
Melihat kondisi ibu Rumi yang sudah sangat lemah, Tom membawa ibu Rumi pergi ke rumah sakit. Seperti biasa, lagi-lagi dokter menyarankan agar Ibu Rumi segera di operasi. Tanpa berpikir panjang Tom langsung menyetujui dan mengurus semuanya.
Tom menghampiri Tiara yang sedang menjaga ibu Rumi.
"Boleh aku bertanya sesuatu pada mu ?" suara Tom terdengar menakutkan bagi Tiara. Gadis belia itu hanya mengangguk.
"Om mau bertanya apa ?" tanya Tiara dengan dengan takut.
Tom mengajak Tiara berbicara di depan ruang rawat ibu Rumi karena tidak ingin menganggu tidur wanita tua yang sedang sakit itu. Selain itu Tom tidak ingin Ibu Rumi mendengar apa yang akan ia tanyakan. Takut akan membuat Ibu Rumi khawatir kepada Alula.
"Kapan terakhir kali Alula datang ke rumah panti ?" tanya Tom dengan nada biasa. Tapi tetap saja auranya menyeramkan di mata Tiara.
"Em da dalam ti tiga Minggu yang lalu." jawab Tiara terbata karena takut.
"Ta tapi kak Lula da datang ke rumah sakit waktu ibu di rawat." lanjut gadis belia itu.
Kemudian Tom mengajukan beberapa pertanyaan tentang Alula kepada Tiara. Semakin kesini Tom menjadi semakin tahu bagaimana sifat wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Tom semakin merasa bersalah karena sudah salah menilai Alula. Tapi sayang, ketika dia mengetahui semuanya sekarang Alula sudah pergi meninggalkan dirinya.
Sementara itu di kediaman Samuel, Widya baru saja tiba di rumah. Wanita yang sudah hampir berusia lima puluh tahun itu langsung mencari Alula.
__ADS_1
"Lula, apa yang kau lakukan ?" tanya Widya terkejut saat melihat Alula ada di dapur membantu para pelayan yang sedang menyiapkan makan malam.
Selama ini Widya melarang Alula untuk melakukan pekerjaan apapun karena ia takut terjadi apa-apa kepada menantunya itu. Tapi Alula tetap saja merasa tidak enak, telah di beri tumpangan tempat tinggal namun tidak membantu pekerjaan rumah sama sekali.
"Maaf, Nyonya. Saya hanya membantu menyiapkan makan malam.''
Alula merasa sungkan kepada para pelayan karena merasa dia sebagai orang asing di perlakukan dengan istimewa oleh Nyonya Widya. Alula tidak ingin pelayan menjadi iri kepadanya. Padahal semua pelayan di sini sudah tahu jika Alula sebenarnya adalah menantu majikan mereka dan mereka semua harus merahasiakan hal ini dari Alula. Nyonya Widya juga memerintahkan para pelayan untuk selalu menjaga Alula.
"Sudah, tinggalkan saja dulu. Ada yang ingin saya tunjukkan pada mu." Nyonya Widya membawa Alula ke kamar wanita itu.
Saat Alula masuk ke dalam kamarnya, ia begitu terkejut melihat ada banyak paper bag.
"Ini baju-baju untuk mu." kata Widya sambil mengambil isi salah satu paper bag.
"Lihat ini. Baju khusus untuk ibu hamil." Widya menunjukkan kepada Alula.
"Terima kasih, Nyonya. Tapi ini terlalu banyak." kata Alula yang lagi-lagi merasa tidak enak menerima pemberian dari Nyonya Widya.
Tidak hanya baju, Widya juga membelikan sepatu, tas, jam tangan dan aksesoris lainnya. Semuanya dari merek terkenal. Dan pasti harganya sangat mahal.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Besok kan kau akan mulai kerja. Jadi membutuhkan pakaian yang baru." kata Widya dengan antusias.
"Terima kasih. Nanti setelah saya punya uang saya akan membayarnya." kata Alula yang tidak bisa menerima semua pemberian dari Widya.
"Lula, saya memberikan semuanya dengan ikhlas."
"Tapi ..."
"Tolong jangan menolak." Widya memohon dengan memegang tangan Alula.
"Saya tidak seberuntung diri mu yang bisa hamil dan melahirkan. Tuhan sudah mencabut nikmat itu dari ku." lanjut Widya dengan nada sedih ketika mengingat nasibnya yang tidak sempurna menjadi seorang wanita.
"Maaf telah membuat nyonya sedih." kata Alula tidak enak
"Tidak. Saya sudah ikhlas menerima takdir." Widya mengusap setetes air mata di pipinya.
"Mungkin Tuhan sengaja mengirim mu dalam kehidupan kami." kata Widya dengan tersenyum.
"Lula maukah kau menjadi putri ku ?" Widya menatap penuh harap pada Alula.
__ADS_1
Alula begitu terkejut mendengar apa yang baru saja Nyonya Widya katakan. Bagai mana bisa Nyonya Widya percaya begitu saja dengan orang asing seperti dirinya.