
Seperti biasa tugas si sales menerangkan detail rumah yang sudah di pilih oleh kliennya termasuk juga harga dari rumah tersebut.
Alula menatap wajah Tom sambil menggeleng kecil untuk memberikan kode kepada pria itu bahwa dia tidak jadi memilih rumah itu. Mendengar nominal harga fantastis yang di sebutkan oleh penjual itu Alula begitu terkejut dan memutuskan tidak akan membelinya meskipun dia sangat ingin. Alula yakin Tom tidak akan sanggup untuk membelinya.
"Kita pilih yang lain saja." bisik Alula.
"Kenapa ?" Tom menatap intens wajah Alula.
"Harganya terlalu mahal." jawab Alula masih dengan berbisik karena tidak ingin orang lain mendengarnya.
Astaga, ternyata istri ku menganggap ku tidak mampu. Ucap Tom dalam hatinya.
"Kau menyukainya ?"
"Iya. Tapi harganya terlalu mahal."
"Tenang saja. Aku masih mampu membelinya untuk mu." ucap Tom sambil menarik pinggang ramping sang istri dan memeluknya.
__ADS_1
"Aku ambil yang ini." Tom mengambil kartu di sakunya dan menyerahkan kepada sales.
Tom membeli sebuah rumah seharga miliaran rupiah seperti membeli sepotong roti. Namun Alula tidak mau bertanya apa-apa lagi. Dia sudah melarang Tom untuk membeli rumah itu. Tapi Tom tetap membelinya. Jangan salahkan dia jika nanti Tom akan kehabisan uang.
Menjelang sore, mereka baru tiba di rumah. Alula begitu terkejut melihat ada beberapa orang di rumahnya. Tidak hanya ada Bastian dan pengasuhnya.
"Kalian sudah pulang ?" tanya Widya yang tengah menggendong Bastian.
Ya, Widya juga ada di sana. Karena khawatir dengan putranya, Tom menghubungi ibu tirinya untuk menyuruh dua orang pelayan menjaga Bastian karena mereka mungkin akan pulang terlambat.
Alula mengambilnya alih Bastian dari gendongan Widya.
"Mama tidak ingin mengganggu kalian. Lagi pula mama sangat rindu dengan Bastian." memang sudah lebih dari satu Minggu Widya tidak bertemu dengan cucunya.
Setelah Alula pulang, barulah bibi pengasuh Bastian pulang. Tom juga memberikan uang kepada wanita paruh baya itu sebagai bonus karena bekerja lebih waktu hari ini.
Tak lama kemudian, Widya dan dua orang pelayannya juga pulang. Ibu tiri Tom itu ingin memberikan banyak waktu luang kepada pasangan suami istri yang baru baikan.
__ADS_1
Pada sore harinya saat Alula selesai memandikan sang buah hati, ia begitu terkejut melihat dapur begitu berantakan.
"Astaga. Apa yang terjadi ?" tanyanya kepada Tom yang juga terlihat berantakan.
Pria itu memegang dua buah piring yang berisi makanan. Rupanya Tom sedang memasak makan malam untuk mereka sehingga membuat dapur jadi berantakan. Pria itu ingin membantu sang istri yang sudah repot menjaga putra mereka sejak tadi.
"Maafkan aku. Nanti aku bereskan." Tom meletakkan makanan yang sudah jadi itu di atas meja.
Selama ini Alula tidak pernah melihat Tom memasak sesuatu di dapur. Bahkan di apartemen pria itu dulu dapurnya sangat bersih dan rapi karena tidak pernah di pakai. Entah bagaimana rasa makanan yang dibuatnya itu. Apakah bisa di makan atau tidak.
Alula hanya menggelengkan kepalanya melihat apa yang di lakukan oleh suaminya. Ia kemudian mengambil satu botol ASI di lemari pendingin dan pergi dari sana untuk menidurkan Bastian di kamar.
Setengah jam kemudian setelah bayinya tidur, Alula keluar dari kamar dan melihat dapurnya kini sudah bersih. Di atas meja makan juga sudah tersusun dua macam makanan dan dua buah piring. Tom menyusunnya sama seperti yang biasa Alula lakukan dulu.
Bibir Alula tersenyum melihat itu. Seketika hatinya menghangat. Ternyata Tom ingat dan hafal apa yang selalu ia lakukan dulu. Meskipun hanya hal kecil seperti ini.
Tiba-tiba Alula terkejut ketika sepasang tangan melingkar di perutnya bersama dengan wangi maskulin yang cukup familiar menguar di indra penciumannya.
__ADS_1