
Hari berlalu bulan pun berganti. Namun pencarian Alula masih belum membuahkan hasil.
"Aku rasa istri mu memang sengaja di sembunyikan." kata Leon kepada Tom.
Saat ini Tom dan Leon sedang berada di sebuah bar. Sejak Alula pergi membawa calon bayinya yang masih dalam kandungan, Tom yang dulunya tidak pernah minum alkohol kini mulai berani datang ke bar dan minum minuman laknut itu sehingga mabuk untuk menghilangkan kesedihannya.
"Mengapa kau berpikir begitu ?" tanya Tom kepada temannya yang merupakan asisten Melvin. Sepupu dari Tuannya.
"Mungkin kau punya musuh." Leon menggedikan kedua bahunya.
Leon sudah mengerahkan semua orang suruhannya. Tapi sudah lebih dari dua bulan mereka belum mendapatkan petunjuk apa pun tentang Alula.
"Entahlah. Tapi aku merasa tidak punya musuh." Tom menghabiskan sisa minuman di gelasnya. Lalu ia memanggil bar tender untuk menuangkan lagi minuman alkohol itu.
"Cukup Tom. Minuman tidak akan menyelesaikan masalah." Leon segera mengambil gelas yang berisi alkohol dari tangan Tom.
__ADS_1
Meskipun besok hari libur, Leon tidak akan membiarkan Tom mabuk. Karena tidak baik untuk kesehatan dan gaya hidup. Leon memutuskan untuk membawa Tom keluar dari bar dan akan mengantarkan temannya itu pulang. Karena kini Tom terlihat mulai mabuk dan berbicara tidak jelas menyebut nama wanita yang telah meninggalkan dirinya.
"Alula kau di mana ? jangan tinggalkan aku. Aku janji akan memberikan semua yang kau inginkan. Aku mohon kembalilah. Kita akan membesarkan anak kita bersama. Ku mohon Alula." racau Tom sambil terisak.
Sementara Leon yang sedang mengemudikan mobil hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Tom yang sedang mabuk.
*
Di rumah sakit Dharma Santhi, Denpasar Bali.
Alula tersenyum bahagia melihat layar monitor yang memperlihatkan aktivitas bayi dalam kandungannya saat sedang melakukan USG.
"Lula, apa kau tidak mau mengabarkan pada suami mu ?" tanya Widya.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit. Hanya berdua saja. Sedangkan Samuel masih sibuk dengan pekerjaannya.
__ADS_1
Alula hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Sampai kapan pun dia tidak akan pernah memberitahukan keberadaannya kepada suaminya. Alula takut Tom akan mengambil anaknya dan memisahkan darinya.
"Mama tidak tahu apa yang terjadi pada rumah tangga kalian sebelumnya. Tapi seorang anak tetap membutuhkan kasih sayang seorang ayah." kata Widya lagi.
Ya, sejak meminta Alula untuk jadi putri angkatnya, Widya membahasakan dirinya dengan sebutan mama kepada Alula.
"Aku takut dia akan mengambil anak ini dari ku, ma. Aku tidak mau berpisah dengan anak ku." Alula mengusap perutnya yang semakin membesar. Sekarang usia kehamilannya sudah tujuh bulan.
"Mengapa kau bicara seperti itu ? suami mu pasti sangat mengkhawatirkan mu." kata Widya yang merasa kasihan kepada putra sambungnya, Tom.
Selama dua bulan lebih Samuel telah menyembunyikan Alula, Tom begitu bekerja keras untuk mencari keberadaan istrinya itu. Widya memang mengetahui bagaimana keadaan Tom karena Samuel telah menyuruh orang untuk selalu mengawasi putranya.
Lagi-lagi Alula tersenyum getir mendengar apa yang di katakan oleh Widya. Tom mungkin mengkhawatirkannya hanya karena bayi yang sedang ia kandung sekarang. Bukan karena mencintainya.
"Dia hanya mengkhawatirkan bayi ini, ma. Dia sama sekali tidak peduli pada ku. Bahkan dia menganggap ku wanita jahat dan licik." Alula mengingat bagaimana Tom menghina dan memperlakukannya dulu.
__ADS_1
Sedikit demi sedikit Widya mulai mengerti apa yang terjadi pada pada rumah tangga Alula dan Tom. Mungkin hanya terjadi kesalahpahaman antara mereka berdua dan keduanya sama-sama egois.
Ah, anak muda selalu begitu. Batin Widya.