Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 94 : Melupakan Masa Lalu


__ADS_3

Malam pun tiba, di ruang dapur, terlihat sekeluarga berkumpul. Kursi yang tadi cuma diduduki tiga orang kita ditambah menjadi empat. Tidak ada pembicaraan terdengar, mereka makan malan dengan harmonis. Tetapi tidak untuk Noah yang kesal pada Nerin, karena gara-gara dia, Noah dihukum dan harus tidur di ruang tamu. Jika Noah membangkang, maka hak waris untuknya tidak akan dia dapatkan.


"Cih, menjengkelkan sekali!"


Nerin mengernyit melihat Noah tampak tak karuan. Dia sedikit takut untuk malam ini. Setelah makan malam, mereka ke kamar masing-masing kecuali Noah yang tidur di sofa tamu dengan mulut dimonyongkan. Jelas sekali, pria itu sedang menggerutu dalam hatinya.


Tiba-tiba, seseorang memberinya selimut. Noah menengok ke belakang, dia terkejut Nerin turun membawakan selimut untuknya.


"Nih, ambillah," beri Nerin ragu-ragu.


"Cih, bawa kembali, aku tidak butuh," tolak Noah jengkel.


"Kenapa? Rumah ini sangat besar, kau akan kedinginan tengah malam nanti. Ambillah, kau tidak boleh sampai sakit," ucap Nerin lagi.


"Heh, apa ini? Kau sedang perhatian padaku?" Noah menunjuk dirinya sedikit tertawa meremehkan.


"Aku cuma lagi berbuat baik, dan juga aku tidak ingin ayah bayiku sampai kedinginan. Jadi ambillah!" Nerin meletakkan selimut itu ke tubuh Noah lalu pergi dengan kesal. Noah terdiam setelah mendengar ucapan Nerin.


"Ayah bayiku? Hahaha, apa dia sedang meledekku?" tawa Noah bodoh. Dia pun dengan sombongnya mengambil selimut itu dan tidur. Nerin di kamarnya masih belum tidur, dia sedang mengelus perutnya sambil berbaring.


"Apa benar di dalam perutku ada bayinya? Ishhh, kenapa coba aku ngomong gitu! Dia nanti kege'eran lagi! Sudahlah, lebih baik aku tidur," gumamnya tidur terlentang merasa nyaman berada di atas ranjang yang empuk itu. Namun seketika pintunya terbuka, Nerin ingin beranjak bangun, tapi suara Noah membuat nyalinya menciut. Nerin pun harus pura-pura tidur.


"Ish, sialan. Ngapain sih Papi tidak ganti sofa saja! Sofa jelek begitu dirawat, bikin punggungku pegal-pegal!" gerutunya dapat didengar oleh Nerin.


"Eh, loh kok dia tidur di sini? Ini kan kamarku?" tambah Noah kesal melihat Nerin tidur di atas ranjangnya. Ingin dia bangunkan Nerin, tapi melihat posisi Nerin yang terlentang dengan kaki terbuka lebar itu membuatnya tidak jadi.


"Astaga, kenapa dia lihat terus ke sini? Harusnya dia bangunkan aku, bukannya menonton tubuhku. Aku juga salah, ngapain tidur dengan posisi konyol gini," batin Nerin sedikit takut Noah akan menerkamnya.


Benar, ketakutan Nerin memuncak, dia ingin membuka matanya tapi seketika kembali diam setelah perutnya dielus-elus Noah dengan lembut membuat Nerin diam-diam tersipu, tapi rona wajahnya hilang seketika.

__ADS_1


"Heh bocah, kenapa sih harus tumbuh di dalam perut nih cewek. Kau kan bisa tumbuh di perut cewek lain. Kalau saja kau tidak ada di dalam perutnya, Ibumu ini sudah aku buang," celoteh Noah semakin mengelusnya mulai kasar.


"Tau nggak, ayahmu ini selalu sial padahal ayahmu ini pria gentleman. Tapi cewek yang kusuka tidak pernah kudapat sampai sekarang dan kamu malah tumbuh diwaktu yang salah. Apa kau sengaja bekerja sama dengan Ibumu ini, ha?" tambahnya bicara sendirian.


Plak!


Tangan Noah ditampar oleh Nerin. Mata Noah melebar dipelototin oleh Nerin. Tampaknya Nerin marah mendengarnya jadi berani membuka mata.


"Heh, kenapa kau malah bangun? Aku kan lagi asik marahin tuh sih bocah," ucap Noah menunjuk perut Nerin dengan emosi.


"Apa kau sudah gila sampai kau bicara sama perutku?" tanya Nerin mencemoohnya.


"Heh, sial. Malah ngatain aku gila, kau yang sudah gila tidur di sini. Sekarang keluarlah!" ujar Noah menunjuk pintu.


"Tidak, aku duluan yang tidur di sini, jadi kau yang keluar!" balas Nerin ikut menunjuk pintu.


"Hei, dari dulu ini tuh tempatku, kau ini jangan membodohiku!" ujar Noah lagi membentak.


