
"Noah, mengapa kamu datang kemari?" Rafa berdiri tepat di hadapan Noah. Dengan santai, Noah melewati Rafa begitu saja kemudian melihat Manda yang berdiri bersama tiga bocah. Rafa mengepal tangan merasa jengkel dengan Noah yang mengabaikannya.
"Hai Nona, kamu ini siapa?" tanya Noah tersenyum sedikit pada Manda. Yang ditanya malah diam saja, terlihat Manda menelan ludah, ia tak sangka lelaki di depannya mirip dengan mantannya, Rangga.
"Oh, mungkin aku harus perkenalkan diriku duluan. Namaku Noah, aku putra dari Tuan Alkazein, adik dari ayahnya Presdir Rafandra." Noah mengulurkan tangan, sikapnya begitu sopan. Namun Manda masih diam belum membalas uluran tangan Noah.
Pak! Rafa menepuk tangan Noah kemudian berdiri di depan Manda dan anak-anaknya. Rafa tidak menyangka Noah datang ke mansionnya dan malah ingin kenalan dengan calon istrinya.
"He, ada apa denganmu? Kenapa menepuk tanganku?" tanya Noah mendesis sedikit sakit pada telapak tangannya.
"Harusnya aku yang tanya, kenapa kamu datang ke sini?" Rafa bertanya balik. Noah pun tersenyum miring sambil melipat tangan lalu berkata : "Tentu saja menjemput cucuku, Rain. Tapi tak sangka, aku bertemu wanita cantik di mansion ini. Siapa namamu, Nona?" tanya Noah ingin kenalan lagi. Rafa makin kesal, ia pun meraih tangan Manda, menggenggamnya di depan Noah.
"Dia Sheila, wanita yang akan aku nikahi sekaligus seorang Ibu dari anak-anakku."
Mata Noah terbelalak, dan segera menepuk kedua bahu Rafa, menatap tajam keponakannya itu.
"Serius kamu mau menikah dengannya? Kamu mau apakan Valen kalau kamu berani menikahi wanita lain! Kamu jangan main-main, Rafa. Valen itu anak ketua Mafia di sini. Jika kamu berani menyinggung Valen, kamu akan berurusan dengan ayahnya nanti," tutur Noah panjang lebar memperingati Rafa.
Bukannya takut, Rafa menepis tangan Noah lalu berkata dengan percaya diri.
"Untuk apa aku harus takut? Valen bukan lah siapa-siapaku lagi. Aku juga tak takut pada ayahnya." Rafa berkata dingin.
"Rafa, Valen itu ibunya Rain. Mengapa kamu malah beraninya berkata begitu?" tanya Noah makin tertarik untuk tinggal dulu.
"Cih, aku masih belum percaya dia Ibunya Rain," decak Rafa kesal bila mendengar nama Valen.
"Astaga, kamu sudah lupa. Waktu itu ada hasil tes DNA yang membuktikan. Valen itu 100% ibunya Rain," jelas Noah mencoba menyadarkan Rafa. Mengira Rafa mungkin sedang mabuk.
"Tes itu pasti salah, aku yakin hasil tes DNA itu bermasalah. Valen pasti sudah memalsukannya," Rafa tetap yakin dengan dugaannya.
__ADS_1
"Mengapa kamu berkata begini?" tanya Noah ingin tahu. Rafa pun mendekati tiga bocah lalu melihat Manda.
"Karena salah satu anakku dari Sheila mirip dengan Rain," jawab Rafa melepaskan topi Rain agar Noah melihatnya makin jelas. Benar, Noah tercengang. Ia tak salah lihat, Noah mengedipkan berkali-kali matanya lalu menampar dua kali wajahnya.
"Astaga, sejak kapan kamu punya anak dengan wanita ini?" Noah menunjuk Manda yang diam dari tadi. Ternyata, Noah tidak mengenal Manda.
"Semuanya berawal enam tahun yang lalu, setelah kejadian malam tak sengaja itu, Sheila mengandung tiga anak tapi setelah mekahirkan ketiga anak itu, salah satunya dinyatakan meninggal oleh Dokter dan sekarang aku ingin lakukan tes DNA Rain dengan Sheila."
"Wow... gak nyangka, sekali tembak udah ngelahirin tiga anak," ucap Noah terkagum-kagum mendengarnya.
Tuk! Rafa sedikit kesal mendengar ucapan Noah hingga ia mengetuk kepala Noah.
"Hais, sakit tau!" desis Noah membuat tiga bocah menahan tawa. Tidak seperti Manda yang masih diam memperhatikan Noah dari atas sampai bawah. Benar-benar mirip mantannya.
"Oh ya, kalau begitu... siapa nama dua anak ini?" tanya Noah ke Manda. Tak ada jawaban, Manda masih diam membuat tiga bocah kembar heran begitupun Rafa.
"Shei, ada apa denganmu?" tanya Rafa mendekatinya. Manda tersadar langsung menjawab : "Tidak ada apa-apa, tadi aku kepikiran soal anak-anak," ucap Manda tersenyum dan tak sengaja Noah diam terpaku melihat Manda tersenyum manis.
"Oh ya, tadi aku tanya, siapa nama dua anak ini?" lanjut Noah menunjuk Rein dan Rara. Manda pun berdiri di antara Rein dan Rara kemudian berkata : "Dia putra sulungku, bernama Reindra Aresta. Yang ini putriku, adiknya Rein bernama Rara Aresta dan aku masih punya anak satu lagi, tapi dinyatakan meninggal oleh Dokter. Namun aku merasa anak ketigaku masih hidup, dan ku rasa bisa saja Rain dan aku punya hubungan darah." Manda mengelus kepala Rein dan Rara lalu melihat Rain.
