Istri Pemuas Nafsu

Istri Pemuas Nafsu
Ch. 54


__ADS_3

Lama keduanya berbicara. Sampai tengah malam baru Sky masuk ke dalam kamar. Sementara Tom melajukan mobilnya pulang ke apartemen.


Sepanjang malam ini Tom hampir tidak bisa memejamkan mata. Ia terus berpikir tentang masa depannya. Apa yang dia inginkan ? hidup seperti apa yang ingin dia jalani ? semua jawaban ada pada dirinya sendiri.


Satu minggu sudah berlalu.


Alula melihat jam dinding kamar. Sekarang sudah hampir pukul sepuluh malam. Namun Alula masih tidak bisa memejamkan matanya. Sesekali ia memeriksa ponselnya. Melihat jika ada panggilan atau pesan masuk.


Meskipun tidak mengakui, tapi jauh di lubuk hati yang paling dalam, sebenarnya Alula menantikan dan bahkan mengharapkan kedatangan pria yang merupakan ayah dari anaknya.


Dasar pria bre**ek! tukang bohong ! tukang tipu !


Alula mengumpat Tom dalam hati karena sampai habis hari Minggu namun Tom tidak kunjung datang sama sekali seperti yang ia ucapkan. Alula merasa menyesal karena telah percaya dan berharap kepada pria seperti Tom.


Saat Alula akan pulang, ia melihat seorang anak perempuan yang masih duduk di depan sekolah. Sepertinya anak itu sedang menunggu jemputan.


"Hai, belum pulang ?" sapa Alula saat mendekati anak yang ia kenal dengan nama Feby.


Feby, anak perempuan yang berusia sepuluh tahun merupakan salah satu siswa di sekolah modeling milik Widya.


Feby menggeleng dengan wajah yang tampak sedih. Sudah hampir satu jam ia menunggu. Namun papanya belum juga datang menjemputnya.

__ADS_1


"Mungkin lagi di jalan. Sebentar lagi pasti akan datang." Alula mencoba menghibur.


"Ibu akan menemani mu duduk di sini sampai jemputan mu datang." Alula mendudukkan tubuhnya di samping Feby.


"Apa cita-cita mu ingin jadi seorang model ?" Alula memulai membangun pembicaraan agar tidak merasa bosan menunggu.


Lagi-lagi Feby hanya mengangguk menjawab pertanyaan Alula. Anak itu masih terlihat sedih. Apakah mungkin karena lelah menunggu lama atau mungkin ada masalah lain yang Alula tidak tahu.


Alula pun mulai bercerita bagaimana lika liku kehidupan seorang model. Seperti yang telah ia lalui sejak merintis karir menjadi model. Tampaknya anak perempuan itu begitu tertarik mendengar cerita Alula.


"Apa ibu juga seorang model ?" tanyanya memastikan.


Alula mengangguk sambil tersenyum karena akhirnya Feby mau merespon kehadiran dirinya.


Di sekolah Feby di kenal dengan anak yang pendiam, tidak memiliki teman dan sulit bergaul. Karena itu Alula begitu senang ketika Feby mau berbicara dengannya.


Setelah mengetahui jika Alula seorang model, Feby begitu antusias bertanya ini dan itu seputaran dunia modeling sehingga tanpa sadar terjadilah pembicaraan yang mengalir begitu saja.


Entah sudah berapa lama mereka berbicara, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di depan mereka. Seorang pria tampan yang berusia sekitar tiga puluh tahunan keluar dari mobil dengan kaca mata hitamnya. Pria itu kemudian berjalan mendekat ke arah Alula dan Feby. Kedua wanita bada generasi itu tidak menyadari kedatangannya karena begitu asik bercerita.


Ehmm

__ADS_1


Suara seseorang akhirnya mengalihkan pandangan keduanya.


"Papa."


Sapa Feby kepada pria itu yang merupakan ayah kandungnya.


Mendengar itu Alula segera berdiri dan memberi hormat.


"Terima kasih sudah menemani Feby." ucap pria itu kepada Alula.


"Sama-sama, Tuan." balas Alula


"Maafkan papa sayang. Papa terlambat." pria itu mengalihkan pandangannya kepada putrinya.


"Ibu, aku pulang dulu." pamit Feby kepada Alula. Gadis belia itu memeluk Alula sebelum ia masuk kedalam mobil.


Setelah mobil itu pergi, Alula pun segera pergi karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putranya. Alula pulang hanya dengan berjalan kaki. Rumah kontrakannya tidak terlalu jauh dari sekolah. Hanya sepuluh menit perjalanan Alula sudah tiba di rumah.


*


"Cari tahu tentang wanita itu." perintah ayah Febi kepada supirnya setelah mereka tiba di rumah.

__ADS_1


__ADS_2