Istri Pemuas Nafsu

Istri Pemuas Nafsu
Ch. 50


__ADS_3

Tom merasa begitu bahagia sekaligus terharu saat pertama kali menggendong putranya. Ditatapnya penuh cinta kepada bayi laki-laki yang kini berusia dua bulan itu. Seakan dapat merasakan hubungan dengan sang ayah, bayi itu pun terlihat senang berada dalam gendongan Tom.


Ya, sebelum Tom pergi, ia meminta izin kepada Alula untuk bisa bertemu dengan putranya. Meskipun merasa takut, tapi Alula juga tidak tega untuk melarang Tom menemui anaknya. Lagi pula di sini masih ada Widya dan Samuel, tidak mungkin Tom akan membawa kabur bayinya.


"Papa sangat bersyukur Tuhan telah menghadirkan mu dalam hidup papa." Tom mencium kening putranya dengan penuh rasa sayang.


"Terima kasih sudah melahirkan putra kita." Alula terbelalak ketika tiba-tiba Tom mencium pipinya. Sehingga membuat Alula terkejut sekaligus malu karena Tom menciumnya tepat di hadapan Widya dan Samuel.


Widya dan Samuel merasa senang melihat keluarga kecil anak menantunya itu. Mereka berharap agar Alula mau memaafkan Tom dan kembali hidup bersama demi kebahagiaan cucu mereka yang masih kecil itu.


Setelah puas memeluk dan mencium putranya, Tom menyerahkan kembali bayi itu kepada Alula. Seperti yang telah ia katakan tadi, Tom langsung pergi meskipun merasa tidak rela untuk berpisah dari istri dan anaknya.


Hari itu juga Tom pulang ke Jakarta karena masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Tapi mungkin dalam beberapa hari lagi Tom akan datang lagi ke Bali untuk menemui Alula dan anaknya. Dan Tom tidak akan pernah berhenti melakukan itu sampai Alula mau kembali kepadanya.


Kedatangan Tom tadi, tak membuat Alula mengurungkan niatnya untuk pindah. Meskipun Widya sudah berusaha menahan Alula, namun Alula tetap keukuh dengan keputusannya. Widya pun terpaksa harus menghormati keputusan Alula. Tapi, tentu saja Widya tidak akan membiarkan menantu dan cucunya itu begitu saja. Ia sudah menempatkan beberapa orang di sekitar tempat tinggal Alula yang baru untuk menjaga keselamatan mereka.


"Bibi, aku berangkat kerja dulu. Ingat, jangan bukakan pintu jika ada orang tidak dikenal." pesan Alula kepada seorang wanita yang berusia sekitar empat puluhan, yang merupakan pengasuh putranya.

__ADS_1


"Baik, nyonya." jawab wanita itu yang langsung mengunci pintu begitu Alula pergi.


Meskipun merasa khawatir meninggalkan anaknya tapi Alula harus tetap bekerja. Memang sejak dulu dia sudah terbiasa bekerja keras. Ia tidak bisa berharap kepada orang lain. Apa lagi kepada Tom.


Beberapa hari sudah berlalu, namun kekhwatiran Alula tidak pernah terjadi. Sekalipun Tom tidak pernah datang. Baik menemuinya atau pun menemui anaknya. Sampai di mana saat tiba akhir pekan.


Alula begitu bahagia karena bisa menghabiskan waktu seharian bersama sang putra. Alula baru saja selesai makan malam setelah menidurkan Bastian ketika seseorang mengetuk pintu rumahnya.


Alula terkejut melihat Tom berdiri di depan pintu rumahnya. Seketika Alula menjadi takut. Namun ia menyembunyikan ketakutannya itu.


Tom tetap tersenyum meskipun tidak mendapat sambutan yang menyenangkan dari sang istri.


"Aku ingin melihat keadaan kalian." jawab Tom jujur.


"Boleh aku masuk ?" tanya Tom karena Alula sepertinya tidak berniat untuk menerima kedatangannya.


Alula mengangguk setelah melihat penampilan Tom dari atas sampai ke bawah. Pria yang merupakan suaminya itu terlihat sedikit lusuh dan tampak lelah di wajah tampannya.

__ADS_1


Ya, Tom memang sedang lelah karena baru saja pulang kerja pukul lima sore tadi dan langsung pergi ke bandara berangkat ke Bali untuk bertemu dengan istri dan anaknya.


"Terima kasih." Tom menyerahkan dua buah paper bag yang ia bawa kepada Alula. Kemudian ia membuka sepatutnya sebelum masuk ke dalam rumah.


Alula meletakkan paper bag itu di atas meja ruang tamu. Alula tidak bertanya apa isinya dan untuk siapa meskipun sebenarnya ia penasaran.


"Itu untuk mu dan satunya lagi untuk anak kita." kata Tom meskipun Alula tidak bertanya.


"Lain kali tidak perlu melakukannya. Kami tidak membutuhkan apa pun dari mu." kata Alula yang membuat hati Tom mencelos.


Tapi Tom tidak tersinggung atau marah. Itu pantas untuknya mengingat sikapnya kepada Alula dulu.


"Aku.. " belum sempat Tom meneruskan kalimatnya terdengar suara keroncongan yang berasal dari perutnya.


"Aku lapar. Apa kau punya makanan ?"


Alula mendelik mendengar pertanyaan Tom yang minta makanan di rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2