
Beberapa hari kemudian Alula mendapatkan telpon dari Tiara yang mengabarkan jika Ibu Rumi saat ini sedang berada di rumah sakit. Mendengar hal itu Alula bergegas menuju ke rumah sakit Medika Sejahtera di mana Tiara membawa ibu Rumi.
"Tiara bagai mana keadaan ibu ?" tanya Alula begitu ia sampai di ruangan UGD. Alula melihat ibu Rumi masih tidak sadarkan diri.
"Kak ibu. ." belum sempat Tiara menjelaskan, tiba-tiba dua orang perawat datang.
"Maaf, pasien harus segera di pindahkan ke ruang rawat. Silahkan nona mengurus administrasi di bagian pendaftaran." beritahu perawat itu.
"Baik." jawab Alula kemudian di segera pergi ke bagian pendaftaran untuk mengurus administrasi.
Setelah semuanya selesai, sekarang Ibu Rumi sudah di pindahkan ke ruang rawat. Sementara Alula pergi menemui dokter.
"Ibu anda harus segera di operasi jika tidak sel kankernya akan semakin menyebar dan semakin kecil peluang untuk sembuh." terang dokter yang merawat ibu Rumi.
"Dokter apa tidak ada jalan lain selain operasi ?" tanya Alula yang mencoba mencari alternatif lain karena biaya operasi kanker itu sangat mahal.
__ADS_1
"Ada. Dengan menjalankan kemoterapi." jawab dokter yang membuat Alula merasa sedikit lega.
"Tapi biayanya lebih mahal dan harus di lakukan di luar negeri." lanjut dokter itu lagi.
Wajah Alula kembali sendu setelah mendengarkan penjelasan dokter.
"Baik, dok. Terima kasih." kemudian Alula pergi dari ruangan dokter dengan segala macam pikiran di kepalanya.
Alula kemudian berjalan menuju bagian informasi menanyakan berapa biaya untuk operasi kanker. Dan seperti yang sudah ia duga, biayanya sangat mahal. Alula menghela napas panjang melihat saldo rekening miliknya.
Ini bahkan tidak cukup untuk biaya operasi. Bagai mana biaya sekolah anak-anak, biaya kehidupan sehari-hari mereka. Batin Alula.
"Ibu sudah sadar ?" tanya Alula sambil tersenyum melihat ibu Rumi.
"Kak, aku mau keluar sebentar mau beli minuman." pamit Tiara begitu melihat Alula datang. Sejak tadi ia merasa sangat haus.Tapi karena tidak mau meninggalkan ibu Rumi sendirian, Tiara terpaksa menunda keinginannya itu.
__ADS_1
"Lula jangan terlalu mengkhawatirkan ibu. Tidak perlu mendengarkan perkataan dokter." kata ibu Rumi yang sudah tahu jika dokter pasti menyarankan untuk melakukan operasi.
"Tapi, ibu harus segera di operasi. Jika tidak penyakitnya semakin parah. Ibu tenang saja, aku sudah punya uang yang cukup untuk biaya operasinya." kata Alula bohong. Bagaimanapun caranya Alula akan berusaha untuk mendapatkan uang itu.
"Tidak perlu, nak. Simpan saja uang itu untuk mu dan saudara-saudara mu. Mereka lebih membutuhkannya. Ibu ini sudah tua. Mungkin sudah saatnya ibu ..."
"Tidak. Ibu jangan bicara begitu. Ibu pasti akan sembuh." kata Alula cepat memotong perkataan ibu Rumi.
Sungguh Alula belum siap jika harus kehilangan ibu Rumi. Wanita yang ia anggap sebagai ibunya.
Hari semakin sore, Alula harus pulang sekarang. Ia harus tiba di apartemen sebelum Tom pulang. Ia tidak mahu mencari masalah dengan pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Alula berjalan di koridor menuju pintu keluar rumah sakit. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Sky sedang berjalan dari arah yang berlawanan. Alula segera menundukkan kepala agar Sky tidak melihatnya. Sungguh Alula sangat malu dan belum siap bertemu dengan pria itu setelah pertemuan mereka terakhir kali.
Alula terus saja berjalan dengan menunduk sampai ia merasa Sky sudah melewatinya. Saat Alula mengangkat kepalanya, ia begitu terkejut melihat Tom yang berdiri beberapa meter di depannya. Tom melihatnya dengan tatapan yang dingin. Sudah di pastikan pria itu sedang marah kepadanya.
__ADS_1
Alula masih terdiam di tempatnya berdiri dan bersiap menerima apa yang akan di lakukan oleh suaminya. Tapi, beberapa saat kemudian Tom berjalan melewatinya begitu saja. Tanpa menyapa dan mengatakan apa-apa.
Syukurlah. Batin Alula merasa lega.