"Mommy, kalau saudara Rara itu adalah Rain, itu artinya Rain adikku?" tanya Rara mendongak ke Manda. Manda pun melihat Rain, kemudian mengelus kepala Rain. "Mungkin," ucap Manda tersenyum ke Rain dan dibalas senyum oleh Rain juga.
Melihat Manda dan tiga bocah ini yang sangat dekat, Noah pun menarik Rafa berbalik kemudian berbisik : "Yakin, nih cewek yang kamu tiduri waktu itu?" tanya Noah ingat Rafa dulu pernah cerita padanya.
"Yalah, dia putri keluarga William. Andai saja saat itu aku datang baik-baik, mungkin dari dulu ada tiga bocah hidup bersamaku," jawab Rafa membayangkannya.
Pak! Noah menepuk lengan Rafa lalu berkata : "Woi, lo hebat banget, Raf! Gue jadi penasaran, goyangan lo waktu itu kayak gimana, lo kasih berapa ronde sampai-sampai nih cewek hamil tiga anak langsung?" tanya Noah sedikit menyindir.
BUGH! Mata Noah melotot hampir keluar setelah perutnya dipukul oleh Rafa. Terlihat Noah meringis kesakitan seperti orang yang terkena sembelit. Rafa jadi makin jengkel pada Noah yang mulai sok akrab.
__ADS_1
"Anj*r, lo mau bunuh gue ya, Raf!" kesal Noah menjauhi Rafa yang cuma berdecak. Tiga anak kembar mendekati Rafa bersama Manda.
"Daddy, Rain mau tinggal sini, Rain tidak mau ikut paman Noah pulang," rengek Rain mulai bertingkah.
"Ya Daddy, biarkan Rain tinggal sini." Rara ikutan merengek membantu Rain. Sedangkan Rein, bocah satu ini menatap dingin ke Noah, ia sedang mengamati Noah seperti halnya Manda.
"Rafa, Rain harus ikut denganku pulang, Mami menyuruhku mencari Rain ke sini, dan ternyata bocah ini memang ada di sini. Sekarang Rain harus ikut denganku pulang," perintah Noah pada Rain.
"Hiks, tidak mau. Rain maunya tinggal sini, Rain tidak mau ketemu Mama Valen, kasih tau saja sama Oma, kalau Rain mau nginap di sini, Paman." Rain merengek lagi sambil berdiri di dekat Manda. Rafa maju mendekati Noah untuk membujuk Noah agar tidak memaksa Rain. Ini sebuah kesempatan Rain, ia pun menarik Rara berbalik lalu berbisik membuat Rein mengangkat alis melihat adinya bisik-bisik dengan Rain.
"Ada apa?" tanya Rara berbisik. Rain memberinya coklat silverqueen. "Kamu berikan ini pada Paman Noah, dia ini suka makan coklat tapi alergi kacang. Jadi kalau kamu kasih, pasti dia akan memakannya. Nah, setelah dia makan, pasti alerginya kambuh dan dia bisa pulang tanpa membawaku," jelas Rain memberi ide. Rara paham, ia pun mengambil coklat itu lalu dengan keimutannya mulai membujuk Noah yang lagi debat dengan Rafa.
"Paman," panggil Rara bicara manis.
"Kamu? Ada apa?" tanya Noah akhirnya terpesona dengan keimutan Rara.
"Paman, kita baru pertama kali bertemu, bagaimana kalau Paman makan coklat ini, ini hadiah dari Rara," jawab Rara memberikan coklat itu. Rafa tersenyum sedikit, tahu tujuan putrinya. Noah menelan ludah, dia ingin menolak tapi tak tega juga. Akhirnya Noah terpaksa menerimanya.
"Terima kasih, Nona manis. Kalau begitu Paman pulang dulu," ucap Noah sedikit grogi.
"Pulang? Paman tidak mau makan coklat Rara dulu?" tanya Rara memohon. Noah berkeringat dingin lalu berkata : "Ahaha, nanti paman makan, kalian bertiga bermainlah dengan rukun. Sampai jumpa!" teriak Noah lari keluar mansion. Ia tak berani makan coklat apalagi kalau ada kacangnya, Noah tak mau mengalami gatal-gatal di seluruh tubuhnya. "Astaga, ini memalukan sekali." Desis Noah pergi menggunakan mobilnya.
"Pfft, ahahaha... Paman Noah takut banget sama kacang." Rain tertawa lepas diikuti oleh Rara yang cekikikan. Manda dan Rein mengangkat alis merasa heran dengan tawa dua bocah itu. Sedangkan Rafa cuma tertawa kecil melihat anak-anaknya. Kemudian Rafa meraih tangan Manda membuatnya tersentak.
"Ada apa?" tanya Manda melihat Rafa yang tersenyum padanya. Ketika Rafa ingin menjawabnya, tiga bocah ingusan menjawab duluan.
"Mommy, kita belum makan siang. Sekarang kita ke dapur yeeeey!"
"Pfft .... ahahaha..."
__ADS_1
Manda tertawa melihat tingkah lucu mereka. Rafa pun menarik Manda bersama anak-anaknya ke dapur untuk makan bersama. Bagaikan keluarga kecil yang sedang kumpul hari ini.