Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 48 : Valen Dipenjara?


__ADS_3

Sedangkan Rafa, pria ini sudah sampai ke rumah pribadi Valen. Ia datang bersama sekretaris Jho dan semua anak buahnya yang berjumlah cukup banyak. Rafa ingin bicara pada Valen, menjelaskan pada publik jika hubungan mereka cuma rekayasa semata.


Mendengar suara klakson mobil yang banyak di luar rumah, asisten Valen yang lagi di dalam kamar terusik akibat suara itu. Seketika ia tersentak, mendengar suara perkelahian disertai tembakan yang dilepas entah dari mana.


Asisten Valen buru-buru ke pintu utama, ia membuka cepat pintu itu dan menemukan semua penjaga rubuh ke tanah dengan darah yang mengalir dari paha mereka. Nampaknya Rafa sendiri yang menembaki kaki mereka. Asisten Valen menelan ludah melihat kemarahan Rafa dan anak buah Rafa yang berjalan ke arahnya. Asisten itu segera menutup pintu. Jantungnya berdegub kencang, ia ketakutan. Memang keamanan di rumah pribadi ini tidak terlalu kuat hingga mudah bagi Rafa menghancurkan semua di depannya.


"Oh no, apa yang sudah terjadi hingga CEO Rafa datang kemari sampai berbuat kerusuhan?" pikir Asisten itu segera mencari ponselnya untuk menghubungi Valen yang berada di rumah ayahnya sendiri.


"Nona Valen, cepatlah angkat!" desisnya sangat panik.


Brak!


Brak!


Pintu di belakangnya digedor-gedor sangat keras. Asisten Valen makin panik, ia yang ketakutan habis segera mencari jalan untuk kabur. Suasana di sekitarnya makin mencekam. Ini sungguh menegangkan hatinya.


"Cepat, dobrak pintu ini!" suara perintah Rafa semakin menakutinya.


BRAK!


Asisten Valan membola melihat pintu itu jatuh rubuh. Ia pun melewati jendela untuk kabur, namun baru selangkah seseorang memukul pundaknya cukup keras.


Ahhhhh...


Asisten Valen menjerit jatuh pingsan ke bawah.


"Presdir Rafa, saya berhasil menemukan asistennya," lapor sekretaris Jho yang berdiri di dekat tubuh Asisten Valen.


"Ck, bawah dia padaku. Aku ingin melakukan sesuatu padanya!" decak Rafa pada panggilan suara itu.


"Baik, Presdir!" paham Skretaris Jho segera membawa Asisten Valen kepada Rafa. Rafa yang tidak menemukan tanda-tanda Valen, ia pun keluar dengan emosi yang membara, ia pun masuk ke dalam mobilnya. Ia melihat sekretaris Jho membawa Asisten Valen.


"Segera ke tempat penyiksaan! Aku ingin tahu bagaimana Valen bisa menyelamatkan asistennya. Aku yakin, asistennya ini punya rahasia yang dia sembunyikan selama ini," perintah Rafa pada pak supir yang ketakutan melihat majikannya ingin menyiksa orang lagi.


"Baik Presdir!" Mobil Rafa pun pergi duluan ke tempat penyiksaannya. Diikuti juga oleh semua mobil anak buahnya yang juga membawa semua penjaga Valen. Rafa ingin melampiaskan kemarahannya pada antek-antek Valen.


"Dia harusnya sadar, setelah ini pasti dia akan tahu siapa yang sudah dia bohongi selama ini!" decak Rafa tak sabar menginterogasi asisten Valen.


Arghhhh.... Arghhhh.... PLAK! Argghhhh... Ampun...


Suara teriakan, jeritan, rintihan antek-antek Valen menggema dalam isi ruangan gelap yang dipancari cahaya redup dari lilin saja. Mereka minta untuk lepas dari cambukan dari anak buah yang diperintah langsung oleh Rafa. Suara mereka sangat menyedihkan, tapi bagi Rafa ini sungguh mengasikkan.


Sekarang Rafa tersenyum picik melihat asisten Valen sedang duduk di kursi, ia terikat di satu ruangan yang gelap, hanya dipancari dari jendela kecil. Rafa dapat melihat dari kaca di depannya, kaca yang tak dapat dilihat dari dalam ruangan itu. Sekretaris Jho cuma diam melihat Rafa yang menunggu sadarnya asisten Valen. Alis kiri Rafa terangkat melihat wanita itu perlahan sadar.

