ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH

ISTRI BAYARAN PRIA PEMARAH
Bab 36


__ADS_3

Segala jenis menu seafood adalah favoriteku, tapi biasanya dulu aku selalu makan seafood di pinggir jalan, di lapak pedagang kaki lima. Bersama sahabatku, Rio. Lelaki yang sudah ku anggap saudara. Aku tidak mengerti, entah bagaimana ceritanya dia bisa melupakan bagaimana persahabatan itu. Cinta? bukanlah cinta kalau mendatangkan kerusakan, tak seharusnya dia tega memisahkan aku dan darah dagingku, bahkan dia berpura-pura mencari putraku. Seolah dia perduli kepada sahabatnya.


"Sayang, kamu ngelamunin apa?" Bagas mencondongkan wajahnya ke arah wajahku, sangat dekat. Aku tersadar dari lamunanku.


"Ngga apa-apa sayang, cuma kagum sama kamu, kita bisa makan dengan tenang hanya berdua di restoran semewah ini, seolah dunia bisa dibeli dengan uang."


Bagas tersenyum sembari wajahnya kembali maju mendekat pada wajahku, dia menyuapi sepotong cumi kemulutku dengan bibirnya, aku menyambutnya tanpa sungkan karena tak ada sesiapa pun disekitar kami.


Setelahnya kami saling menyuapi satu sama lain.


"Sayang, kamu mau ngga kalau setelah kamu melahirkan, kita ke Maldives lagi, mengulang bulan madu, yang dulu kan palsu." tanya Bagas antusias.


"Aku takut sayang, takut dikuntit Mafia seperti di Jepang."


Bagas tersenyum.


"Kita punya pasukan khusus saat ini sayang, kemampuan dan kesetiaan mereka 100x lebih dari Mafia Zankoku itu."


Aku mengangguk sembari menyuapi dia dengan potongan ikan yang di masak pais. Bagas dulunya tak begitu menyukai segala jenis ikan, karena takut tertelan tulang seperti masa kecilnya. Tapi sejak mulai kehamilanku, dia seperti kecanduan makan ikan favorite ku.


Selesai makan, kami segera kembali ke rumah. Aku men dapati Ratih dan Aryo duduk di ruang tengah, terlihat rona wajah mereka menyiratkan kesedihan.


"Kak, Ayah kembali koma, aku hendak pergi tapi pengawal melarang, katanya menunggu perintah Mas Bagas." isak Ratih, Aryo pun ikut menangis.


Aku dan Bagas saling bertukar pandang. Segera Bagas menghubungi Rumah Sakit. Tapi pihak Rumah Sakit mengatakan keduanya semakin membaik kondisinya, kedua orang tuaku dijaga oleh beberapa anggota kepolisian dan pengawalan ketat berlapis. Sempat ada insident seseorang menyamar sebagai perawat untuk masuk ke dalam ruangan keduanya, namun tertangkap dan kini sedang diinterogasi di kantor polisi.


"Ratih, Aryo, untung kalian tidak keluar sendirian, kalau tidak sudah pasti kalian pun akan di culik." Bagas mengatupkan giginya. Dia menahan marah kepada orang yang berusaha mencelakai keluargaku.


Baru saja hendak berangkat ke RS, teleponku berdering.


"Iya Bu, bagaimana kondisi ibu?" tanyaku khawatir.


"Ibu dijemput orang yang hendak membawa Ibu kepada Bagas dan kamu Ra, tapi ternyata mereka bukan suruhan kalian, beruntung saat ibu hendak diculik, pengawal kalian datang, sekarang ibu sedang bersiap untuk ikut mereka." ibu menunjukkan dengan mengarahkan kamera kepada pengawal yang bersamanya namun tanpa sadar aku dan Bagas berteriak spontan.


"Lari Bu mereka justru bukan utusan, yang merupakan utusan bertulis Black Shadow di punggung tangannya." Ibu terperanjat. Seketika pengawal gadungan yang sadar penyamarannya terbongkar hendak menangkap Ibu. Namun suara dari ponsel ibu yang masih aktiv vidio call terdengar teriakan Black Shadow.


Baku tembak terdengar cukup lama. Kami sangat tegang. Bagas mengepalkan tangannya. Beberapa saat kemudian ketua tim pengawal khusus Black Shadow yang terdiri dari orang-Orang tangguh bela diri bahkan sniper handal bergabung.


"Kami sudah mengamankan target kita Tuan, sekarang sudah kami lumpuhkan pengawal gadungan. Mereka anak buah Zakoku Mafia."


"Pertama kali kalian datang, kenapa lepas dan Ibu hampir dibawa mereka!" bentak Bagas dengan suara menggelegar.

__ADS_1


"Yang pertama kali datang bukan kami Tuan, tapi suruhan keluarga Tuan sendiri, Nyonya Subrata. Kami baru tiba setelah Zankoku yang menguasai Ibunya Tuan."


Bagas menampar meja di hadapannya. Tubuhnya mengigil menahan kemarahan luar biasa.


"Sayang, kendalikan emosimu. Aku mohon sayang." bisikku sambil membelai punggung Bagas. Bagas mengusap wajahnya. Kemudian mengambil air minum yang kuberikan. Diteguknya hanya sekali teguk.


"Cepat kalian bawa dengan keamanan berlapis. Jangan sampai pihak mana pun mencelakai Ibuku."


"Siap Tuan Rainhard. Kami segera bergerak."


"Buktikan kekuatan Black Shadow, saya menggelontorkan dana tidak kecil untuk membentuk tim kalian!"


"Kami akan lakukan yang terbaik Tuan!"


Setelah sambungan komunikasi terputus, Bagas memelukku erat.


