
"Reva." Alula terkejut melihat Reva berdiri di belakangnya.
Sudah satu bulan sejak malam itu, Reva tidak bertemu dengan Alula. Di studio pun Alula tidak pernah datang. Tentu saja Reva tidak akan melepaskan kesempatan kali ini untuk mencari tahu apa yang terjadi kepada Alula.
"Alula sudah lama sekali kita tidak bertemu." kata Reva sambil memeluk Alula.
"Iya." balas Alula.
"Aku dengar kemarin kau liburan ke Bali ?" tanya Alula hanya sekedar berbasa-basi.
"Iya. Apa kau sudah selesai belanja ? ayo, kita pergi ke cafe. Ada yang ingin aku ceritakan kepada mu." ajak Reva.
Alula segera menyudahi kegiatan belanjanya. Kemudian mereka pergi ke cafe yang tidak jauh dari sana. Reva menceritakan tentang liburannya di Bali bersama Bili.
"Sayang sekali kau tidak ikut. Padahal aku sudah menyiapkan tiket untuk mu. Tapi kau tidak bisa di hubungi." kata Reva pura-pura menyesal.
Memang benar hari itu Reva menghubungi Alula. Tapi nomor Alula tidak aktif karena ponselnya kehabisan daya. Saat itu Alula terkurung di apartemen Tom.
"Ponsel ku mati. Aku lupa meletakkan casannya di mana." bohong Alula.
"Kau tahu, aku sangat mengkhawatirkan mu. Malam itu kau mabuk dan tidak sadarkan diri. Aku takut seseorang membawa mu dan melakukan hal yang tidak-tidak." kata Reva yang ingin mencari tahu tentang apa yang terjadi kepada Alula malam itu.
Reva yakin pasti sudah terjadi sesuatu karena ia telah mencampurkan obat perangsang ke dalam minuman Alula. Dan Alula harus segera melampiaskan hasratnya. Jika tidak Alula akan menanggung sakit akibat efek obat tersebut.
__ADS_1
Alula terkesiap mendengar apa yang di katakan oleh Reva. Benar, seseorang telah membawanya dan melakukan yang tidak-tidak kepadanya.
"Kau tenang saja. Teman ku mengantarkan aku sampai ke apartemen." jawab Alula menyembunyikan kebenarannya.
"Apa kau tidak merasakan sesuatu ?" tanya Reva menyelidik.
"Merasakan apa ? aku tidak tahu. Begitu sampai di apartemen aku langsung tidur." jawab Alula lagi-lagi berbohong.
Sungguh Alula belum siap untuk menceritakan semuanya. Menceritakan tentang pernikahannya kepada siapapun. Termasuk Reva
"Baguslah. Orang mabuk memang biasa begitu." balas Reva.
Meskipun ia tahu Alula berbohong, tapi Reva tidak ingin menanyakan lebih lanjut karena takut Alula curiga.
"Lula. Alula." Reva memanggil-manggil Alula karena temannya itu melamun melihat ke arah pintu masuk.
Reva mengikuti arah pandang Alula, tapi tidak ada siapa-siapa di depan pintu masuk cafe.
"Alula." Reva menyentuh tangan Alula untuk menyadarkan wanita itu. Pasalnya sudah dua kali Reva memanggil tapi Alula tidak mendengarnya.
"Ah. Iya. Ada apa ?" jawab Alula terkejut.
"Kau tadi bicara apa ?" tanya Alula yang memang tidak mendengar apa yang di katakan oleh Reva. Karena fokusnya tadi melihat sepasang laki-laki dan perempuan yang baru saja masuk ke dalam cafe.
__ADS_1
"Kau lihat apa sampai tidak mendengar apa yang aku katakan ?" tanya Reva yang masih clingak clinguk mencari seseorang yang mencuri perhatian Alula. Tapi, sepertinya tidak ada.
"Tidak ada. Lupakan saja." kata Alula.
Tengah asik bercerita tiba-tiba ada bunyi pesan masuk di ponsel Reva.
"Alula, aku harus pergi sekarang. Sebentar lagi aku akan melakukan pemotretan di taman. Sampai jumpa." pamit Reva.
Mereka berpelukan sebelum berpisah. Reva dan Alula terlihat begitu akrab seperti sahabat baik. Padahal kenyataannya tidak. Reva bukanlah seorang teman yang baik untuk Alula.
Setelah Reva pergi Alula mengalihkan pandangannya ke arah pria yang duduk di pojokan. Seketika pandangan mereka bertemu.
Sejak tadi pria itu menatap tajam kearah Alula dan Reva. Dia tidakdak suka melihat wajah Reva yang pura-pura baik di hadapan Alula.
"Tuan, Tuan."
Wanita yang duduk di depan pria itu terpaksa menyentuh tangan pria yang di panggilnya Tuan itu. Karena sudah beberapa kali ia memanggil tapi tidak digubris.
Pria itu tidak lain adalah Tom, di temani oleh asistennya Lucy. Mereka sedang menunggu klien yang ingin memesan produk alat-alat kesehatan.
"Mereka minta maaf karena terlambat dan memohon agar kita tidak membatalkan pertemuan ini." kata Lucy setelah Tom mengalihkan pandangannya.
Tom hanya mengangguk kemudian ia mengalihkan pandangan lagi ke arah Alula. Namun istrinya itu langsung pergi tanpa melihat ke arahnya.
__ADS_1