__ADS_1


"Uuuh... aku di mana?" Ia merasa pusing. Perlahan membuka mata lebar-lebar.


"Ahhhhh tolong lepaskan aku!" Ia meronta-ronta setelah menginjak sebuah tulang kerangka di bawahnya, kedua kakinya dan tangannya dirantai hingga ia tak bisa bergerak sana sini. Ia makin ketakutan, cuma ia sendirian di ruang gelap itu dan hanya ditemani oleh tulang belulang. Ini baru awal penyiksaan Rafa. Tiba-tiba dari arah kanan, nampak di tembok ada jeruji besi bergerak-gerak, terlihat sesuatu terkurung di sana.


Plang! Jeruji itu terbuka. Mata asisten Valen melotot segera teriak.


Ahhhhhhhh Tidakkkkk!


Jangan makan aku! Jangan makan aku! Pergilah! Asisten Valen jatuh tersungkur ke bawah. Ia mencoba menghindar dari hewan yang menakutkan. Ia berkeringat dingin hingga ia seakan menggigil di depan hewan itu.


Goarrrrrrr Goarrrr


Se-ekor harimau besar yang sangar keluar dan hampir menerkamnya. Untung saja hewan ini dirantai dari dalam jeruji tadi. Asisten Valen menjerit meminta dilepaskan. Harimau itu tidak berhenti mengaum sangar. Hewan ini sangat kelaparan hingga berkeinginan mau memakan Asisten Valen yang semakin dilanda ketakutan. Bagaikan hidupnya sudah berada di ujung atas tanduk.


Goarrrrr Goarrrrr


Harimau itu tak henti-hentinya menerjang hampir menerkamnya lagi. Tubuh asisten itu mulai mati rasa, ia terkulai lemas kemudian merintih ketakutan. "Tolonggg.... lepaskan aku...."


"Kalau begitu, bekerja samalah!" seseorang menyahut. Asisten itu mencari di mana asal suara itu. Namun aungan harimau makin menjadi-jadi. "Oke, saya akan bekerja sama. Tolong lepaskan aku, tolong keluarkan aku dari sini!" Mentalnya makin menciut melihat mata harimau itu. Taringnya yang runcing bisa mencabik-cabik tubuhnya. Ia pun pingsan di depan harimau.


"Pfft, dia memang pantas mendapatkannya." Rafa masuk ke dalam ruangan itu. Sekretaris Jho melemparkan dua ayam potong ke arah harimau itu. Harimau itu pun makan dengan lahap. Rafa pun menyuruh sekretaris Jho membawa asisten itu keluar dari ruangan gelap itu.


Kini asisten itu yang sudah dipindahkan akhirnya perlahan sadar, ia terkejut melihat Rafa dan Sekretaris Jho duduk menatapnya tajam.


"Hiks... maaf... jangan bunuh aku, Tuan. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Tolong jangan bunuh aku," rintihnya menangis.


"Aku tidak akan membunuh mu, kalau kamu mau memberitahu ku bagaimana Valen bisa bersama Rain, maka aku akan mengampunimu,"


"Baik-baik, saya akan bocorkan semuanya, tapi tolong berjanjilah jangan katakan pada Nona Valen jika akulah yang membocorkan ini." Asisten itu setuju dalam ketakutannya.


"Tenang saja, Presdir Rafa tidak akan melebihkan tindakannya. Presdir Rafa hanya ingin tahu kejadian enam tahun yang lalu," sahut sekretaris Jho mewakili Rafa.


"Baik, sebenarnya Nona Valen dan Tuan muda Rain tidak memiliki hubungan apa-pun. Kami saat itu yang tahu Tuan Rafa mencari Nona Sheila, membuat Nona Valen ingin ikut mencarinya juga. Hingga Nona menyuruh semua bawahan ayahnya mencari Nona Sheila. Setelah kami duluan menemukamnya, kami selalu mengawasinya yang sedang hamil sampai ia melahirkan. Setelah itu, kami menyuap Dokter untuk membohongi Sheila. Saya benar-benar cuma menyimpan rahasia ini, saya tidak pernah mau ikut ke dalam rencananya."


Ting! Rekaman berhasil merekam pengakuan Asisten Valen. Ini membuatnya terkejut. Ditambah Rafa menyuruh Sekretaris Jho mengirimnya ke dapartemen berita untuk menyebarkan pengakuan ini.


