang, ini tempat rahasiaku untuk berbicara rahasia terkait keamanan perusahaan."


Aku duduk di samping Bagas. Dia memencet sebuah tombol sehingga terbuka sebuah dinding dan tampak tiga tamunya duduk di balik kaca anti peluru yang cukup tebal.


(Dalam Bahasa Inggris)


Bagas mengatakan terpaksa meminta Mr. Brian kembali untuk datang terkait kejahatan dan keterlibatan Mafia Zankoku yang berusaha melakukan penetrasi ke dalam perusahaan IT terbesar di Indonesia, milik Bagas Asia Technology, yang menangani produksi dan pengembangan software, mulai dari layanan website development, e-commerce, pengembangan aplikasi Android dan iOS, big data, hingga pelatihan tenaga kerja IT. Mafia Zankoku menginginkan tempat di dalam tubuh perusahaan agar dapat mengendalikan bisnis hitam secara legal dengan memanfaatkan perusahaan technology tercanggih saat ini.


Mr. Brian mengatakan telah mengantongi data nama beberapa karyawan dengan jabatan strategis merupakan kaki tangan Zankoku yang berhasil di selipkan oleh mereka untuk melakukan beberapa penghianatan dan mencuri rahasia perusahaan untuk menekan Bagas Asia Technology. Namun jaringan keamanan berlapis yang di terapkan Bagas berhasil menjegal niat buruk mereka.


"Mr. Bagas, saya memberikan informasi beberapa nama ini yang harus segera anda jegal dan lepaskan dari perusahaan anda, mereka adalah kaki tangan Zankoku, kalau dibiarkan mereka akan mampu memaksa anda untuk mendukung bisnisnya. Ini bukan hanya terjadi di Indonesia tapi juga di perusahaan IT terbesar di beberapa negara."


Bagas tertegun ketika Mr. Brian meng copy paste satu file rahasia dari USB nya, sederet nama yang ternyata orang-orang di lingkaran terdekat dirinya. Nama-nama itu tercantum di layar LCD di hadapanku. Yang membuatku sangat sedih,di sana tertulis nama Reynald, sekretaris Bagas yang selama ini sangat dipercayai oleh suamiku. Wajah Bagas memerah. Terlebih CIA mampu mengumpulka bukti keterlibatan mereka di jaringan Mafia Zankoku.Hampir satu jam pertemuan rahasia agen CIA dengan Bagas. Beberapa pembicaraan penting dan rahasia telah mereka lakukan. Aku cukup merasa ikut terhenyak mendengar beberapa informasi penting itu.

__ADS_1


Pertemuan mereka berakhir, Bagas mengambil beberapa bukti penting dan menghubungi pihak interpol untuk memproses kejahatan internasional Mafia Zankoku.


Bagas juga memerintahkan beberapa wakilnya untuk segera mem PHK secaratidak hormat beberapa orang yang namanya sudah berada ditangannya beserta bukti kuat keterlibatan mereka.


Bagas mengajakku meninggalkan ruangan Rahasia setelah mendaptarkan telapak tanganku sebagai salah satu pasword untuk masuk ke ruangan rahasianya.


"Komunikasi di dalam ruangan ini terjaga dan aman. Kalau suatu saat aku di luar negeri dan kamu berada di Indonesia sebagai satu-satunya wakilku, aku mau kita berkomunikasi melalui jaringan rahasia ini. Saat ini di dalam hidupku atau pun di dalam perusahaanku cuma kamu wanita yang paling aku percaya sayang." ucapnya serius. Aku mengangguk dan meyakinkan dia bahwa aku akan berusaha ikut menanggung beban di pundaknya.


Aku dan Bagas tidak langsung kembali ke kamar. Bagas membawaku ke taman samping rumah, dia memelukku dari belakang sambil membelai perutku penuh kelembutan.


"Dari rahim Zara Septia lahir pewaris perusahaanku. Dia adalah Deva dan nantinya Utun setelah lahir dan memiliki nama juga akan kudaftarkan sebagai pewarisku. Deva sudah memiliki bakat kecerdasan luar biasa dalam memahami technology digital sayang, kecerdasan kamu menurun kepada Putra pertama kita, Deva. Besok sudah keluar surat Adopsi resmi Deva yang akan menjadi putraku secara legal."


Air mataku merembes tanpa bisa kucegah.


"Tidak perlu berterima kasih Zara, kita sama-sama mendapatkan kebahagiaan di dalam rumah tangga kita. Impas sayang. Kamu, Deva dan Utun kita ini adalah hidupku." bisiknya, membuat perasaanku seketika sangat tersentuh.


Aku menoleh kepada Bagas, dia menyambut dengan ******* bibirku dari samping. Rambut kami di terpa angin malam yang begitu lembut. Aku berbalik dan mengalungkan tanganku pada lehernya. Ciuman kami kembali berlasung panas dan begitu mesra. Bagas menggendongku masuk ke salah satu kamar dan memberikan tanggung jawabnya sebagai suami. Kami bercinta dalam desah membara di ruangan lain karena Deva sedang tidur di kamar kami.


"Zara, jaga kepercayaanku sayang, jaga semua yang kutitipkan di pundakmu." bisiknya sembari tangan dan bibirnya mengeksploreku dengan penuh kelembutan.


Setelah beberapa saat terlelap dalam pelukan hangat suamiku, aku merasa dia menggendongku masuk kembali ke kamar kami. Deva masih terlelap di dalam selimutnya. Bagas meletakkanku disisinya.

__ADS_1


******//////********


Hari ini Ibu kandung Bagas akan datang, Bagas masih memimpin rapat darurat dari ruangan rahasianya. Dia tidak mau meninggalkan aku di rumah karena kelahiran utun tinggal menunggu harinya.


Setelah selesai rapat dia mengatakan Ibu akan tiba dalam 25 menit. Dia tampak sangat gelisah.


"Aku gugup sayang, aku harus seperti apa menghadapi Ibu. Aku sudah lama tidak bertemu dia." bisik Bagas. Wajahnya terlihat sangat khawatir dan sangat gelisah.


"Tenang ya sayang, aku sudah mengenal ibu kamu, aku yakin kamu akan mudah untuk beradaptasi dengannya."


Bagas meremas jemariku, tangannya berkeringat dingin. Seorang Bagas yang begitu dingin dan garang saat berbisnis dan terhadap lawan bisnisnya, tampak rapuh dan tak berdaya saat menghadapi pertemuan pertama dengan ibu kandungnya yang puluhan tahun tak pernah dijumpainya. Bahkan separuh jiwanya membenci ibunya lebih dari apa pun. Saat ini Bagas mencoba menetralisir perasaan yang aku tahu itu tak mudah.


"Sayang, aku .... apa mampu melihat ibuku sebagai ibu, aku membencinya, dan perasaan itu tak bisa begitu saja ku buang."


Bagas duduk menyandarkan kepalanya di kursi megah ruang tengah, tempat biasa dia duduk kalau sedang tegang. Kursi yang bisa membuat dia sedikit rilex.


"Zara, suruh pengasuh Deva membawa Deva ke sini, aku ingin bermain dengannya."


Aku tahu, Bagas akan merasa nyaman saat berbicara dengan deva. Dan benar saat Deva datang dan mengajaknya bermain, Bagas benar-benar lupa ketegangannya.


Dari CCTV depan terlihat Black Shadow sudah membawa ibu masuk ke dalam pekarangan rumah. Bagas diam mematung.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2