"Cih, belum juga nikah kau sudah berani padaku. Apa kau ingin ngajak aku berantem, ha!" marah Noah tidak kalahnya membentak sambil berdiri di depan Nerin. Mereka saling berhadapan di atas tempat tidur.


"Ayooo siapa takut, aku ini pernah juara taekwondo di korea. Aku tidak akan biarkan kau menindasku!" Nerin memperlihatkan otot lengannya. Noah mendecak lalu tertawa.


"Cih, hahaa... ototmu itu cuma sekecil kedelai, tidak sepertiku ini!" pamer Noah memperlihatkan dua otot lengannya yang gede.


"Ish, aku tidak takut!" terjang Nerin menjambak rambut Noah.


"Arghh, apa pekerjaanmu wanita hanya cuma main jambak-jambakkan? Sini aku ajari kau cara bergulat!" seru Noah langsung mengunci tangan Nerin dan segera menjatuhkannya ke kasur kemudian menindihnya. Nerin terkejut ditindih oleh Noah malam-malam begini.


"Sekarang kau tidak bisa bergerak kan?" ucap Noah nyengir kuda, meremehkan kekuatan Nerin. Nerin bukannya berteriak, dia malah menangis membuat Noah terkejut.

__ADS_1


"Hei, kau jangan nangis! Kalau Papiku bangun dan melihatku di sini, aku bisa mati!" Noah mengguncang bahu Nerin.


"Huaaa... perutku, perutku kau tindih."


Deg!


Noah membola, dia menunduk melihat perut Nerin.


"Ahhh, aku lupa kau hamil. Apa kau baik-baik saja? Apa bayi diperutmu ingin keluar?" Saking paniknya Noah sampai-sampai mengira Nerin ingin melahirkan.


"Hiks, bukan. Bayinya belum mau keluar, tapi perutku bisa terluka kalau kau tindih!" isak Nerin mengelus perutnya.


"Ini sih gara-gara kau bodoh. Ya sudah, tidurlah! Aku ampuni kau malam ini," acuh Noah tidur membelakangi Nerin dengan kesal.


"Ih, harusnya aku yang ngomong gitu. Dia yang salah malah aku yang disalahin! Dasar kuda laut!" gerutu Nerin membatin. Dia pun membatasi dirinya pakai guling, lalu tidur terlentang. Nerin takut untuk tidur miring, takut sama perutnya. Tapi Nerin belum bisa tidur, dia masih kesal kenapa tidur sama Noah. Nerin pun ingin beranjak untuk pindah, tapi baru juga mau melepaskan selimut, Noah bergerak memeluknya. Reflek Nerin menoleh dipeluk erat.


"Uhhh, kok malah gini sih, kan nggak bisa pergi." Nerin ingin mepaskan tangan besar Noah, tapi lagi-lagi dipeluk sangat erat sampai Nerin susah bernafas. Nerin pun menengadah melihat wajah Noah.


"Cih, kurang ajar! Mentang-mentang sering tidur denganku dia sudah sesukanya memegangku!" ketus Nerin, ia terpaksa menyerah. Namun lagi-lagi Nerin tidak bisa tidur gara-gara Noah mengigau.


"Ja-jangan tinggalkan aku,"


"A-aku menyesal, tolong kembalilah,"


Mendengarnya, Nerin merasa iba. "Sepertinya dia cinta banget sama Sheila, tapi kenapa dia bilang Manda? Apa Sheila mirip sama Manda itu jadi dia membelanya?" batin Nerin sedikit cemburu ada dua pria yang menyukai Sheila.


"Tidak! Kali ini aku tidak akan biarkan pria milikku diambil siapa pun. Noah mulai sekarang adalah milikku, dia suamiku, dia ayah anakku. Tidak ada yang boleh merebutnya mulai hari ini!" Nerin balas memeluk Noah. Dia bertekad tidak mau melepaskan prianya. Dia memejamkan mata dipelukan Noah malam ini. Rasanya sangat tentram dan hangat. Noah membuka matanya, dia sebenarnya belum tidur. Dia tersenyum mendengar ucapan Nerin barusan. "Baiklah, mulai sekarang aku harus melupakan masa lalu!" batin Noah kembali memejamkan mata. Pelukan itu semakin erat membua Nerin merasa seperti bantal dipelukan Noah.


Chup!

__ADS_1


Nerin tersentak diberi kecupan di keningnya. Dia tersipu kemudian memejamkan mata lagi. "Ternyata dia cukup baik juga." Nerin tertawa dalam hatinya kemudian tidur dengan tenang di dalam pelukan itu.


Jangan Lupa Vote dan like, dan sepertinya author terpaksa tidak jadi tamat, karena disuruh kejar target 60 ribu kata dalam sebulan, dan masih harus kejar 20 ribu kata. Jadi kemungkinan masih ada 15 bab yang akan meluncur. Serta akan diceritakan kehidupan Rafael yang bisa memiliki berlian keramat. Ngomong-ngomong Rafael itu orang bandung, apa pembaca di sini ada yang satu kota sama Rafael?😁salam dari sulawesi.


__ADS_2