"Baik Presdir." Sekretaris Jho pergi membawa rekaman itu.


"Tidak! Jangan lakukan ini, reputasi Nona Valen akan hancur!" teriak asisten itu menggila.


"Ahahaha, inilah yang aku inginkan!" Rafa tertawa kemudian pergi meninggalkannya. Asisten itu menekuk lutut, hidupnya berada dalam ketakutan sekarang. Arghhhhh!


PLAK! Valen yang di rumah ayahnya langsung menerima tamparan. Ayahnya yang dikenal di kota itu sangat dipermalukan oleh kelakuan putrinya setelah mendengar siaran dari salah satu televisi. Ia tak sangka, Rain bukanlah cucunya.

__ADS_1


"Papah, dengarkan aku dulu. Papa jangan percaya ini, semua ini cuma bohongan. Mereka ingin merusak reputasiku, pah." Valen memohon, ia menangis di depan ayahnya.


"Bohongan? Ya, kamu sudah berani membohongi Papa! Kenapa kamu lakukan ini, Valen! Kamu mempermalukan dirimu sendiri, mempermalulan Papa! Mereka mengenalmu sebagai bintang populer, tapi kamu sendiri yang merusaknya!" geramnya pada Valen.


"Hiks, Papa. Aku cuma mau jadi istrinya Rafa. Tolong Papa jangan marah dulu,"


PLAK!


Ahhhhh ....


Valen jatuh tersungkur ke bawah. Pipinya sakit ditampar dua kali oleh pria sangar itu. Ia yang kesal pada anaknya segera keluar untuk mencari Rafa karena akibat cinta Valen pada Rafa berakhir Valen dilaporkan ke polisi sehingga harus di penjara. "Ini semua gara-gara pria sialan ini, akan aku habisi dia!" decaknya menuruni tangga. Tapi tiba-tiba anak buahnya masuk dengan panik.


"Ada apa dengan mu?" tanyanya berhenti jalan.


"Bos besar, di luar banyak wartawan, mereka menerobos masuk hingga kami susah menyikirkan mereka. Mereka mencari Nona Valen."


"Aaghhhh sialan! Siapa yang sudah menyebarkan berita ini!"


"Aku!" sahut Rafa dan sekretaris Jho masuk ke kediaman mafia itu. Bos besar langsung menerjang Rafa. Mencengkram kerah leher Rafa. Bukannya takut, Rafa malah tenang-tenang saja berhadapan dengannya.


"Kamu, ini semua gara-gara kamu! Aku jadi masuk berita gara-gara kamu!" Bos besar marah karena ia tak suka diberitakan. Ia menodongkan pistol, rasanya mau menembak kepala Rafa.


"Ck, aku? Ini semua akibat putrimu! Dia itu sudah membuat kejahatan, jadi patut diberitakan. Sekarang aku datang untuk membatalkan hubungan tidak jelas ini," ucap Rafa tak gentar sama sekali.


"Cuih, aku dari awal juga sudah tahu kamu dan putriku akan berakhir begini. Sekarang kamu jangan senang dulu, aku tidak akan melepaskanmu!"


Plak! Rafa menepis tangan Bos besar hingga pistolnya hampir lepas dari tangannya. Tapi Rafa masih tenang lagi.


"Aku sama sekali tidak takut, anda yang saya hormati mana mungkin akan mengawali persoalan ini. Anda lebih baik pikirkan bila mau berurusan denganku. Kelompok kecil anda di kota ini belum ada apa-apanya bagiku! Sekarang aku harus pergi. Tenanglah menghadapi putrimu itu!" jelas Rafa menegaskan. Ia pun dengan angkuh pergi dari kediaman orang tua Valen bersama sekretaris Jho untuk pulang ke mansionnya.


Bos besar kesusahan untuk membereskan wartawan yang masih menerobos. Bos besar mengerahkan anak buahnya mengusir mereka. Setelah semuanya tenang, Ia duduk sambil mengepal tangan. Ia kesal mendengar Valen yang masih menangis. Tak lama kemudian, ia diselidiki oleh polisi.


___


Setelah baca, mohon tinggalkan :


+Like


+Komen


+Hadiah


+Vote

__ADS_1


Terima kasih Mommy ^^


__ADS_2