ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 12 Terciduk?


__ADS_3

Perjalanan panjang menemani Bagas akhirnya selesai. Rasanya sangat bahagia menghirup kembali udara Indonesia. Seindah apa pun negeri orang, aku tetap lebih bahagia tinggal dimana aku di lahirkan.


Beberapa pelayan menyambut kedatangan kami dan membawa masuk koper oleh-oleh yang terus menjadi perdebatan aku dan Bagas. Dia malah sempat bilang :


"Susah kalau ngajak jalan ke luar negeri orang miskin, ngga bisa lihat barang bagus dikit dibeli!"


Aku bergeming dengan umpatannya. Telinga sudah super kebal melebihi kulit jangat di tumit emak tua yang doyan ngga pake sendal.


"Ra, besok kamu ikut aku ke rumah ayah dan Ibuku, ingat ya, jangan terlalu mudah terintimidasi dengan ucapan mereka mereka. Kita datang cuma untuk memenuhi undangan pertunangan Adik tiriku. Sebenarnya tidak penting, kita cuma sebentar," titah Bagas, tanpa menoleh ke wajahku. Dia telah terbiasa berbicara tanpa melihat manusia yang diajaknya berbicara. Entah mengapa? hanya dia yang tahu.


"Denger ngga Ra!" bentaknya kasar. Beruntunglah dinding kamar kami kedap suara, kalau tidak sudah sejak awal sandiwara cinta palsu ini terbongkar.


"Iya! kamu pikir aku budek?" balasku santai. Meskipun sumpah aku takut dan was-was bakalan bikin dia murka. Tapi terkadang ill feel juga diperlakukan seperti manusia tidak punya hati nurani.


"Baguslah kalau tidak budek! aku ke kantor duluan, ingat ya, kamu menyusul! jangan sampai ku telepon baru berangkat. Awas!" ancamnya dengan wajah dingin itu lagi. Tak habis pikir, melihat suamiku ini seperti melihat manusia dengan kepribadian ganda. Tapi entah mengapa aku mulai terbiasa, tidak seperti awal dulu, saat aku gemetar bahkan hampir menangis setiap kali dibentaknya.


Di depan pintu pagar rumah yang kokoh, terdengar keributan. Aku dan Bagas melihat CCTV bersamaan. Tampak Grizella berusaha untuk masuk ke halamam, tapi di tahan anak buah Arkana.


"Perempuan berwajah tembok!" desis Bagas. Dia menghubungi anggota keamanannya untuk jangan membiarkan Grizella masuk, karena dia yang akan segera keluar."


Bagas bergegas keluar, baru saja dia berdiri di depan pagar Grizella memeluknya erat, sembari mencium bibirnya dengan agresif. Bagas tidak membalas pelukan dan ciuman itu. Namun gadis itu terus berupaya, aku mendekat, rasanya akan aneh kalau pelayan dan pengawal melihat aku tidak cemburu.


"Heh! kamu tahu ngga kalau dia sudah beristri!" bentakku sambil menarik paksa Bagas yang sedang keenakan dicium oleh mantannya. Ciuman itu terlepas, Grizella terpaku menatap Bagas yang menyembunyikan tubuh kokohnya di belakangku.


"Aku istri Bagas, kamu sudah tahu sejak di pesta itu, kenapa tetap memaksa untuk menyentuhnya! Kamu ngga malu? kalau sudah mantan seharusnya kamu faham dimana tempatmu." ucapku tanpa tedeng aling-aling.


"Kamu istrinya aku tahu, tapi cinta dia cuma buat aku. Kalau dia sudah tidak mencintaiku sudah sejak awal kucium dia mendorongku, kenyataannya dia cuma menikmati!" sanggah Grizella penuh percaya diri sambil tersenyum sinis kepadaku.


"Benar-benar ngga ada malunya ya kamu Griz? kamu sudah mencemarkan nama suamiku di seantero Nusantara dengan konfrensi pers bodoh itu dan mengatakan suamiku seorang ga*, tapi anehnya kamu terus berusaha untuk mendekat kembali, kejiwaan kamu perlu diperbaiki tuh!"


Bagas yang tadinya diam buka suara.


"Aku sudah tidak mencintai kamu Zella, aku mencintai istriku melebihi apa pun. Aku tidak menolak ciuman kamu hanya kasihan kalau di dorong kamu bakalan terjerambab, bedakan dengan ciuman penuh cinta ini, amati dan sadarkan dirimu segera."


Bagas menarik tanganku dengan satu tangan melingkari pinggangku, sementara satu lagi menopang leherku. Dia menciumku lembut, menuntut hingga berubah agresif, aku membalas tanpa kusadari, entah karena harus berakting sempurna atau memang aku menikmati sensasinya.

