
Alula memaksa membuka matanya yang masih terasa begitu berat. Namun seketika matanya melebar sempurna. Hilang sudah rasa kantuknya ketika tidak melihat Bastian di tempat tidur. Pikiran Alula langsung teringat kepada Tom. Membuat perasaan Alula menjadi takut dan cemas.
Alula langsung menyibak selimut dan segera turun dari tempat tidur untuk mencari putranya. Tidur larut malam membuatnya terlambat bangun. Ini bahkan sudah hampir jam sembilan pagi. Namun belum sempat kakinya melangkah, pintu kamar tiba-tiba di buka dari luar.
Alula menghembus napas lega ketika melihat Tom masuk ke kamar bersama Bastian. Pria itu terlihat tidak canggung sama sekali menggendong bayi kecil yang baru berusia dua bulan lebih.
Tom meletakkan jari telunjuk di mulutnya. Memberi isyarat untuk diam. Tom sendiri berjalan dengan langkah pelan dan hati-hati menunju tempat tidur agar tidak membangunkan Bastian yang ternyata tengah terlelap di gendongan sang ayah.
Bayi kecil itu sudah wangi dan berganti pakaian. Apa mungkin Tom yang melakukannya. Memandikan, mengganti popok dan memberikan susu formula pada bayinya itu. Karena jika Alula tidak bekerja maka pengasuh Bastian juga tidak datang.
Setelah memastikan sang bayi tidur dengan nyenyak, Tom menarik tangan Alula untuk keluar kamar.
"Apa kau yang memandikan dan mengganti popoknya ?" Alula menarik tangannya dari genggaman Tom begitu mereka keluar dari kamar.
"Hemm, ya." Tom berbalik menghadap Alula.
__ADS_1
"Kenapa ?" sepertinya Alula tidak percaya jika dia bisa melakukan itu.
"Terima kasih." ucap Alula kemudian ia pergi menuju dapur.
Rasanya Alula tidak percaya seorang pria dingin dan kaku yang kesehariannya hanya bekerja dan bekerja bisa mengasuh bayi kecil yang masih begitu lembut. Sungguh tidak bisa Alula bayangkan bagaimana Tom melakukan itu semua. Tapi, melihat dari caranya menggendong sang putra tadi memang tidak terlihat canggung.
Hampir satu jam Alula berkutat di dapur menyiapkan makanan, sementara Tom duduk di sofa ruang tamu bersama laptopnya. Entah apa yang di kerjakan oleh pria itu meskipun hari ini merupakan hari libur. Sesekali Tom masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan Bastian.
Bayi kecil itu sepertinya tidur sangat nyenyak. Bayi yang berusia di bawah empat bulan memang tidur lebih banyak dengan durasi yang lama. Sehingga sang ibu bisa mengerjakan pekerjaan lain seperti memasak dan mengemas rumah.
Meskipun Alula tidak melihat ke arahnya saat bicara, tapi Tom tau kalimat itu di tujukan Alula padanya.
Setelah mengatakan itu Alula langsung masuk ke kamar ingin melihat putranya yang sejak tadi tidur. Beberapa saat kemudian Alula kembali keluar kamar dan menuju dapur. Sementara Bastian masih tidur, sebaiknya dia makan dulu.
Saat tiba di dapur ia melirik Tom sedang menggambil dua buah piring dan meletakkan di atas meja. Ini sudah lewat jam sepuluh. Mereka baru akan sarapan sekaligus makan siang.
__ADS_1
"Kapan kau akan pergi ?"
Tom menghentikan makannya mendengar pertanyaan Alula. Pertanyaan itu seperti sebuah pengusiran secara halus untuknya. Meskipun merasa tersinggung namun Tom tetap tersenyum.
"Siang ini." jawab Tom kemudian melanjutkannya lagi makannya.
Sebenarnya Tom ingin pulang ke Jakarta besok sore ini. Hanya saja ia harus memastikan persiapan acara syukuran atas kelahiran bayi majikannya, Sky dan Ana yang akan di adakan malam ini. Istri tuannya itu melahirkan tiga Minggu setelah Alula melahirkan.
"Baguslah. Lebih cepat lebih baik." Alula menyudahi makanya meskipun makanan di piringnya belum habis.
Alula langsung pergi ke kamar setelah meletakkan piring ke westafel. Seharusnya dia merasa senang Tom cepat pergi dari rumahnya. Namun sekarang Alula malah merasakan perasaan lain di relung hatinya.
Tom menghela napas panjang. Sepertinya Alula benar-benar mengharapkan ia segera pergi sehingga menimbulkan perasaan kecewa dalam hatinya. Tapi, ia tidak boleh menyerah. Ia harus lebih berusaha lagi untuk meluluhkan hati wanita yang menjadi ibu dari anak-anaknya.
"Aku tidak akan menyerah, sayang."
__ADS_1