Istri Pemuas Nafsu

Istri Pemuas Nafsu
Ch. 44


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu. Tapi, Tom masih juga belum datang untuk menjemput Alula. Bukan Alula yang menunggu. Melainkan Samuel dan Widya.


"Sam, kau yakin dokter itu memberikan kepada Tom ?" untuk kesekian kalinya Widya menanyakan tentang amplop yang sengaja ia siapkan untuk putra sambungnya itu.


"Aku yakin, Widya. Dokter Alensky orang yang bisa di percaya. Aku mengenalnya." kata Samuel yakin jika Sky telah memberikan amplop itu kepada Tom.


Hanya saja Samuel tidak tahu apa alasan Tom masih belum datang untuk menjemput Alula. Padahal yang Samuel tahu selama ini Tom berusaha mati-matian mencari Istrinya itu.


Mungkin benar apa yang Widya katakan. Tom dan Alula sedang ada masalah dalam hubungan pernikahan mereka. Seperti yang Alula ceritakan kepada Widya.


Sepasang suami istri itu langsung berhenti berbicara begitu melihat Alula berjalan kearah mereka.


"Alula, kau kenapa sayang ?" tanya Widya yang terkejut melihat wajah Alula pucat dan lesu.


"Tadi malam aku tidak bisa tidur. Perut ku terasa keram dan mulas, ma." jawab Alula sambil menyusut perutnya.

__ADS_1


"Astaga. Mengapa kau tidak memberitahu mama." kata Widya panik takut Alula sudah ingin melahirkan.


"Sam, ayo kita bawa Alula ke rumah sakit." Widya tergesa-gesa berjalan menuju Alula. Ingin segera membawa menantunya ke rumah sakit karena takut terjadi apa-apa kepada menantu dan cucunya.


"Tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Tidak perlu ke rumah sakit." kata Alula yang merasa bersalah telah membuat semua orang cemas.


Alula sesekali memang masih merasakan tidak nyaman pada perutnya. Tapi tidak separah tadi malam yang membuatnya tidak bisa tidur. Seperti yang dokter Sinta katakan, semakin besar usia kehamilan maka akan semakin sering terjadi keram dan kontraksi palsu. Karena itu Alula tidak terlalu cemas. Menurut dokter hari perkiraan lahiran masih satu bulan lagi.


"Tidak. Kita harus pergi untuk memeriksa kandungan mu." kata Widya dan tidak bisa di bantah. Detik itu juga mereka langsung pergi tanpa menyentuh sarapan pagi yang sudah tersedia di atas meja.


"Dokter, bagaimana keadaan Alula ?" tanya Widya kepada dokter Sinta setelah memeriksa keadaan Alula.


Meskipun sudah terbiasa menghadapi situasi pasien seperti ini. Tapi kali ini dokter Sinta sedikit gugup. Karena Alula adalah menantu dari pemilik rumah sakit tempatnya berkerja selama ini.


"Dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk menantu dan cucu ku." pinta Widya yang merupakan perintah untuk dokter Sinta.

__ADS_1


"Tentu, Nyonya. Kami akan melakukan yang terbaik." jawab dokter Sinta.


*


Tom membuang napas kasar dan menutup berkas laporan di depannya. Entah mengapa sejak tadi pagi ia tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja. Perasaan Tom merasa tidak tenang dan cemas. Tapi ia tidak tahu apa yang sedang ia cemaskan. Sampai Tom terpaksa membatalkan agenda rapat siang ini.


"Luna, batalkan rapat siang ini." perintah Tom begitu Luna masuk ke dalam ruangannya.


"Baik, Tuan."


"Siapkan berkas untuk di tandatangani tuan Sky."


"Ah, ini berkasnya. Sudah saya siapkan." Luna meletakkan berkas yang ia bawa di atas meja Tom.


Tom melihat jam di tangannya. Waktunya untuk menjemput Sky di rumah sakit dan mengantar tuannya itu pulang. Begitu tiba di rumah sakit, Tom ingin mengambil berkas yang ia bawa tadi. Biasanya ia letakkan di atas dasboard mobil. Namun hari ini tidak ada. Tom benar-benar kacau sampai ia lupa dimana ia meletakkan berkas itu.

__ADS_1


Tom lalu membuka laci mobil dan mengkerutkan keningnya ketika melihat sebuah amplop.


"Apa ini ?" Tom yang merasa penasaran lalu membuka amplop itu.


__ADS_2