Istri Pemuas Nafsu

Istri Pemuas Nafsu
Ch. 28


__ADS_3

Siapa yang akan kita temani ?" tanya Alula dengan berbisik.


"Itu, dua orang pria yang sudah berumur dan yang berdiri itu asisten mereka." jawab Reva dengan berbisik juga.


"Halo, Mr. Gates. Mr. Kim." Reva menyapa kedua tamunya dengan tersenyum


"Perkenalkan saya Reva dan ini Alula." Alula mengangguk ketika Reva menyebut namanya.


Mr. Gates mengulurkan tangannya kepada Reva sedangkan Mr. Kim mengulurkan tangannya kepada Alula untuk bersalaman. Alula langsung menarik tangannya ketika Mr. Kim ingin mencium punggung tangannya. Sungguh Alula merasa tidak nyaman di perlakukan seperti itu.


Mereka berempat berbicara santai sambil menunggu teman bisnis Mr. Gates dan Mr. Kim datang. Kedua pria asing itu bertanya tentang hal-hal random yang ingin mereka ketahui tentang negara ini. Alula dan Reva pun menjawab apa adanya.


Lima belas menit kemudian orang yang di tunggu oleh Mr. Gates dan Mr. Kim datang dan mereka pun memulai membahas kerjasamanya. Alula dan Reva hanya duduk diam sambil mendengarkan. Kedua wanita itu tidak mengerti tentang dunia bisnis. Sesekali mereka memainkan ponselnya masing-masing untuk mengusir rasa bosan.


Hampir dua jam orang-orang itu membahas tentang kerja sama sampai akhirnya kedua belah pihak sepakat dan menandatangani kontrak kerjasama.


Syukurlah. Batin Alula ketika melihat teman bisnis Mr. Gates dan Mr. Kim telah pergi.


Kemudahan Mr. Kim memberikan sebuah amplop kepada Alula. Begitu juga dengan Mr. Gates memberikan amplop kepada Reva.


"Terima kasih sudah menemani." ucap kedua pria itu kepada Alula dan Reva.

__ADS_1


Alula langsung mengambil amplop itu dan memasukkan kedalam tasnya. Ia merasa senang karena mendapatkan uang yang lumayan banyak sesuai dengan apa yang Reva katakan.


"Maaf, saya permisi ke toilet sebentar." kata Alula yang sudah sejak tadi menahan ingin buang air.


Setelah selesai dengan urusannya, Alula menyempatkan diri memeriksa amplop yang baru saja ia terima.


"Wow. Uang dolar." gumam Alula.


Benar apa yang Reva katakan, mereka di bayar dengan uang dolar yang nilainya lima belas kali lebih besar dari rupiah.


"Ini rezeki untuk mu, nak." Alula mengusap perutnya. "Terima kasih karena telah membuat mama kuat."


Sepuluh menit kemudian Alula kembali. Reva dan yang lainnya masih duduk di sana. Alula duduk di tempatnya semula. Alula memberikan kode kepada Reva untuk segera pergi. Mereka sudah selesai menemani pengusaha itu melakukan pertemuan dan sudah pun mendapat bayaran. Begitu perjanjiannya.


Karena ingin cepat-cepat pergi Alula langsung menghabiskan minumannya dengan sekali tegukan. Setelah itu, Reva berbasa-basi untuk berpamitan kepada kedua orang tamunya. Alula dan Reva kemudian pergi lebih dulu dari ruangan VIP itu.


"Aku akan mengantar mu pulang." kata Reva sambil mereka berjalan keluar dari restoran.


"Tapi tunggu Bili datang menjemput kita. Karena aku tidak bawa mobil." tambah Reva lagi dan Alula menagnguk menurut. Reva memang sering mengantarkannya pulang.


Seorang pria yang sejak tadi menunggu Alula tidak jadi untuk menyapa wanita itu karena melihat Alula sedang bersama temannya. Pria itu kembali mengikuti Alula. Menunggu waktu yang tepat untuk menyapa.

__ADS_1


"Reva." panggil Alula yang tiba-tiba berhenti ketika merasakan pusing di kepalanya


"Alula kau kenapa ?" tanya Reva cemas melihat Alula memegang kepalanya. Reva langsung menahan tubuh Alula agar temannya tidak terjatuh.


"Kepala ku pusing." kata Alula yang merasakan kepalanya semakin berat.


"Astaga. Sebaiknya kau istirahat dulu." Reva memapah Alula untuk masuk ke dalam sebuah kamar hotel yang ada di sana.


Alula yang sedang kesakitan hanya menurut. Alula tidak sempat berpikir bagaimana bisa dengan mudahnya Reva masuk kedalam kamar hotel tanpa melakukan cek in di resepsionis terlebih dahulu.


Pria yang sejak tadi mengikuti Alula merasa ada yang aneh. Apa lagi saat melihat seperti terjadi sesuatu kepada Alula.


Beberapa saat kemudian Reva keluar dari kamar. Ia mengatakan kepada Alula untuk mencari obat. Reva mengambil ponsel dari tasnya untuk menghubungi seseorang.


"Anda boleh datang sekarang. Di kamar nomor 555." Reva tersenyum smirk karena rencananya untuk menjebak Alula kali ini berhasil.


Alula tidak mungkin bisa melarikan diri karena saat ini kepalanya sedang pusing dan tidak ada siapapun yang akan membantunya. Karena tidak ada yang mengetahui Alula ada disini. Mr. Kim yang masih berada di restoran sebentar lagi akan tiba.


"Aduh." Reva meringis ketika menabrak troli pakaian yang sedang di bawa staf hotel.


"Dasar babu. Kalau kerja itu pakai mata !" bentak Reva memarahi staf hotel itu. Padahal salahnya sendiri yang berjalan tidak melihat kiri dan kanan.

__ADS_1


"Maaf, nona. Saya tidak sengaja." pria yang memakai seragam hotel itu membungkuk meminta maaf meskipun itu bukan kesalahannya.


Reva tidak menggubris permintaan maaf staf hotel rendahan itu. Dia pun langsung pergi masuk ke dalam lift dengan perasaan kesal.


__ADS_2