"Aku takut Ibu dalam bahaya, beruntung kamu menceritakan segalanya sayang, setelah ku selidiki apa yang kamu ceritakan tentang masa lalu Ayah dan ibuku semuanya benar. Beruntung aku sempat mengirim tim 2 Black Shadow, kalau tidak, kita sudah kehilangan Ibu, dan aku akan menyesal seumur hidupku." Bagas menyusupkan wajahnya di leherku. Tubuh tinggi tegap dam gagah itu seakan begitu rapuh. Dia menyembunyikan wajahnya cukup lama di leherku.


Kami melanjutkan rencana mengunjungi Orang tuaku di Rumah Sakit. Ratih dan Aryo memilih tetap menunggui di Rumah sakit dan tak mau pulang bersama kami, tentunya dengan pengawalan yang sangat ketat.


Karena sudah malam, kami segera pulang. Bagas merangkul pinggangku sambil memasuki ruang tengah. Bagas memelukku ketat. Dia memiringkan kepala untuk menciumku ketika sebuah suara mengejutkan kami.


"Mama, Papa, Deva mau tidur sama Papa dan Mama." Deva menangis sambil membawa guling kecil yang selalu dibawanya sejak dia tiba di rumah ini. Bagas melepaskan pelukannya padaku.


"Kenapa anak Papa tiba-tiba cengeng?" Bagas membelai kepala Deva penuh sayang.


"Deva mimpi buruk Pa, Deva mimpi dicubitin dikurung dan dipukuli sama Om, dia bilang Deva anak setan."


Aku membelai kepala Deva.


"Om siapa nak?" tanya Bagas hati-hati.


"Om Genta," aku dan Bagas bertukar pandang dan sama-sama terperanjat. Tidak menyangka ternyata Genta pun tahu ulah ayah kandungnya. Rasa malu keluarga berdarah biru karena keturunannya dianggap tak layak membuat mereka memutuskan untuk melenyapkan seorang anak tak berdosa.


"Keluarga ningrat berdarah biru tapi kenyataannya berdarah comberan! tunggu saja giliran dia, saat ini fokusku sedang terbagi, saat semua sudah clear dia akan mendapatkan bagian yang setimpal, sehingga dia akan berlutut di kaki Deva untuk minta belas kasihan anak yang disia-siakannya." geram Bagas murka.


"Aku minta maaf sayang, kedatanganku ke dalam hidup kamu memberikan banyak guncangan." ucapku pelan.


Bagas menutup bibirku dengan telunjuknya.


"Kehadiran kamu dan Deva membuat hidupku lebih berarti sayang. Kehidupanku sudah penuh guncangan sejak aku kecil, justru keberadaan kamu yang telah memberikan warna, membuatku mengerti arti memiliki keluarga. Aku juga kagum betapa rukun dan penuh cinta tulus di dalam keluarga sederhanamu, membuatku sadar, harta bukan segalanya. Kalian bahkan hidup dalam kebahagiaan di dalam rumah cicak itu," sejenak Bagas terdiam.

__ADS_1


"Perjuangan kamu saat masih kuliah juga aku tahu Zara, saat dimana gadis seusia kamu berfoya dan menggantungkan hidup pada orang tua, kamu pontang panting mencari biaya kuliah bahkan untuk makan keluarga kecil kalian, luar biasanya, kamu lulus summa cumloud, bahkan saat ini di perusahaanku tak ada programer yang mampu mengalahkan kemampuan kamu sayang, kamu berkah di dalam hidupku, yang ku temukan tanpa sengaja, tapi memang Tuhan pilihkan untukku dengan cara tak biasa."


Uraian panjang lebar suamiku membuat perasaan bahagia menyeruak di kalbu ini. Dia lelaki yang tak pernah mau minta maaf saat bertengkar, dia tak mau mengatakan cinta meskipun dia melakukan hal lebih luas dari sekedar kata cinta.


Aku mengecup hidung mancungnya. Bagas tersenyum.


"Kita ke kamar sayang, Deva sudah terlelap."


"Mau kamu tidurkan dimana sayang?" tanyaku sedikit heran.


"Dia ingin tidur dengan kita sayang."


Aku menggeleng.


"Kembalikan ke kamarnya sayang. Nanti dia terbiasa minta tidur sama kita, kamu ngga keberatan?" tanyaku ragu.


Bagas menyentil ujung daguku.


"Kamu mau kita berduaan aja ya? gampang sayang, kita ...." aku tersipu karena Bagas memikirkan hal yang membuatku sedikit jengah dibuatnya.


"Bukan begitu sayang, kita tanamkan kebiasaan mandiri dan ...."


"Oke, nanti kalau dia sudah tenang, saat ini dia trauma, aku tahu bagaimana rasanya, karena sama sepertiku dulu sayang."


Aku mengangguk sambil membelai kepala Deva yang sangat lelap dipelukan Bagas.


Bagas meletakkan Deva di tempat tidur kami. Baru saja hendak membaringkan kepala di bantal masing-masing ketika pintu kamar diketuk.


"Tuan, Nona, maaf menganggu, di depan ada tamu, memaksa bertemu." suara Mrs Bianca menyeruak pendengaran kami.


Bagas mengatupkan rahangnya. Terlihat dengan jelas kekesalannya. Dia berjalan ke arah pintu kamar, membuka dengan tergesa.


"Kenapa tidak kamu minta datang lagi esok!"


"Sudah Tuan, tapi mereka mengaku sangat penting,"


"Dimana mereka?"


"Masih di pos keamanan Black Shadow di titik paling depan Tuan."


Bagas melagkah ke ruang tengah , kemudian dia membuka layar CCTV dan menganguk kepada Mrs.Bianca.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2