
Setelah tiga hari berada di Bali akhirnya Tom kembali ke Jakarta. Percuma jika Tom terus memaksakan diri untuk bertemu dengan Alula, karena akan berpengaruh terhadap kesehatan mental Alula. Untuk sementara dokter meminta Tom tidak menampakkan diri di depan Alula. Widya dan Samuel juga berjanji akan menjaga Alula dan anaknya dengan baik selama Tom pulang ke Jakarta.
Meskipun Tom begitu membenci Samuel tapi demi Alula , Tom terpaksa menuruti saran dari ayah dan ibu tirinya.
Satu minggu kemudian, Alula sudah di perbolehkan pulang bersama bayinya. Samuel juga mencarikan dokter dan perawat khusus untuk merawat bayi Alula di rumah.
Setiap pagi setelah dimandikan, Widya akan membawa bayi Alula untuk berjemur di bawah sinar matahari pagi. Setelah Alula membersihkan diri dan sarapan, Alula kembali mengambil bayinya.
"Kau sudah memiliki nama untuk bayi mu ?" tanya Widya sambil menyerahkan bayi itu ke pada ibunya.
"Sudah, ma. Namanya Bastian." kata Alula menatap wajah putranya yang begitu mirip dengan Tom.
"Bastian. Nama yang bagus." kata Widya setuju.
Bastian Parera. Tambah Widya dalam hati.
__ADS_1
"Apa kau tidak ingin bertemu dengan ayahnya ?" tanya Widya lagi yang membuat wajah Alula tiba-tiba berubah sendu.
"Untuk saat ini aku belum siap, ma." lirih Alula.
"Bagaimana jika dia berhasil menemukan kalian ?" tanya Widya lagi.
Alula terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Benar apa yang di katakan oleh Widya. Cepat atau lambat Tom pasti akan menemukannya. Alula cukup tahu bagaimana sepak terjang Tom selama ini sebagai asisten Sky.
Sementara itu jauh di tempat Alula berada, saat ini Tom sedang duduk di kursi kerjanya sambil melihat layar ponselnya. Tom menghela napas berat melihat reaksi Alula ketika Widya bertanya tentangnya.
Ya, Tom bisa melihat langsung kegiatan Alula di kamarnya melalui CCTV yang ada di kamar Alula. Samuel sengaja memasang CCTV itu dan langsung terhubung ke ponsel Tom. Semua itu Samuel lakukan untuk mengambil hati sang putra yang selama ini membencinya.
Seperti biasa setiap pagi Widya datang ke kamar Alula untuk melihat cucunya. Namun hari ini Widya terkejut ketika masuk ke kamar Alula.
"Apa ini ?" tanya Widya ketika melihat dua buah koper sudah tersusun rapi di samping pintu kamar.
__ADS_1
"Ma, hari ini aku ingin pindah ke rumah kontrakan yang kemarin aku ceritakan." jawab Alula santai tanpa ia menyadari sudah membuat Widya begitu panik.
Alula memang sudah beberapa kali mengatakan kepada Widya, jika dia akan mencari tempat tinggal sendiri setelah melahirkan. Namun Widya tidak menyangka akan secepat ini Alula ingin pergi.
"Terima kasih sudah mau mengizinkan aku tinggal di sini." ucap Alula tulus dari dalam hatinya.
Alula tidak tahu bagaimana nasibnya jika tidak bertemu dengan Widya dan Samuel. Sudah pasti dia menjadi gelandangan atau mungkin masih tersiksa dalam pernikahannya.
"Apa ini tidak terlalu cepat ? bagaimana dengan Bastian jika kau pergi bekerja ?" tanya Widya yang sengaja mencari alasan untuk menahan Alula agar tetap tinggal di sini.
"Ma aku sudah mencari pengasuh untuk menjaga Bastian." jawab Alula yang memang sudah mempersiapkan semuanya sebelum ia melahirkan. Mulai dari mencari rumah kontrakan yang dekat dengan tempatnya bekerja dan juga pengasuh untuk putranya.
"Tapi ..." Widya tidak bisa meneruskan kalimatnya ketika seorang pelayan datang.
"Nyonya, Tuan meminta anda untuk menemuinya di ruang kerja sekarang." kata pelayan itu.
__ADS_1
"Lula, kau jangan pergi dulu. Tunggu sampai urusan mama selesai. Karena mama ingin ikut mengantar mu." pesan Widya sebelum keluar dari kamar Alula.
Sementara itu di ruangan kerja Samuel, sudah ada Tom yang terlihat tidak sabar ingin bertemu dengan Alula. Tom sengaja datang dari Jakarta pukul lima pagi karena melihat dari CCTV, Alula mengemasi pakaian dan barang-barang miliknya. Tom takut Alula pergi dan Tom tidak ingin kehilangan Alula lagi.