
Keesokan harinya Alula bersiap seperti biasa ingin pergi bekerja. Begitu pula dengan Tom.
"Kau mau kemana ?" tanya Alula melihat Tom sudah berpakaian rapi dengan setelan jas formal.
"Tentu saja aku ingin pergi bekerja." jawab Tom santai.
"Aku sudah menyiapkan air hangat." ucap Tom lagi sambil menunjuk sebuah baskom tempat Bastian mandi.
Alula tidak menyahut atau pun berterima kasih. Ia masih tidak percaya dengan perubahan sikap Tom yang sekarang. Pria itu kini terlihat begitu perhatian dan pengertian kepadanya.
Sebenarnya Alula ingin bertanya apakah Tom benar-benar akan bekerja di sini dan bagaimana dengan pekerjaannya sebagai asisten Sky. Namun ia tidak punya banyak waktu untuk melakukan itu karena ia harus segera memandikan Bastian.
Pukul tujuh kurang sepuluh menit, Bibi pengasuh Bastian datang. Wanita paruh baya itu terlihat terkejut melihat seorang pria tampan di rumah Alula.
"Bi, ini ayahnya Bastian." Alula mengenalkan Tom lebih dulu.
"Suami ku." tambah Alula cepat ketika melihat Bibi masih kebingungan.
__ADS_1
Mungkin wanita paruh baya itu sempat berpikiran yang tidak-tidak. Karena selama satu bulan menjadi pengasuh Bastian, Alula belum pernah menceritakan apa pun tentang ayah dari anaknya itu.
"Selamat pagi, tuan." Bibi memberi hormat dan Tom hanya membalas dengan anggukan disertai dengan wajah datar seperti biasanya.
Ya, sikap Tom berubah hanya di hadapan Alula. Sedangkan kepada orang lain pria itu tetap sama menjadi seorang yang dingin, kaku dan datar.
"Bi, kami pergi dulu. Titip Bastian ya." kata Alula sebelum meninggalkan rumah.
"Masuklah, aku akan mengantar mu." Tom membukakan pintu mobil.
"Tidak perlu. Aku bisa jalan sendiri." tolak Alula.
Biasanya Alula jalan kaki hanya beberapa menit pulang pergi ke sekolah tempatnya bekerja.
"Masuk atau aku akan mencium mu di sini." ancam Tom.
Baru saja beberapa puluh menit yang lalu pria itu bersikap lembut kepadanya. Sekarang sudah kembali lagi ke mode suka memaksa. Mungkin Tom hanya pura-pura bersikap baik padanya. Sungguh Alula merasa menyesal sudah memberi kesempatan kepada Tom kemarin.
__ADS_1
Tak ingin membuat keributan di pagi hari akhirnya dengan terpaksa dan wajah yang masam Alula menurut perintah Tom untuk masuk kedalam mobil. Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba. Tom menghentikan mobilnya di depan gerbang sekolah.
"Aku akan menjemput mu nanti." ucap Tom sebelum Alula keluar dari mobil.
"Tidak ada penolakan !" lanjutnya lagi sebelum Alula menjawab. Tom tahu pasti Alula akan menolaknya.
"Terima kasih." ucap Alula dengan tidak ikhlas. Kemudian ia langsung keluar dari mobil tanpa melihat wajah Tom.
Setelah mengantarkan Alula, Tom lalu menjalankan mobilnya menuju ke sebuah perusahaan di mana tempat ia akan bekerja.
PF Company adalah salah satu perusahaan terbesar yang ada di Bali. Perusahaan yang di bangun oleh ayah Samuel semakin berkembang pesat ketika di bawah pimpinan Samuel. Sekarang PF Company tak hanya bergerak di bidang properti dan perhotelan. Samuel juga telah membangun beberapa yayasan, pusat perbelanjaan dan rumah sakit dalam sepuluh tahun belakangan ini.
Tom berjalan tegap menuju ke sebuah ruangan. Hari ini Samuel akan menyerahkan kepemimpinan PF Company kepadanya di hadapan para direktur dan pemegang saham.
Samuel telah mempersiapkan semuanya sejak dua minggu yang lalu ketika sang putra menghubunginya dan mengatakan bersedia untuk menggantikannya sebagai pemimpin PF Company. Mendengar itu tentu saja Samuel merasa senang. Sama seperti Tom, Samuel juga tidak memiliki saudara lain yang se ayah atau pun se ibu. Jadi jika bukan Tom, siapa lagi yang akan mewarisi seluruh kekayaan keluarga Parera.
Dan di sinilah mereka sekarang. Samuel dengan bangga mengenalkan putranya, Thompson Parera sebagai pemimpin PF Company yang baru sebagai penggantinya.
__ADS_1