__ADS_1


"Jahat kamu Gas, tega, kamu tahu aku menyesal telah memilih karir pianisku di luar negeri dari pada kamu, kamu tahu aku sangat mencintai kamu, kamu pun tahu aku terpengaruh ucapan Giandra bahwa kamu Ga*, kenapa kamu setega ini Gas."


Bagas tidak mendengarkan Grizella, dia melepaskan ciuman kami namun menarikku meninggalkan mantan kekasihnya.


"Gas, aku mohon kembali kepadaku, kamu ngga mungkin berpaling dari aku, sejak dulu kamu cuma suka aku."


Di dalam mobil Bagas terlihat menautkan gigi-giginya dengan kuat. Dia meminta pengawalnya untuk tidak mengikutinya kali ini, Arkana mengangguk. Bagas menyetir sebdiri mobilnya. Matanya nanar menatap jalanan.


"Kamu menyukai aku Ra?" tanyanya kaku dan tanpa menoleh kepadaku. Aku terkejut mendengar pertanyaannya yang tiba-tiba.


"Kenapa kamu bertanya begitu?" tanyaku singkat.


"Jawab saja!" bentaknya.


"Kamu pikir saja sendiri, apa aku bisa menyukai lelaki yang setiap saat membentakku?"


Dia diam tak menyahut tapi mobil di hentikan di jalan yang sepi. Aku menoleh ke arahnya dan menunjukkan ekspresi bingung.


"Aku mau anak kita cepat hadir di dunia ini, suka atau tidak suka!" ucapnya tegas.


Wajahnya terlihat kaku dan menegang.


"Kamu atasi hidup kamu, perasaan kamu pada perempuan itu Gas, temui dia, selesaikan segalanya, jangan menghindar." ucapku pelan. Rasanya ingin terseyum melihat kegelisahan di wajah tampan itu.


"Kamu harus ingat Ra, suka atau tidak kamu istriku. kontrak itu akan kita revisi sore ini." ucapnya datar.


"Ngga! atasi dulu Grizzela dan perasaan kamu padanya," tegasku padanya.


"Aku bos disini! aku yang punya aturan! kamu ngga ada hak untuk membantah! camkan itu."


Wajah dingin itu memerah, matanya berkilat.


"Nanti sore kamu tanda tangan draft baru, sebelum kita berangkat ke rumah keluargaku."


"Aku ngga mau!" bantahku dengan air mata mulai berdesakan di pelupuk mataku.

__ADS_1


"Dan aku akan pastikan kedua adik kamu ...." dia seperti sengaja menggantung kalimat seolah membiarkan imajinasiku bergerak sendiri membayangkan nasib kedua adikku.


"Iya!" sahutku singkat. Aku menghapus air mata yang jatuh di pipiku.


Dia menggeram.


"Heh, apa tidur dengan suami kamu seperti suatu hukuman buat kamu! di luar sana banyak wanita menggilai aku!"


Aku mendelik marah.


"Mereka tidak tahu sifat burukmu, mereka hanya melihat dan mengagumi fisik dan kekayaan kamu!" bantahku masih dengan perasaan tidak karuan.


"Aku keras karena kamu pembangkang!" ucapnya dengan nada melunak.


"Tiduri mereka saja kalau begitu banyak ...."


Bagas tiba-tiba mencengkram bahuku dan memaksaku melihat wajahnya, dia tak perduli air mataku menggenang.


"Aku bukan pezina! aku lelaki beristri, suka atau tidak itu kenyataannya."


Dia menarik kepalaku, mencengkram daguku kasar dan mencium bibirku, mengeksplore mulutku. Dengan kasar tangannya bergerak membuka blezerku.


Ku dorong dia sekuat tenaga.


"Kamu gila Gas, ini diluar ...."


Humt ....


Dia kembali menutup mulutku dengan bibirnya, beberapa saat kemudian aku terdiam dan membiarkan dia begitu saja. Kurasakan dia mulai lembut dan menuntut. Perasaanku mulai nyaman tak lagi merasa hendak diperkosa suamiku sendiri.


Perlahan dia melepaskan aku, tatapannya begitu berbeda. Dadaku bergemuruh hebat. Dia kembali mendekatkan wajahnya, aku terpejam, kedua tanganku tanpa sadar membuka kemejanya dan meletakkan kedua telapak tanganku di dadanya. Bahkan mulai meremas dada bidang berotot itu. Saat suasananya mulai panas, pintu mobil diketuk, atau lebih tepatnya digedor. Bagas menggeram. Menghentikan aktivitasnya, aku terkulai di bahunya.


"Shit .... pengganggu!" desisnya dengan wajah memerah.


Kami merapikan segalanya dan aku melihat ada beberapa orang mengelilingi mobil kami.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2