
Mamii!
Noah bergegas menuruni anak tangga, dia kehilangan kalungnya. Dia pun berteriak sana sini dan segera mendekati Ibunya yang ternyata sedang mengobrol dengan Nerin, wanita itu tampak ingin pulang setelah empat hari menginap dan besok rumahnya akan didekorasi secepatnya. Oma Liana juga tampak menyayangi Nerin, wanita tua itu senang punya teman mengobrol di rumah selain suaminya.
"Eh, Noah. Kebetulan kamu turun ke sini, bagaimana kalau kau antar Nerin pulang?"
"Hah, pulang? Kenapa tidak suruh supir saja yang antar dia?" tunjuk Noah ke Nerin. Dia agak terkejut diperintah malam begini.
"Noah kamu jangan gitu dong sama Nerin, bukannya kalian saling cinta? Harusnya kamu antar Nerin, Nak." Oma Liana tetap ngotot memerintah putranya itu. Nerin menelan ludah, dia pun tersenyum dan balas bicara.
"Tidak apa-apa kok, Mami. Noah mungkin capek habis kerja jadi lebih baik Nerin pulang bareng supir saja," ucap Nerin dengan lembut. Noah yang di sana diam-diam mengikuti cara bicaranya, dia merasa Nerin lagi cari muka.
"Eh jangan, Mami tidak mau kau pulang dengan supir. Kamu ini wanita, harus ada yang pastikan keselamatanmu, Nak," balas Oma Liana lembut.
"Apalagi kalau kamu diantar sama Noah, dia pasti jagain kamu dari preman jalanan. Noah itu jago berantem, dia tidak pernah kalah berkelahi!" tambah Oma Liana memukul lengan kekar Noah.
"Duh, jadi ngerepotin nih," cengir Nerin agak gugup.
"Ya sudah, sana gini ambil kunci mobil terus antar Nerin pulang," perintah Oma Liana ke putranya itu.
"Ah, Noah nggak bisa Mami," tolak Noah tetap tidak mau. Nerin menghela nafas lega, dia juga tidak mau diantar sama Noah.
"Loh kenapa?" tanya Oma Liana sedikit kecewa.
"Itu loh, kalung Noah hilang. Sekarang Noah lagi cari kalungku, Mi." Noah menunjuk-nunjuk lehernya.
"Eh, kalung berlian biru?" sahut Nerin.
"Ya benar, kamu tahu?" Noah menepuk bahu Nerin.
__ADS_1
"Oh itu, tadi aku tidak sengaja pungut di lantai depan kamarmu, jadi aku masuk terus simpan deh kalung itu," ucap Nerin melepaskan tangan Noah dari bahunya.
"Kamu simpan di mana?" tanya Noah mulai lega kalungnya tidak hilang. Oma Liana diantara mereka cuma diam-diam senyum melihat keduanya sangat akrab.
"Eeee....eeee...eee," Nerin gagap lupa tempatnya.
"Eeeh, apa?" desak Noah greget.
"Aduh kayaknya di-"
"Astaga kelamaan! Sini kau ikut aku cari di kamarku!" tarik Noah sudah tidak sabaran.
"Bentar dulu, aku ini mau pulang, tidak bisa mencarinya," tahan Nerin melepaskan Noah.
"Ah tidak usah dipikirkan, nanti aku antar kau pulang! Kalung itu harus kau cari dulu!" ujar Noah menarik Nerin menaiki anak tangga. Nerin pun cuma menurut dengan ekspresi sesal.
Cklek
Noah masuk, dia berdiri sok ganteng di dekat pintu. Nerin di sampingnya mulai deg-degan takut akan dimarahi oleh Noah kalau dia sampai lupa benaran.
"Sekarang katakan, di mana kamu taruh kaling berlian biru itu?" tanya Noah dengan mimik mengintimidasi.
Gugup Nerin makin memuncak, dia pun menunjuk atas lemari.
"Se-sepertinya di sana deh,"
"Ya kalau gitu pergi sana ambil cepat!" perintah Noah dengan coolnya. Nerin pun terpaksa nurut sebelum disembur lagi. Dia berlari ke arah lemari baju diikuti Noah juga.
"Yakin kau taruh di sini?" tanya Noah nunjuk atas lemari.
__ADS_1
"Ya, kayaknya di sini deh," gumam Nerin menjawab.
"Kalau begitu, cepat sana cari sampai dapat!" pinta Noah sambil duduk di kursi dekat meja.
"Eh, kenapa harus aku?" tanya Nerin tunjuk dirinya sendiri.
"Kau ini kan yang taruh jadi kamu harus ambil sendiri," jawab Noah memopang dagu di sudut kursi.
"Tapi kan kamu tinggal cari sendiri juga," ucap Nerin tampak ogah, takut ada cicak mati di atas lemari.
"Heh, neng tower, lo tuh punya tinggi badan yang lumayan, jadi harusnya bisa lo ambil sendiri! Sekarang jangan bantah lagi, cepat ambilkan untukku!" pinta Noah mendesak lagi. Nerin menggerutu dalam hati, dia pun memegang ujung kursi.
"Kalau begitu, sini kasih aku kursi," ketus Nerin tapi Noah menepisnya.
"Enak saja, aku ini lagi duduk. Kamu buta ya?" ujar Noah mendesis.
"Tapi kan aku pakai kursi saat taruh kalung itu," protes Nerin.
"Ishhh, cerewet sekali! Kamu kan bisa jinjit! Jangan buang-buang waktu berdebat denganku. Nanti kita kemalaman nih," ucap Noah sewot.
"Baiklah, Tuan muda yang bawel!" decak Nerin akhirnya mengalah tidak mau bertengkar. Dia pun menjinjit sekuat tenaga dan mencari-cari kalung itu. Sementara Noah memandangi tubuh seksi nan pinggul yang ramping Nerin dari atas sampai bawah, tidak lupa memperhatikan dua bola dada Nerin yang lebih menonjol.
"Hm, tubuh Nerin lumayan juga dari pada Helena yang sedikit gemuk," batin Noah melamun.
"Dipikir-pikir, apa aku sudah mati di sana? Gimana ya nasib Helena yang sudah aku tinggal, apa mungkin dia sudah nikah dengan pria lain? Tapi...,"
Noah menunduk, dia belum dapat mengartikan perasaannya saat ini. Pernikahan yang dia berikan untuk Nerin bukan karena cinta, tapi hanya sekedar tanggung jawab. Noah tidaklah mencintai Nerin, begitupula Nerin tidak menyimpan rasa untuk Noah. Pernikahan yang tidak dia inginkan dari awal dan hanya sebuah pernikahan karena keterpaksaan.
Apakah ini tetap harus dia lanjutkan?
__ADS_1